Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Ancaman Agastya


__ADS_3

Ah, apa aku harus bekerja lebih keras lagi?"


"Hah, bekerja lebih keras dengan cara melayani lebih banyak pria hidung belang, begitu? Huh, ide-mu sungguh buruk, Aya," ucap Agastya sambil mendengus.


"Lah terus gimana dong, mas?" Kabur pun kalau tidak terencana baik dan akurat hanya berujung penyiksaan dan kembalinya aku kemari," ucap Aya sambil merengut.


"Biar aku saja yang bekerja lebih keras agar uang itu terkumpul." Seketika semangat untuk bekerja lebih keras lagi demi mendapat upahblebih banyak lagi, terpantik di sanubari seorang Agastya.


Lalu Agastya bangkit dan membenahi pakaiannya.


"Mas mau ke mana?"


" Mengejar kapal-nya Zain dan kembali bekerja."


"Hm ... bukannya mas memesanku untuk long time? Itu berarti mas bisa bermalam denganku dan kembali besok saja."


"Aya, bukankah lebih cepat mas bergerak akan lebih baik juga?"


"Tapi aku masih kangen, mas. Kita telah terpisah hampir 4 tahun, masa hanya bertemu kurang dari 2 jam harus berpisah lagi?" Rengek Aya.


"Aya, selain ingin cepat bekerja dan memikirkan cara mengeluarkanmu dari sini mas takut tidak bisa menahan diri."


"Hah, tidak mampu menahan diri juga sama istrimu sendiri mas. Mas ... jangan pergi dulu, ya. Aya mohon tetap tinggallah di sini, setidaknya hingga 'long time' selesai, aku tidak mau nanti Irene dan Arata malah curiga sama kamu," Aya mengajukan opininya.


Yah, akhirnya Agastya pun setuju dengan ide Aya, keputusan sepenting itu, mereka tidak boleh gegabah agar sekecil apapun gerakan mereka, tidak mengundang kecurigaan pihak terkait.


Aya dan Aga sama-sama tidak mau harus terpisah lagi jika mereka kembali bertemu.


Keesokan harinya, Aya melepas kepergian lelakinya dengan air mata yang berderai. Meskipun Agastya meninggalkan cukup banyak uang atas 'jasa' long time ditambah titipan tips lumayan besar untuk Irene, ternyata itu semua tidak cukup untuk membayar kesedihan hatinya.


Apalah artinya memiliki uang jika tidak bisa bersama orang yang disayangi, bukan?

__ADS_1


"Aya, mas pergi ya ... mas janji akan segera membawamu keluar dari tempat ini. Jaga dirimu baik-baik," pesan Agastya seraya menghapus air mata di pipi Aya.


"Iya mas, mas juga jaga diri. Ingat baik-baik ya mas ... sampai kapan pun aku selalu milikmu dan selalu menunggumu membebaskanku dari tempat terkutuk ini."


"Iya sayang. Pasti, mas akan segera membawamu pergi dari sini," ucap Agastya menaruh dagunya diatas kepala Aya seraya mengeratkan pelukannya.


Merasa waktunya 'long time' hampir habis, sepasang kekasih itu pun berpisah layaknya hubungan cinta sesaat yang selesai setelah transaksi.


Aya keluar dari kamar 103, tidak lama Agastya menyusul keluar meninggalkan kamar itu lalu menuju meja resepsionis, mengembalikan kunci dan membayar semua biaya selama ia di wisma Evergreen.


***


Baru saja Agastya keluar beberapa langkah dari gerbang Evergreen, teriakan seseorang membuatnya berhenti.


"Hei, tunggu!"


Agastya menahan langkahnya dan berhenti. Ia langsung mengenali lelaki itu tapi dia memilih acuh saja.


"Hei, aku Arata."


"Aku baru pertama kali melihatmu bermalam di Evergreen."


"Hm, lalu?"


"Begini, Irene istriku mengatakan kamu sempat menolak wanita yang sebenarnya bisa menemanimu saat malam pertama menginap di wismaku tapi kamu hanya mau menginap dengan Arrabella, primadona wisma Evergreen ini."


"Iya, lalu apa masalahnya? Aku kemari semata karena penasaran mendengar ladies top, tercantik dan terbaik di situ. Urusanku sudah beres, jadi aku mau pulang."


