
Setelah tuan Isao dan temannya berangkat, nyonya Monic yang sudah tampak rapi itu menghampiri Aya.
"Arrabella, sini. Kerjaanmu biar Sumi dan Yati yang beresin, ada yang mau aku bicarakan." Kata Monic sambil menarik kursi di ruang makan.
"Iya, nyonya."
"Duduk." Monic menarik kursi di sebelahnya.
Dengan pikiran was-was Aya duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Hm, udah kamu santai aja, aku cuma mau berbincang-bincang denganmu," ujar Monic yang seolah membaca raut ketegangan di wajah Aya.
"Kamu waktu masih ditempat lama, sekolah, kan?"
Sambil menunduk, Aya mengangguk.
"Arrabella, kalau diajak ngomong, tataplah lawan bicaramu," saran Monic.
"Aku dengar ayahmu tergolong orang berada di Magelang, pasti beliau sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya."
Aya masih belum mengerti arah percakapan nyonya Monic.
"Kamu bisa bahasa Belanda?"
"I-iya, nyonya."
"Kamu mengerti etika berkomunikasi, etika berbusana, etika makan dan bagaimana sikap tubuh yang baik, kan?"
"I-iya, papi kami mendatangkan guru khusus ke rumah untuk mengajarkan kami hal-hal tersebut, nyonya. Termasuk bagaimana menjadi seseorang yang berkepribadian baik."
"Bagus. Jadi begini Arrabella ... aku dapat info akurat, pihak pemerintahan Jepang sedang mencari 25 orang muda dari Hindia Belanda untuk diajarkan menjadi penerjemah, nanti kalau sudah selesai akan ditarik kembali ke sini, langsung bekerja di kantor perwakilan pusat. Pendidikannya tidak lama, hanya 1 tahun. Apa kamu berminat?"
Mendengar itu, bola mata Aya berbinar cerah.
"Jadi kalau ada tamu asing kenegaraan, kalian yang sudah dilatih itu yang melayani tamu kehormatan dan mendampingi pemerintah untuk menerjemah bahasa. Selain itu kalian juga berperan dalam menyusun hal surat menyurat yang berhubungan dengan pihak luar. Kamu kan bisa berbahasa Belanda dan Indonesia juga, terus nanti akan bisa berbahasa Jepang, wah ... ayahmu pejabat kemiliteran Belanda tentu sering membawa tamu ke rumah tentu kamu sudah tidak canggung berhadapan dengan orang asing. Potensimu untuk jadi orang yang sukes besar sekali, Arrabella."
"Ehm, saya juga bisa sedikit bahasa Inggris, nyonya. Hanya kurang lancar percakapan saja."
"Wow hebat ... kamu cantik, cerdas dan penampilanmu juga menarik. Anak muda seperti kamu ini memenuhi kriteria mereka. Kamu mau menerima tawaran itu?"
__ADS_1
"Eng ... apa pendidikannya harus di Jepang, nyonya?"
"Tentu, karena beasiswa ini mereka yang mengadakan. Maksudnya, jika kamu sementara tinggal di sana kamu jadi lebih cepat mahir serta mudah memahami budaya dan kebiasaan mereka. Banyak lho orang mau ke luar negeri, dan kamu ke sana cuma-cuma. Pastinya ini akan jadi pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup, Arrabella."
"Tapi ... aku tidak mau terpisah dengan orangtuaku, nyonya."
"Aduh, ini peluang bagus Arrabella, tidak semua orang bisa lolos seleksi. Lagi pula, selain beasiswa keluargamu yang tinggal di sini pun akan diberi fasilitas istimewa, kemungkinan orangtuamu tidak lagi di kamp interniran tapi bisa kembali ke Magelang," iming Monic lagi.
"Ba-baiklah nyonya, saya bersedia," jawab Aya tanpa berfikir panjang.
"Nah, kalau begitu siapkan dirimu, bawa pakaian dan semua barang-barangmu. Aku akan membawamu menemui pihak perwakilan yang akan menyeleksi. Oh iya, soal keluargamu ... nanti aku sendiri yang akan menyampaikan kabar baik ini pada mereka, jangan khawatir," janji Monic lagi.
"Baik, nyonya."
"Ya sudah sana bersiap. Dandanlah sedikit dan kenakan pakaian terbaikmu."
