
Entah kenapa Takeshi merasa kesal saat menyadari beberapa pria menatap Aya bagai serigala lapar. Mungkin mereka pernah merasakan kehangatan tubuh Aya, mungkin juga sebagian malah sedang berfantasi betapa liarnya bermain-mainnya dengan gadis yang diakui sebagai kekasihnya itu.
"Ryujo," Takeshi menganggukkan kepala, memberi kode pada ajudan yang mendampinginya saat melihat Isao mendekati Aya.
"Siap, tuan."
"Siapa itu?" katanya sambil melihat interaksi Aya dan lelaki itu.
"Isao tuan, dia temanku. Em ... dia adalah lelaki yang membeli Aya daei ianjo Irene tempo hari.
"Hm, jadi dia lelaki pertama yang meniduri Aya?"
Ryujo mengangguk.
"Lelaki keparat," umpat Takeshi.
"Em ... tuan, Isao juga lelaki pasangan Monic yang-"
"Aku tahu, maka jangan biarkan lelaki itu mendekati Aya. Temanmu itu licik dan berbisa, jika dia tahu kamu menikahi wanitanya, bisa saja dia mengorbankan persahabatan kalian demi merebut istrimu," ujar Takeshi bak kekasih yang posesif.
"A-apa tuan cemburu?" tebak Ryujo yang melihat pancaran cinta saat menatap Aya. 'Tanpa tuan akui pun, aku tahu jawabannya. Aya bodoh, harusnya kamu memilih tuan Takeshi saja yang jelas lebih segalanya dari Agastya bahkan dalam hal melindungi. Aish, apa daya justru cintanya juga lebih pada Agastya ketimbang tuan Takeshi,' batin Ryujo.
"Kalau pun iya, aku masih belum lupa jika Aya sudah menikah dengan asistenku sendiri."
"Baik tuan, aku akan membereskannya." Tidak peduli demi siapa ia harus menjauhkan Aya dari incaran Isao atau lelaki manapun, Ryujo hanya melaksanakan tugas yang diembankan padanya.
"Bagus, bawa Aya menemui bu Dinar untuk mengatur jadwal. Aku mau Aya secepatnya mulai belajar dan menyelesaikan pendidikannya."
"Siap, tuan. Permisi," Takeshi menangangguk dan Ryujo langsung melesat melaksanakan tugasnya menghampiri Aya dan Isao.
Sekali lagi, walaupun ini masalah perasaan, Takeshi tetap berusaha menjunjung komitmennya untuk menerima apapun keputusan Aya. Bukankah Aya sendiri telah memutuskan untuk memilih cinta Agastya? Takeshi tahu, Aya sempat ragu atas keputusannya itu, namun bagi Takeshi, lebih baik ia 'melepaskan' Aya dan mundur teratur dari pada jika seandainya ia memaksa untuk menikahi Aya tapi ternyata diam-diam dibelakangnya mereka menjalin hubungan terlarang. Takeshi melihat potensi itu, sementara ia sendiri bisa mengukur apa yang akan terjadi, dan tahu ia lebih bisa mengendalikan perasannya. Tidak ingin jadinoenghalang, juga Takeshi tidak akan membiarkan keadaan berarah pada berbagi 'istri' dengan pria manapun. Cukup 1 wanita untuknya dan cukup 1 Takeshi untuk wanita, ia tidak suka diduakan apalagi menduakan hatinya.
Takeshi menarik nafas lega saat dari kejauhan melihat Ryujo berhasil memisahkan Aya dari lelaki brengsekk bernama Isao, lalu melangkah mendekati bu Dinar.
"Halo, bu."
"Hai tuan Takeshi. Wah, tuan tampak segar saja. Apa karena gadis yang bersama tuan tadi?" sahut bu Dinar ramah.
__ADS_1
"Ah, ibu bisa saja."
"Saya tahu lho ... jatuh cinta memang ampuh menyulap segalanya. Em, ada yang bisa saya bantu, tuan?
"Eh, begini bu ... saya ingin ibu menerima kekasih saya menjadi murid ibu," kata Takeshi to the point.
"Kekasih? Gadis yang bersama tuan tadi?"
Takeshi mengangguk, "Ibu tahu keadaannya, ia adalah keturunan Belanda yang masih bertahan di sini. Dia masih belia, usianya baru 15 tahun. Terpaksa putus sekolah akibat kekacauan yang terjadi di negeri ini."
"Baiklah, saya mengerti tuan."
"Namanya Arrabella, dia gadis yang pandai. Saya mohon ibu bisa menganalisa mana potensi yang bisa digali dan membuat dia bisa memiliki pekerjaan dari hasil pembelajarannya nanti.