"Em, sebentar ... aku menawarkan kartu ini padamu sebagai tanda pengenal ekslusif. Jika kamu menunjukkan kartu ini maka kamu bisa memilih kamar mana saja dan wanita mana saja yang kamu mau, termasuk Arrabella, walaupun ia sedang ada tamu lain, maka kamu diprioritaskan bersamanya, aku sendiri yang akan menggeser tamu itu untukmu," iming Arata sambil memperlihatkan kartu kecil berwarna hijau berlogokan Wisma Evergreen Esklusif.


Agastya langsung mengerti maksud Arata melalui tawaran kepemilikan kartu itu, "Oh, maaf. Aku tidak tertarik."

__ADS_1


"Kenapa tidak tertarik? Ah, sayang sekali bila kamu mengabaikan tawaranku yang hanya berlaku untuk orang pilihan."


"Orang pilihan? Haha, aku sudah memakai perempuan yang kamu maksud itu long time, jadi dia sudah tidak membuatku penasaran lagi. Aku justru penasaran pada wanita cantik bernama Irene yang menawarkan dirinya short time dengan harga yang jauh dibawah ladies terbaik itu.


"Kurang ajar!" Bugh! Arata langsung melayangkan tinjunya di wajah Agastya.


"Hei, santai bung. Apa yang membuatmu emosi? Untuk apa aku harus membayar lebih sementara rasanya ternyata sama saja? Kalau kamu bilang Arrabella adalah perempuan terbaik di wismamu itu, haha ... aku sarankan, sudah saatnya kamu mencari barang baru yang lebih segar dan menarik lagi," kata Agastya sambil mengusap pelan sudut bibirnya yang berdarah.


Hap.


Baru saja Arata akan melayangkan tinjunya yang kedua kali tapi gagal, karena Agastya lebih dulu menangkis pukulan itu dan malah mengunci gerakan Arata.


"Apa mulutmu tidak bisa bersuara, sampai harus kau gunakan tangan kotormu ini yang berbicara, ha?"


"Kamu akan menyesal bermasalah denganku," ancam Arata.


"Haha, coba saja. Mari kita lihat siapa yang lebih menyesal nantinya. Jangan kamu kira aku tidak mampu melumpuhkanmu juga usaha wisma keparatmu ini. Perkara mudah bagiku," balas Agastya dengan berani.


Arata menatap baik-baik manik mata Agastya, sepertinya dia pernah bertemu tapi entah di mana dengan lelaki berani balik mengancamnya ini.


"Ka-kamu ..." Arata seperti memikirkan sesuatu.


"Ya, kenapa denganku, hm? Mau berkelahi? Ayo, aku dengan senang hati meladeni keinginanmu, kamu masih hutang pukulan denganku."


"Ma-maafkan aku, eh ... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Memang apa hubungannya jika kita sudah pernah bertemu atau tidak, hm? Dengar, aku punya 1 rahasia ... jika kamu pernah mendengar seorang perwira yang berasal dari negaramu itu tewas dengan 2 tembakan di rumahnya sendiri di Jakarta menjelang kemerdekaan Indonesia, itu akulah pelakunya. Dan asal kamu tahu, aku tidak keberatan jika kamu memberikan dirimu menjadi korban berikutnya, aku akan lakukan sekarang," tegas Agastya.


"Ma-maaf jika telah menyinggungmu."


"Baiklah, jangan coba-coba mengulanginya lagi dan ingat, aku memilih tidak menebus kartumu itu bukan karena tidak mampu tapi karena tidak mau saja. Lihat wajahku baik-baik, kapan pun aku datang ke wisma-mu dan ingin tidur dengan Arrabella, kamu harus mengaturnya atau ... kamu akan bernasib sama dengan perwira brengsek itu, mengerti?" Gertak Agastya.

__ADS_1


"I-iya, mengerti," jawab Arata ragu. Sebagian orang di kawasan wisma juga para tamu umumnya takut dan hormat pada Arata, baru kali ini ada orang yang berani melawan bahkan mengancamnya. Ngeri. Arata sungguh penasaran di mana ia pernah bertemu lelaki ini.


"Bagus! Kalau kamu tidak mengerti juga, jangan salahkan aku bila kepalamu kuledakkan bersama dengan usahamu ini," ucap Agastya tersenyum miring dan meninggalkan Arata yang ketakutan.


__ADS_2