Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Tidak Masalah


__ADS_3

Usai berbincang dengan Takeshi dan Ryujo, Agastya permisi untuk beristirahat. Ia merasa tubuh dan otaknya terasa lelah dan perlu tidur siang. Sungguh, walaupun sudah mengambil keputusan, ia belum siap bertemu dengan Aya.


Bagaimana pun, ia harus mempersiapkan mentalnya agar bisa menganggap 'baik-baik saja' atas kejadian yang menimpa Aya.


"Ryujo, kita harus segera meninggalkan tempat ini. Tolong siapkan semua ketua divisi beserta nakhoda untuk brusfing jam 20.00 di rumah ini," perintah Takeshi sepeninggal Agastya.


"Siap, tuan."


Aya tampak mondar-mandir di dalam kamar sambil melatih dialog-nya jika bertemu Agastya.


"Mas Aga, maafkan aku. Tadi malam aku disekap tentara ke barak belakang a-aku diperkosaa."


Heppp. Aya memukul mulutnya sendiri.


"Tidak, mana boleh mengarang cerita agar tidak disalahkan. Kenyataannya aku tidak beneran diperkosa tapi ... suka sama suka," ucap Aya pada dirinya sendiri.


"Ya Tuhan, bagaimana aku mengatakan semua ini nanti? Mas Aga tentu akan menganggapku rendah dan murahan, apalagi jika mas Aga ingat bagaimana aku pernah menggodanya tempo hari di danau. Huh, jangan-jangan mas Aga berfikir aku juga telah menggoda para tentara itu."


Aya menghentak-hentakjan kakinya, berharap hati dan perasaannya menjadi lega bersama gerakan senam tidak jelasnya itu.


Plak, plak.


Berulang kali ia menepuk pipinya sendiri agar otaknya lebih waras.


"Hah, haruskah aku kehilangan cintas mas Aga gegara kejadian itu?" Hm ... apakah aku akan kembali menjadi jugun ianfu saja dan melupakan ketulusan mas Aga?"


"Ya, cinta sejati itu tidak ada dan tidak nyata untukku. Aku-nya saja yang terlalu berharap mas Aga begitu mencintaiku sampai-sampai mau menerimaku yang suka rela ditiduri lelaki lain. Ihiiiks, aku memang bodoh. Mana mungkin ada lelaki yang sanggup menjaga kehormatanku disaat aku sendiri membiarkan diriku sendiri direnddahkan." Aya terus bermonolog sambil menangis hingga ia tertidur cukup lama hingga menjelang senja.


***


"Tidak mauuuu. Aku hanya mau dimandikan Soraaaa!" teriak Himawari yang bersiap mengamuk lagi.


"Sayang, Sora sedang tidak enak badan. Kali ini mandi sama papa, ya? Ayo, tuh lihat bebek-bebek lucu ini sudah menunggumu di bak mandi," rayu Takeshi pada anaknya. Takeshi tahu, Aya pasti sedang dalam mood yang tidak baik sehingga sampai jam segini belum juga beranjak dari kamarnya.


"Wow, mereka lucu sekali, pa." Komentar Himawari saat melihat beberapa boneka plastik berbentuk bebek kuning berenang di bak mandi yang sudah diberi sabun ileh ayahnya.


"Ayo, cepatlah kamu masuk ke bak dan mandi bersama bebek-bebek lucu ini, sayang."


Byur.


Himawari melupakan Sora-nya dan melompat ke dalam bak mandi yang penuh busa sabun beraroma strawberry favoritnya. Sesekali terdengar tawa di sela celotehnya menimang bebek-bebek lucu itu.


Takeshi membiarkan putrinya mandi sambil bermain, ia memanfaatkan waktu untuk menyiapkan baju, bedak dan sisir rambut untuk anak semata wayang-nya itu.


'Aku memang tidak boleh bergantung sepenuhnya pada Arrabella untuk mengurus Himawari. Bagaimanapun, sebentar lagi gadis itu akan menikah dan punya keluarganya sendiri untuk diurus. Sementara aku? Ah, entah kapan akan menemukan calon yang tepat untuk dijadikan istri sekaligus ibu untuk anakku," gumam Takeshi.


"Himawari, mandinya sudah, ya. Kasihan bebek-bebek itu, kalau terlalu lama mandi, mereka kedinginan dan bisa pilek, bersin-bersin seperti kamu waktu itu, sayang."

__ADS_1


"Iya, papa. Aku sedang membilas bebek-bebek ini."


"Jangan lupa kamu bilas juga badanmu, sayang."


"Iya, papa," jawab Himawari dengan nada riang.


***


"Mas Aga, nanti boleh bicara sebentar?" tanya Aya usai mereka makan malam.


