Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Peran Ganda


__ADS_3

Aya cukup menikmati keberadaannya di tangsi Katsuro, beraktivitas layaknya asisten pribadi sungguhan yang melayani kebutuhan lelaki itu.


Tugasnya sudah mirip seperti seorang istri gesit yang berperan ganda. Aya mengurus semua kebutuhan Katsuro menyangkut pekerjaan, seperti menerjemakan surat, menyiapkan materi yang akan digunakan Katsuro untuk bahan rapatnya, mencatat suart-surat masuk, merapikan meja kerja sampai kebutuhan paling pribadi, yah ... apalagi selain memberikan pijatan sensual dan memanaskan tubuh lelaki itu di tempat tidur?


"Kamu memang perempuan luar biasa, Arrabella. Kamu tidak hanya cantik dan molek tapi juga cerdas, teristimewa servismu di tempat tidur, selalu membuatku kewalahan. Kamu perempuan all in one, ok banget," puji Katsuro usai mereka mengakhiri aksi panas mereka pagi itu.


"Hm, kalau begitu ... bersediakah tuan menebusku dari ianjo?" tantang Aya. Aya pikir jika Katsuro sangat tertarik dengannya, pastinya beliau tidak keberatan menebusnya, makanya Aya mencoba menanyakan hal itu.


"Menebusmu? Haha ... kamu memang menarik dan multi fungsi, aku juga punya uang yang lebih dari cukup untuk membawamu keluar dari situ tapi ... ah, aku pikir-pikir dulu, deh. Jika aku menebusmu tentu aku maunya kamu selalu ada didekatku atau setidaknya berada ditempat yang mudah kuhampiri kapan saja, tapi aku ini panglima perang Arrabella, aku biasa berpindah tempat dan lebih sering tinggal di tempat yang tidak aman. Jika kamu aku tinggal di markas sementara, bisa-bisa kamu jadi santapan segar prajuritku, haha. Aku yang menebusmu, eh ... mereka juga yang ikut menikmatimu, keenakan mereka jadinya." Jawaban Katsuro seketika membuat hati Aya kecewa.


"Siapkan seragamku, aku akan rapat sebentar lagi di markas besar. Nanti malam aku akan mengembalikanmu ke ianjo sebab besok aku akan bertolak ke Sumatera," kata Katsuro sambil bergegas menuju kamar mandi.


"Arrabella, jika pun aku akan menebusmu, aku pastikan itu tidak dalam waktu yang dekat ini. Kamu tahu, bangsaku sedang gencar-gencarnya berperang. Aku janji jika semua aman dan memungkinkan, aku akan menebusmu. Ok?" Ucap Katsuro sebelum meninggalkan tangsinya.


***


"Aku tadi ketemu Panglima Katsuro," kata Ryujo pada Monic. Ryujo yang baru saja mewakili Laksamana Takeshi menghadiri rapat, memberitahu pertemuannya pada sang istri.


"Hm, trus ada kabar apa dari tuan panglima perang itu, sayang?" Monic mengambil baju dinas suaminya yang baru saja dilepas.


"Panglima Katsuro bilang kalau pekerjaannya yang terkait surat-menyurat dan naskah bahan rapat, banyak dibantu oleh Arrabella."


"Gadis itu, apa sudah ditebus oleh tuan Katsuro?" Sahut Monic seraya memberikan pakaian ganti pada Ryujo.


Ryujo menggeleng. "Belum, panglima Katsuro baru hanya memikirkan ke arah itu."


"Oh, beliau mengatakan begitu? Apa tuan Katsuro berniat menebus Arrabella?"


"Begitu yang tuan Katsuro katakan tadi saat kami mengobrol ada yang menanyakan siapa asisten yang membantu mengerjakan tugas-tugasnya."


"Apa tuan Katsuro orangnya baik?" tanya Monic.


"Hm, begitulah. Tuan Katsuro cukup baik dan bertanggung jawab."


