
Akeno yang sudah lama memendam kerinduannya pada kehangatan tubuh Aya benar-benar melaksanakan perkataannya dan membuat Aya abai pada perkataan Lucia.
Hal yang tentu tidak bisa diterima Lucia nantinya adalah, Aya tidak dapat disalahkan telah menerima Akeno untuk dilayani. Sebab Aya pun tidak benar-benar bisa menolak keinginan Akeno yang begitu menuntutnya. Lagi pula Aya senang bersama lelaki yang satu ini. Begitu manis dan hangat, Akeno pada aktivitas mesra mereka suka menghentak bagian pribadi Aya dengan sangat keras namun tidak dapat disebut sebagai tindakan yang kasar apalagi menyakiti, sebab ... Aya sangat menikmati tiap desakan dari pedang tumpul yang dihujamka Akeno ke celah surgawinya.
Siapa yang tidak mau bergantian saling memuaskan menuju puncak asmara, bertukar lendir hingga peluh membanjiri tubuh bersama perwira muda setampan Akeno?
Malam itu totalnya Aya hanya melayani 2 tamu, sebab tamu keduanya, yaitu Akeno memilih bermalam dengannya dan menggempurnya berulang kali hingga dini hari. Bahkan saat bangun di keesokan harinya, Akeno dengan gagahnya kembali mengajak Aya mengulang sesi panas semalam sebanyak 2 kali sebelum ia meninggalkan ianjo.
"Kamu luar biasa, sayang," ujar Akeno saat Aya membantu memasangkan seragamnya.
"Tuan juga luar biasa," sahut Aya tersipu dan dengan malu-malu mengecup singkat bibir lelaki itu.
"Hei, kamu mulai berani sekarang, ya. Apa mau bercinta sekali lagi, hm?" tanya Akeno seraya memeluk pinggang ramping Aya.
"Ish tuan ... aku hanya ingin berterima kasih padamu atas pengalaman bercinta yang tidak terlupakan," jawab Aya.
"Ah, bagiku kecupanmu berarti undangan dan kamu telah membuatku menginginkannya lagi" Akeno langsung meraup wajah Aya dan mulai melumaat bibir mungil itu.
"Hmph, sudah tuan. Apakah tuan masih belum puas? Lagi pula tuan sudah pakai seragam," tukas Aya yang merutuki tingkahnya barusan yang malah memancing keinginan hakiki lelaki itu.
"Aish, kamu pikir pakaian yang sudah dikenakan tidak bisa dilepas lagi, sayang? Ah, kamu memang benar-benar selalu bisa membuat gairahku bangkit." Ucap Akeno dengan suara parau sambil menggendong Aya ke tempat tidur.
Tentu saja Aya dengan senang hati meladeni keinginan Akeno terlebih karena tips 500 gulden sudah diterimanya.
"Sayang, aku minta kamu jangan terima tamu lain jika aku datang dan ... jangan pedulikan temanmu yang katanya menaruh hati padaku itu, ok?" Akeno menegaskan hal itu sebelum keluar dari kamar nomor 8.
Akeno baru saja berlalu, Lucia langsung menghampiri kamar nomor 8 saat Aya menutup pintunya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Kamu senang sama Akeno dan melupakan kalau aku menyukainya?" tanya Lucia dengan tatapan tajam.
"Hm, tepatnya aku hanya senang pria yang memperlakukanku dengan sangat baik dan memberiku tips lumayan setelahnya," jawab Aya enteng.
"Kamu menyukainya dan berusaha merebutnya dariku rupanya."
"Tidak. Aku tidak merebutnya dari siapapun. Aku bahkan tidak tahu lelaki mana saja yang menginginkanku, tahu-tahu mereka sudah ada di kamar aja. Kamu, kenapa kamu tidak mencegahnya saat dia ke kamarku?"
"A-aku tidak tahu ka-"
"Lucia, kupikir kamu juga sama. Kita hanya tinggal menerima pria yang datang. Bagaimana kamu bisa menyalahkanku, sementara dia yang datang padaku, harusnya kamu protes ke dia karena dia yang memilih datang padaku." Aya menyela perkataan Lucia.-"
"Halah, alasan saja!"
"Sekarang terserah kamu beranggapan bagaimana. Asal kamu tahu saja, aku sudah mencoba memberitahunya di sini ada seorang gadis yang menaruh hati padanya dan dia bilang, dia tidak peduli. Dia juga memintaku untuk tidak mempedulikan gadis itu."
"Hah, dasar tidak punya perasaan!"
