Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Aga dan Aya


__ADS_3

Hampir dua purnama berlalu, hari-hari begitu berwarna bagi sepasang kekasih yang terpaksa menjalani hubungan diam-diam sesuai permintaan Monic.


Tentu saja hubungan mereka bisa tersamarkan karena di saat tuan Takeshi sedang bertugas, otomatis tugas Agastya beralih menjadi asisten Himawari dan pengasuhnya, Aya.


"Nanti sore jalan-jalan, yuk," ajak Agastya pada Aya.


"Ke mana?"


"Hm, danau. Mau, ya?"


"Oh, danau yang letaknya di dekat lembah itu?" tebak Aya.


"Iya."


"Kita sama siapa ke situ, orang rumah juga?"


"Berdua saja."


"Oh, kalau gitu nanti setelah Himawari tidur siang ya, mas."


"Baiklah, temui aku jika kamu sudah menidurkan Himawari," sahut Agastya.


"Ya."


"Jangan lupa bawa garam dan air minum," pesan Agastya.


***


Setelah berjalan kaki selama 1 jam, Agastya dan Aya tiba ditempat yang dituju. Kelelahan setelah menyusuri jalan yang sulit, terbayar saat keduanya disuguhi pemandangan yang sangat indah, belum lagi sambutan hawa sejuk dari tetumbuhan di sekitar danau.


Agastya sengaja membawa kail beserta umpan untuk memancing di danau dan juga senter, berjaga jika mereka pulang nanti, hari sudah gelap.


"Wah, danau ini tidak hanya tampak indah dari jauh," komentar Aya sambil merentangkan tangan dan menghirup udara segar.


"Sama kayak kamu, tidak hanya tampak indah dari jauh ... jarak dekat ternyata lebih menarik," gombal Agastya.


"Ish, masa aku disamain dengan danau, sih?"


"Haha, gak juga. Oh iya Arrabella, aku mau kamu punya panggilan khusus untukku. Panggilan yang berbeda, tentunya," kata Agastya sambil melirik gadisnya saat mereka bersantai menikmati sore di tepian danau tidak jauh dari pemukiman kompleks tentara Jepang yang mereka huni selama ini.


"Hm, kamu mau kupanggil apa?"


"Terserah saja, sayang "


"Gimana kalau mas Aga?"


"Boleh juga, dan ... gimana aku memanggilmu? Sayang, boleh?"

__ADS_1


"Jangan, mas. terlalu mencolok jika didengar orang lain. Bagaimana kalau mas memanggilku dengan nama kecilku saja."


"Arra?"


Aya menggeleng.


"Bella?"


Lagi-lagi Aya menggeleng, "Aya, mas. Panggil aku Aya."


"Wah, kedengarannya cocok. Sepintas nama kita terdengar serasi." Jawab Agastya sambil tersenyum. Setelah meletakkan gagang pancingnya, Agastya bangkit dan menghadap pohon kayu putih yang sedari tadi menjadi tempat Aya bersandar.


Agastya mengambil pisau lipat dan menoreh sesuatu di batang pohon itu.


"Mas mau ngapain?" tanya Aya heran sambil ikut berdiri di samping kekasihnya.


"Lihat saja," Agastya menoleh sambil tersenyum. "Namamu punya ruang khusus di hidup dan hatiku, Aya. Dan aku juga ingin hanya namaku yang terukir di hati dan hidupmu. Seperti ini ..." Agastya memamerkan hasil goresan pisaunya di batang pohon.


'Aga dan Aya, selamanya.' Begitu tulisan yang ditorehkan Agastya di pohon itu, kemudian diberi bingkai berbentuk hati.


Aya tersenyum lebar sambil memukul bahu Agastya. "Kamu ini, kasihan pohonnya kamu lukai begini, mas."


"Ah, pada kenyataannya selain pohon ini juga ada hati lain yang terluka akibat cinta kita," jawab Agastya sambil terkekeh.


"Siapa? Tuan Takeshi?" Tebak Aya.


"Ah, entahlah kalau itu. Aku tidak tahu ada pria lain yang menginginkanku selain tuan Takeshi, dulu kalau yang mau meniduriku sih, ada beberapa," sahut Aya apa adanya.


"Wajar sih, kamu cantik begini. Kudengar kamu primadona ianjo."


"Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, mas. Jika boleh memilih, aku ingin terlahir sebagai gadis biasa saja. Nyatanya apa yang dibilang cantik itu malah membuatku terluka dan jatuh dalam dosa perzinahan ... aku disukai, aku pilih, aku ditiduri lalu mendapat bayaran. Mas, aku ini perempuan kotor, kenapa kamu malah mau menjadikanku kekasih?"


"Hm ... pertama kuakui, aku memang tertarik secara fisik padamu, sayang. Lama-lama, setelah kita bernaung dibawah atap yang sama selama beberapa bulan terakhir, aku semakin tertarik sama kebaikan hatimu, aku suka dengan ketulusanmu. Selain itu kamu juga pemaaf, bahkan tidak marah sama nyonya Monic yang jelas-jelas telah menjualmu ke ianjo."


"Jangan diungkit lagi, aku sudah berusaha melupakan itu semua." Perlahan Aya bergerak memeluk lelaki bertubuh tegapnya itu dan mendekatkan kedua bibir mereka.


"Eh, kamu ingin menciumku?" cegah Agastya sambil menjauhkan wajahnya dari Aya.


"Aku mau kita berciuman, mas. Tidak apa-apa, kan?" Aya cengengesan.


