Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Buka Hatimu


__ADS_3

Pagi itu Mangata tidak bekerja usai dinas malam. biasanya kalau libur dia akan mengunjungi maminya Geetruida di Magelang, tapi tidak kali ini. Bahkan dalam 1 minggu terkahir Mangata tidak ada niat ke Magelang juga menemui Arunika. Mangata rindu pada kedua wanita itu, tapi Mangata bertekad untuk memastikan siapa ayah kandungnya terlebih dahulu.


Pengakuan Geetruida yang menyatakan bahwa dialah ibu kandung Mangata merupakan fakta yang belum Mangata uji secara medis. Bukan bermaksud mengelak kenyataan, hanya saja ... ada sedikit rasa tidak yakin. Jika memang Geetruida adalah ibunya, kenapa bisa Mangata diakui anak oleh umi Helena dan abi Amar? Apakah dulu Geetruida tidak menginginkan kelahirannya dan sekarang terpaksa pura-pura menyayanginya hanya karena kasihan terhadap Mangata yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi?


Masuk ke pertengahan cerita, Mangata masih belum mendapat gambaran yang jelas mengenai identitas ayah kandungnya. Berdasarkan info di awal-awal novel Arrabella, Mangata menebak 'Aga' adalah Sagara tapi tidak tahu Aga tuh yang mana? Tokoh itu entah belum muncul berdialog dengan Aya, atau memang interaksinya sengaja disembunyikan oleh penulis, Mangata yang kurang jeli, atau mungkin juga Mangata belum sampai saja pada bab yang memunculkan tokoh 'Aga' lebih banyak.


Jika benar Sagara adalah ayahnya, berarti dia dan Arunika adalah saudara se-ayah, huff ... jika begitu, tidak dapat dibiarkan. Mangata harus bisa membuat Geetruida mengungkapkan semua, tapi sekarang malah muncul kemungkinan lain yang potensial untuk dicurigai sebagai 'ayahnya', yaitu tuan Takeshi.


Hari itu, usai beristirahat memulihkan kantuknya, Mangata memilih kembali melanjutkan membaca novel. Ia tidak habis pikir, kenapa bisa kalah dengan ibu-ibu yang bisa melahap novel 100 bab setebal 2 jari hanya dalam 2 hari saja, sementara Mangata ... masih di bab 40-an selama satu minggu ini, gak selesai-selesai.


***


Bab 41


"Sekarang, aku mau tanya ... adakah sedikit hatimu untuk tuan Takeshi?"


"Ah, ap-apa maksud nyonya?"


Aya memastikan arah pertanyaan Monic sebelum menjawab.


"Ayolah Arrabella, apa kamu sungguh tidak tertarik pada tuan Takeshi?"


"A-aku ... aku sangat mengagumi tuan yang telah menjadi pahlawanku itu nyonya, ditambah lagi beliau sangat baik dan sopan. Bahkan rela membayar mahal hanya demi seorang perempuan sepertiku. Jikalau yang nyonya maksud 'hati', seperti perasaan nyonya ke tuan Ryujo ... sungguh aku cukup tahu diri, aku tidak layak untuknya."


"Jangan bilang begitu, gimana kalau ternyata tuan Takeshi jatuh cinta padamu dan ingin menjadikanmu istrinya?"


"Haha, itu sangat-sangat tidak mungkin, nyonya."


"Apanya yang tidak mungkin? Aku lihat beliau cukup tertarik padamu. Kamu saja yang tidak memperhatikan."


"Masa? Tidak, tidak ... bahkan tuan Takeshi sangat menjaga pandangannya terhadapku. Bahkan mungkin seandainya aku menawarkan tubuhku sebagai ucapan terima kasih pun pasti akan ditolaknya."

__ADS_1


"Haha, tentu saja Arrabella ... hah, para lelaki itu bisa saja bercinta dengan wanita mana saja, kapan saja bahkan kadang dengan cara memaksa dan tuan Takeshi tampaknya tidak termasuk digolongan itu, tapi masuk ke kelompok pria yang jika sudah mencintai, pasti dia akan menahan diri dan berusaha menjadikan kita miliknya."


"Hm, apa menurut nyonya ... tuan Takeshi menyukaiku?"


"Iya, kan aku sudah bilang gitu tadi. Gelagatnya jelas, Arrabella ... hanya belum terungkapkan saja, mungkin beliau perlu waktu karena baru saja istrinya meninggal."


"Atau mungkin tuan perlu banyak pertimbangan karena aku yang seorang jugun ianfu ini, mungkin beliau malu menjalin hubungan dengan wanita yang ... pernah ditiduri oleh teman-temannya?"


"Hei jangan berkecil hati dan jangan remehkan kekuatan cinta, Arrabella. Seorang pria sejati tidak akan mempermasalahkan masa lalu kita bila sudah sungguh-sungguh mencintai."


