Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Takeshi Menemui pak Ruslan


__ADS_3

Tok, tok, tok.


"Assalamualaikum," ucap Agastya sebelum masuk ke ruang rawat pak Ruslan.


"Waalaikumsalam," sahut pak Ruslan dan bu Siti berbarengan. "Ada apa nak, kok datang lagi?" Tanya pak Ruslan heran.


"Jadi aku tidak boleh sering-sering menjenguk abahku, nih?"


"Bukan, bukan begitu cuma aneh aja, nak."


"Ehm, bah ... ada seseorang yang sangat ingin bertemu."


"Oh iya, siapa?"


"Ada deh, tapi abah tutup mata dulu, ya." Agastya lalu mengambil sapu tangan dari sakunya, melipat memanjang lalu menaruhnya di atas kelopak mata pak Ruslan.


Bu Siti langsung tersenyum pada sosok lelaki yang memasuki ruang rawat suaminya.


Takeshi balas tersenyum dan berjalan menuju tempat tidur pak Ruslan lalu duduk di kursi yang telah tersedia. Perlahan Takeshi meraih jemari pak Ruslan dan menggenggamnya.


"Naaah, ayo tebak siapakah tamu istimewa ini?" kata Agastya.


"A-ammm, siapa ya?" pak Ruslan ragu menjawab. Tadinya ia sempat berharap seseorang itu adalah Aminah, istri ketiganya yang belum sekali pun menjenguknya.


Perlahan pak Ruslan menghirup aroma yang menguar dari sosok yang telah duduk di sisi tempat tidurnya, parfum itu ... mengingatkannya pada seseorang.


"Tu ... tuan Takeshi?" ujar pak Ruslan seraya menarik kain yang menutupi matanya.


"Halooo, setelah sekian lama akhirnya kita bertemu juga," senyum mengembang di wajah Takeshi.


"Alhamdulilah, panjang umur bisa ketemu tuan lagi."


"Eiiitss, ingat pak ... jangan lagi memanggilku tuan, lho," balas Takeshi dengan gaya jenaka.


"Haha, iya ... iya, pak Takeshi. Wah, selamat datang kembali di Banjar Masin, sahabatku."


"Assalamualaikum, wah ada tamu rupanya," Zain menghamipiri Takeshi dan berjabat tangan pria itu baru saja selesai berkonsultasi dengan dokter mengenai kesehatan abahnya.

__ADS_1


"Bagaimana Zain?" Tanya bu Siti pada anaknya.


"Alhamdulilah, besok abah boleh pulang, ma. Tapi wajib istirahat, tidak boleh beraktivitas berat seperti ke kebun dulu."


"Bah, apa sebaiknya abah pulang ke rumahku saja? Maaf aku hanya takut Aminah sedang sibuk mengurus ayahnya yang kabarnya sedang sakit juga," tawar bu Siti pada suaminya.


"Tidak, ma. Sebaiknya abah pulang ke rumahku saja, agar aku dan mama Alif mudah mengawasi. Kalau abah tinggal sama mama, aku akan kerepotan karena jarak yang lumayan jauh."


"Tinggal di rumahmu? Bukannya masih ada ... ah, tidak Zain. Abah tidak mau nanti muncul fitnah lagi Dirumahmu, ada bayi yang juga harus diurus mama Alif, kasihan istrimu nanti kerepotan," tolak pak Ruslan.


"Tidak apa-apa bah, kan ada aku juga," ujar Zain lagi.


"Abahmu benar, nak. Gimana bah, tinggal sama aku saja ya? Walaupun aku duduk di kursi roda, tapi aku masih bisa merawatmu, kan dirumah ada banyak orang yang bisa menjaga kita," desak bu Siti lagi.


"Ehm ... baiklah, ma. Zain, besok abah pulang ke rumah mamamu saja," putus pak Ruslan.


"Baiklah kalau begitu, bah."


"Pak Takeshi, aku sudah memenuhi mandatmu untuk mengurus Aga di sini dan syukurnya Aga orang yang mudah diatur, sehingga ia pun mudah diterima di lingkungan kami, bahkan ia sudah punya usaha dan rumah sendiri," tutur pak Ruslan.


"Ya, sudah seharusnya begitu, pak. Tapi aku gagal menyatukan Aga kembali dengan istrinya. Ah, maksudku mungkin belum waktunya ..."


"Tidak apa-apa pak, mungkin juga nasib belum waktunya mempertemukan mereka lagi."


"Ah ... tapi mereka, Aya dan Aya sudah bertemu, pak Takeshi. Bahkan sudah sempat tinggal serumah dan bertemu tiap hari tapi ..." Zain sengaja menggantung kalimatnya dan menoleh pada Agastya.


