Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Menghindari Godaan


__ADS_3

Agastya pura-pura tidur saat Aminah mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak makan siang. Biarlah, Agastya memilih melewatkan waktu makan dannkelaparan dari pada harus berhadapan dengan Aminah tanpa pak Ruslan. Pokoknya, Agastya tidak akan keluar kamar jika pak Ruslan masih belum tiba dirumah. Sungguh, Agastya tidak mau pak Ruslan berfikiran yang tidak-tidak tentangnya.


"Pak Ruslan, bolehkah saya ikut bekerja di perkebunan saja?" pinta Agastya usai makan malam bersama pak Ruslan dan Aminah.


"Kenapa? Kamu tidak betah di sini?" Tanya pak Ruslan.


"Tidak pak, bukan begitu. Aku hanya merasa terlalu dimanjakan jika hanya berdiam diri tanpa ada kegiatan di sini. Yang ada badan saya nanti sakit semua," kata Agastya.


"Bagaimana kalau kamu kutugasi sebagai pengawal istriku saja?"


"Ah, saya sudah bosan jadi pengawal saat jadi asisten tuan Takeshi, saya mau jadi pekerja saja."


"Hm, besok saya akan carikan posisi yang tepat untukmu," janji pak Ruslan.


"Jadi besok pagi, saya boleh ikut ke perkebunan?"


"Ah, tidak, tidak. Besok kamu masih di rumah saja dulu, beristirahatlah. Aku tahu perjalanan kemari tentu sangat melelahkanmu," sahut pak Ruslan yang menimbulkan senyum samar si wajah Aminah. Berbeda dengan Agastya, yang malah gelisah mendengar keputusan pak Ruslan, apalagi kaki Aminah dengan sengaja membelai betis Agastya di bawah meja.


Tengah malam, Agastya terbangun saat mendengar jendela kamarnya di lempari batu. Refleks, Agastya membuka jendela berteralis itu. Dari dalam kamarnya, Agastya dapat melihat bagaimana Aminah sengaja membuka kancing depan pakaian panjangnya, menampakkan auratnya tanpa rasa malu, malahan sambil bergerak-gerak erotis. Cepat-cepat Agastya menutup kembali jendela kamar itu. Huh, untung berteralis, kalau tidak ... bisa saja Aminah langsung menerobos masuk ke kamarnya melalui jendela ini. Ya Allah ... Agastya harus cepat-cepat keluar dari rumah itu besok pagi kalau tidak ... hah, bisa saja menimbulkan prasangka yang bukan-bukan, sebab wanita modelan Aminah bisa saja memutarbalikkan fakta demi membel diri.


Keesokan harinya, usai sholat subuh ... Agastya bergeas menghampiri pak Ruslan.


"Pak, saya mohon ... izinkan saya ikut ke kebun bersama bapak pagi ini," pinta Agastya sambil menciumi tangan pak Ruslan dalam-dalam.


"Ada apa Agastya, tidak enak tidur di rumahku? Kamu mimpi buruk, ya?" Tebak pak Ruslan.

__ADS_1


"Maaf, saya hanya ingin cepat-cepat bekerja. Bapak tahu masalah saya dari tuan Takeshi?"


"Iya. Sebenarnya berada di sini pun, keberadaanmu tifak akan ketahuan, apalagi kalau di perkebunan yang lingkupnya sangat terbatas."


"Saya mohon pak, saya ini harusnya seorang nara pidana tapi melarikan diri, saya tidak layak hidup enak di rumah bapak pula."


"Hm ..." pak Ruslan memikirkan sesuatu. "Maaf Agasgya, kamu mau kerja kasar tidak?" Tanya pak Ruslan hati-hati.


"Mau pak," jawab Agastya semangat. 'Asalkan jangan disuruh tinggal di rumah itu lagi saja,' batin Agastya.


"Tapi ... kalau kerja itu, saya jadi tidak enak sama tuan Takeshi nanti."


"Tidak masalah pak Ruslan, bukankah aku sudah dititipin sepenuhnya sama tuan Takeshi?"


"Iya, tapi surat itu juga beserta sejumlah uang, rasanya biat kamu 2 tahun ongkang-ongkang kaki di rumahku pun uang dari tuan Takeshi tidak akan habis."


"Baiklah, kalau begitu ... kamu bisa bergabung dengan keponakanku bekerja di kapal, jadi pembatangan, mau ya?"


