Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Apakah Mangata Putraku?


__ADS_3

Geetruida sementara menutup kisah hidup Aya yang belum selesai. Cerita hingga bagaimana ia dan Sagara berpisah sudah tertuang rapi dalam beberapa bab dan beberapa part terakhir yang ia ketikkan itu akan ia serahkan pada Mangata hari ini. Bagian lanjutan bagaimana ia melanjutkan hidupnya tanpa Sagara, kenapa ia bisa menikah dengan Maulana sudah ia siapkan dalam bentuk draft.


Bruuum. Terdengar deru mesin mobil Mangata berhenti di halaman rumah Geetruida, bertepatan dengannya yang selesai berdandan.


"Sudah siap berangkat, mam?" Tanya Mangata tatkala memasuki ruang keluarga.


"Seperti yang kau lihat, darling. Nih, lanjutan novel kemarin," Geetruida menyodorkan setumpuk kertas pada Mangata.


"Ada adegan dewasanya gak, nih?" Selidik Mangata.


"Biasalah, sebagai bumbu biar kisahnya makin seru."


"Ish, tapi bikin linu hati mam, bacanya," cerocos Mangata sambil nyengir.


"Haha, ya begitulah."


"Eh, tapi ... Apa benar itu diangkat dari true story?"


"Hem, dan pemeran utama yang sesunguhnya adalah wanita dihadapanmu ini, lho."


"Ah yang benar, mam. Aya atau Arrabella mantan gadis ianjo itu adalah mami? Kalau memang benar, alangkah menyedihkan."


"Hei, kamu meragukanku?"


"Melihat keadaan mami yang sekarang ini jujur aku maunya ga percaya, sih. Aku tahu semua itu tidak mudah, aku gak kebayang bagaimana mami melewati semua itu dulu dan betapa tegarnya hati mami saat harus menceritakannya kembali."


"Ya itulah hidup, nak. Kabar baiknya adalah, aku sudah berdamai dengan masa laluku."


Mangata terdiam, ia memilih membaca cepat novel lanjutan yang diberikan ibunya.


"So, apakah Aga tahu kalau Aya saat pergi meninggalkan Banjarmasin, dalam keadaan hamil?" Tanya Mangata.


"Entahlah, yang pasti sejak saat itu aku tidak tahu dimana dia dan bagaimana keadaannya, masih hidup atau sudah berpindah alam, aku tidak peduli hingga saat kamu membawa Arunika dan memiliki ayah bernama Sagara, apakah suatu kebetulan?"


"Iya tapi, walaupun tidak banyak orang dengan nama-nama itu, termasuk namaku sepertinya cocok, mam. Apakah itu berarti ..." Mangata ragu melanjutkan kalimatnya.


"Berarti apa? Salahkah aku yang tidak merestui hubungan kalian jika kenyataannya kamu dan Arunika adalah saudara satu ayah?" tukas Geetruida.


Mangata menggeleng, "Ayo mam, sebaiknya kita segera menemui pak Sagara biar semuanya jelas. Jika memang Sagara yang mami maksud adalah tokoh Aga dalam novelmu, aku bisa menerima. Aku janji, aku akan mengendalikan perasaanku pada Arunika."


Geetruida mengangguk. "Kecuali, ada kemungkinan lain yang menunjukkan kalau Arunika bukan putri Sagara, lelaki yang pernah menjadi suamiku itu."

__ADS_1


***


Arunika menyambut kedatangan Mangata dan ibunya dengan senyum yang manis.


"Maaf ayahku sedang ada urusan diluar dan sebentar lagi akan pulang, mohon ditunggu sebentar, ya," kata Arunika setelah mempersilakan Mangata dan ibunya duduk di ruang tamu.


"Tidak apa-apa, Arunika. Oh iya, jika ayahmu sedang keluar lantas di mana ibumu?" tanya Geetruida.


"Ehm, ibu sudah meninggal 5 tahun yang lalu, tante," sahut Arunika.


"Oh, maaf. Aku hanya ingin berkenalan jika ibumu masih ada."


"Assalamualaikum," ucap seorang pria dari arah luar pintu.


Suara itu, meskipun sudah sangat lama Geetruida bisa menebak siapa pemiliknya. Ya, Geetfuida yakin itu suara laki-laki dari masa lalu yang telah mengusirnya dulu.


"Maaf telah membuat kalian menunggu, ka-kamu ..." Sagara tercekat saat melihat wanita yang duduk bersisian dengan Mangata.


"Ya ini aku, Geetruida," sahut Gèetruida dengan senyum yang dipaksakan.


