Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Perempuan Yang Layak Diperjuangkan


__ADS_3

Semua persiapan pelayaran selanjutnya sudah tuntas, Takeshi dan awak kapal raksasa-nya berangakat memgemban tugas negara.


Takeshi dan Ryujo serta beberapa prajurit yang membawa istri terpaksa meninggalkan separuh hatinya di pulau yang aman di wilayah Irian Barat. Wewenang atas keberlangsungan hidup orang-orang dikasihi, diserahkan sepenuhnya pada sang asisten, Agastya.


"Agastya, kami pergi dulu. Kamu bertanggung jawab oenuh atas keselamatan orang-orangku yang tinggal di sini, kamu mengerti maksudku, bukan?" tanya Takeshi.


"Siap, tuan. Jangan khawatir." Sahut Agastya membuat Takeshi tersenyum puas. Entah mengapa, walaupun bukan sesama warga Jepang,Takeshi malah percaya pada oemuda lokal yang baru dikenalnya selama 2 tahun belakangan ini.


***


"Arrabella, maaf ... sepertinya laksamana Takeshi menaruh hati padamu," ucap Agastya hati-hati, saat dia mendampingi Aya dan Himawari yang bermain di taman kompleks.


Aya tersenyum tipis, "Hm, ya ... sepertinya begitu."


"Seperti itu, gimana? Aku ini juga seorang pria, aku tahu gelagat tuan Takeshi sangat jelas begitu, Arrabella."


Aya kembali tersenyum sambil mendorong ayunan Himawari.


"Apakah kamu juga menyukai tuan Takeshi?" tanya Agastya lagi.


"Entahlah." Aya mengedikan kedua bahunya.


"Ya atau tidak?" cecar Agastya lagi.


"Ah, aku tidak tahu, Agastya," jujur Aya.


"Jadilah wanita yang tegas, jangan memberi harapan palsu."


"Aku tahu, tapi aku tidak memberinya harapan palsu, aku hanya perlu waktu untuk memikirkan sebelum memutuskan."


"Tapi aku masih penasaran, kamu punya perasaan tidak sama tuan Takeshi?"


"Menurutmu?"


"Ayolah Arrabella, jangan balik nanya gitu. Aku sungguh ingin tahu."


"Kenapa memangnya?"


"A-aku, ah ... aku pengen tahu aja, ya sekedar ingin tahu saja, Arrabella," Agastya nampak menggaruk tekuknya yang tidak gatal.


Aya tersenyum, dia taju lelaki muda ini tampaknya punya ketertarikan dengannya. Pernah bercinta dengan beberapa type lelaki, tentu tidak sulit untuk menebak gelagat yang ditunjukkan Agastya.


"Oh, aku pikir ... aku juga suka padaku," ucap Aya tampa malu-malu membuat Agastya membuang muka.

__ADS_1


"Ah, aku mana berani suka pada gadis yang disukai oleh tuanku, aku tidak mau jadi pria penikung."


"Hm, begitu ya. Padahal, walaupun tuan Takeshi menyukaiku, beliau juga membebaskanku jika ada pria yang aku suka. Kita tahu kan, tuan Takeshi adalah sosok yang fair dan kata-katanya bisa dipercaya."


"Tentu. Tentu saja, tuan Takeshi tidak akan mengingkari kata-katanya sendiri."


"Hanya saja, tentu aku cukup tahu diri, Agastya. Aku tahu aku tidak layak untuknya atau lelaki mana pun. Aku ini perempuan kotor dan hina, aku menjual diriku hanya demi sesuatu yang tidak jelas. Awalnya aku tertarik setelah diiming-imingi bea siswa ke Jepang, agar kelak bisa bekerja di istana negara Hindia Belanda, sebagai penerjemah, tidak tahunya aku malah dijadikqn jugun ianfu," Aya memulai kisahnya.


"Jangan bicara begitu, di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang suci, kamu terpaksa jadi gadis ianjo demi menyelamatkan keluargamu dan agar kamu sendiri terhindar dari penyiksaan tentara Jepang, kan?"


"Begitulah Agastya, nyatanya ... jangankan menyelamatkan keluarga, bahkan bagaimana nasib mereka sekarang pun aku tidak tahu."


"Jangan menyalahkan dirimu atas keadaan yang tidak dapat kamu ubah, Arrabella. Cukup jalani saja," nasehat Agastya.


Aya menggeleng sambil terus menarik ulur ayunan Himawari.


"Ayahku adalah seorang kompeni yang menikahi gadis Jawa, jika aku kemudian menerima tawaran tuan Takeshi menjadi istrinya, tidakkah capku sebagai pengkhianat bangasa akan semakin sempurna?" Aya terkekeh menertawai nasibnya.


