
Tidak terasa Aya sudah hampir satu bulan tinggal di Banjar Masin. Ikut kegiatan mama Alif pengajian dan juga belajar mengaji bersama anak-anak Alif dan Amar. Untuk mengisi waktunya, Aya menulis beberapa cerita. Otaknya harus aktif agar tidak malas berfikir, ada keinginan melanjutkan studi, kuliah seperti dulu tapi tidak Aya ungkapkan pada Agastya.
Aya tidak mau kalau dia bilang nanti malah Agastya terbeban, kini harapannya hanya satu ... bisa segera hamil anak Agastya. Makanya sejak berkumpul lagi dengan Agastya, Aya tidak lagi melanjutkan pemakaian injeksi pencegah kehamilan seperti yang rutin ia lakukan saat masih di wisma Evergreen dulu. Sebab ia sudah berusia 22 tahun, tubuhnya tentu sudah sangat siap dibuahi benih suaminya dari segi mental pun, Aya yakin dia mampu menjadi seorang ibu
Sejak Aya tinggal bersamanya kembali, Agastya memutuskan berhenti membatang. Dia tidak mau harus meninggalkan istrinya selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan seperti saat sebelum bertemu Aya. Dengan bantuan modal dari tuan Takeshi dulu serta suntikan dana dari pak Ruslan, Agastya membuka usaha di depan rumahnya, yaitu semacam pabrik pengolahan kayu dan menjual hasilnya yang berupa balok dan papan di situ.
Pak Ruslan Zain dan Zais, adik Zain dari istri kedua abahnya memenuhi janji membantu Agastya membangun sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu ulin. Aya bahagia sekali dan langsung merasa nyaman saat pertama kali ia memasuki rumah mereka, rumah yang sudah lama mereka impikan, bahkan sejak mereka baru menikah dulu.'
"Bagaimana, sayang?" Agastya meminta pendapat istrinya.
"Alhamdulillah. Ini luar biasa, mas. Prosesnya cepat juga, ya."
"Hu-um, karena bahan-bahannya tersedia, tukangnya juga banyak jadi tinggal pengerjaannya aja lagi."
"Wah, pasti menghabiskan banyak uang untuk bikin rumah, mengisinya terus membuat tempat di depan."
"Ya begitulah, sayang. Tapi tidak mengapa, Allah sudah menyediakan rezeki dan uang bisa dicari. Tidak apa-apa istilahnya habis-habisan asalkan kita bisa bahagia, menikmati hidup bersama seperti ini. Bagiku asal ada yang buat dimakan setiap hari dan kita bisa mengenakan pakaian yang layak, sudah cukup. Yang penting disyukuri dan dinikmati serta jangan pernah membandingkan apa yang kita punya dengan milik orang lain," tutur Agastya pada istrinya.
"Mas ... untuk acara syukuran lusa, ternyata mama Alif menyiapkan pakaian khusus untuk kita,"
"Oh, iya"
"Nih lihat, mama Alif meminta kita mencobanya. Ini dia jahit sendiri, lho. Aku cuma membelikan bahannya," Aya membuka baku terlipat rapi itu.
"Wah, padahal kan cuma acara sederhana. Pengajian terus makan-makan dengan teman-teman dan tetangga," jawab Agastya sambil mengambil pakaian yang disodorkan Aya padanya.
__ADS_1
"Ya namanya juga rezeki, mas. Gak boleh protes kata mama Alif. Kita juga harus mendokumentasikan saat kita mengenakan pakaian ini, buat kenang-kenangan," Aya melepas pakaian yang dikenakannya dan berganti dengan pakaian yang dibuatkan istri Zain untuknya.
"Mas, tolong kancingkan," Aya membelakangi suaminya yang baru rampung memasang bajunya sendiri."
"Wah, ini sih ... coba berbalik, sayang." Agastya terbelalak saat melihat tampilan istrinya.
"Ini sih, apa mas? Aku malah merasa seperti mempelai perempuan, hihi."
"Iya benar, kita pakai baju begini sudah seperti pasangan pengantin, sayang. Kamu terlihat cantik sekali. Aku tinggal pakai kopiah, terus rambutmu disanggul, dikasih mahkota kecil dan kerudung panjang, sudah kayak pengantin beneran," timpal Agastya.
"Eh iya mas, ini mama Alif juga menyiapkan kain panjang pasti ini untuk veil."
