
Bukannya tidak berminat bercinta dengan Aya, namun Agastya hanya ingin menjadikan Aya hanya miliknya dan tidak ingin berbagi dengan pria manapun lagi, meski sekali lagi ia harus berbesar hati menghadapi kenyataan 'bersabarlah sedikit lagi' secara tidak langsung menyatakan bahwa ia memberikan izin istrinya melanjutkan tugas sebagai ladies Evergreen sementara ia mampu mengurus semuanya.
"Mas, mau maafin Aya?" Suara yang begitu Agastya rindukan itu terdengar begitu menyakitkan. Ya, maukah ia memaafkan kesalahan istrinya? Jika hubungan yang seharusnya terjadi hanya antara pasangan suami istri, lalu kemudian istrinya justru mengumbar kemolekan tubuhnya dan melakukan hubungan sakral itu dengan orang lain, apa gunanya pernikahan? Masih pantaskah perempuan itu menyandang status istri?
"Aya, kamu tahu ini sulit bagi mas ... mas sayang sama Aya dan memaafkan tentu tidaklah sulit tapi maaf, jujur mas susah nerima, kebayang saat kamu melakukan hal yang se-intim itu dengan pria lain, Aya ... mas perlu waktu," Agastya menaruh dagunya di atas kepala Aya. Lebih baik ia jujur, meski tahu di sini yang kecewa tidak hanya dia ... tapi ia faham betul, berpura-pura semua baik-baik saja juga kurang tepat.
"Aku tahu, mas. Sekali lagi maafkan aku, aku percaya mas tahu semua ini juga sulit bagiku jadi mohon bawa aku keluar dari sini. Kita cari tempat yang aman dan nyaman, tempat yang selalu kita impikan ... punya rumay yang akan kita tempati bersama anak-anak kita nanti."
Agastya terharu, ternyata Aya tidak lupa impian mereka dulu.
"Pasti dan segera, Aya." Agastya memeluk erat wanita kecintaannya.
"Em ... mas, bagaimana kamu bisa menemukanku di sini?"
Agastya melepas pelukannya dan mengajak Aya duduk di sisi tempat tidur.
"Sebenarnya tidak sengaja, anggap saja Tuhan sedang berbaik hati." Lelaki itu menuangkan air mineral untuknya dan Aya.
"Hari itu aku menunggumu keluar kelas hingga lewat tengah hari, lalu kuputuskan menanyakan keberadaanmu dengan dosen yang mengajar di kelas. Info yang kudapat, seseorang yang mengaku pihak intelijen menjemputmu atas mandat tuan Takeshi karena suasana negara yang sedang genting. Aku yang bingung, pulang ke rumah tanpa kamu. Saat itu sedang banyak tamu di rumah tuan Takeshi, karena sedang ada rapat persiapan kemerdekaan Indonesia jadi aku hanya berbicara dengan Ryujo. Tanpa konsultasi dengan tuan Takeshi, aku menerima saran Ryujo untuk mencarimu ke rumah tuan Isao," tutur Agastya.
"Bukan Isao yang menculikku, mas ..." sela Aya.
"Iya, aku baru tahu kemudian. Aku datang ke rumah Isao dan terlibat perkelahian yang berujung penembakan."
"Mas ... kamu baik-baik aja, kan? Apa-mu yang terluka mas?" Tanya Aya khawatir sambil mengguncang tangan Agastya.
"Hatiku yang terluka, Aya," gumamnya.
"Apa, hatimu yang kena tembak?"
Agastya terkekeh, rupanya pertambahan usia tidak serta merta membuang keluguan istrinya.
"Isao," jawab Agastya.
"Isao yang menembakmu? Hah, kurang ajar!" Amarah menyelimuti raut Aya, tapi itu malah terkesan lucu di mata suaminya.
__ADS_1
"Bukan, tapi aku yang menembaknya. Isao meregang nyawa akibat senjata yang kuletuskan di dada dan kepalanya."
"Mati?"
"Iyalah."
"Mas, Isao mati beneran?" Aya seolah tidak percaya.
Agastya mengangguk, "Iya dan aku yang membunuhnya."
Tiba-tiba Aya merangkul suaminya, "Terima kasih, mas ... kamu sudah membalaskan dendamku. Mas tahu? Dialah sumber segala petaka yang kualami hingga saat ini. Terima kasih, mas." Aya gembira, bagaikan mendapat hadiah mendengar kabar kematian Isao.