"Tidak , jangan berkata begitu. Sekarang aku mau tanya, jika ada pria yang berniat tulus padamu dan sanggup menerimamu apa adanya, apakah kamu bersedia memulai hidup baru dengannya?"


"Maksudmu tuan Takeshi? Haha, dia mungkin siap tapi aku tidak Agastya. Kamu lihat sendiri, lingkaran pergaulan tuan Takeshi, beberapa temannya pernah bahkan sering menggunakan jasaku, menikmati tubuhku. Apa kamu tidak berpikir, tuan Takeshi bisa saja mendapat cemoohan mereka?"


"Bukan, maksudku pria itu bukan tuan Takeshi tapi ... aku," jawab Agastya.


"Ah, kamu mana pernah taju kalau tidak mencobanya."


"Agastya, aku ini pernah menjadi wanita penghibur. Tentu tidak sulit bagiku menghangatkan pria yang bahkan tidak kukenal, tapi kalau yang kamu maksud pria yang berniat serius itu ingin berbagi hidup denganku dan menjadikan aku satu-satunya wanita miliknya, aku rasa tidak akan ada ..." Aya menunduk, air matanya merembes perlahan.


Walaupun cantik, Aya bukanlah wanita yang pecaya diri terlebih karena status yang disandangnya sebagai mantan jugun ianfu.


"Ada Arrabella, aku."


"Hah, maksudmu ... kamu?"


"Iya. Meskipun aku tahu kamu dulu bagaimana tapi aku sanggup menerimamu apa adanya. aku janji untuk tidak mengungkit hal itu."


"Ah, tuan Takeshi juga bilang begitu. Apa kamu pikir aku tidak tahu? Selalu lebih mudah berkata-kata, tapi belum tentu gampang menjalaninya."


"Tidak, aku sungguh-sungguh, Arrabella. Asalkan kamu serius, maka aku akan memperjuangkanmu agar bisa menjadi milikku seutuhnya," ungkap Agastya.


"Kamu?"


"Iya, kamu tidak menyadari itu?"

__ADS_1


"Tidak."


"Ck," Agastya berdecak sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku paham, keadaanlah yang menjebakmu menjadi jugun ianfu, tentu pada keadaan lain yang lebih baik, kamu pasti tidak akan menjalani pekerjaan itu, kan?"


Aya mengangguk.


"Nah, sekarang maukah kau percaya padaku? Maukah lau jadi kekasihku mulai sekarang?" Agastya meraih jemari Aya.


"Hei, jangan pegang-pegang tangan mamaku!" Hardik Himawari pada Agastya yang ternyata sudah melompat dari ayunannya, kemudian memisahkan tautann tangan Agastya dan Aya.


"Hei anak cantik, saat kau mendapatkan apa yang kau inginkan apa kau akan senang?" tanya Agastya pada Himawari.


Himawari kecil mengangguk.


"Bagus, kamu harus turut senang jika temanmu jyga senang jika mendapatkan apa dia inginkan."


"Iya," Himawari kembali mengangguk.


"Nah, bukankah papa-mu bilang tidak baik memaksakan kehendak ... bagaimana kalau ternyata Arrabella eh, maaf. Maksudku Sora lebih senang bersama orang lain dari pada papa-mu."


Himawari melotot, "Tidak boleh! Sora hanya akan bersama ku dan papa, dia akan menjadi mamaku, Agastya!" balas gadis kecil itu dengan bibir cemberut.


"Tidak, tidak. Bagaimana kalau aku bilang, Sora tidak mau menjadi mama-mu?" pancing Agastya lagi.


"Sora, benar kamu tidak mau menjadi mamaku?" tanya Himawari pada Aya.


Aya yang bingung bagaimana mengatakan alasannya memilih diam.


"Jawab Sora, kamu tidak mau menikah dengan papaku dan tidak mau kita tidur bersama papa?" cecar gadis kecil itu lagi, menyudutkan Aya.


"Aku hanya belum memikirkannya saja, Hani. Bukankah papa-mu bilang aku tidak harus segera menjawabnya?" Aya mengutarakan pendapatnya.


"Papaku memang bilang begitu, tapi aku mau kamu segera bilang iya. Aku tidak mau tahu." Himawari melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka.


"Hm, Arrabella ... jadi gimana?" tanya Agastya.


"Gimana apanya?"


"Soal itu tadi, kamu mau kan jadi kekasihku?"


"Astaga Agastya, apa kamu juga seperti Himawari yang menuntutku segera memberimu jawaban?"


"Tentu. Aku janji akan mengembalikan harga diri dan nama baikmu. Biarlah orang lain menganggapmu perempuan rendahan dan tidak bermoral tapi bagiku, kamu satu-satunya perempuan yang sangat diperjuangkan untuk kumiliki," ucap Agastya mantap.

__ADS_1


__ADS_2