
"Heran, siapa sih yang mengadukan masalah perizinan kapal kepada pihak yang berwajib? Padahal kita sudah bekerja sesuai SOP," keluh Zain seraya mengemudikan speed boat-nya.
"Iya, bikin pekerjaan tertunda saja. Kapal tidak beroperasi, kayu-kayu tertahan dan ... Bang Latif yang seharusnya bertanggungjawab atas situasi ini malah tidak ada," tanggap Agastya.
"Bang Latif kabarnya sedang pulang, menengok salah satu istrinya yang sakit, Ga. Tapi kupikir bisa saja dia yang mendalangi kejadian itu soalnya dokumen yang seharusnya ada di kapal, tidak ada. Untung saja aku membawa salinan dokumen yang diperlukan."
"Masa iya dia yang mendalangi, bukannya dia cari nafkah dari pekerjaan itu?"
"Hah, bisa saja, Ga. Aku bukan menuduh tapi arahnya memang ke situ. Tadi dikatakan kapal kita sengaja melewati beberapa pos tanpa melapor juga membayar selama beberapa minggu, bukankah itu malah bikin urusan kita jadi runyam? Dan bang Latif tidak ada saat ini karena urusan pribadi tapi malah menyimpan dokumen tanpa pemberitahuan pada awak kapal. Cari gara-gara saja, merepotkan," omel Zain.
"Tapi ... syukurlah semuanya sudah teratasi ya, Zain."
"Iya, meski nama baik perusahaan kita jadi tercoreng," imbuh Zain lagi.
Speed boat yang semula membelah sungai dengan kecepatan tinggi itu kini mulai melambat sebab sudah dekat dengan dermaga milik Zain.
"Terima kasih sudah menemaniku, Ga," kata Zain saat sahabatnya itu sudah naik ke pelabuhan.
"Sama-sama Zain, aku jadi nambah pengalaman," sahut Agastya sembari tersenyum. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju rumahnya. Lelaki itu sudah sangat merindukan istrinya meski hanya berpisah 1 malam saja.
"Assalamualaikum, sayang ..." Agastya merasa heran melihat pintu dan jendela rumahnya yang tertutup rapat, padahal hari sudah cukup siang. Biasanya jam segini Aya sedang menyiapkan makan siang dan aroma masakannya sudah menguar hingga ke kios depan. Tapi ini, jangankan aroma masakan bahkan salam-nya pun tidak disahuti.
"Kemana Aya?" gumam Agastya sambil berjalan menuju ke kiosnya.
"Ibu kemana?" Tanya Agastya pada salah satu karyawannya.
"Anu pak ... dari kemarin ibu di rumahnya mama Alif."
"Oh," Agastya menarik nafas lega lalu mengarahkan jalannya ke rumah sahabatnya itu.
"Bang Aga," beberapa orang pria menghalangi langkah Agastya.
"Hai, ada apa?"
"Bang, maaf ... apa benar istri bang Aga adalah wanita bayaran di wisma Evergreen?"
Dheg!
__ADS_1
Agastya bingung harus menjawab apa, dia heran dari mana mereka mendapat informasi itu?
"Siapa yang bilang, pak?"
"Jawab saja, bang."
"I-iya, istriku memang pernah bekerja di situ tap-"
"Cukup, bang. Dengar ya, kami tidak mau lingkungan kita di cap buruk gara-gara perempuan yang abang bilang istri itu. Lagi pula kalian tidak diketahui kapan menikah tahu-tahu mengadakan tasyakuran saja dan tinggal serumah."
"Ehm, tapi kami benar sudah menikah beberapa tahun lalu di Jakarta. Lalu istriku diculik dan dibawa ke kota A dan jadi pekerja di wisma," terang Agastya.
"Cih, alasan saja. Tidak menyangka, ternyata seleramu serendah itu."
"Maaf, sebenarnya ini ada apa, ya? Apakah istriku melakukan sesuatu yang merugikan warga sini?"
"Saat kamu pergi, istrimu menggoda Haji Ruslan untung saja Aminah yang memergoki, kalau tidak ..."
"Bu Aminah? Oh, mungkin hanya salah faham saja," bela Agastya.
"Segitu cintanya kamu sama pelacur itu!"
"Perempuan itu harus pergi sebelum mencemari tempat kita ini."
