Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Jangan Pakai Hati


__ADS_3

Aya mengerti kenapa Lucia yang baru saja menjadi temannya di ianjo berubah sikap. Tentu saja karena Akeno lebih memilih menghabiskan 2 malam berturut-turut di kamar Aya.


"Lucia, maaf. Aku benar-benar tidak tau kalau pria itu Akeno yang kamu maksud," ujar Aya berusaha memperbaiki keadaan.


"Tapi kamu telah membuat Akeno kembali bersamamu di malam berikutnya, tentu kamu menggodanya sampai mengabaikanku," balas Lucia.


"Maaf, jika dia datang lagi aku akan memintanya menghampirimu," janji Aya.


"Tidak perlu sok baik begitu." Lucia yang sebal menjauhi Aya.


Aya hanya bisa menahan diri untuk tidak menyahut, kenyataannya dia tidak meminta lelaki itu menghampirinya lagi apalagi sampai menggoda. Bukankah tugas para gadis di ianjo hanya 'melayani' tamu sebaik-baiknya tanpa harus melibatkan perasaan khusus?


Lagi pula, para pria itu yang memilih mangsanya sendiri, Aya tidak pernah menawarkan diri atau ikut duduk di ruang tamu menunggu panggilan nomor kamarnya.


Justru Irene yang melarang Aya menunggu di ruang tamu, sebab malam setelah Aya melayani Akeno, sudah ada beberapa pria yang mengantri ingin memakai jasa Aya. Biasa, barang baru memang selalu bikin penasaran untuk dicicipi. Tentu saja Irene memanfaatkan kondisi itu demi menambah pundi uangnya sebab selain membayar karcis, para lelaki itu juga menitipkan tanda jadi pada mami Irene.


Selama 1 minggu ini kamar Aya tidak pernah sepi pengunjung. Terkadang, hanya 1 orang pria menginap bersamanya, disaat lain ada yang tidak menginap tapi justru membuatnya melayani 3 - 4 pria berbeda sejak malam hingga pagi, bahkan ada juga yang sengaja datang di siang hari. Aya sengaja menghitung, sudah 21 pria yang dilayaninya dan berhasil membuatnya memiliki 1.450 gulden hanya selama 7 hari sejak ia memutuskan mau 'bekerja'.


"Mi, aku boleh libur gak?" tanya Aya pada Irene.


"Kenapa? Kamu lagi datang bulan?" Irene balik nanya.


"Gak. Aku mau istirahat aja, Mi. Mau perawatan sekalian bersihin kamar, ganti sprei, nyuci horden."


"Hihi, kamu sibuk banget nerima tamu sih," ledek Irene

__ADS_1


Aya tersipu sebab kata-kata Irene ada benarnya. Energinya cukup terkuras belakangan ini sebab beberapa kali terjadi, Aya bangun pagi setelah melayani tamu ... baru selesai mandi dan sarapan, eh ... sudah ada lagi tamu yang mengurungnya hingga sore, kemudian lanjut lagi malamnya Aya bergumul dengan tamu lain hingga pagi.


Tentu kelelahannya setimpal dengan hasil yang diperolehnya, karcis yang ditukarkan dengan sejumlah gulden dibagi 3, 2 bagian dipotong untuk administrasi, keamanan, obat-obatan dan segala kebutuhan lainnya di ianjo dan 1 bagian bersih untuknya senilai 2.000 gulden.


Aya menghitung jika pendapatannya stabil 3.000 gulden saja setiap minggu, dipotong libur untuk beristirahat dan datang bulan yang anggplah 10 hari, maka ia hanya perlu 5 bulan atau paling lama perlu waktu 6 bulan untuk mengumpulkan 300.000 gulden. Aya bisa membayar tebusan pada mami Irene dan ia akan bisa terlepas dari tempat terkutuk itu. Tapi, akankah mami Irene akan semudah itu melepaskan Aya? Ah, Aya tidak memikirkan kemungkinan itu, ia hanya fokus membenahi dirinya agar memberi pelayanan prima pada para tamu yang datang.


Bukankah semakin bagus pelayanannya, semakin banyak pria yang menghampirinya dan memberi tips maka tabungannya akan semakin cepat bertambah? Aya benar-benar optimis dan semangat menjalani profesi tidak terpujinya saat ini.


Pesona yang dimiliki Aya memang menguntungkan, baik bagi ianjo maupun untuk dieinya secara pribadi namun berbanding terbalik terhadap relasinya dengan sesama gadis ianjo. Terutama Lucia yang semula sangat ramah padanya sekarang ikut-ikutan sinis, sama seperti gadis VIP lainnya yang merasa tersaingi karena pelanggan berkantong tebal lebih memilih menghabiskan waktu bersama Aya.


