Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Tuan Perantara Yang Cerdik


__ADS_3

"Hm ... apakah di bab yang akan aku baca ini bakalan ada bagian yang bikin panas dingin lagi?" gumam Mangata sambil membuka naskah cerita Arrabella di bab ke 25.


***


"Sayang, apa kamu akan segera kembali ke kamar kalian?" tanya Ryujo usai mengakhiri sesi panas mereka.


"Bagaimana kalau aku tetap di sini, tidur dipelukanmu sampai pagi, agar Isao tahu aku tidak semenyedihkan itu saat dia menyelinap keluar dan membiarkanku terlelap sendiri."


"Kalau mau aman sih, kamu kembali ke kamarmu dan anggap saja tidak tahu kalau Isao ..."


"Tapi aku ... bukannya aku tidak percaya padamu, Ryujo. Aku hanya tidak yakin kalau tidak menyaksikan sendiri," potong Monic.


"Kamu mau memastikan hal itu?"


Monic mengangguk.


"Baik, pakai baju dulu sayang. Kita akan sama-sama memastikan. Cukup diam dan melihat saja, jangan bersuara ataupun bertindak macam-macam."


Monic dan Ryujo pun berjalan mengendap menuju loteng. Saat memijak anak tangga terakhir, kuping keduanya sudah disuguhi jeritaan dan erangaan yang menggetarkan hati.


"Tampaknya Isao sukses membuat babu menjadi ratu ditempat tidur," bisik Ryujo.


Monic hanya diam. Yang Monic tahu, kamar di loteng itu adalah sebuah gudang yang kotor, hah ... bisa-bisanya Isao yang suka kebersihan itu mau yang bercinta disitu.


Ryujo menunjuk pada jendela yang tidak tertutup dengan rapat. "Ayo kita lihat agar lebih pasti lagi."


Monic pun menurut dan mengikuti Ryujo yang telah lebih dahulu melihat keadaan di dalam kamar. Benar saja, walaupun minim cahaya Monic dapat melihat dengan jelas, Sumi pembantunya yang rajin itu sedang berdiri sambil mencondongkan tubuhnya kedepan dengan tangan yang bertumpu pada sandaran sofa. Matanya terpejam, mulutnya berisik kadang mendesah kadang menjerit, badannya maju mundur dan kedua payudaraanya ikut bergerak setiap kali Isao menghentak celah surga dunianya dari belakang.


Ryujo menarik tangan Monic. "Cukup pasti, kan? Ayo kita kembali sebelum mereka tahu sudah kita intip. Sebab kalau lama-lama ... jangan salahkan aku yang akan melahapmu di sini," bisik Ryujo.


Saat akan memasuki ruang makan, Ryujo dan Monic melewati kamar mandi belakang dekat dapur yang pintunya tidak tertutup dengan baik, lagi-lagi indera pendengaran sekaligus penglihatan mereka disajikan sesuatu yang spesial.


Walaupun tampak belakang, Monic tahu betul perempuan yang mengangkaang di pangkuan lelaki yang menduduki closed itu adalah Yati dan lelaki yang tangannya sedang mengelus punggung dan pantaat Yati, dari bahan celana yang melorot itu, Monic tahu ... lelaki itu adalah pengawal Isao.


"Sialan! Cicit Monic."


Ryujo tertawa kecil, "Ssttt, panas ya? Apa perlu kita lakukan di meja makan itu? Aku akan membuatmu menjerit sangat keras, agar mereka tahu percintaan kita tidak kalah nikmatnya."


Monic menarik lengan Ryujo menuju kamar tamu.


"Lho, kok malah ke sini? Tidak ingin kembali ke kamar kalian?" tanya Ryujo senang.


"Yang punya kamar lagi enak-enakan di gudang sama pembantu, ngapain aku tidur sendirian? Mendingan sama kamu," sahut Monic sambil melepas pakaian Ryujo. Didorongnya Ryujo hingga menempel di pintu, lalu ia berjongkok, memanjakan sang junioor dengan lidahnya.