"Ah, syukurlah kalau dia bertemu pria yang tepat, entah kalau Isao yang menebusnya. Aku merasa bersalah telah menjebak noni Belanda itu dan semakin merasa sangat bersalah jika harus melayani pria bejat. Padahal, dia anak yang baik dan rajin. Lebih-lebih dia gadis pintar dan terpelajar, mungkin karena dididik oleh ayahnya yang adalah perwira Belanda."


"Bisa jadi. Eh, aku baru ingat ... Laksamana Takeshi memintaku mencarikan pengasuh untuk Himawari, gadis kecilnya yang sangat cerewet dan pemilih itu, bagaimana kalau Arrabella saja?"

__ADS_1


"Hm, itu artinya kita harus menemui Irene dan menebusnya dari ianjo."


"Iya, aku tidak masalah berurusan dengan Irene dan sanggup membayar berapapun nominal yang ditentukannya hanya saja, bagaimana caranya?"


"Sebentar, apa jika nanti Arrabella kita tebus jadi pengasuh anak tuan Takeshi, dia akan bersama dengan kita?"


"Hm, tepatnya selalu bersama Laksamana Takeshi, dia akan bertugas layaknya ajudan sepertiku. Ah sayang, kamu tahu sendiri sejak istrinya meninggal, beliau mengurus sendiri dan membawa anak gadisnya itu kemana-mana. Rasanya aneh saja kalau seorang Laksamana, bertugas sambil menjaga anak. Tentu akan banyak hal yang mungkin menghambat pekerjaannya, terutama jika anaknya sedang ngambek dan tidak ada yang bisa mengurusnya selain tuan Takeshi."


"Iya sih, anak tuan Takeshi tidak mudah akrab dengan orang asing. Beberapa kali aku juga istri tentara yang lainnya coba mendekati, anak itu malah menangis kencang," timpal Monic.


"Nah itulah yang kupikirkan, sayang. Jadi, bagaimana cara kita membawa Arrabella bersama? Kamu tahu kalau Laksamana Takeshi anti mengunjungi ianjo dan berurusan dengan gadis-gadis di sana, termasuk Irene si induk semang ianjo."


"Tidak ada pilihan, kamu sebagai ajudannya tuan Takeshi tentu harus turun tangan mengurusnya, sayang," ide Monic.


"Kamu tidak keberatan? Bagaimana kalau Arrabella menolak, tempo hari kan aku juga yang ke ianjo membelinya untuk Isao dan membawanya pergi. Apa Arrabella bisa mempercayaiku?"


"Benar juga. Hm, bagaimana kalau aku saja yang menemui Irene?"


"Kamu yakin mau keluar dari persembunyianmu, sayang? Apa tidak takut kalau keberadaanmu terendus Isao?" lempar Ryujo.


Monic merenungi perkataan suaminya sambil mengelus perut yang sedikit membuncit berisikan janin kecil, benih Ryujo.


Ryujo terkekeh. "Laksamana Takeshi baru saja menduda, asumsimu bisa iya atau tidak. Tapi, selama aku mengenal beliau, beliau itu type lelaki setia dan tidak pernah main perempuan ... mungkin Arrabella bisa jadi pelayan tempat tidur tapi tentunya setelah dinikahi," jawab Ryujo.


"Dinikahi juga tidak apa-apa, yang penting hidupnya lebih terjamin dan dia tidak perlu meladeni bermacam-macam pria," tukas Monic.


"Ya, aku sepakat denganmu jadi sebaiknya kita gimana?"


"Hm, besok aku akan menemui mami Irene, kamu cukup mengawasiku."


"Baiklah, sayangku."


***


Sementara Ryujo dan Monic berdiskusi, Laksamana Takeshi menemui tuan Kasturo di tangsinya, karena ada hal penting yang harus mereka bahas secara pribadi terkait masalah di kedutaan Belanda.


