
Langit masih gelap sebab fajar belum menyingsing, Agastya yang hanya terlelap kurang dari 4 jam segera bangun. Membuka jendela, berharap bertemu kekasihnya yang mungkin sudah mulai bekerja di pagi buta.
"Hm, masih terlalu awal untuk bangun dan berberes ya, sayang," gumam Agastya saat berdiri sejenak di depan kamar Aya.
'Tuan Takeshi, aku pergi ke hutan mencari bambu untuk bikin rakit.' Tulis Agastya pada secarik kertas lalu menyelipkannya ke bawah celah pintu kamar tuannya.
Ditemani kicauan burung, Agastya bergegas memasuki hutan untuk memotong beberapa bambu. Rencananya dia akan langsung membawa bambu-bambu itu ke tepian danau dan langsung merangkainya di sana, agar tidak kerepotan membawanya nanti kalau sudah jadi.
***
Matahari baru saja menampakkan sinarnya saat rumah utama gempar akibat tangis histeris Himawari yang menginginkan Sora untuk mengurusnya.
"Ryujo, tolong aku," Takeshi putus asa. Pagi-pagi disuguhi tangisan yang memekakan telinga, sungguh membuatnya kehilangan semangat.
"Ya, tuan?"
"Tolong bilang pada Monic, bangunkan "Arrabella," pintanya.
"Baik, tuan." Ryujo bergegas menghampiru istrinya yang asyik berkutat di dapur membuat sarapan.
"Sayang, kamu lihat Arrabella, tidak?"
"Tidak, tidak biasanya dia bangun siang. Makanya aku inisiatif membuat sarapan. Yah ... meskipun tidak seenak bikinan Arrabella."
"Huh, jangan mulai lagi. Tuan Takeshi minta tolong kamu bangunkan Arrabella di kamarnya, sayang."
"Oh, sebentar. Semoga saja gadis itu baik-baik saja." Monic melepaskan celemeknya dan berjalan menuju kamar Aya.
Tok, tok.
"Arrabella, Arrabella ... bangun."
Tidak ada jawaban.
"Arrabella, kamu baik-baik saja?"
Ryujo yang menyusul istrinya ikut bersuara.
Kedua suami istri itu berpandangan.
"Kita buka saja, gimana?"
"Tapi tidak sopan, Ryujo."
"Ah, sekali ini saja. Kamu tidak kasihan melihat Himawari mengamuk dari tadi."
"Hm, baiklah."
Ceklek.
__ADS_1
Monic pun memutar handle pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Arrabella, halo?" Panggil Monic sambil mendekati tempat tidur Aya.
"Ryujo, Arrabella tidak ada di kamarnya. Lihat seprainya tampak kencang dan terasa sejuk. Tampaknya dia tidak tidur di sini, coba kamu usap ... kalau habis ditiduri, tempat tidur ini tentu masih ada rasa hangat."
"Hah, lalu dia tidur di mana, sayang?"
"Mana aku tahu, eh ... apa mungkin dia tidur sama Agastya?" ucap Monic sambil berbisik.
"Hus, jangan asal menuduh. Semalam aku berbincang-bincang dengan Agastya di kamarnya, tidak ada yang mencurigakan."
"Ck, ish ... barangkali setelah itu, Ryujo."
"Tidak, mereka tidak mungkin macam-macam."
"Ayo kita cek ke kamar Agastya, barangkali ada jejak-jejak percintaan mereka di sana," usul Monic yang membuat dahi suaminya berkerut.
"Mana Arrabella?" cegat Takeshi saat melihat suami istri itu keluar sambil menutup kembali pintu kamar Arrabella.
"Arrabella tidak ada di kamarnya, tuan. Tampaknya dia tidak tidur di situ semalam," jawab Ryujo.
"Hah, masa? Trus sekarang kalian mau mencarinya di mana?"
"Di kamar Agastya, tuan. Barangkali mereka berbuat mesum semalam," jawab Monic spontan.
"Tuan Takeshi, aku pergi ke hutan mencari bambu untuk bikin rakit." Ryujo membaca tulisan itu.
"Hm, apa Arrabella diajak Agastya ke hutan juga?" gumam Ryujo kemudian.
"Rasanya tidak mungkin Arrabella pergi tanpa pamit, apa jangan-jangan ... dia kabur?" duga Monic.
"Ck, kabur kemana sih, sayang? Di sini aksesnya sangat terbatas, seandainya dia kabur ke hutan pun yang ada dia jadi santapan binatang liar atau mungkin saja diculik suku asing yang-"
"Sebentar," sela Takeshi. "Ryujo, tolong kamu cek semua pintu, jendela dan pagar di sekeliling tempat ini apa ada yang mencurigakan?"
"Siap, tuan." Ryujo segera melaksanakan tugasnya.