Belum sempat Agastya menyahut tiba-tiba Zain memanggilnya, "Aga, kemari!"
"Iya, sebentar," jawab Agastya.
"Ehm, tidak enak berbicara di jalan. Ayo kita ke rumah Zain saja," ajak Agastya pada para pria itu.
"Tidak perlu. Yang bermasalah adalah perempuan itu jadi dia yang harus segera angkat kaki, kamu boleh tetap di sini," kata pria itu sebelum menjauhi Agastya.
"Mereka ngomong apa sama kamu, Ga?"
"Huh, sesuatu yang tidak masuk akal, katanya Aya menggoda pak Ruslan."
"Jangan mudah percaya omongan orang yang tidak kamu kenal baik. Masuklah, istrimu ada di sini."
__ADS_1
Agastya terkejut melihat tampilan Aya yang kusut, pucat dan bermata sembab.
"Sayang, kamu sesedih itu hanya karena kutinggal satu malam?" goda Agastya sambil merangkul istrinya itu.
"Maaasss," Aya menangis sesengukan di pelukan Aga.
"Iya sayang, aku di sini untukmu."
"Mas, kemarin ada seseorang yang hendak menggangguku lalu pak Ruslan datang, tapi saat akan menuju kemari bu Aminah menghadang jalan. Bu Aminah menuduhku menggoda pak Ruslan dan mengatakan pada orang-orang kalau aku pernah jadi wanita wisma Evergreen," adu Aya.
"Kurang ajar," damprat Zain sementara Agastya hanya memejamkan mata sambil mengeratkan pelukannya.
"Mama Alif, siapa orang yang mau menganggu Aya?" tanya Zain pada istrinya.
"Bang Latif, bah."
"Sialan, cecurut itu ... masalah di kapal juga gara-gara dia. Ah, mungkin saja semua ini dia sengaja agar dia bisa menganggu istrimu, Ga."
"Maaf, Zain. Tidak baik menduga tanpa bukti. Kenyataannya memang Aya memiliki masa lalu yang membuatnya bisa direndahkan bahkan diganggu, dan soal pekerjaannya itu ... kalau tidak ketahuan sekarang akan ketahuan di lain waktu."
"Maaf, sayang." Agastya berbisik lembut sambil melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
"Mereka ingin aku secepatnya pergi dari sini," kata Aya lagi.
"Halah, abaikan saja. Aku yakin ini cuma akal-akalan Aminah dan Latif. Haish, macam aku tidak tahu permainan kotor mereka saja," gerutu Zain.
"Mas, aku mau kita pergi saja dari sini," rengek Aya.
"Aya, kenapa kamu mau pergi dari sini? Suamimu baru saja merintis usaha, belum juga balik modal," omel Zain yang dari kemaren mode-nya lagi pingin marah-marah saja bawaannya.
"Tapi aku malu, bang. Aku tidak siap menghadapi ejekan orang-orang setelah tahu aku pernah jadi wanita wisma."
"Ck, abaikan saja, Aya. Jangan lemah, hadapi saja. Nanti lama-lama kamu akan terbiasa dan orang-orang itu akan bungkam setelah melihat perubahanmu menuju pada kehidupan yang lebih baik. Coba fikir, di tempat yang baru apakah ada jaminan kamu tidak mengalami hal ini lagi?" lempar Zain membuat Aya terdiam.
"Aku juga sudah memberitahu ding Aya, bah ... kita tidak bisa mengubah masa lalu dan memang orang yang bertaubat akan mengalami banyak kendala bahkan godaan untuk melunturkan niat baik tersebut. Aku memintanya fokus saja pada Allah, dan berusaha menjalani hidup baik dan benar," sela mama Alif.
"Nah Aya, apa yang dikatakan kakakmu mama Alif ini benar. Jangan pedulikan perkataan dan pandangan orang lain yang belum tentu hidupnya juga beres, bisanya cuma menghakimi saja."
__ADS_1
"Kamu dengar apa yang dikatakan kedua saudara kita ini, sayang?" Tanya Agastya pada istrinya, meski di dalam hati Agastya tahu, orang lain termasuk dirinya akan lebih mudah berkata-kata dan memberi saran, tapi giliran menjalani belum tentu sekuat Aya.