"Tapi apa, Zain? Jadi bagaimana kamu bisa menemukan Aya-mu lagi Aga?" Takeshi makin penasaran setelah tadi Aga sempat menghindari pertanyaannya mengenai Aya, sebelum berangkat ke rumah sakit.


Dengan nada yang lirih Agastya membagi cerita tentang pertemuannya dengan Aya di wisma Evergreen, kenapa Aya bisa di situ dan bagaimana ia bisa membawa pulang Aya ke Banjar Masin."


"Oh ... jadi Irene dalangnya, dan selama beberapa tahun ternyata kalian tinggalnya di tempat yang bahkan bisa dibilang berdekatan?" ujar Takeshi antusias.


"Benar, pak. Ah, entah bagaimana jika tidak ada pak Ruslan dan Zain. Mereka memiliki andil sangat besar dalam menyatukan kami lagi, mereka juga yang mendorongku mendirikan rumah dan usaha itu."


"Oh iya? Luar biasa pak Ruslan, Zain. Terima kasih, kalian memang orang baik. Eh, tapi ... kenapa aku tidak menemukan Aya di rumahmu tadi, Aga?" Lagi-lagi Takeshi melempar pertanyaan mengenai hal yang sangat ingin diketahuinya sejak tadi.


Agastya menunduk, ia sadar ... kalau kepergian Aya kali ini adalah murni karena kesalahannya, tapi ia sangat gengsi mengakui.

__ADS_1


"Ehm, biar aku saja yang jelaskan, Ga. Pak Takeshi, kamu tahu ... Aya yang sempat menjadi pekerja di wisma evergreen mendapat predikat negatif di lingkungan kami, bahkan menjadi sasaran empuk fitnahan."


"Fitnahan seperti apa, pak Ruslan?"


"Menggoda suami orang, gitu. Suatu ketika aku mendapati Aya yang akan dilecehkan oleh seseirang, saat aku menolongnya malah aku yang dituduh ada main sama Aya."


"Astaga, sebegitunya, pak?"


"Belum cukup sampai disitu, pak Takeshi. Baru-baru ini malah ... entah bagaimana caranya, Aya dibawa seseorang ke kamarku."


"Hah, maksudmya gimana, pak Ruslan?"


"A-aku juga tidak mengerti, tahu-tahu aku bangun tidur, ada Aya disampingku. Ka-kami sama-sama dalam keadaan tanpa busana."


"Apa separah itu, pak? Duh, tega sekali pelakunya, ya. Ehm ... istri bapak dimana saat kejadian itu, kok bisa tidak tahu ada ada orang yang masuk rumah?" Takeshi penasaran.


"Aminah sedang menginap di rumah orangtuanya abahnya sedang sakit."


"Wah ..." Takeshi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kejadian itu menimbulkan kesalahpahaman, sampai ... Aga mengusir bahkan menalak Aya," ujar pak Ruslan lagi.


"Agastya! Kenapa kamu gegabah sekali? Apa kamu tidak menyelidiki kejadian itu terlebih dahulu? Ah, aku gak yakin kalau Aya sengaja melakukan hal itu, walaupun dia pernah bekerja sebagai wanita bayaran, tapi aku tahu, Aya memiliki sifat yang setia."


"Maaf," gumam Agastya sambil terus menunduk.


"Pantas saja, Aya tidak ada di rumahmu tadi. Sekarang bagaimana? Apa kamu sudah berusaha memperbaiki hubungan kalian?" cecar Takeshi pada Agastya.


"Su-sudah, pak. Ta-tapi Aya enggan menerimaku."


"Hah, kamu memang pantas dihukum dengan cara seperti itu, kamu sudah keterlaluan, Aga. Mana janjimu yang ingin melindungi wanitamu dengan segenap hati dan hidupmu? Menghadapi hal yang tidak pasti saja, kamu sudah tidak bisa mengendalikan emosimu. Memalukan saja," ujar Takeshi.


"Maaf pak, aku khilaf," jawab Agastya yang tidak berani mengangkat mukanya.


Siapa pun dapat melihat betapa kecewanya Takeshi atas sikap Agastya dan Agastya benar-benar menyesal. Ia bertekad akan berusaha mendapat maaf dari Aya dan membuat Aya mau kembali ke rumah mereka.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Sekarang kita akan sama-sama memikirkan bagaimana agar hati Aya dilembutkan," Zain berusaha menengahi keadaan yang sangat canggung itu.

__ADS_1


__ADS_2