"Oh ... kebetulan dulu kita menikah sangat sederhana, tidak ada perayaan apa pun. Jadi lusa, kita syukuran rumah baru sekalian melaksanakan resepsi yang tertunda."
"Boleh juga, mas. Rupanya mama dan abah Alif sengaja menyiapkan semua ini untuk kita."
"Bang Latif siapa?"
"Itu, yang menjalankan kapal Zain untuk mencari kayu di hutan-hutan."
"Wah, aku tidak hapal dengan teman-teman kalian, mas."
"Iya tapi mereka hapal sama kamu, sayang. Bahkan bang Latif ... maaf, pernah memakai jasamu waktu di wisma Evergreen malam sebelum aku menemukanmu."
Dheg! Hati Aya berdesir saat suaminya menyebut nama penginapan itu. Seketika Aya menjadi sedih dan tidak berharga sebagai seorang perempuan, namun ia tidak mau menunjukkan hal itu pada Agastya.
__ADS_1
"Ehm, mas ... dulu dalam satu hari aku biasa melayani setidaknya 3 orang pria, jadi wajar saja kalau aku lupa berapa banyak lelaki yang sudah menjamah tubuhku, bagaimana tampang mereka yang telah menggunakan jasaku demi melegakan hasrat hakiki kaum lelaki sepertimu," jawab Aya yang tadinya gembira kini berubah murung sejak suaminya menyebut 'Wisma Evergreen'.
"Sayang, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud."
"Aku mengerti, mas. Apa bagimu penting untuk tahu bahkan menyebutkan nama lelaki yang pernah menjadi pelangganku dulu, lalu kamu akan membandingkan permainanmu dengan mereka, begitu?"
"Tidak, sayang. Bahkan seharusnya aku tidak berkata seperti tadi. Maaf."
"Aku saja ingin lupa, mas ... tapi kamu malah mengingatkan siapa aku dan betapa berdosanya aku. Namun asal kamu tahu saja, aku memang pernah gagal menjaga kesucian ragaku dari sentuhan lelaki selain kamu tapi mas, cintaku murni hanya untukmu sejak dulu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku, meski ... ada saja lelaki yang lebih baik dari kamu, yang mampu memuaskanku dan memperlakukanku dengan lembut, tapi aku hikkks," Aya sudah tidak sanggup menyembunyikan luka hatinya yang membuat sudut matanya basah.
"Sudah, sudahlah. Jangan diteruskan. Aku tahu sayang, aku tahu. Maafkan aku lagi-lagi menyakitimu. Aku tadi sebenarnya bermaksud untuk berhati-hati terhadap lelaki itu sebab dia pernah memintaku untuk 'meminjamkanmu'."
"Hah, meminjamkan bagaimana maksudnya?" Aya mengerutkan dahi mendengar perkataan Agastya.
"Ya begitu, dia bilang jika kamunya mau juga, dan aku tidak keberatan, maka apa yang kamu lakukan akan sangat membantu kondisi keuangan kita nantinya."
"Gila, mana aku mau? Susah payah aku berusaha agar terbebas dari perbuatan laknat itu. Eh ini malah ternyata ada lelaki yang seenak itu. Sok sopan, pakai acara permisi pada suami yang istrinya mau dia pakai sebagai partner ranjangnya. Huh, bejad dan tidak beradab," umpat Aya.
"Em ... a-aku cuma kamu menjaga dirimu, membatasi pergaulanmu dari orang-orang yang seperti itu, sayang."
"Ah, tanpa kamu minta pun aku tahu apa yang harus aku lakukan, mas. Menjaga pandangan mata, menjaga aurat, menjaga lisanku, aku tahu itu semua mas dan aku berusaha menjaga marwah-ku, seperti yang dikatakan pak Ruslan tempo hari demi kamu, suamiku. Yah, meski pun aku tidak bisa merubah masa laluku tapi ke depannya aku mau hidup lebih baik, lebih bermanfaat bagi sesama."
"Hm, sekali lagi maafkan aku ya, sayang. Sungguh aku hanya takut kamu digoda sama pria yang mungkin lebih kaya, lebih tampan dariku."
"Hah mas ini ... biar pun ada lelaki yang 1.000 kali lebih kaya, lebih tampan dari kamu, aku tetap milihnya kamu, karena aku mencintaimu."
__ADS_1
Agastya cepat-cepat merengkuh Aya sungguh ia telah keliru dalam menyampaikan maksud hatinya, namun pelukan pasti bisa menyembuh kekesalan Aya padanya.