"Karena kamu tidak tahu rasanya jatuh cinta dan-"
"Ah sudahlah Lucia. Aku berusaha untuk jatuh cinta pada pria yang menjadi tamuku. Bagaimanapun, lelaki yang gemar datang kemari, kesetiaannya diragukan. Mereka bukanlah lelaki baik yang pantas untuk dijadikan suami dan ayah anak-anak kita kelak," lagi-lagi Aya memotong perkataan Lucia.
"Aish, semoga kamu tidak kemakan omonganmu sendiri, Aya!" Jawab Lucia ketus.
"Eeh, ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah rame?" ujar Irene yang datang ke kamar Aya untuk mengantarkan sarapan.
Irene menatap Lucia dan Aya bergantian meminta penjelasan. "Kalian tidak malu? Di kamar lain masih ada teman kalian yang melayani tamunya, aku tidak mau dicap telah memelihara gadis yang gemar bertengkar," kata Irene lagi.
__ADS_1
"Lucia menuduhku telah merebut pria yang disukainya, mi," adu Aya.
"Apa itu benar, Lucia?" selidik Irene.
Lucia menunduk, ia tahu kesalahannya meski Irene belum mengatakan sesuatu yang spesifik. Lucia hanya cemburu dan meluapkan emosi yang tidak perlu pada Aya karena lelaki yang dilayaninya semalam, hanya memberi tips yang sedikit, berbeda dengan Akeno yang tidak pelit jika hatinya senang.
"Lucia sayang, aku menghargai perasaanmu yang tidak bersambut itu, tapi kamu tidak berhak melarang temanmu melayani pria-mu itu. Kamu tahu kan, kalau pria itu sendiri yang memilih Aya dan menghabiskan malam panasnya bersama Aya. Aku bahkan tidak menawarkan Aya padanya dan ... aku pikir juga, Aya tidak mungkin menaruh rasa pada pria itu, dia hanya menjalankan tugasnya, bukan begitu, Aya?"
"Benar, mi," jawab Aya.
"Nah, aku harap kamu mengerti Lucia. Kalau kamu keberatan lelaki itu memilih gadis selain kamu ... aku bisa memindahkanmu ke mess belakang," dengan gaya santainya Irene menegaskan kembali ancamannya tempo hari.
"Ja-jangan, mi. Tolong, aku masih mau melayani di VIP. Baiklah, aku mengerti dan tidak akan mempersalahkan Aya lagi."
"Tidak hanya Aya, tapi juga gadis lain yang mungkin kadi pilihan lelaki itu dikemudian hari. Aku tidak melarang kalian jatuh cinta pada pria yang kalian layani hanya saja ingat posisi kalian di sini dan apa fungsi kalian di sini. Aku bahkan tidak keberatan, jika pria itu juga mencintaimu lalu memilih untuk menebusmu dan membawamu keluar dari sini."
"Baiklah, mi. Lucia berjanji," ucap Lucia dengan perasaan sedih. Saat Aya masih libur, Akeno memilihnya tapi hanya 1 jam saja, saat Akeno tahu Aya sudah bisa kembali bekerja, lelaki itu ternyata malah menghabiskan waktu lebih lama bahkan menginap di kamar Aya. Bagaimana ia bisa membuat Akeno jayuh cinta padanya? Sementara lelaki itu hanya butuh partner yang bisa memuaskannya dan itu bisa ia dapatkan dengan mudah dari gadis manapun yang pilihnya.
"Ma-maafkan aku Aya."
"Tidak apa-apa, Lucia. Aku mengerti perasaanmu. Kamu tahu, aku hanya melaksanakan tugasku dan tidak bisa menolak siapa pun yang menghampiriku dikamar," sahut Aya.
"Ya, terima kasih atas pengertianmu."
"Percayalah, aku akan berusaha mengarahkannya untuk menghampirimu seperti tadi malam tapi keputusan tetap ada ditangannya," kata Aya lagi.
"Lagi pula, jika memang kamu dan lelaki itu berjodoh, pasti ada jalannya, sesulit apapun itu." Irene turut menimpali, meyakinkan Lucia.
__ADS_1
Tidak ada pilihan selain menerima dengan lapang dada. Aya dan mami Irene, benar. Lucia yang salah, telah jatuh cinta pada Akeno dan malah menyalahkan Aya. Lucia sedih sekali, serasa hatinya kembali diremukkan saat tahu Akeno lebih memilih perempuan lain selain dirinya. Tapi, Lucia bisa apa? Lelaki itu punya pilihan, punya uang dan punya selera-nya sendiri.
Lucia mengerti, cintanya bertepuk sebelah tangan karena Akeno hanya membutuhkan kehangatan sesaat darinya, bukan cinta sejati yang bisa membawanya keluar dari ianjo.