Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Ide Lain


__ADS_3

"Kamu dengar apa yang dikatakan kedua saudara kita ini, sayang?" Tanya Agastya pada istrinya, meski di dalam hati Agastya tahu, orang lain termasuk dirinya akan lebih mudah berkata-kata dan memberi saran, tapi giliran menjalani belum tentu sekuat Aya.


"Tapi bagaimana, mas? Rasanya aku tidak akan mampu, aku malu mas," Aya lagi-lagi merengek.


"Ding, jika kamu menuruti kata-kata mereka itu dan pergi dari sini, itu hanya memindah dan menunda munculnya masalah yang sama saja," saran mama Alif.


"Hm, laki-laki yang mencoba mengangguku kemaren pernah jadi tamuku di wisma dulu, dia menawarkan bayaran yang tinggi jika aku bersedia melayaninya. Yah, bang Zain dan kakak benar, seandainya kami pindah pun ... siapa yang menjamin di tempat baru itu tidak ada lelaki yang pernah meniduriku," suara Aya terdengar sedih.


"Sayang, sudahlah," lagi-lagi Agastya harus membesarkan hatinya agar selalu siap menguatkan Aya.


"Tapi itu kenyataannya, mas. Banyak lelaki yang menjadi tamuku, sengaja menginap di wisma Evergreen entah dari mana datangnya."


Zain gemas sendiri melihat Aya yang terlalu pesimis, "Aya, apa selama ini ada yang mengusikmu sebelum Latif?" Tanyanya.


Aya menggeleng.


"Nah, sekarang jelas ... yang tahu kamu pernah di situ, kan hanya orang-orang tertentu saja. Maksudku kalau aku, abah dan Aga, tujuan kami jelas untuk membebaskanmu dari wisma, selain itu pasti lelaki yang sengaja datang untuk ... kebanyakan lelaki yang ke situ moralnya tidak baik. Mereka pasti jaga image, malu kalau ketahuan memakai jasa wanita penghibur, dan merahasiakan agar kelakuannya tidak ketahuan keluarganya. Jadi kamu bisa saja bersikap acuh. Agar 'mereka' berfikir kamu hanya mirip dengan perempuan yang ada di situ," ujar Zain panjang lebar.


"Benar Aya, kalau pun ada yang seperti Latif artinya dia siap dicap lelaki bejat. Yang datang ke situ, maaf ... sama saja bejatnya dengan wanita yang dihampirinya. Tidak bisa hanya yang ada disitu saja yang dianggap murahan, yang datang juga sama saja rendahnya," imbuh mama Alif.


"Jadi sebaiknya aku harus bagaimana?" Aya meminta pertimbangan.


"Ya, kalau tidak ada yang mempermasalahkan lagi, cuekin sajalah, ngapain pusing mikirin apalagi sampai mau pindah segala. Gunjingan-gunjingan itu nanti akan hilang dengan sendirinya," kata mama Alif sependapat dengan suaminya.


"Apa yang mereka sarankan itu baik, sayang," tegas Agastya. "Jangan khawatir, terus saja fokus memperbaiki dirimu, kami akan selalu mendukungmu."


"Contohnya Aminah itu, banyak nada miring mengenai dia bahkan dipergoki juga sudah pernah, tapi dia acuh saja. Bahkan dengan pintarnya dia memutar cerita sehingga abah percaya terus sama kata-katanya. Yang berpotensi merusak warga ya dia itu sebenarnya," ujar Zain.


"Hus, bah ... gak boleh ngomongin orang kayak gitu. Biar gimana pun, dia ibu tirimu, lho," mama Alif menegur suaminya.

__ADS_1


"Kenyataan sayang, dan aku cuma memberi contoh untuk Aya bahwa terkadang berhati baja dan bermuka tembok itu perlu juga. Kalau dikit-dikit kita baper sama apa yang dikatakan orang tentang kita, entah itu benar atau tidak, entah itu bermanfaat atau tidak, akan sulit jadinya. Mending kalau bermanfaat kan bisa memicu semangat, lha kalau sebaliknya? Yang ada gak akan maju-maju," balas Zain.