"Pembatangan? Apa itu pak?" Agastya merasa asing akan istilah tersebut.


"Itu ... mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di hutan ke tepian sungai lalu menyusunnya sedemikian rupa, sampai proses pengangkutan menuju pembeli. Orang sini menyebutnya begawi batang. Sebagian besar waktumu akan dihabiskan di kapal, bisa sampai berminggu-minggu. Jika kayu sudah terkumpul sesuai pesanan, kayunya di bayar maka kalian akan mendapat bagian lalu libur selama beberapa hari baru mulai lagi, menyusuri sungai mencari kayu."


"Oh ..." Agastya berusaha mencerna info dari pak Ruslan.


"Atau kamu mau coba pekerjaan lain? Pekerjaan yang bisa kamu lakukan sambil di sini saja, maksudku kamu masih bisa menumpang dirumahku." Jika tidak memikirkan kesopansantunan, Agastya ingin menjawab 'tidak' saja, namun ia memilih mendengarkan alternatif pekerjaan yang ditawarkan pak Ruslan.

__ADS_1


"Apa itu pak, buruh di perkebunan karet, jadi penyadap?"


"Eh, kalau mau jadi pemyadap karet juga bisa, tapi yang kutawarkan tadi jadi pendulang emas."


"Hah, pendulang emas?" Beo Agastya.


"Iya, kamu mengumpulkan emas secara acak, lalu dipisahkan secara manual dengan batu alam non-emas lainnya. Atau kamu mau jadi bosnya langsung, membeli emas mentah hasil dulangan lalu memprosesnya kemudian menjual hasil olahan yang sudah jadi. Kuhitung-hitung modal yang dititipkan oleh tuan Takeshi cukup untukmu memulai usaha itu, gimana?" Ujar pak Ruslan memberi pertimbangan untuk Agastya.


Agastya tampak berfikir sejenak, tujuannya cepat-cepat bekerja tidak sekedar untuk mencari nafkah sebab uang ditangannya sendiri yang diberikan Takeshi padanya masih cukup banyak tapi ia memikirlan cara agar bisa segera keluar dari rumah pak Ruslan, demi mengjindari godaan Aminah.


"Kerja jadi pembatangan sepertinya lebih menantang, pak," putus Agastya.


"Yakin?"


"Yakin, pak," jawab Agastya mantap, yang oenting mulai hari ini ia akan berpindah tempat.


"Baiklah, kebetulan hari ini kapal Zain, anakku yang pertama akan segera berangkat. Ayo bersiap, usai sarapan aku akan mengantarmu ke pelabuhan," kata pak Ruslan.


"Pak, nanti tolong katakan pada Zain ... jangan fikirkan upahku, sebab tujuanku bekerja padanya semata untuk mencari pengalaman," tukas Agastya.


Pak Ruslan terkekeh mendengar pemuturan Agastya. "Pembatangan itu kerjaan yang sulit dan berat Agastya, kamu tentunya akan dibayar sesuai keringatmu. Kamu fikir mudah, keluar masuk hutan, memilih kayu yang tepat sesuai pesanan lalu menebang, lalu mengangkutnya ke pinggir sungai tempat kapal kalian ditambatkan terus mulai lagi mencari kayu di tempat lain, hingga jumlah kayu yang dibutuhkan sesuai jumlahnya dengan yang diminta?"


"Iya, pak. Saya mengerti."


"Ah, atau kamu jadi perantara saja. Kamu buka semacam kios kecil di pinggir sungai yang juga berfungsi sebagai gudang, jadi siapapun yang membutuhkan bisa langsung mendapatkan kayu dari kiosmu? Dengan begitu, kamu masih bisa tinggal di rumahku," tawar pak Ruslan lagi.

__ADS_1


"Ah ... nanti saja, pak." Agastya masih memikirkan cara agar ada jarak yang mebuatnya jauh dari rumah pak Ruslan. Jika hanya di tepian sungai yang hanya berjarak 2 kilo meter dari kediaman pak Ruslan, sepertinya Aminah masih dapat menemuinya dengan mudah. "Biar saya belajar dari Zain dulu dari bagaimana proses awalnya, nanti saya fikirkan membuat usaha kayu olahan yang sudah jadi agar siap jual dan siap pakai," lanjut Agastya dengan antusias. Ia sungguh tudak menyangka tinggal di Kalimantan ternyata banyak alternatif pekerjaan yang bisa dia lakukan.


__ADS_2