Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Disaksikan Rembulan


__ADS_3

"Nah itulah, tuan Takeshi adalah type lelaki yang bertanggung jawab. Dan selama jadi asisten tuan Takeshi aku banyak belajar mengenai bagaimana mempertahankan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, meskipun kondisi sangat mendukung."


"Kalau kondisi mendukung plus digoda seperti tadi, kamu sanggup, mas?" ucap Aya sambil mengerling pada kekasihnya.


"Hanya tadi saja, entah bagaimana kalau terulang lagi. Kamu jangan lagi kau seperti tadi, mungkin saja ... ah, pokoknya jangan coba-coba meruntuhkan pertahananku, sayang. Aku takut khilaf. Kamu tahu, roh memang penurut tetapi daging lemah."


"Maksudnya apa, mas?"


"Sayang ... sesungguhnya kita ini sebagai manusia terdiri dari jiwa, roh dan raga, daging. Satu sisi, kita adalah manusia rohani yang dapat bergaul dekat Allah, menuruti perintah-Nya, tapi di sisi lain kita ini makhluk daging yang mementingkan keinginan pribadi dan bisa menyimpang dari kehendak-Nya. Maka satu-satunya cara adalah menghindar dari sesuatu yang dapat menjatuhkan kita ke dalam dosa," terang Agastya.


"Jiwa dan raga, roh dan daging ... ah, aku masih tidak mengerti, mas."


Agastya tersenyum, "Sudahlah, intinya jangan memberi celah untuk hal-hal yang kemudian bisa menjerumuskan kita pada perbuatan terkutuk, sayang. Sebab sekali saja pertahanan kita runtuh, maka kita akan terikat, terbiasa bahkan tidak punya rasa takut dosa lagi."


Sebenarnya Aya mau menanggapi kata-kata Agastya barusan, tapi netranya telah terpikat pada lembayung senja yang kian gelap. Sejenak, lalu perlahan benda langit berbentuk bola besar itu merangkak naik, membuat temaram sedikit demi sedikit terkikis redupnya oleh sinar rembulan, membuat langit dan sekitarnya berubah gemilang


"Wow, ternyata malam ini bulan purnama, mas."


"Iya, untuk itulah aku membawamu kemari. Menikmati dan mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan yang jarang kita anggap."


"Terima kasih, mas. Aku terlalu sering meratapi nasibku sampai-sampai lupa bersyukur atas keindahan ciptaan Tuhan lainnya. Ini adalah hiburan dari-Nya yang jarang kita sadari."


"Sayang, kamu lihat pantulan sinar bulan di air danau itu?" tanya Agastya sambil menunjuk ke arah dimana rembulan bercermin.


"Hm, iya."


"Apa yang kamu rasakan saat melihatnya, sayang?"


"Hm, apa ya? Ah, aku merasa takjub, bahagia dan bersyukur atas keindahan kita lihat ini, mas."


"Kamu tahu? Kondisi ini dinamakan 'Mangata' yaitu gambaran perasaan saat kita melihat bayangan bulan di permukaan air yang berbentuk seperti jalan itu. Aya, nanti kalau kita punya anak, jika lelaki kita beri nama Mangata, ya?"


"Kalau anak perempuan?" tanya Aya.

__ADS_1


"Perempuan ... kita beri nama Arunika." Agastya menatap lekat kedua manik mata Aya.


"Arunika?"


"Ya, Arunika adalah cahaya merah hampir jingga ketika matahari terbit atau terbenam."


"Oh, kenapa tidak 'Lembayung Senja', saja?" usul Aya.


"Boleh juga, siapa tahu suatu saat nanti kita dikaruniakan beberapa anak. Jadi mereka bisa kita beri nama Mangata, Arunika, Lembayung Senja, atau mungkin Langit biru," sahut Agastya sekenanya sambil terkekeh.


"Nama yang unik dan mengandung makna pengingat kuasa Allah atas segala fenomena dan keindahan alam yang telah Dia ciptakan, ya mas."


"Betul, semoga nanti setiap kali menyebut nama anak-anak kita kelak, kita jadi diingatkan untuk bersyukur atas segala nikmat-Nya."


Aya mengangguk sambil memberikan senyum terbaiknya.


