Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Pak Takeshi


__ADS_3

Sementara Agastya gundah gulana memikirkan nasib percintaannya, jauh di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer dari Banjarmasin, tepatnya di sebuah kota bernama Kyoto yang terletak di Pulau Honshu, Jepang terjadi pertemuan yang haru sekaligus membahagiakan.


"Papa ..." pekik rindu Himawari yang kini tumbuh menjadi gadis yang manis setelah lebih 3 tahun ia terpisah dari ayah kandungnya, Takeshi. Meskipun Ryujo dan Monic merawat dan mengasuhnya dengan sangat baik seperti anak sendiri, tapi tetap saja Himawari butuh sosok orang tua yang sebenarnya.


"Himawari, anakku ..." lelaki tegap itu menyongsong dan memeluk putrinya, ia tidak kuasa menahan kepiluan hatinya terlebih setelah melihat Himawari yang kini wajah serta posturnya semakin mirip dengan mendiang Fuyumi, istri Takeshi.


Sedikit cerita mengenai Takeshi setelah berpisah dengan Ryujo dan Agastya ... selepas Indonesia merdeka, Takeshi tetap menjalankan tugas dan tanggungjawabnya hingga selesai, namun belum sempat ia kembali ke negaranya Takeshi keburu ditangkap pihak sekutu lalu dijebloskan ke penjara selama hampir 3 tahun, atas tuduhan 'pengkhianat bangsa' karena telah membantu Indonesia mempersiapkan kemerdekaannya yang pada saat itu sedang dijajah Jepang dan incaran sekutu.


Baru setelah menyelesaikan masa tahanannya, Takeshi kembali ke Jepang tapi tidak bisa langsung bertemu keluarga dan kerabatnya, sebab seperti yang pernah ia prediksikan, ia dihadapkan pada Mahkamah Militer pemerintah setempat.


Takeshi harus menjalani persidangan alot yang memakan waktu hampir 1 tahun, tapi tidak sia-sia ... karena kemudian Mahkamah Militer Jepang menyatakan Takeshi tidak bersalah dan dibebaskan dari segala bentuk hukuman.


Begitu dinyatakan bebas, tentu saja tujuan utamanya adalah menemui buah hatinya Himawari.


"Selamat datang kembali, tuan," sambut Ryujo sambil merentangkan tangannya. Entah karena rindu atau bebannya memang berat, lelaki kuat itu kini jadi sensitif dan mudah terharu, Takeshi bahkan menangis sesengukan saat Ryujo memeluknya.


"Tuan, bukanlah tuan selalu bilang semua akan baik-baik saja?" Hibur Ryujo bagaikan seorang sahabat.


"Jangan memanggilku tuan lagi Ryujo, aku tidak punya kuasa ataupun jabatan lagi," kata Takeshi.


"Tuan bisa memulainya kembali, bukankah Mahkamah Militer sudah memulihkan nama baik tuan?"


"Tidak Ryujo, aku sudah memutuskan untuk ... mundur dari dunia politik dan militer, aku ingin menjalani hidup sebagai warga negara biasa saja, hidup normal bebas dari beban apa pun."


"Tuan sudah memikirkan ini matang-matang?" Ryujo tentu saja terkejut mendengar keputusan Takeshi.

__ADS_1


"Iya Ryujo, selama di penjara dan masa-masa persidangan Mahkamah Militer, aku banyak merenung ... ah, seandainya saja sejak awal aku tidak menjadi perwira Angkatan Laut."


"Tuan-"


"Cukup panggil aku Takeshi saja Ryujo, aku bukan lagi atasanmu," potong Takeshi.


"Ah ... baiklah tu- eh Takeshi," Ryujo harus membiasakan diri memanggil mantan tuannya tanpa embel-embel 'tuan' lagi.


"Em, bolehkah aku memanggil tuan Takeshi dengan sebutan bapak atau pak Takeshi saja? Sebagai kenang-kenangan anda pernah jadi bagian Indonesia dan punya kerabat juga keluarga orang Indonesia," Monic mengajukan tawarannya.


"Ah, baiklah. Tentu saja Monic. Kalau begitu, kalian panggillah aku demikian agar aku jadi merasa sangat dihargai, haha."


"Ya, ya ... tentu saja tuan, dan untuk menyambut kepulangan tuan, saya sudah siapkan menu khusus."


"Ah, apa itu Monic? Jadi kamu sekarang sudah pintar memasak, ya?" Canda Takeshi.


"Tapi benar pak, sejak tinggal di Kyoto dengan 3 anak yang berbeda selera, sekarang Monic jadi pintar memasak dan rasa masakannya sungguh juara," puji Ryujo.


