
Aya mengingat baik-baik rangkaian perawatan tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala serta bahan apa saja yang digunakan. Ribet memang, karena ada beberapa perawatan wajib tiap hari, namun ada juga yang cukup 1 atau 2 minggu sekali. Aya sudah bertekad, demi 300.000 gulden ingin menjadi wanita pemikat yang membuat seorang pria mau membayarnya mahal ataupun yang mampu membebaskannya dari ianjo.
***
'Hm ... aku mengerti kondisi dan posisimu Aya, aku juga tidak punya solusi jika dihadapkan pada kenyataan sepertimu,' gumam Mangata, yang bersantai di beranda rumahnya sepulang dari rumah sakit. Ia membersihkan badan lalu menyeduh kopi hitam sebagai temannya menikmati kisah Arrabella.
***
Bab 35
Selesai dengan sesi perawatan, Irene dengan dibantu seorang wanita paruh baya mengajari Aya dasar-dasar memijat.
"Tidak perlu terlalu ahli, asalkan kamu tahu bagian yang penting dan bagaimana cara memberi sentuhan yang enak di bagian itu," cetus Irene.
"Mm," sahut Aya yang menikmati tubuhnya dipijat.
Usai makan malam, Irene kembali menghampiri Aya.
"Arrabella, ini ada pelajaran terpenting dari seluruh rangkaian pekerjaanmu di sini."
Kening Aya mengerut.
Perawatan tubuh, sudah. Memberi pijatan yang dibutuhkan, sudah ... trus apalagi?' batin Aya.
Irene mengeluarkan secarik kertas yang berlipat dan membukanya dihadapan Aya yang penasaran.
"I-ini ...?" Aya tampak gemetar melihat isi kertas berlipat itu.
"Benar, ini adalah beberapa posisi bercinta, hehe ... kamu tidak perlu memahami ataupun menguasai semuanya, cukup tahu sebab nanti bisa saja pelangganmu punya gaya favoritnya sendiri."
"Ga-gaya favorit sendiri?" ulang Aya.
__ADS_1
Irene tersenyum simpul, "Nanti juga kamu mengerti. Jika memang caranya benar dan kamu tahu apa yang diinginkan tubuhmu, kamu pasti bisa melakukan hubungan itu dengan sepenuh hati. Yah ... kuncinya santai aja dan nikmati, jangan dianggap beban apalagi dengan target misalnya demi mendapatkan uang yakin hal itu malah bisa jadi kebutuhan kita."
"Kebutuhan gimana, mi?" Aya yang masih gadis bau kencur belum benar-benar memahami maksud perkataan Irene.
"Ah ... gimana ya, aku ngejelasinnya?" Gumam Irene sambil memikirkan kata-kata yang tidak terlalu vulgar tapi bisa dimengerti oleh oleh Aya.
"Apa yang kamu rasakan setelah makan?" Ujar Irene kemudian.
"Kenyang."
"Nah itu, sayang. Kenyang di sini dalam arti lahir batin kita terpuaskan, aku yakin seburuk-buruknya pengalamanmu sebelumnya, pasti ada pria yang tepat untukmu. Yang bisa memanjakanmu, memuaskanmu ..."
"Memuaskan gimana maksudnya, mi?"
"Ah itu ... nanti kamu bakal ngerti kalau sudah dijalani. Intinya ibaratkan kita lapar, makan terus kenyang terus dibayar pula," jelas Irene yang mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan pada Aya.
"Oh ... bisa seperti itu, ya? Lapar, makan, kenyang terus dibayar." Gumam Aya.
"Semakin bagus pelayananmu, semakin tinggi bayaranmu dan ... semakin cepat kamu keluar dari sini," iming Irene pada gadis muda dihadapannya.
Irene terkekeh. "Sayaaang, itu tidak ada hubungannya sama sekali. Keluargamu tetap akan disitu selagi mereka memilih tetap di Batavia, tidak ada perlakuan istimewa hanya karena kamu menjadi jugun ianfu di sini."
Raut wajah Aya tampak meredup.
Jadi untuk apa dia mempersiapkan dirinya memberikan pelayanan prima bagi para tentara Jepang jika ternyata tidak bisa membebaskan keluarganya dari kamp interniran? Sungguh ini pemikiran sederhana seorang gadis berusia 14 tahun.