Bu Dinar terkekeh, "Tampaknya nona Arrabella memang gadis yang terdidik. Selain cantik, dia sangat anggun dan elegan, pantas saja tuan jatuh cinta padanya," ujar bu Dinar yang sukses membuat pipi Takeshi bersemu merah. "Ah, kira-kira untuk apa nona Arrabella perlu belajar? Toh jika tuan menikahinya, saya fikir dia tidak perlu pekerjaan nantinya, tuan pasti mampu mencukupi semua kebutuhannya."
"Em, mungkin saja. Tapi ... bu Dinar, kekasihku itu rasanya ingin tahu-nya besar, sementara sistem pendidikan masih kurang baik di negara ini apalagi Arrabella termasuk kategori yang harusnya angkat kaki dari Indonesia lagi pula, kalau bu Dinar menyarakan Arrabella menempuh pendidikan formal, aku ... ah, aku tidak bisa jauh darinya," ungkap Takeshi sambil berbisik di bagian akhir kata-katanya.
"Ah, iya. Saya mengerti ternyata cinta tuan demikian besar ya, sehingga memfasilitasi kekasih tuan untuk mengembangkan diri."
"Baiklah, saya faham tuan. Saya akan mengatur nona Arrabella juga mendapat ijazah dari sekolah kami."
"Itu yang saya harapkan, bu Dinar. Tolong diatur, ya."
"Siap tuan."
Tidak lama, Aya yang didampingi Ryujo menghampiri Takeshi yang sedang berbincang dengan bu Dinar.
"Ah, sayang. Perkenalkan beliau ini bu Dinar, orang yang akan membimbingmu belajar," kata Takeshi sambil menarik lembut tangan Aya agar mendekat padanya.
"Saya Arrabella, bu."
"Dinar. Kamu cantik sekali, nona. Pantas tuan Takeshi jatuh cinta," puji Dinar yang hanya dibalas senyum manis dari Aya.
"Sayang, bu Dinar ini juga akan membantumu menyelesaikan pendidikanmu yang tertunda kemarin dan juga memfasilitasi jika kamu masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, benar begitu kan, bu Dinar?" Mata Aya jadi berseri-seri mendengar perkataan 'kekasihnya' itu
"Iya, nona Arrabella. Kami akan mengatur kelas percepatan khusus untuk nona dan nona juga akan mendapat raport juga ijazah saat lulus nanti," sambut bu Dinar.
__ADS_1
"Oh benarkah? Terima kasih, bu."
"Berterima kasihlah pada kekasihmu ini. Nona orang pertama yang menerima hak istimewa dari lembaga pendidikan kami, ini semata karen tuan Takeshi sangat baik dan mendukung kami selama ini."
"Terima kasih tu-"
"Sayang," potong Takeshi sambil melempar tatapan mesranya.
"Terima kasih, sayang," ulang Aya lagi, tidak mau membuat bu Dinar curiga.
"Jadi bu Dinar, silakan ibu yang mengatur, Arrabella punya banyak waktu kosong di rumah."
"Oh iya, jadi nona Arrabella ini tinggal di mana?" tanya bu Dinar.
"Di rumah dinasku, jalan Agung nomor 1."
"Hah jadi ..." dahi bu Dinar tampak mengerut.
"Ya, karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, maka aku membawanya tinggal bersama sekalian jadi teman Himawari, anakku."
"Oh, baiklah tuan, saya mengerti."
"Nanti kalau Arrabella sudah menyelesaikan pendidikannya, kami akan menikah."
"Wah, harus itu. Namanya tanggung jawab, tidak boleh setengah-setengah. Apalagi tuan telah mengajaknya tinggal bersama."
"Tapi kami tid-"
"Ah, tidak perlu dijelaskan. Lagi pula urusan dalam kamar, cukup kalian saja yang tahu," tutup bu Dinar sambil tersenyum penuh arti.
***
POV Agastya.
Aku dengan lapang dada menerima Aya menjadi kekasih pura-pura tuan Takeshi. Meski sejujurnya aku ingin memiliki wanita yang kucintai itu hanya milikku, hanya boleh dekat denganku. Mungkin aku bodoh malah mengizinkan tuan Takeshi yang jelas-jelas punya 'rasa' terhadap Aya, namun aku memilih setuju, demi kebaikan Aya juga. Inilah caraku melindungi dan mendukung Aya. Aku bersyukur setidaknya karena tuan Takeshi sangat mendukungku dalam usaha menaikkan derajat wanita yang sudah kunikahi itu.
'Jika Aya berstatus istri dari orang sepertiku, mana bisa dia bisa lanjut sekolah seperti saat ini?' Batin Agastya sambil memperhatikan Aya yang sedang belajar serius dengan bu Dinar.
__ADS_1