Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Mereka Menyakitiku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Isao mengantar Aya ke ianjo. Takut gadis itu mengamuk saat didekati, maka sengaja ia memberi obat bius saat gadis itu masih lelap, seperti yang biasa ia berikan pada Monic agar tidur nyenyak.


"Lho, kenapa tuan Isao yang mengantarkan gadis ini?" Tanya Irene keheranan melihat tamunya pagi itu.


"Aku yang membelinya, bukan atasan Ryujo. Kemarin kami hanya berpura-pura agar Monic tidak tahu. Makanya aku tidak meniduri gadis ini di sini, biar kamu tidak membocorkan pada Monic waktu itu."


"Oh begitu, padahal tinggal kasih uang tutup mulut saja, beres. Eh, tapi ini masih 3 hari lagi kok sudah diantar ke sini?"


"Hm, sepertinya dia tertekan. Itu tadi sengaja aku kasih obat biar tenang, biasalah ... anak perawan, dikerjain sama teman-teman."


"Dikerjain teman-teman gimana?" 1.000 gulden itu kan untuk hak tuan memakainya sendiri, bukannya ramai-ramai. Aduh tuan Isao gimana sih, kasihan ... gadis ini masih muda sekali, malah dibikin lebam-lebam gini, dia bisa trauma sama laki-laki," omel Irene.


"Iya, aku tahu. Aku bertanggung jawab. Tolong diurus ya, Ren."


"Hah, tidak mau. Bawa pulang dan kasih aku uang tebusan 100.000 gulden, sini." Irene menyodorkan telapak tangannya.


"Aku tidak mau menebusnya."


"Kenapa kemahalan atau ... takut Monic?"


"Tidak. Biar kamu aja yang urus di sini. Kalau kamu tidak mau, ya sudah biar aku bunuh saja."


"Eeh, jangan dikasih mati dulu dong, tuan. Anak ini cantik dan menarik, tentu banyak yang suka sama dia nanti. Baiklah, nanti aku urus tapi minta uang buat berobat ya, tau sendiri uang pembelian dari kamu itu aku cuma dapat sedikit, bagi-bagi sama penjaga, tenaga medis dan buat Monic juga."


"Baiklah, ini 500 gulden, cukup, ya."


Mata Irene berbinar melihat uang yang ditaruh Isao ditangannya. 'Rezeki pagi hari,' fikir Irene.


"Hei, apa Monic tidak marah tuan mengeluarkan uang sebanyak ini?"


"Tidak. Monic tidak akan marah sebab dia sudah pergi dariku. Barang dan baju pemberianku, semua ditinggal bahkan uang pembelian dan penebusan dia dulu pun digantinya."

__ADS_1


"Masa? Padahal kalian baik-baik saja. Apa dia punya hubungan gelap terus pergi dengan pria kaya yang mampu menggantikan uang itu?"


"Entah, tapi dia type orang yang malas keluar rumah, kecuali kalau bersamaku. Kalau pergi sendiri, dalam sebulan hanya sekali dua kali, ke salon atau berbelanja. Jadi rasanya tidak mungkin dia menjalin hubungan dengan pria lain, tapi kalaupun iya, baguslah ... tadinya aku malah mau mengembalikannya kepadamu saja, karena aku sudah bosan."


"Wah ... kalau Monic kembali ke sini, walaupun sudah tidak gadis lagi, harganya masih tinggi. Cantik, bodynya bagus, kulitnya mulus ... mantan wanita perwira. Tuan pasti menyesal jika melepasnya tapi dia malah jadi primadona ianjo."


"Ah sudahlah. Aku malas memikirkannya. Dia sudah memilih pergi dariku dan itu tidak membuat aku rugi. Baiklah Irene, aku pergi dulu," pamit Isao.


***


"Hais, nambah kerjaan aja Isao itu, semoga trauma anak itu tidak serius," gerutu Irene yang langsung meminta pengawal ianjo-nya membopong Aya ke ruang perawatan khusus.


Irene sudah biasa mengurus para wanita ianjo yang pingsan, sakit, terluka, pendarahan bahkan yang meninggal akibat kerjaan para tentara yang main kasar, jadi sebenarnya tidak masalah saat harus mengurusi Aya juga.


"Uh, aku di mana?" ujar Aya mengerjapkan matanya, ia melihat sekeliling ruangan dan merasa asing dengan suasana tempat itu.