Aya memilih untuk tidak menghiraukan selagi hubungannya dengan Irene, penanggung jawab ianjo sangat baik. Aya yang karena kesibukannya sudah sangat jarang makan bersama sesama rekannya justru diantarkan makanan spesial ke kamar. Termasuk pelayanan lain seperti tukang pijat dan asisten yang didatangkan untuk merawat tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki. Bukan salahnya jika dalam waktu singkat sudah menjadi bintang di ianjo, Aya tidak berharap demikian baginya yang penting target segera tercapai.


Tok ... tok ... .


Pintu kamar nomor 8 diketuk. Aya cepat-cepat merapikan tampilannya, bersiap menerima tamunya pagi itu.


"Keluar kamu!" Hardik seseorang.


Aya mengangkat kepala, bukan tamu pria tapi ... rekannya yang berjumlah lebih dari 1 orang telah menghadangnya.


"Dasar perempuan serakah! Sejak kamu menempati kamar ini, penghasilan kami jadi berkurang drastis," tuduh temannya yang lain.


"Katakan, pelet apa yang kamu pakai? Kamu pasti pakai susuk atau guna-guna membuat tuan Akeno dan para lelaki lain memilihmu dan rela mengantri demi bisa memakaimu," sambung Lucia, satu-satunya teman yang Aya ketahui namanya. Duh, bahkan Lucia turut menghardiknya. Temannya ini benar-benar masih kesal pada Aya.


"Heh, kamu marah padanya karena tuan Akeno lebih suka bermalam dengannya?"

__ADS_1


"Eng, iya ..." jawab Lucia ragu-ragu pada temannya.


"Itu salah kamu sendiri. Makanya kalau main, jangan pakai hati. Cukuplah kita kesal pada anak baru ini karena sudah merebut pelanggan saja, masalah perasaan jangan kau libatkan," ujar temannya yang sontak membuat Lucia terdiam dan merutuki kejujurannya yang tidak sengaja berkata kalau dia jatuh cinta pada salah satu pelanggannya.


"A-akuh ..." Aya berusaha meluruskan.


"Jangan kebanyakan alasan, seret dia!" Perintah seorang perempuan bertampang indo pada teman lainnya.


Meskipun dibekali ilmu bela diri, Aya memilih tidak melawan saat kedua tangannya ditarik dengan kasar oleh teman-temannya yang sedang dilanda amarah.


Hingga sampai di bagian belakang ianjo yang berhadapan dengan tembok tinggi yang dikelilingi kawat berduri, tubuh Aya didirikan bersandar pada pohon kelapa. Tubuhnya diikat pada pohon itu, dan mulutnya dilakban. Lalu secara bergantian gadis-gadis itu menghajar Aya, dengan jambakan, tamparan bahkan dengan sebilah kayu.


Aya hanya bisa pasrah menerima perlakuan teman-teman itu, mungkin apa yang didapatnya saat ini setimpal dengan penyebab kemarahan mereka.


'Tidak tahu kalian, sesungguhnya aku tidak mau bekerja menjadi budak napsuu hidung belang?' batin Aya.


Jika ada pilihan bekerja keras di ladang demi sesuap nasi atau mengumpulkan sebongkah emas hanya dengan mengangkaang, maka Aya akan memilih opsi pertama. Aya berusaha memberikan pelayanan memuaskan bagi para tamunya semata demi mencapai 300.000 gulden saja, setelah itu Aya akan pergi. Tidak ada niatnya untuk selamanya menjadi gadis ianjo.


Darah yang keluar dari luka di tubuh Aya mengering, begitu juga dengan air matanya. Hanya rasa sakit, perih, dingin, lapar dan haus yang setia menemani Aya, sementara ia masih terikat di pohon kelapa hingga hari mulai gelap.


'Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu yang kotor dan berdosa ini. Mohon tunjukkan jalan keluar untuk hamba-Mu.' Rapal Aya dalam diamnya sambil berpikir untuk kabur saja, tapi tali yang terlilit ditubuhnya sangat kuat.


Sementara itu, salah seorang tamu yang berniat mengunjungi kamar nomor 8, kebingungan mencari keberadaan Aya dan menanyakan pada mami Irene.


Irene yang sedari pagi ada urusan terkait ianjo di markas tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Hah, dasar gadis bodoh. Bikin repot saja, dia benar-benar ingin merasakan hukuman jika mencoba kabur dari sini?" gerutu Irene yang kesal karena malam ini pasti penghasilannya berkurang.


__ADS_2