"Kamu senang aku jadi pembunuh?"
"Bukan, aku senang dia akhirnya mati. Dulu pas dia sekap di tangsi, aku hanya hampir membunuhnya, syukurlah akhirnya mas mengabulkan niatku."
"Tapi aku sungguh tidak sengaja, sesikit pun aku tidak berniat. Aku hanya membela diriku."
"Ah, apapun alasannya yang penting manusia keji itu tidak ada lagi di muka bumi ini."
Aya manggut-manggut. "Oh iya ... mas tahu siapa dalang penculikanku waktu itu?"
"Irene kan?
"Benar, tapi dia tidak sendiri. Irene dibantu oleh Arata."
"Arata, prajurit Angkatan Laut di bawah komando tuan Takeshi itu?"
Aya mengangguk.
"Hah, rupanya dia tidak jadi santapan hiu. Bagaimana dia bisa selamat?"
"Aku tidak tahu, yang pasti Arata dan Irene ada hubungan spesial."
"Pantas saja. Tuan Takeshi sempat mengerahkan tentara dan koleganya mencarimu saat itu hingga ianjo pun tidak luput dari penyelidikkan tim-nya tapi nihil, bahkan Irene pun sudah tidak ada di ianjo sehingga tuan Takeshi menarik kesimpulan, raibnya kamu mungkin ada kaitannya dengan Irene dan itu terbukti sekarang. Sayangnya kondisi negara dan posisi tuan Takeshi benar-benar tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian, makanya dengan terpaksa penyelidikan dihentikan. Tuan Takeshi harus segera menyelesaikan segala tanggungjawabnya di Indonesia dan kembali ke Jepang untuk menghadapi persidangan militer."
__ADS_1
"Persidangan militer, kenapa?"
"Iya ... karena perannya yang justru membantu terwujudnya Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya juga termasuk peluru mematikan yang bersarang di tubuh Isao yang bersumber dari senjata milik tuan Takeshi. Tuan Takeshi menanggung kesalahanku juga, Aya."
Air mata kembali menitik di wajah cantik Aya, "Lalu, bagaimana dengam Himawari, mas?"
Agastya menghela nafasnya lalu melepaskan perlahan, "Himawari dititipkan sama tuan Ryujo dan nyonya Monic, mereka dan si kembar telah kembali ke Jepang."
"Lalu bagaimana kabar tuan Takeshi dan tuan Ryujo sekarang?"
Agastya menggeleng. "Aku tidak tahu, sedikit pun aku tidak pernah ada kontak dengan mereka. Selain karena jarak juga ini demi keamanan mereka dan juga aku di sini."
"Ah, aku mengerti. Mas, jadi gimana rencana kita selanjutnya?"
Agastya menatap langit-langit kamar, berharap memiliki ide terbaik dan teraman untuknya dan Aya.
"Mas, Irene minta 1 juta," adu Aya.
"Sebesar itu?"
Aya mengangguk, "Tapi uangku baru ada 60.000 rupiah itu semua pendapatanku selama ini setelah dipotong biaya macam-macam."
"Dan demi uang 1 juta itu kamu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk para tamu sampai-sampai kamu mendapat predikat lady paling top di wisma evergreen?" Tukas Agastya.
"Iya, apapun kulakukan demi bisa keluar dari sini, mas."
"Tapi mengingat kelicikan Irene yang bekerja sama dengan Arata, sampai kamu tua pun kamu tidak akan mendapatkan uang itu, Aya. Mereka akan melepasmu jika sudah tidak lagi memberikan keuntungan untuk mereka," simpul Agastya mematahkan semangat Aya.
"Jadi aku harus gimana, mas? Apa yang bisa kita lakukan agar bisa keluar dari sini?" Tuntut Aya.
"Entahlah. Mungkin aku perlu meminta uang yang dititipkan tuan Takeshi pada pak Ruslan dan juga menguras tabunganku, tapi sepertinya uangku tidak sebanyak itu."
"Ah, apa aku harus bekerja lebih keras lagi?"
"Hah, bekerja lebih keras dengan cara melayani lebih banyak pria hidung belang, begitu? Huh, ide-mu sungguh buruk, Aya," ucap Agastya sambil mendengus.
__ADS_1