"Walaupun kamu di sini, keluargamu tidak akan mendapat keistimewaan ... suatu saat jika kamu mencoba kabur dari sini, maka mereka juga akan kena getahnya. Kamu akan dihukum, keluargamu juga akan jadi sasaran, tolong diingat itu baik-baik Arrabella," ucap Irene setengah memberi ancaman pada Aya.
Aya hanya menunduk, sekarang dia mengerti karena suah masuk ke perangkap singa maka selamanya dia akan jadi santapan sampai ada keajaiban.
"Hei cantik, aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya memberi tahu akibatnya jika kamu mencoba kabur, menolak melayani apalagi sampai berbuat dan berkata-kata kasar dengan tamu ... maka efeknya tidak hanya kamu yang merasakan tapi juga keluargamu. Mengerti?"
__ADS_1
Aya mengangguk pelan.
"Bagus! Nah, mulai besok pagi kamu akan mulai berbaur dengan gadis-gadis level 1. Kamu beruntung, karena cantik dan terdidik sehingga aku langsung menempatkanmu di posisi yang hanya melayani para perwira. Aku yakin, kamu pasti akan menjadi primadona di ianjo ini."
"Iya, aku harus bisa, pasti bisa menajdi seperti yang diharapkan mami Irene," sahut Aya dengan suara yang lirih.
"Oh iya, kondisimu sudah stabil dan sangat baik, maka kuputuskan untuk menempati kamarmu sendiri." Irene meraih sebuah kunci yang tergantung plastik bertuliskan angka 8.
"Ini kuncimu, kamar nomor 8. Mulai besok kamu bertanggung jawab atas kerapian, kebersihan dan kenyamanan kamar itu agar tamu betah dan suka menghabiskan waktunya di situ denganmu."
Aya lalu mengambil kunci itu dan menaruhnya ke dalam tas.
"Aku tidak akan memaksa selagi kamu belum siap. Kamu cukup mengamati dulu sambil mempersiapkan dirimu. Jauhkan pikiran 'mereka menyakitimu', tapi berpikirlah positif agar kamu tidak terbeban. Para lelaki datang ke sini umumnya pada malam hari, di loket depan mereka mendaftar dan mendapatkan karcis dengan harga tertentu. Setelah membeli karcis, tamu akan diberikan kondoom, lalu terserah nanti apakah mereka mau minum-minum dulu atau langsung ke kamar, yang pasti karcis yang diberikan kepadamu jangan sampai hilang, sebab suatu saat karcis tersebut bisa ditukarkan dengan uang, tapi jika kamu mendapatkan tips dari tamu, itu sepenuhnya milikmu," papar Irene.
'Uang. Ya, aku harus bisa mengikis malu dan kekecewaan atas nasibku, aku harus mampu nelayani tamu sebaik-baiknya demi uang, agar bisa cepat terbebas dari sini,' tekad Aya membulat.
***
Keesokan paginya usai berolah raga ringan, Aya langsung menuju kamar yang disediakan untuknya. Meski sudah ada yang bertanggung jawab mengurus kamar itu, tapi Aya merasa lebih baik jika dia sendiri yang turun tangan mengatur kamarnya agar merasa nyaman. Jika dia merasa nyaman, maka tamunya akan nyaman bersamanya di situ, bukan?
Kamar VIP nomor 8 yang ia tempati memang berukuran lebih kecil dari kamar tidur yang ia tempati dengan saudara-saudaranya di Magelang. Di kamar itu tersedia 1 buah dipan berukuran besar dengan kasur yang empuk dengan nakas di kiri-kanannya, lemari hias, lemari pakaian dan sebuah kamar mandi di dalam membuat Aya betah berlama-lama di situ.
Aya hanya keluar jika saatnya jam makan, di mana dia dan beberapa gadis lain yang menempati kamar VIP juga bisa bercengkrama. Sebagai pendatang baru Aya masih sungkan mengobrol dengan 9 orang gadis lain yang selevel dengannya.
"Hai, kami yang menempati kamar nomor 8, ya?" sapa seseorang.
Aya mengangguk.
"Kenalin, aku Lucia." Gadis itu mengulurkan tangannya.
"A-arrabella," sambut Aya.
__ADS_1
"Hei, hampir 1minggu kamu menempati kamar itu dan kulihat kamu belum pernah menerima seorang tamu, kamu pikir hidup di sini gratis?" ujar seorang gadis lain dengan nada sinis.
"Benar, kalau kamu tidak kunjung melayani tamu, artinya kamu menambah beban kami karena turut menanggung segala kebutuhanmu di sini," timpal yang lain.