"Ah, stop sayang. Kamu membuatku ingin cepat keluar. Mau posisi seperti mereka yang di gudang apa yang di kamar mandi belakang?" Ryujo menarik Monic agar berdiri sejajar dengannya.


"Aku mau kedua posisi itu, bahkan posisi yang belum pernah, harus kita coba saat ini!" Jawab Monic membuat semangat Ryujo berkobar.

__ADS_1


"Tentu, sayang. Aku akan memberikan lebih dari yang kamu inginkan," Ryujo mengangkat sebelah kaki Monic melingkari pinggulnya. "Rasakan. Aku akan membuatmu melayang, Monic," bisik Ryujo seraya menghujamkan pedangnya ke dalam sarung mungil yang sudah basah.


***


Bab 26.


"Capek, sayang?" tanya Ryujo dengan nafas yang masih terengah usai berolah raga panas dengan Monic.


"Sedikit capek tapi banyak bahagianya, hehe.


"Padahal tadi aku lihat kamu kesal sekali."


"Benar, tadi aku hampir saja melabrak Isao. Untung kamu mengingatkanku. Huh, ternyata Isao seperti itu, dengan pembantu lagi. Pantas saja pembantu kami yang sekarang lumayan lama bertahan, rupanya karena terjalin kecocokan dengan majikan. Sialan, didepanku mereka terlihat sopan dan sangat menghargaiku tidak tahu aslinya binal."


"Isao sering cerita dengan kami, kalau pembantu kalian itu istimewa bahkan kamar tamu ini sengaja dipasang peredam agar ... ah, kamu pasti tahu tujuannya."


"Hah, dia telah menjadikan rumah ini seperti tempat pelacuraan terselubung. Dia, teman-temannya juga pengawalnya bergantian memakai jasa layanan yang sama. Cih, lama-lama mungkin aku juga ditawarkan olehnya," gerutu Monic.


"Hei, itu tidak akan terjadi sayang, karena kamu hanya milikku. Aku tidak akan membiarkan banyak tangan menjamahmu. Kamu kan tahu, sejak awal aku memang ingin memilikimu hanya kurang cepat membayar pada Irene. Itu juga karena Irene termakan omongan Isao, Isao bilang aku tidak jadi beli karena harus berlayar. Padahal aku cuma pergi dermaga sebentar. Tapi dia kalah cerdik denganku, sengaja dia kubuat mabuk ... berpura-pura membawanya ke kamar yang disewanya untuk menidurimu padahal ... Monic, aku bangga jadi pria pertamamu, Isao yang bodoh itu tidak tahu kalau bercak yang tersisa di alas tempat tidur itu karena aku yang ...." Keduanya lalu terbahak mengingat kejadian 2 tahun yang lalu.


"Oh iya, kata Isao atasanmu akan membeli Arrabella, apa benar?"


"Atasanku? Haha, kamu percaya?"


"Makanya aku bertanya padamu."


"Ah ... bukan atasanku tapi sahabatku yang adalah lelakimu itu yang membelinya?"


"Tepat sekali. Katanya biar kamu tidak curiga."


"Ih, rasanya aku tidak percaya."


"Terserah mau tidak percaya yang pasti aku adalah perantara yang membantunya memuluskan rencana. Dia mengajakku bekerjasama agar bisa melampiaskan dendamnya pada gadis itu dan aku bersedia. Aku turut mengatur agar Irene dan kamu tidak curiga. Aku juga memintanya membawa noni itu ke villa tuan Takeshi dan selama dia di sana aku berjaga agar keberadaannya aman. Padahal, selama dia bersama noni itu kita bisa berduaan tanpa hambatan, haha ... Isao memang bodoh."


"Hihi, ternyata seperti itu."


"Benar. Jadi begini, besok Isao akan berpamitan karena ada perjalanan dinas."


"Sebentar, bukannya Isao berada di divisi yang mengharuskannya selalu siap di wilayah tugas?"


"Nah, makanya besok kami menemuimu dan mengatakan aku membutuhkan bantuan Isao untuk menyelesaikan pekerjaan di luar kota."


"Oh. Pintar ya kalian membuat sandiwara."