"Entahlah, aku hanya takut kita kelepasan."


"Kelepasan gimana?"


"Yah, berlanjut melakukan sesuatu diluar batas. Misalnya seperti yang kau lakukan waktu masih jadi jugun ianfu."


"Oh itu, kalau mas mau, aku tidak keberatan." Aya melepaskan pelukannya, dan jemarinya mulai melepaskan kancing kemejanya sendiri.

__ADS_1


"Aya, jangan." Agastya menahan gerakan tangan Aya.


"Kenapa? Kamu tidak mau denganku? Mas, ini kali pertama aku menawarkan diriku terhadap laki-laki dan itu karena kamu adalah kekasihku. Aku tidak tahu bagaimana sepasang kekasih saling menunjukkan rasa sayangnya, jadi ku pikir ... ."


"Aya, hentikan. Rapikan kembali kemejamu. Aku sangat mencintaimu dan jangan lupa kalau aku ini lelaki normal, jika kamu buka semua, jangan salahkan aku jika tidak bisa menahan diri."


"Hihi, kalau tidak bisa menahan diri ya, lakukan saja. Aku siap, mas." Aya membuka liapatan kain lebar yang sedari tadi menjadi alas duduk mereka. "Di sini aman, tidak ada yang mengawasi, kita bisa bebas melakukannya," tawar Aya lagi, membuat nafas Agastya memburu.


"Sayang, kamu bilang menjadi jugun ianfu membuatmu berdosa-"


"Setidaknya kali ini aku melakukan dosa yang kuinginkan, mas. Kamu pria baik, mau menerimaku apa adanya. Anggap saja ini sebagai hadiah. Lagi pula, aku mau tahu bagaimana rasanya saat melakukan itu dengan pria yang kucintai, pasti lebih nikmatu."


Dengan gerak perlahan Aya menurunkan rok lebar yang panjangnya semata kaki itu, seolah sengaja memancing hasrat pria dihadapannya dan tanpa rasa sungkan membiarkan tubuh bagian bawahnya hanya menggunakan penutup kecil berbentuk segi tiga di area terlarangnya. Berdasarkan pengalamannya, belum ada pria yang menolaknya jika sudah disuguhi pemandangan indah seperti itu.


Agastya meneguk salivanya, tentu saja ia tergoda kemolekan tubuh kekasihnya. 'Ah, sial. Ternyata jiwa sebagai wanita penghibur belum sepenuhnya hilang dari sosok Aya,' rutuk Agastya dalam hati.


"Mas, ayo ..." Aya kembali melepaskan kancing kemeja dan duduk dengan kedua kaki terbuka lalu dengan berani menarik tangan Agastya yang sedari tadi berdiri terpaku di depannya.


Aya tidak sepolos tampilannya yang selalu tertutup sejak ditebus oleh tuan Takeshi dari ianjo. Walaupun pernah mengalami pelecehan dan tindak kekerasan, namun ia juga kerap merasakan nikmatnya hubungan sakral antar lelaki dan perempuan. Setelah cukup lama keluar dari ianjo, jujur tubuh belianya haus belaian lelaki dan ingin mengalami pelepasan. Dengan Agastya, lelaki berstatus kekasihnya ini, Aya ingin menuntaskan kerinduan tubuhnya.


"Aya, ka-kamu serius?" Agastya terbata saat tubuhnya menimpa Aya.


"Kenapa tidak?" Tanpa aba-aba tangan Aya bergerak nakal, memijat pedang tumpul yang mengeras milik kekasihnya.


Agastya memejamkan matanya, berusaha menguasai hasrat yang sudah memenuhi ubun-ubunnya.


"Aya, aku menginginkanmu ... ." Bisiknya.


"Tanpa kamu bilang pun aku tahu, 'dia' makin keras membuatku makin basah. Aku juga menginginkanmu mas," ucap Aya dengan suara parau, sengaja ia membawa tangan Agastya memasuki area terlarangnya yang tertutup kain segi tiga.


Agastya menghembuskan nafasnya keras-keras.


"Aya, maaf. Cukup, jangan membuatku lupa untuk menjadikanmu wanita yang kuhormati." Dengan gerak cepat Agastya menjauhkan dirinya dari rengkuhan Aya.


"Kamu menolakku karena tiba-tiba menyadari aku bukan gadis perawan?"


"Tidak. Tidak begitu, tolong jangan berprasangka yang bukan-bukan."


"Mas, bukankah kita saling mencintai? Yang tanpa cinta pun bisa melakukannya, kenapa mal-"


"Aku hanya ingin melakukan itu jika kamu sudah menjadi wanita yang halal untukku," potong Agastya dengan tegas.


Aya terisak. Ia merasa malu, sedih dan kecewa akibat sesuatu yang tidak tersalurkan.


"Tolong kenakan lagi pakaianmu, sayang. Banyak perempuan entah sengaja atau tidak, melakukan atau mengenakan sesuatu yang justru membuat mereka jadi diperlakukan dengan tidak hormat. Aku tidak mau itu terjadi padamu. Jujur, aku sangat menginginkanmu tapi ingatlah ... rasa sayang antar sepasang kekasih, tidak melulu harus diungkapkan dengan cara bercinta."


Aya masih terisak. Tubuhnya memang telah terbiasa dijamah lelaki, namun bagaimana pun gadis belia itu masih belum pengalaman dengan urusan hati.

__ADS_1


__ADS_2