"Benar ding Aya. Yang penting kamu percaya diri dan jalani saja semua sebaik-baiknya. Tunjukkan kalau kamu wanita yang berbeda, bukan lagi seperti dulu. Fokus beribadah dan urus keluarga kecilmu saja," timpal mama Alif.


"Ah, baiklah. Terima kasih atas saran dan dukungan kalian," tekad Aya.


"Nah, ini baru istriku," puji Agastya.


"Hm ... ding, ayo ikut aku ke dapur. Ini sudah hampir dekat jam makan siang," ajak mama Alif pada perempuan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


"Oh, baiklah kak. Sekarang baru aku merasa lapar, hehe."


"Ck, gak ada masalah yang gak selesai kalau kita hadapi. Yang gak selesai itu kalau kita hindari


***


Sementara itu, Aminah yang sedang ditinggal suaminya bekerja, sengaja mengundang Latif ke rumahnya.


"Eh sebentar, sebenarnya dinda tersayangku ini mau menjebak Haji Ruslan atau menjauhkan Arrabella dari Aga, sih?" Tanya Latif sambil membelai lembut lengan Aminah.


"Utamanya sih, menyingkirkan perempuan itu. Dia yang membuatku gagal mendekati bang Aga. Nah, kalau Ruslan gak usah difikirin sudah tua gitu, bentar juga mati."


"Dinda, tidak baik bicara begitu. Kalau haji Ruslan meninggal terus kita dapat uang dari mana? Apalagi kamu kan gak dapat anak dari beliau, warisanmu sedikit aja nantinya."


"Ah, benar juga. Makanya Ruslan dibikin tidak berkutik aja. Jangan sampai dia terusir juga, pohon uang kita tuh. Jangan sampai tumbang."


"Nah gitu dong," Latif setuju karena selama ini ia malah mendapat uang jajan dari Aminah, karena mau memuaskan wanita itu di tempat tidur.


"Bang ... aku benar-benar tidak mengerti. Apa sih kelebihan wanita itu sampai bang Aga sebegitu cintanya? Padahal ceweknya sok kecakepan gitu."

__ADS_1


'Ya cakepan Arrabella-lah. Wajah cantik, badannya proposional, kulitnya bersih bening, tutur katanya lembut, belum lagi permainan panasnya yang tidak terlupakan,' sahut Latif dalam hati.


"Abang kok malah melamun?"


"Ehm tidak, abang cuma mikir ... kalau perempuan itu berhasil kita enyahkan, lalu dinda bisa menggaet Aga nah terus nasib abang gimana, dong?"


"Kita tukeran gitu, bang. Bawa aja perempuan itu sama abang."


"Aih, rugi dong. Yang abang ongkosin jadi nambah banyak."


"Tapi abang suka, kan sama dia?"


"Eng ... ya suka-lah. Tepatnya penasaran, makanya abang pernah makai jasanya di wisma."


"Ish, abang ini ..." Aminah merengut.


"Hehe, maaf dinda sayang. Abang cuma ingin membuktikan perkataan teman-teman tentang Arrabella, mau nyicip sensasi yang berbeda gitu, gak tahunya ... tetap dinda yang terbaik, ternikmat dan ter-hot. Udah gitu, sama yang sana abang malah keluar uang banyak, kalau sama dinda kan ... dipuasinnya lahir batin," Latif melemparkan rayuan mautnya pada Aminah.


"Iiih, abang ini bisaaa aja bikin aku senang," Aminah menangkup kedua pipi Latif dan memberikan kecupan ringan di bibir lelaki itu.


"Dinda, aku punya ide untuk menyingkirkan Arrabella. Nanti kita atur skenarionya serapi mungkin tanpa melibatkan banyak orang seperti kemaren. Aku jamin pasti berhasil.


"Apa itu, bang?" Aminah penasaran menyambut isi fikiran Latif.


"Ah, gak enak diomongin di sini."


"Lha, tinggal bilang aja gitu, bang."


"Aish dinda ini gak paham, pagi-pagi gerimis gini enaknya saling menghangatkan, sayang." Altif langsung meraup tubuh Aminah dan membopongnya ke kamar.

__ADS_1


Aminah pun tersenyum sumringah, memeluk leher Latif. Pasangan ulat bulu itu pun memadu kasih, saling memuaskan satu sama lain.


__ADS_2