"Demi kenyamanan bersama, sayang. Isao senang karena aku mengerti dan mau membantunya, padahal aku mendapat keuntungan, meniduri wanitanya di saat dia tidak ada di rumah, haha."


"Jadi, siapa yang memanfaatkan siapa?"

__ADS_1


"Sama-sama saling memanfaatkan, sayang. Simbiosis mutualisme."


"Dasar licik."


"Bukan licik tapi cerdik, sayang."


"Jadi apa rencana setelah Isao pulang dari puncak?"


"Sebenarnya Isao menggratiskan noni itu untukku sebagai imbalan kerjasama kami. Setelah aku, noni itu kami gilirkan ke beberapa teman, untuk mengganti 1.000 guldenmu. Irene sudah bersedia menalangi pembayaran gadis itu, jadi uangmu aman."


"Ka-kamu juga mau meniduri gadis itu?"


"Tidak. Aku akan membawamu pergi sebelum Isao kembali ke sini."


"Ke mana?"


"Ke tempat yang tidak akan dicurigai oleh Isao tentunya. Kamu tinggal menulis surat perpisahan yang menyatakan kekecewaanmu terhadapnya, agar dia merasa bersalah. Dulu dia membelimu pada mami Irene dengan berapa duit?"


"600 gulden dan 48.000 gulden untuk tebusanku keluar dari Ianjo."


Ryujo mengambil sesuatu dari tasnya. "Ini ada 50.000 gulden, kamu selipkan didalam surat itu nanti. Dengan begitu, tidak ada alasan Isao merasa ditipu."


"Lalu aku gimana?"


"Besok setelah kamu mengantar noni itu pada mami Irene, tidak usah kembali ke sini. Pergilah ke hotel tempat biasa kita bertemu."


"Baiklah."


"Oh iya, nama pimpinanku itu adalah Laksamana Takeshi beliau bukan jenis lelaki yang suka bermain wanita. Beliau sering meminta kami untuk tidak mengunjungi ianjo lagi. Bagi lelaki dewasa tentu ini akan sulit, makanya Laksamana Takeshi mengizinkan kami membawa istri ikut berlayar."


"Dan tiap kali setelah berlayar, kapal merapat di dermaga Batavia, kamu menghampiriku?


"Hm ... sepertinya aku tidak lagi akan menghampirimu jika Batavia."


"Ke-kenapa? Kamu sudah ... bosan dan mengabaikanku seperti Isao?" nada Suara Monic terdengar kecewa.


"Bukan, karena kita akan menikah. Ya, aku akan menikahimu secara resmi, dan membawamu berlayar atau kemanapun aku pergi, tidak seperti lelaki itu yang hanya bisa membeli dan membayar tebusan lalu seolah merasa kamu miliknya."


"Ki-kita menikah? Kamu serius?"


"Iya, serius. Monic, aku lelah selama ini kita mencuri-curi kesempatan, hanya 1 - 2 jam bersama terus berpisah, Jujur, aku tidak puas dan ingin kita selalu bersama lalu punya anak yang banyak."


"Aku juga ingin begitu Ryujo, tapi bagaimana cara aku bisa lepas dari Isao?"


"Hm, aku sudah mengurusnya. Bulan kemaren aku sudah menemui pastor dan sudah dibaptis jadi lusa kita bisa menikah sesuai keyakinan yang kamu anut. Aku sudah melengkapi semua syaratnya. Tapi maaf, hanya pemberkatan nikah dan catatan sipil, tidak ada pesta, karena situasi tidak memungkinkan. Jika atasanku memberi cuti aku akan membawamu ke Tokyo dan mengadakan resepsi di sana."


Monic menangis haru, pernah sekali ia meminta Isao meresmikan hubungan mereka tapi Isao menolak, alasannya pernikahan antar negara terlalu ribet. Tapi Ryujo ... tanpa diminta malah ingin menghalalkan hubungan mereka secepatnya.

__ADS_1


***


"Kebalik, Bambang ... dinikahin dulu, baru dikawinin," gerutu Mangata sambil menutup bacaannya.


__ADS_2