"Ya Allah, setelah puluhan tahun akhirnya aku menemukanmu, Gee," Sagara menghampiri Geetruida, namun Geetruida berusaha menghindar.


"Apapun alasannya yang penting sekarang kita bertemu, Gee. Alhamdulillah."


"Jika bukan karena urusan anak-anak kita, mungkin pertemuan ini tidak terjadi."


"Ah iya, jadi Mangata ini adalah keponakanmu?" selidik Sagara.


Geetruida tersenyum sinis.


"Kenapa, bukankah Mangata adalah anak dari Helena dan Maulana?"


"Kamu tidak mencurigai sesuatu saat berteku dengan Mangata?" pancing Geetruida.


Sementara Sagara dan Geetruida terlibat dalam percakapan yang canggung, Mangata dan Arunika hanya dapat bertukar pandang, mencoba menebak arah pembicaraan kedua orang tua mereka.


"Mencurigai sesuatu?" Sagara tampak berpikir keras.


"Pada suatu ketika seorang pria memintaku memberi nama Mangata jika anaknya laki-laki dan Arunika jika jika perempuan."


Dheg! Sagara dan Arunika sama-sama terkesiap.

__ADS_1


"Tolong katakan sejujurnya, Gee. Apakah Mangata adalah putraku?" Tanya Sagara pelan.


"Menurutmu?"


"Tapi kenapa dia menyandang nama belakang 'Maulana'?"


"Apa salahnya anakku menyandang nama belakang paman yang sekaligus juga ayah tirinya?"


"Hah, maksudmu bagaimana, Gee?" Sagara masih penasaran.


"Ja-jadi, apakah ini artinya aku dan Mangata saudara se-ayah?" Tebak Arunika.


"Tidak, sayang," jawab Sagara cepat.


"Hah, aku sudah dapat menebak jawabanmu Sagara. Dan itulah yang kutakutkan sejak dulu, kamu tidak percaya bahkan tidak akan mengakui darah dagingmu sendiri," sahut Geetruida.


"Bukan begitu, tapi ... Ah, baiklah. Izinkan aku mengatakan semuanya pada kalian."


"Tunggu, biar aku jawab dulu kenapa Mangata menyandang nama belakang Maulana," sela Geetruida, setelah menghela napas panjang, Geetfuida memulai kisahnya.


"Saat itu aku pergi bersama pak Takeshi dan Himawari sampai Jakarta. Beruntung salah satu teman pak Takeshi kenal dengan bang Yusuf, beliau yang mengantar aku bertemu lagi dengan kak Clay dan bang Yusuf. Sejak saat itu, aku tinggal bersama kak Clay."


"Lho, aku pikir saat itu kamu ikut ke Jepang dengan pak Takeshi," potong Sagara.


"Kata siapa?"


"Hanya menebak, sih. Keesokan hari setelah kamu pergi, aku juga berangkat ke Jakarta menyusulmu. Tapi entah bagaimana aku bertemu mami Irene, dia bilang tentu saja kamu ikut tuan Takeshi, sebab kalau tidak ia pasti menarikmu kembali menjadi wanita penghibur di rumah bordil miliknya."


"Hm, apa yang membuatmu ingin menyusulku? Bukankah pak Takeshi memberi isyarat kalau aku pasti akan dibawanya ikut ke Jepang, yang artinya percuma saja jika kamu masih berharap padaku."


"Ma-mama Alif bilang kamu sedang hamil 2 bulan."


"Haha, lantas kenapa, kenapa kok kamu kesannya peduli dengankehamilanku? Kamu kan tidak tahu benih siapa yang sedang tumbuh di rahimku saat itu."


"Tapi aku yakin kalau itu anak kita, Gee."


"Aku gak yakin kalau kamu akan seyakin itu, Sagara."


Sagara tertunduk mendengar perkataan Geetruida.


"Kak Clay memarahiku saat tahu aku berusaha menggugurkan kandunganku saat itu. sungguh aku bingung, bagaimana menjalani hidupku ke depannya. Jangankan nasib anakku, bahkan akan bagaimana nasibku sendiri pun aku tidak tahu. Sementara kak Clau telah berulang kali kehilangan calon bayinya dan menawarkan untuk mengadopsi anakku. Maaf Mangata, mami tidak bermaksud menolak kehadiranmu tapi semata karena memikirkan masa depanmu sehingga mami memilih untuk setuju kamu menjadi anak angkat bang Yusuf Maulana dan kak Clairin Peters," jelas Geetruida panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2