
Ryujo tercekat saat melihat siapa yang bertamu di rumah dinas tuan Takeshi sore ini.
"Isao, kamu mau bertemu aku atau tuanku?" tanya Ryujo hati-hati.
"Aku mau bertemu istrimu," jawab Isao terkekeh membuat Ryujo menahan nafas.
"Ka-kamu ...?"
"Hei, ada apa denganmu? Tentu saja bertemu tuan Takeshi. Ada hal penting yang mau aku sampaikan."
"Baiklah, silakan masuk ke ruang kerjanya," ajak Ryujo.
Tidak lama Agastya dan Aya tiba di rumah kediaman Takeshi. Seolah tahu apa yang harus dilakukan, Agastya segera masuk ke dalam rumah, memberitahukan perihal keberadaan Isao pada Monic.
"Hai Isao, angin apa yang membuatmu menemuiku?" tanya Takeshi saat memasuki ruang kerjanya.
"Langsung pada intinya saja tuan, untuk apa tuan membiarkan Arrabella berkeliaran ke kampus dengan asisten tuan?" lempar Isao.
"Ya, tentu saja untuk mendaftar kuliah. Aku mau kekasihku itu menempuh pendidikan, ada masalah?"
"Tidak. Justru tuan yang akan mendapat masalah. Mantan pelacur yang jadi kekasih tuan itu memanfaatkan kepercayaan tuan. Mereka tampak mesra sekali, apa tuan tahu?"
Takeshi mengetatkan rahangnya. Bukan karena mendengar kabar kedekatn Aga dan Aya tapi istilah 'pelacur' yang dilekatkan Isao pada perempuan yang sedang diperjuangkan harkatnya oleh Takeshi.
"Apa kamu tidak punya kerjaan sampai sibuk mengurusi masalah yang bukan urusanmu?" tatapan Takeshi dingin, sedingin kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Ah, aku ... aku hanya sedang ada urusan di sekitar kampus, tidak sengaja melihat mereka dan aku datang kemari untuk melaporkan kalau tuan telah dikhianati oleh kekasih dan juga asisten tuan sendiri."
"Hm, terima kasih sudah menyampaikan berita itu. Namun aku tidak tertarik sama sekali. Silakan kembali ke tempatmu."
Isao tidak puas akan reaksi Takeshi. Padahal Isao ingin melihat bagaimana Takeshi marah lalu mengusir Arrabella yang tidak tahu diri itu dan membawanya pulang, sebab kedua pembantunya Sumi dan Yati sudah sangat membosankan baginya. Terlebih setelah kedua perempuan itu terang-terangan menggilir Isao dengan para pengawal yang bekerja padanya bahkan berani melayani hasrat pengawalnya itu di dalam rumah, di depan matanya sendiri, membuat kediamannya tak ubaj seperti ianjo saja. Isao merimdukan perempuan penurut, yang manis dan hangat seperti Arrabella dan ... Monic yang entah ada di mana keberadaannya sekarang.
"Tuan tidak marah?"
"Marah kenapa?"
"Sudah dikhianati oleh mereka."
"Haruskah aku menindak sesuatu yang kudapat infonya dari mulut orang lain?"
"Tuan bisa menanyakan langsung dan mengamati bahasa tubuh mereka bila ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa apa yang kukatakan adalah hal yang benar."
"Isao, sekali lagi aku katakan jangan mengurusi yang bukan urusanmu!" tegas Takeshi.
__ADS_1
"Maaf. Saya hanya mengingatkan, jangan sampai harga diri kita diinjak-injak oleh warga pribumi. Kita ini bangsa yang disegani ..."
"Lalu, apa itu berarti kita boleh sewenang-wenang pada mereka? Menjatuhi hukuman tanpa kesalahan yang jelas? Apa keuntunganmu jika aku memarahi kekasihku juga asistenku itu, hm?" Potong Takeshi.
"Ma-maaf saya hanya ..."
"Atau jangan-jangan kamu berharap aku akan mendepak Arrabella dari sini dan kamu bak pahlawan kesiangan menolongnya lalu membawanya ke rumah, menjadikannya pelacurmu?" tebak Takeshi mengenai sasarannya.
Lidah Isao menjadi kelu, bagaimana mungkin Takeshi bisa menebak isi pikirannya?
"Perlu kamu ingat Isao, ini rumahku apa saja yang terjadi di dalam rumah ini serta orang-orangku adalah urusanku. Aku tahu yang terbaik. Jangan pikirkan masalah pengkhianatan, karena ini sungguh hanya urusanku saja. Silakan, kamu tahu jalan pulang, kan?" Usir Takeshi dengan halus.
Merasa gagal mempengaruhi Takeshi, Isao pun berbalik.
Bum. Kaki Isao terantuk sesuatu saat kakinya baru saja keluar dari ruang kerja Takeshi.
"Hwaaa ..." jerit bayi lelaki yang hampir tertendang oleh Isao.
"Cup ... cup, maafkan aku anak tampan," Isao meraih anak lelaki itu dan menggendongnya.
"Pa ... pa ..." celoteh sang bayi sambil menjulurkan tangannya pada Takeshi yang mengekori Isao.
"Hai Hiroshi ... papa di sini," Takeshi mengambil bayi itu dari gendongan Isao.