"Oh iya, kalau begitu cepat hidangkan aku sungguh tidak sabar mencicipi dan menilai masakan Monic, atau jangan-jangan Ryujo hanya ingin membuat istrinya senang saja," kelakar Takeshi yang lalu mengikuti Ryujo menuju ruang makan.


Dengan wajah datarnya, Takeshi mulai bersantap, "Wow, nasi goreng seafood, ini ..." ia sengaja menggantung kalimatnya, membuat yang mendengar jadi penasaran.


"Ini, apa pak?" Monic khawatir mendapat cemoohan dari mantan tuannya, mengingat Takeshi adalah orang yang jujur.


"So delicious, Monic. Lezat sekali. Benar kata suamimu, ini rasanya juara," puji Takeshi tulus.

__ADS_1


"Hah, syukurlah. Bapak tahu, aku bekerja keras untuk bisa memasak," sahut Monic senang.


Mencicipi nasi goreng buatan Monic, mau tidak mau membuat Takeshi teringat Aya. 'Ah, apa kabar Aya sekarang, apakah Aga berhasil menemukannya?' Batin Takeshi.


***


"Jika bapak memutuskan mundur dari kemiliteran lantas apa rencana tuan ke depan?" Tanya Ryujo usai mereka bersantap.


"Mungkin mengikuti jejakmu bertani dan ah, aku berencana menghubungi sahabatku di Kalimantan, pak Ruslan, barangkali kita bisa membuka usaha produk olahan hasil hutan Kalimantan di sini, seperti kayu ulin atau pun rotan. Lagi pula, Agastya kan kutitipkan padanya, mungkin saat ini dia juga sedang mengembangkan usaha, jadi kita bisa bekerja sama dengannya pula," beber Takeshi. Ryujo menyadari fungsinya berteman dan pentingnya berbuat baik dengan siapa saja, saat ini bahkan di titik terendah hidupnya, mantan perwira tinggi Angkatan Laut yang pernah sangat dihormati itu malah terlihat sangat santai dan tenang-tenang saja.


"Oh, apa Agastya masih di Kalimantan, pak?"


"Iya, kabar terakhir dia masih tinggal di daerah Kalimantan Selatan, bekerja pada anaknya pak Ruslan di bidang perkayuan juga. Aku menitipkan sejumlah uang pada pak Ruslan untuk modal Agastya membuka usahanya, aku yakin setidaknya Agastya tidak kesulitan ekonomi sekarang."


"Hm, semoga saja. Oh iya, apa ada kabar tentang Aya?"


Takeshi menggeleng, orang-orangku bahkan intelijen masih tidak berhasil menemukan jejaknya. Ah, semoga saja Tuhan mempertemukan Aga dan Aya, entah bagaimana pun caranya," harap Takeshi.


"Jadi tuan benar-benar sudah hilang rasa pada Aya?" Goda Ryujo.


"Ah, aku fikir yang kurasakan padanya lebih karena rasa kasihan, prihatin atas pahitnya kehidupan yang harus dialami Aya di usia yang masih sangat muda itu. Kalau yang kamu maksud itu adalah rasa cinta ... sepertinya aku belum menemukan wanita yang bisa menggeser Fuyumi dari hatiku," ungkap Takeshi jujur. Percuma saja ia menggantung harapnya pada noni Belanda itu karena hati Aya telah terpaut pada lelaki yang sangat mencintainya.


"Apa bapak tidak berniat mencari ibu baru bagi Himawari?"


Takeshi tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ryujo, "Entah jika memang ada jalannya aku dipertemukan dengan wanita yang tepat sesuai keinginan Himawari seperti Aya dulu, kalau aku sendiri ... rasanya aku sudah terbiasa hidup tanpa pendamping, aku mau fokus mengembangkan bisnis dan mengurus Himawari saja, Ryujo."

__ADS_1


Takeshi semula berniat membawa Himawari pulang ke kota asalnya, Tokyo, namun Ryujo bersikeras menentang rencana itu karena keluarga Takeshi di Tokyo sempat diteror dan dikucilkan akibat kejadian Takeshi waktu itu sehingga jika Takeshi kembali ke sana dalam waktu dekat, kurang pas alih-alih jika hendak buka usaha.


"Suatu kehormatan bagiku jika bapak mau bertahan bersama kami di Kyoto bahkan sampai selamanya sekalipun, sungguh aku rindu suasana seperti waktu kita masih bersama di Indonesia dulu, pak," mohon Ryujo yang kemudian di setujui oleh Takeshi dengan syarat Ryujo bersedia menerima 'sewa' kamar darinya.


__ADS_2