Lalu Aya perlahan bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Irene melihat tatapan anak gadis itu kosong. Benar, tampaknya anak ini mengalami goncangan akibat perlakuan yang tidak semestinya.


Perut Aya bernyanyi, minta diisi.


"Halo, nona cantik. Merasa baikan? Ayo makan siang dulu." Tawar Irene ramah.


Aya pun langsung melahap hidangan yang disediakan untuknya. Sejak kemarin dia tidak makan, makanya sekarang dia makan seperti orang kesetanan.


"Em ... Arrabella, boleh aku membersihkan luka-luka dibadanmu?"


Aya mengangguk.


"Apa yang terjadi?" tanya Irene sambil mengoles pembersih luka dan anti memar di kulit Aya.


"Mereka menyakitiku. Padahal aku sudah tidak melawan, tapi mereka tetap menyakitiku," sahut Aya sambil menangis histeris.

__ADS_1


"Ssstt, tidak apa-apa. Menangislah puas-puas lalu jangan lagi kamu biarkan air mata membasahi pipimu. Lukamu akan sembuh. Mereka memang suka seenaknya memperlakukan wanita apalagi kalau sedang mabuk."


"Mereka kasar, mereka menyakitiku. Aku sudah tidak gadis lagi, bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini pada orangtuaku, apakah teman-temanku masih mau kudekati, bagaimana ka-kalau aku hamil?" Aya memeluk erat tubuh Irene, menumpahkan segala uneg-unegnya.


Irene menunggu sampai tangis Aya reda.


"Cup, cup, sabar ya Arrabella cantik. Jangan khawatir atas semua yang kamu fikirkan itu, selama kamu berperilaku baik dan jujur, maka teman-teman tetap menyukaimu. Dan ... kamu tidak akan hamil, sebab suntikan tempo hari adalah untuk pencegah kehamilan."


Aya kembali memeluk Irene sambil menangis, bagaimanapun Aya tetaplah seorang anak yang harusnya dikasihi, dilindungi, dididik dan menikmati masa-masa remaja yang ceria, bukannya malah berpindah peluk dari lelaki satu ke lelaki yang lain.


"Aku malu, aku takut ... a-aku berdosa," isak Aya.


"Sssttt, jangan berfikiran begitu. Suatu saat kamu akan mengerti bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak yang diatas. Ini adalah garis hidup yang harus kita jalani," ucap Irene membesarkan hati Aya, entah Aya mengerti maksudnya atau tidak.


"Mereka menyakitiku, hiks ... mereka jahat. Kejam."


"Tenang. Kamu aman, di sini tidak ada yang berani menyakitimu, sayang," hibur Irene.


"Tuan Isao bilang, kalau aku menurut dan mau mengikuti permintaannya, aku tidak akan di sakiti lagi, tapi ... hiks."


Irene membelai lembut punggung gadis itu, padahal dalam hati dia kesal. Bukan kesal sama Aya, tapi ... ingin sekali ia memarahi para pria yang acap kali menyiksa wanitanya. Benar mereka sudah membayar jasa wanita-wanita itu tapi janganlah sampai diperlakukan seenaknya bahkan disiksa.


Uh, luka fisik bisa sembuh dan terkadang bekasnya bisa memudar ... tapi kalau luka hati? Bahkan waktu saja belum tentu mampu menyembuhkan, bisa saja seperti bom waktu yang kapan-kapan akan pecah juga.


"Aya, aku percaya semua hal yang baik akan datang padamu. Kamu gadis yang cantik, kuat dan hebat. Hanya sayangnya kondisi negara saat ini yang sedang genting. Kamu tau kenapa pemerintah Jepang sengaja mendirikan ianjo?"


Aya mengurai pelukan Irene dan menggeleng.


"Para prajurit hingga perwira itu membutuhkan kita, mereka perlu tempat untuk melampiaskan kepenatan dan beban atas tanggung jawab yang mereka emban dan tugas kita adalah menghibur mereka, memberikan rasa nyaman, membuat fikiran mereka rileks setelah bercinta sehingga semangat dan ketahanan fisik mereka terjaga. Coba kamu fikirkan baik-baik, bukankah secara tidak langsung kita punya andil dalam perjuangan membuat negara kita lebih baik?" bujuk Irene.


"Tapi ... mereka menyakitiku," ucap Aya setengah berbisik.

__ADS_1


__ADS_2