"Em, Monic. Apa kamu sudah selesai membuat sarapan?"
"Belum tuan, baru menyiapkan bahan."
"Kalau begitu, biar aku saja. Kamu tolong temani Himawari ya. Tadi tangisnya reda setelah aku biarkan dia main air di kamar mandi," titah Takeshi.
"Baik, tuan."
***
Ryujo memeriksa dengan teliti bagian yang disuruh Takeshi, tidak ada yang mencurigakan sampai kemudian ia tiba di barak tentara bagian belakang yang pintunya sedikit terbuka. Awalnya Ryujo bermaksud menanyakan apakah mereka tahu ada penyusup yang memasuki kam mereka semalam. Tapi ... mata Ryujo hampir meloncat keluar saat melihat sosok yang dicarinya tengah tergolek lelap dalam pelukan seorang tentaranya.
__ADS_1
"Sialan! Apa-apaan ini?" hardiknya membuat beberapa tentara yang semula tidur terhenyak.
"Tu-tuan Ryujo, ada apa ini?" tanya salah satu tentara sambil mengucek matanya.
"Harusnya aku yang bertanya ada apa ini?" Netra Ryujo berpendar ke sekeliling ruang kamar yang berantakan bak kapal pecah. Beberapa potong pakaian berserakan di lantai belum lagi ... uh, beberapa pengaman bekas pakai yang sepertinya dibuang sembarangan.
"Eh, i-itu ... em, gadis itu menawarkan dirinya untuk bersenang-senang dengan kami semalam, tuan." Fumio beralibi.
"Benarkah yang kau katakan itu? Dia menawarkan diri atau kalian yang memintanya untuk dilayani, hm?" Ryujo melangkah maju menuju nakas di sisi tempat tidur.
"Rupanya kalian telah mempersiapkan semua ini dengan matang," ujar Ryujo sambil mengambil botol yang diketahui Ryujo berisikan obat bius, lalu berganti bungkusan kecil yang adalah serbuk obat perangsaang juga beberapa kemasan alat pengaman.
"Bangun!" Ryujo berteriak di dekat kuping lelaki yang sedang terlelap memeluk Arrabella.
Lelaki itu bergerak, bersamaan dengan Arrabella yang terkesiap.
"Tuan Ryujo!" pekik keduanya bersamaan saat melihat pria tinggi itu berdiri sambil berkacak pinggang di sisi tempat tidur mereka.
"Lelah bercinta, ya?" sarkas Ryujo.
Keduanya hanya termangu, tidak bisa mengelak tuduhan sang ajudan.
"Hei kalian, apakah tidak punya telinga saat aku peringatkan untuk tidak mengusik Arrabella?" pekik Ryujo dengan penuh kemarahan.
"Eng ... tuan lihat sendiri, gadis ini berada di kamar kami dia yang-"
"Cukup! Aku tidak bisa kalian bohongi, seperti kalian telah memperdayai Arrabella. Jangan kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian perbuat sampai bisa membawanya kemari," Ryujo melemparkan pandangannya ke arah benda-benda di nakas yang dipegangnya tadi.
"Arrabella, cepat tutup badanmu dengan ini!" Ryujo melemparkan selimut ke arah Aya.
Aya menerima selimut itu dan segera membungkus badannya yang berhiaskan bekas permainan panasnya dengan beberapa pria.
"Kalian sangat mengecewakan, sampai berani meniduri perempuan milik tuan kita, Takeshi. Di mana rasa hormat kalian pada pimpinan, hah?"
"Tapi ... dia sendiri yang kemari, tuan," pria yang terakhir meniduri Aya berusaha membela diri.
Aya menoleh pada pria itu, " Dia bohong, tuan. Semalam saat aku membakar sampai tiba-tiba ada yang menyergapku dari belakang lalu tahu-tahu aku sudah ada di kamar ini," Aya memberanikan diri berkata-kata.
"Kamu ceroboh sekali, Arrabella. Keluar rumah sendiri malam-malam hanya untuk membakar sampah. Tidak memikirkan keselamatanmu sendiri."
"Tapi biasanya juga begitu tuan, lagi pula jarak rumah dengan tempat pembakaran sampah tidak sampai 5 meter."
"Kenyataannya, kamu kupergoki di sini. Apakah sudah jadi keinginanmu untuk digilir oleh mereka ini, hah? Kenapa kamu tidak bisa menjaga dirimu hanya untuk pria yang begitu mencintaimu, Aya?"
Dheg!
Aya memucat seketika saat mendengar perkataan Ryujo. Lelaki itu menyebutkan namanya seperti Agastya memanggilnya dan mengungkit soal pria yang mencintainya.
'Ah, apakah mas Aga sudah bercerita mengenai hubungan kami?' batin Aya.
__ADS_1