"Jaga bicaramu, Isao. Anak ini tidak perlu mendengar kalimat kasar dari mulut kotormu itu," kata Takeshi pelan tapi menusuk.
"Hiroshiii ... hah, syukurlah ada tuan," ujar Monic yang tidak sadar pada lelaki yang berdiri membelakanginya sedang bebicara dengan Takeshi.
Isao berbalik saat suara yang terdengar familiar itu menggelitik indera dengarnya, "Mo-Monic?"
"I-Isao?" Monic tidak kalah terkejut. Sebelumnya dia memang sudah mendapat peringatan dari Agastya dan Ryujo untuk jangan ke depan namun Monic panik mencari keberadaan salah satu anak kembarnya yang tidak ada di ruang bermain.
"Hah? Monic, tuan Takeshi ... ada apa ini? Jadi kamu pergi karena tuan Takeshi?" Duga Isao.
"Monic, sudah saatnya dia tahu yang seharusnya," ujar Takeshi berusaha menetralkan keadaan, sambil memberikan Hiroshi pada ibunya.
"Ja-jadi, tuan mengajak Monic tinggal bersama di sini tapi juga menjalin hubungan dengan Arrabella? Sialan ternyata tuan tidak sesuci yang kukira."
"Suci? Haha ... sebaik-baiknya seseorang ada sisi jahatnya. Demikian pula sebaliknya, sejahat-jahatnya seseorang pasti masih punya sisi baiknya, kamu paham tidak?"
"Aku tidak menyangka tuan sangat licik."
"Lalu kamu pikir, kamu tidak lebih licik dariku Isao? Ryujo, kemarilah!" Takeshi memanggil ajudannya.
__ADS_1
Ryujo berjalan tegap mendekati mereka sambil membawa Hiroki.
"Hah? Ada bayi lain lagi?" Gumam Isao.
"Ya, mereka kembar," jawab Takeshi.
"Ryujo, temanmu ini sempat berpikir kalau aku dan Arrabella sudah punya anak, lalu saat Monic muncul dia menduga kalau Hiroshi adalah anakku dan Monic jadi dia menyimpulkan aku telah membawa Monic kemari, menghamilinya dan pada saat yang sama juga menjalin hubungan dengan Arrabella, bagaimana cara menjelaskannya, Ryujo?" ucap Takeshi sambil menahan tawa.
Ryujo terkekeh, "Isao, perhatikan kedua anak ini, yang dengan ibunya itu bernama Hiroshi dan yang kugendong ini adalah Hiroki, apakah mereka memiliki gen tuan Takeshi atau kamu sudah menyadari kalau keduanya justru mewarisi ketampananku?" pancing Ryujo.
"A-apa? Aku tidak mengerti," ragu Isao.
"Perhatikan sebentar dan akui kata hatimu," ujar Ryujo lagi.
"Anak kembar ini ... sangat mirip denganmu, Ryujo."
"Tentu saja karena Hiroki dan Hiroshi adalah putraku."
"Apa kamu bilang?" ujar Isao dengan suara keras.
"Sayang, tolong bawa anak-anak kita ke dalam. Mereka belum pantas mendengar percakapanku dengan paman Isao," kata Ryujo pada Monic.
"Hah, sayang? Paman Isao?" Isao jadi menebak kemungkinan lain.
"Ya, maaf baru sempat memberitahumu sekarang, Isao," kata Ryujo setelah Monic membawa si kembar menjauhi mereka. "Perempuan yang menjadi istriku adalah Monic, mantan wanitamu."
"Kurang aj-"
"Hei, jangan main kekerasan di rumahku, aku tidak mau jadi wasitnya," cegah Takeshi yang terdengar lucu saat Isao akan melayangkan tinjunya.
"Saat kau asyik bercinta dengan salah satu pembantumu di loteng, aku membawa wanitamu ke kamarku. Saat kamu bahagia mendapat keperawanan Arrabella, si noni Belanda itu, aku membawa Monic kabur dan menikahinya."
"Dasar, sahabat tidak berakhlak, pantas saja kamu sangat membantuku waktu itu," sungut Isao.
"Haha ... walaupun aku tidak berakhlak, tapi aku bukanlah pria yang suka menyia-nyiakan wanita. Kamu jangan lupa, sejak awal Monic harusnya jadi milikku, kamu yang berbuat curang. Aku hanya mengambil kembali yang seharusnya menjadi milikku. Kamu tahu kan aku tidak gampang jatuh cinta apalagi berganti wanita sepertimu, tapi saat kamu tahu aku tertarik pada Monic saat manis di ianjo, kamu malah mendahuluiku membayar tebusan."
"Sialan!"
"Hei jangan berkata begitu Isao, walaupun pergi Monic tidak membuatmu rugi, bukan? Dia sudah mengganti semua biaya yang telah kamu keluarkan untuknya, bahkan lebih. Begitu juga barang-barang yang kamu belikan untuknya, tidak ada satupun yang dibawanya."
Mendengar itu, Isao memilih pergi dari kediaman Takeshi. Arrabella dan Monic, kedua wanita yang diharap jadi penghangat ranjangnya ternyata adalah orang-orang rumah Takeshi yang sangat terlindungi.
"Tunggu saatnya aku menculik salah satu atau kedua wanita itu," janji Isao dalam hati.
__ADS_1