Aya pun gegas ke kamar belakang, mengemas barang-barangnya. Duh, mimpi apa semalam kok bisa dapat tawaran beasiswa? batin Aya. Tadinya Aya berpikir ia akan selamanya menjadi pelayan di rumah itu yang mungkin saja bisa bernasib 'tragis' seperti mbak Sumi dan mbaknYati, ternyata ... dia telah berprasangka buruk, ternyata nyonya Monic orangnya sangat baik dan perhatian.
***
Aya tiba-tiba disergap rasa tidak nyaman saat mereka tiba. Banyak lelaki yang sebagian besar adalah orang Jepang berseragam tentara di situ, duduk berkelompok sambil minum-minum dan bercanda ditemani beberapa wanita. Aneh, tempat seperti ini kok jadi tempat penyeleksian beasiswa?
"Hai juga mami Irene, aku datang membawa bibit unggul."
Monic mendekati Irene, kedua becakap-cakap sebentar. Lalu Irene memberikan amplop untuk Monic.
"Nah, Arrabella ... kamu aku tinggal dulu, ya. Sekarang mami Irene yang akan mengurus semua keperluanmu. Semoga sukses Arrabella," pamit Monic.
***
"Arrabella, kamu cantik sekali. Berapa usiamu?" tanya mami Irene ramah.
"14 tahun, nyonya."
"Wah, masih muda, ya. Panggil aku mami Irene, Arrabella."
"Ba-baik, Mi."
"Ok, karena Monic yang mengantarmu ke sini aku tahu kamu pasti perempuan yang berkualitas dan aku katakan, kamu memenuhi syarat untuk menerima beasiswa itu, kamu diterima. Sebelum berangkat ke Jepang kamu harus di training dan divaksin dulu ya, untuk menjaga kesehatan dan menghindari penularan penyakit."
__ADS_1
"Baik, mi." Walaupun ada sedikit rasa ragu, Aya yang sudah terhasut, menerima saja semua yang dikatakan mami Irene.
Irene menyuguhkan berbagai cemilan dan minuman sambil menunggu petugas kesehatan.
Tidak lama datang seorang perempuan ke ruangan mami Irene.
"Siapa namamu?" tanya wanita itu.
"Arrabella, nyonya."
Wanita itu menulis sesuatu di buku dan kertas kecil.
"Baik, turunkan sedikit celanamu."
Aya meringis saat benda tajam kecil menembus kulit bagian atas pantaatnya.
"Simpan kartu ini baik-baik. Bulan depan kamu harus disuntik lagin jadi perhatikan tanggalnya jangan sampai terlewat tanggal itu," ujar wanita petugas kesehatan itu pada Aya.
"Terima kasih." Aya mengangguk dan menaruh kartu kecil itu di tasnya.
"Nah, sekarang kamu sudah aman. Makan dulu Arrabella, nanti siang mereka akan menjemputmu dan membawamu ke tempat training," kata Irene.
Aya makan dengan lahap, sudah lama Aya tidak makan makanan yang enak dan istimewa seperti ini, terlebih karena suasana hati yang sedang bahagia. Bayangkan, dia dapat beasiswa kemudian ditraining lalu berangkat ke Jepang, selain itu keluarga yang ditinggalkannya akan mendapat fasilitas dari pemerinta dan akan dibebaskan dari kamp interniran hal itu membuatnya bangga.
Iya bangga, karena seorang noni Belanda yang sempat tersingkir sepertinya justru akan memiliki masa depan gemilang. Aya tidak hanya akan menjadi pahlawan keluarga tapi juga memiliki andil memajukan bangsanya. 'Terima kasih, Tuhan,' gumam Aya.
"Arrabella, itu yang akan membawamu ke tempat training sudah tiba," kata Irene.
Aya merapikan dirinya sebentar karena tadi sempat tertidur.
Irene mengantarnya sampai ke mobil dan melambaikan tangan. "Selamat bersenang-senang Arrabella cantik," kata Irene sambil menutup pintu mobil.
Bruk.
Pintu mobil tertutup dan mulai bergerak perlahan.
Aya melihat orang-orang juga ada di mobil itu, 'Lho, kok ada tuan Isao dan tamu yang menginap semalam?' batinnya. Perasaan tidak enak kembali menyeruak, Aya memastikan sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres.
Tidak berapa lama mobil berhenti dan pria yang semalam menginap di rumah tuan Isao keluar, "Maaf Isao, aku tidak bisa mengantarmu sampai sana."
__ADS_1
"Ok, tidak masalah," sahut Isao.