"Mami Irene juga pernah menyarankanku untuk membuat tuan Takeshi jatuh cinta dan membuatnya menikahiku bahkan membolehkanku hamil untuk mengikatnya, agar ... masa depanku lebih jelas dan aku mendapat nama karena dihormati sebagai istri seorang laksamana."


"Ya, ya ... Irene ada benarnya, tapi kalau aku kasih saran, bersikap sewajarnya saja jangan coba-coba menggodanya dengan segala cara. Jelas dia tidak suka wanita yang nakal dan genit. Meskipun sebagai wanita penghibur, harga diri kita sudah tergadai demi isi perut dan kemewahan, tapi kalau tuan Takeshi aku yakin beliau punya penilaian lain, menggodanya hanya membuatnya tidak respek saja."


"Tidak, tidak, nyonya Monic ... sepertinya aku tidak akan melakukan itu. Seandainya pun kelak memang aku berjodoh dengan beliau atau siapa pun, aku yakin ... semesta akan mengaturnya. Jadi biarlah segala sesuatu berjalan apa adanya saja. Aku pasrah menjalani takdirku dan tidaknakan mengelak jika memang arahnya ke situ," ungkap Aya sambil menunduk.


"Baiklah, jangan ingkari kata hatimu jika-"


Percakapan antara Monic dan Aya terhenti karena suara ketukan di pintu.


"Maaf Monic, aku mau menjemput Himawari dan Arrabella," kata Takeshi.


"Silakan, tuan," sahut Monic.


"Arrabella, tolong bawa Himawari kembali ke kamar, Monic tentu akan beristirahat."


Aya mengangguk, kemudian perlahan bangkit dari duduknya. Takeshi mendekat dan mengambil Himawari dari gendongan Arrabella.


***


"Arrabella, ada yang mau aku bicarakan," kata Takeshi seraya membaringkan Himawari di tempat tidur.

__ADS_1


"Ya tuan, ada apa?"


"Maafkan kelakuan tentaraku tadi pagi," kata Takeshi.


"Ah, tidak apa-apa tuan. Justru saya berterima kasih, tuan telah mengatasinya untukku."


"Sudah seharusnya aku melindungimu. Kamu ... ehm,"


Aya menunggu kalimat yang akan diucapkan Takeshi.


"Kamu, apa tidak keberatan jika ... ah, tidak maksudku, aku menawarkan posisi yang membuatmu tidak akan diganggu lagi oleh pria lain," lanjut Takeshi dengan suara yang bergetar.


"Maksud tuan?"


"Meskipun kamu adalah pengasuh Himawari yang sengaja aku tebus dari ianjo, ada beberapa orang yang berpikir kamu akan mudah untuk ... ya, melakukan sesuatu seperti yang bisa kamu lakukan di sana, bagaimana jika ... jika kamu menjadi istriku?" ucap Takeshi sambil menunduk.


"Tuan, jika tuan mau jadi pelindungku, tidak harus menjadikanku istri, bukan?" sahut Aya.


"Benar, tapi ... ah, maafkan aku. Lupakan apa yang sudah aku katakan tadi, aku hanya ... ah, aku tahu. Kamu masih muda dan seharusnya menikmati masa remaja-mu. Mulai hari ini jangan sungkan."


"Mana bisa begitu tuan, bagaimanapun tuan adalah penyelamatku."


"Ya, tapi jujur saja aku terkesan denganmu, jadi ... maukah kamu membuka sedikit hatimu untukku?" tanya Takeshi seraya menatap mata hazelnut Aya.


Aya bingung harus menjawab apa, apakah pertanyaan Takeshi baruan tergolong pernyataan cinta daei seorang pria terhadap wanita yang disukainya? Aya hanya menghormati lelaki penyelamatnya dan membalas kebaikan Takeshi dengan cara merawat Himawari sebaik yang dia bisa. Untuk hubungan yang lebih serius, apalagi menjadi istri tuan laksamana, rasanya Aya tidak bisa.


"Tuan, saya hanya seorang gadis ianjo. Perempuan yang telah dipakai banyak pria, apa saya layak menerima tawaran tuan?"


"Arrabella, kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Aku tahu kamu juga aku perlu waktu untuk memastikan arah hubungan kita. Namun 1 hal, jika kamu bersedia ... aku tidak akan mempermasalahkan hal itu, begitu juga bagaimana pandangan orang-orang yang tahu kamu adalah mantan jugun ianfu. Jika aku memilihmu, pastilah karena kamu layak. Aku tidak peduli bagaimana kamu dulu, yang penting bagaimana kamu setelah denganku itu saja." Ucap Takeshi yang kemudian berlalu dari kamar itu setelah mengecup pelan dahi Himawari.


"Doakan Sora bersedia menjadi mamamu, sayang," bisik Takeshi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2