
"Jangan nakal, Aya." Agastya menggeliat dari tidurnya saat merasa senjata kebanggannya sedang disesap istrinya.
"Lagi pengen, mas ..." Aya nyengir sebentar lalu melanjutkan aktivitas memanjakan junior suaminya.
"Aku sih, gak masalah ... kamu, apa mau kubikin susah jalan lagi, hari ini kita ada kuliah pagi, lho," tubuh Agastya meremang, terpancing permainan nakal istrinya.
"Mumpung masih gelap, ayo!" Aya langsung menduduki perut Agastya.
"Seperti yang kamu mau, sayang," tentu saja Agastya tidak menolak ajakan istrinya yang jarang memulai pergumulan panas mereka.
"Akh ..." Agastya tersenyum senang, telah membuat Aya menjerit tertahan, saat ia mendorongkan senjatanya dari bawah.
"Suka?"
"He-ehm," Aya mengangguk.
"Enak?"
"Ah, selalu ... mas memang yang terbaik," puji Aya dengan nafas terengah, membuat Agastya makin bersemangat.
"Jadi ... aku sudah bukan pria amatir lagi, kan?" tanya Agastya, ketika Aya sudah terkulai lemas dipelukannya.
"Tentu saja, aku mau kita terus seperti ini, mas ... mengawali hari dengan bercinta, membuat semangat berlipat ganda."
Agastya terkekeh, ternyata istri kecilnya sudah mengerti apa yang menjadi kebutuhan primer suami istri, "Ayo kita mandi dulu, terus sholat subuh." Agastya menggendong Aya ke kamar mandi.
***
"Ada kelas pagi ini?" Tanya Takeshi saat mereka menikamti sarapan.
"Aya ada tuan, aku libur hari ini," sahut Agastya.
"Hm, usahakan Aya jangan lepas dari pengawasanmu, melihat senyum liciknya saat meninggalkan rumah ini waktu itu, aku takut kalau-kalau Isao punya niat jahat," usul Ryujo yang langsung dibalas anggukan Agastya.
Usai sarapan, keduanya berpamitan menuju kampus.
"Mas, semalam aku mimpi ... aku diculik-"
__ADS_1
"Mimpi itu bunga tidur, jangan jadi dijadikan beban pikiran," potong Agastya sambil memarkirkan mobilnya.
Cup. Aya mengecup kilat pipi Agastya. "Aku buru-buru, mas. Waktunya mepet sekali, daaah," Aya segera keluar dari mobil dan menutup pintu.
Agastya tersenyum melihat istrinya lari terburu-butu menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial Politik, pilihannya
"Good luck, sayang," gumam Agastya sambil mencari posisi aman mengawasi Aya.
2 jam telah berlalu, namun Aya belum jua kunjung menghampiri Agastya ditempat biasa mereka berjanji untuk bertemu. "Ah, apa Aya ada kelas kedua?" gumam Agastya. Hingga jelang tengah hari, Agastya bergegas menghampiri kelas Aya.
"Maaf, saya mau bertemu mahasiswi yang bernama Arrabella," ujar Agastya sopan setelah mengetuk pintu ruang kuliah.
"Arrabella, gadis noni Belanda itu?" Tanya dosen pengampu mata kuliah.
"Benar, pak."
"Oh, tadi saat jam pelajaran pertama dia dijemput oleh ajudan kekasihnya, tuan Takeshi," sahut pak dosen lagi.
"Baiklah, pak. Terima kasih, permisi," pamit Agastya dengan perasaan tidak enak.
"Ajudan tuan Takeshi? Ah, ngapain tuan Ryujo menjemput Aya sampai ke ruang kelasnya?" gumam Agastya sambil mengendarai mobilnya pulang ke rumah dinas.
"Bukannya Aya sudah pulang dari tadi? Aku dapat info dari dosennya, Aya dijemput oleh ajudan tuan Takeshi."
"Masa? Aya tidak ada di rumah dan Ryujo ... kamu tahu sendiri beberapa hari ini dia cukup sibuk mendampingi tuan Takeshi mencari Soekarno-Hatta karena mau ada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia."
"Ketemu?"
"Iya, dengan bantuan intelijen. Ternyata Soekarno-Hatta sengaja disembunyikan oleh kaum muda Indonesia ke Rengasdengklok agar terhindar dari pengaruh Jepang."
"Lho, kan ... tuan Takeshi juga orang Jepang."