"Em ... lihatlah, bulan sudah mulai naik ke tengah langit membawa kita pada keheningan. Ah, malamku akan sunyi tanpamu dan aku fikir ini adalah waktu yang tepat untuk kita merenung juga membuat rencana kita ke depan.


Aya menghadap pada kekasihnya yang tengah berbicara dengan sedikit mendongakkan dagu, seolah mengundang Agastya melabuhkan kecupan di bibirnya, namun Agastya memilih untuk abai saja.


"Iya, mas ... terima kasih, telah memilihku. Aku juga berjanji, akan menjaga hati dan hidupku hanya untukmu."


Keduanya pun berpelukan dengan rasa bahagia sekaligus haru yang membuncah dalam sanubari, dalam bias sinar bulan yang melingkar sempurna di atas sana.


"Kita pulang yuk, mas. Aku khawatir nyonya Monic dan yang lainnya akan kebingungan mencari keberadaan kita," kata Aya seraya melerai pelukan mereka.


"Haha, hampir saja kita lupa waktu, ayo!" Sepasang kekasih itu pun mengemas bawaan mereka, termasuk 2 ekor ikan besar hasil pancingan Agastya sebagai oleh-oleh untuk orang rumah, kemudian ia menuntun tangan Aya, meniti jalan setapak yang jarang dilalui, kembali menuju kamp.


***


Kurang lebih 50 meter sebelum memasuki kawasan komplek tentara, sayup-sayup keduanya mendengar lengkingan tangis anak kecil.


"Ah, rupanya nona muda Himawari mengamuk lagi," gumam Agastya.

__ADS_1


"Itu karena kita perginya terlalu lama, mas," sahut Aya. Keduanya pun lantas semakin mempercepat langkah agar segera tiba ke rumah utama.


"Astaga, dari mana saja kalian? Jam segini baru pulang, kalian lupa apa yang kuminta tempo hari?" kata Monic dengan suara yang cukup keras.


"Maaf nyonya, kami pergi ke danau dan ini ... kami membawa ikan hasil memancing di danau," jawab Agastya.


"Huh, kalian tidak tahu kesenangan kalian bisa membawa petaka untuk kita semua. Semua orang di komplek kita jadi bertanya di mana Sora, ke mana Agastya? Apa kalian fikir mereka tidak akan berasumsi?" Omel Monic.


"Sorraaa!" tubuh kecil Himawari tiba-tiba mendekati Aya.


"Tuh Arrabella, kamu lihat Himawari yang menangis tanpa henti karena mencarimu sejak bangun tidur siang tadi?"


"Maaf nyonya, sebentar aku akan mengurus nona Himawari," ujar Aya.


"Cepatlah, kasian anak ini sampai suaranya jadi serak begitu," sahut Monic.


"Hani sayang, maafkan aku yang pergi terlalu lama," rayu Aya pada nona mudanya.


"Sora jahat, telah meninggalkanku," rajuk Himawari.


"Hani maaf ya, aku ada perlu dengan Agastya."


"Perlu apa, sampai tidak mau mengajakku?" protes Himawari.


"Soalnya tempat yang kami tuju tidak memungkinkan untuk mengajakmu, sayang. Kamu tahu, aku dan Agastya tadi membuat jalan agar suatu saat bisa mengajakmu ke sana."


"Tempat apa itu?"


"Danau dengan permukaan berwarna hijau kebiruan di dekat lembah. Agastya memancing dan dapat 3 ekor ikan. Yang 2 ekor kami bawa pulang dan yang 1 ekor lagi kami bakar dan makan di sana sambil menatap matahari terbenam, menyaksikan pantulan bulan bundar di atas itu perlahan naik, di permukaan danau."


"Wow, kalau begitu besok kalian harus membawaku ke sana," sahut Himawari antusias.


"Boleh, tapi sekarang kamu harus mau mandi dulu, terus makan dengan lauk ikan hasil pancingan Agastya tadi," rayu Aya.

__ADS_1


"Mau, mau ... Sora, ayo temani aku mandi sekarang," pinta Himawari.


"Tadi aja tuh anak nangis sampai ngamuk-ngamuk, huh gitu deh, kalau sudah ketemu pawangnya," gumam Monic sambil mencebik saat melihat Himawari yang langsung 'jinak' saat bertemu Aya.


__ADS_2