Laksamana datang bersama Himawari dan seorang ajudan orang Indonesia yang bernama Agastya.

__ADS_1


"Siapa gadis itu?" selidik Takeshi saat Arrabella membawakan minum beserta cemilan untuk tamu Katsuro.


"Jugun ianfu. Aku sengaja membawanya kemari karena malas bolak-balik ke ianjo," sahut Katsuro.


Kedua lelaki itu pun asyik berdiskusi.


"Hahaha ... motto (lagi), motto dayo (lagi dong)," celoteh riang Himawari yang artinya lagi, lagi. Rupanya gadis kecil berusia 3,5 tahun itu sedang asyik bermain dengan Arrabella.


Hati Takeshi menghangat melihat saat melihat gadisnya seceria itu, sejak Fuyumi meninggal akibat hepatitis beberapa waktu lalu, Takeshi tidak pernah melihat Himawari bermain dan tertawa riang.


"Ie (tidak)," sahut Arrabella. "Jika kamu mau makan, baru aku mau bermain denganmu lagi," lanjut Arrabella sambil berusaha menyuapi gadis kecil itu.


"Hai (iya)," Himawari itu mengangguk keras sambil membuka mulutnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Katsuro saat mengikuti arah tatapan Takeshi yang sedikit basah di ujung matanya.


"A-aku ... apa boleh gadis itu untukku saja?" jawab Takeshi yang langsung membuat mata Katsuro melotot.


"Haha ... apa aku tidak salah dengar? Bukankah kamu anti main perempuan?"


"Tidak. Em, maksudku u-untuk Himawari. Baru kali ini aku melihat anakku mudah akrab dengan orang asing. Lihatlah anakku senang sekali dengan gadis itu."


"Ah, untukmu juga tidak apa-apa. Kamu kan seorang duda, kamu tinggal menebusnya dari ianjo, menikahinya dan tentu gadis itu akan jadi ibu sambung yang baik."


"Uhuukk." Takeshi terbatuk.


"Hei, kalau kamu tidak mau .. aku saja. Menebus gadis itu, walaupun mahal sungguh tidak akan membuat rugi. Dia gadis yang cerdas, beberapa hari bersamaku, dia yang membantuku mengurus surat menyurat dan menterjemah beberapa dokumen berbahasa Belanda dan Inggris ke bahasa Indobesia. Dia gadis yang telaten dan yang terpenting, dia hot di tempat tidur," kata Karsuro dengan berbisik di bagian akhir kalimatnya.


"Ah, ya sudahlah. Kalau begitu tidak jadi, biar kamu saja yang menebusnya," kata Takeshi yang tiba-tiba ragu saat membayangkan anaknya akan diasuh oleh seorang jugun ianfu.


"Lho tidak apa-apa, Takeshi. Aku bisa mencari gadis lain. Masalah kecerdasannya ... aku tidak sengaja menemukannya. Aku serius, aku gampang mendapatkan wanita yang bisa memuaskanku sementara, kamu tentu akan sulit menemukan seseorang yang langsung cocok dengan anakmu."


"Ah, benar juga. Bahkan beberapa kali istri anak buahku termasuk Monic, istri Ryujo mencoba mendekati Himawari hanya membuat anakku menangis saja."


"Makanya ... sudah, kamu tebus saja. Kebetulan nanti malam aku akan mengembalikannya ke ianjo jadi kamu bisa langsung menebusnya. Aku hanya berminat tapu tidak akan menebus gadis ianjo sebab kamu tahu kan kondisiku. Percuma juga aku membawany kemari karen aku jarang-jarang pulang, lagi pula aku tidak tahu jika tiba-tiba istriku datang."


"Tapi aku pantang ke ianjo, Katsuro."

__ADS_1


"Ah, sudahlah Takeshi. Kali ini saja, jangan terlalu egois. Demi Himawari," bujuk Katsuro.


__ADS_2