"Iya, tapi kan tuan Takeshi pro kemerdekaan Indonesia. Tuh, Ryujo dari pagi ada ruang kerja tuan Takeshi bersama para tokoh Indonesia, katanya sedang mempersiapkan perumusan proklamasi," jelas Monic pada Agastya.
"Ehm, baiklah nyonya," Agastya yang amsih penasaran segera ke ruang kerja tuan Takeshi dan mencari Ryujo.
"Ada apa, Agastya?" Tanya Ryujo saat Agastya memberi kode padanya untuk segera keluar dari ruangan tuan Takeshi.
__ADS_1
"Eng ... apa tuan ada ke kampus Aya tadi pagi?"
"Tidak, aku tidak ke mana-mana hari ini. Lagi pula keamanan Aya, kan ... kamu langsung yang bertanggung jawab, ada apa rupanya?"
Agastya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku menunggu Aya hingga siang, saat aku hampiri ke kelasnya, dosennya bilang Aya saat pelajaran pertama dijemput oleh ajudan tuan Takeshi."
"Mana ada seperti itu, tuan Takeshi akhir-akhir ini sibuk dengan tim PPKI. Astaga, Agastya ... kita kecolongan, benar kan kubilang tadi pagi? Ini pasti perbuatan Isao."
Agastya shock mendengar penuturan Ryujo, bagaimana pun ini kelalaiannya sendiri yang terlalu santai saat mengawasi Aya.
"Ini alamat Isao, aku harap kamu menemukan Aya di saja. Ingat, sebisanya jangan gunakan kekerasan, Isao cenderung menuruti perkataan orang yang mau 'menghamba' padanya. Kalau dia tidak mau menyerahkan Aya terpaksa tuan Takeshi," ujar Ryujo sambil memberikan secarik kertas pada Agastya.
"Baik, terima kasih, tuan."
***
Tiba di kediaman Isao, Agastya tidak langsung bertamu. Melainkan mengamati rumah itu terlebih dahulu. Dari luar tampak sepi, hari belum lagi gelap namun gorden rumah itu tertutup, penjaga juga tidak ada di pos depan.
"Ck, pada ke mana sih? Apa Isao membawa Aya ke suatu tempat tersembunyi?" batin Agastya. Agastya lalu memutuskan keluar daei mobil dan mengamati rumah itu dengan jarak yang lebih dekat. Beberapa pasang sepatu tentara berjejer rapi teras, Agastya menebak para tentara itu pasti ada di dalam rumah.
'Ceklek,' Agastya memberanikan diri memasuki rumah Isao.
"Sialan!" ujar Agastya saat melihat pemandangan di dalam rumah itu. "Ini, pemerintah Jepang apa tidak rugi membayar gaji untuk perwira dan pengawalnya yang bukannya berjuang untuk kepentingan negara, malah asyik menggempur wanita demi kepuasan pribadi," ujar Agastya dalam hati.
"Ma-maaf mengganggu tuan," ujar Agastya saat melihat orang yang dicarinya sedang duduk memangku perempuan berdada penuh. Agastya meremang, sungguh mendengar dan melihat orang lain bermesraan seperti itu membuatnya ingin cepat-cepat menyeret Aya ke pelukannya juga. Tapi ... di mana Aya?
"Eh ... kamu asisten tuan Takeshi itu, kan? Ada perlu apa? tanya Isao sambil menyuruh wanita yang semula di pangkuannya menjauh lalu Isao menutup bagian bawah tubuhnya dengan bantal kursi.
"Hei, kamu manis juga ... mau bersenang-senang denganku?" Wanita tanpa busana yang baru saja dihalau Isao malah menghampiri Agastya dan tanpa sungkan menawarkan kenikmatan dunia padanya.
Agastya menarik dan menghembuskan nafasnya dengan mata terpejam agar mampu terhindar dari godaan.
"Sumi! Jangan macam-macam dengannya," hardik Isao.
"Iya sayang, aku hanya mencoba peruntungan, hihi ..." perempuan bernama Sumi itu menjauh setelah sebelumnya sempat memijat singkat senjata kebanggaan Agastya, "Kalau urusanmu dengan tuan Isao beres, temui aku di kamar belakang, ya?" Ucap Sumi sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Eh ... kamu belum jawab, apa ada pesan penting dari Laksamana Takeshi?" tanya Isao.
__ADS_1
Agastya masih tertegun, ia perlu waktu untuk mewaraskan isi kepalanya.