"Hm, iya sayang ... kamu kenapa? Matamu sembab begitu, kamu habis menangis?" sahut Agastya.


"Tid- eh, iya mas. Aku tidurkan Himawari dulu, ya. Nanti kita bicara di sini saja."


"Baiklah. Aku menunggumu di sini, sayang," sahut lembut Agastya sambil tersenyum pada kekasihnya.


Menunggu hampir 2 jam bukanlah waktu yang lama bagi Agastya yang juga sedang mempersiapkan hati dan kata-katanya saat berbicara dengan Aya nanti. Ia berinisiatif membersihkan area dapur dan membakar sampah sambil menanti kekasihnya menghampiri.


"Mas Aga," paanggil Aya.


"Iya sayang? Himawari sudah tidur, ya?"


Aya mengangguk.


"Duduklah, aku siap mendengar kisahmu," kata Agastya.


"Sayang, kamu kenapa?" Agastya pura-pura tidak tahu.


"A-aku ... semalam aku telah ... ." Aya menengadahkan kepalanya agar air matanya berhenti mengalir.


"Tenanglah dan bicarakan pelan-pelan."


"Tapi mas janji, jangan marah ya."


"Iya sayang, mas janji tidak akan marah."


"Mas ... tadi malam aku, a-aku disekap sama tentara."


"Lalu?"


"Eng ... aku dibius, trus dikasi obat, lalu aku ... lalu aku, ihiiiks," Aya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya sementara Agastya bertopang dagu menanti ceritanya?"


"Sayang, kamu mau ngomong apa nangis aja sih, ini?"


"Mas, kamu pasti gak akan memanggilku 'sayang' lagi, ji-jika, hiks ... jika tahu aku sudah digilir beberapa prajurit di barak belakang, semalam."


"Kata siapa?" Agastya menyahut tenang.

__ADS_1


Aya terkejut mendengar jawaban dan reaksi Agastya yang kalem.


"Mas tidak kecewa?"


"Kecewa kenapa?"


"Aku sudah mengkhianati, mas. Aku gagal menjaga diriku, mas."


"Tapi ... hatimu masih terjaga hanya untukku, kan?"


"I-iya mas," sahut Aya malu-malu.


"Sayang, sebagai manusia biasa aku memang kecewa tapi kejadian itu diluar kehendakmu. Mau gimana lagi? Apa kamu lupa kalau aku pernah berjanji akan mengembalikan harga diri dan nama baikmu? Sampai kapan pun kamu tetaplah satu-satunya perempuan yang sangat diperjuangkan untuk kumiliki," ucap Agastya bijak, sambil menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


"Jadi, mas a-"


"Ah, sudahlah. Aku tidak masalah, sayang. Anggap saja ini sudah resiko-ku memilihmu jadi wanitaku."


"Mas benar-benar tidak mempermasalahkan?"


"Tentu, apa kelihatannya aku tidak serius? Harusnya kamu yang mempertanyakan keseriusanku, jika hanya karena kejadian itu cintaku menghilang dan aku mundur dari hadapanmu."


"Tapi kejadian itu masih baru, bagaimana bisa kamu menerimanya sesantai ini?"


"Terus maumu, aku harus gimana? Marah-marah, memutuskan tali cinta kita dan mengurungkan niatku menikahimu, begitu?"


Aya menatap dalam manik mata kekasihnya, "Tapi mas berhak untuk itu."


"Kamu fikir putus cinta lalu batal nikah itu menyenangkan?"


"Entahlah mas, saat menyadari aku diperalat para prajurit itu aku memikirkan kamu. Apakah kamu masih mau menerimaku atau tidak."


"Itu karena kamu masih meragukan kesungguhanmu, sayang."


"Bukan, hanya saja ... jika aku di posisimu, mungkin aku akan meninggalkanmu."


"Haha, cinta yang sebenarnya tidak begitu, sayang. Selalu bersama dalam suka dan duka, saling menguatkan bukan meninggalkan di saat sulit apalagi aku tahu persis kamu tidak mampu menghindar mereka. Dan mungkin jika kita masih dalam lingkungan ini selalu ada kesempatan bagi mereka untuk mengincarmu, makanya aku menerima tawaran tuan Takeshi untuk-"


"Sebentar, apa tuan Takeshi tahu mengenai hubungan kita?" potong Aya.


"Iya, aku susah mengatakan semuanya. Beliau sangat mendukung dan malah menawarkan aku maksudku kita menempati rumah dinasnya di kota, jadi pekerjanya di sana."


"Dan mas menerima agar aku terhindar dari gangguan para prajurit?"


"Ah, tidak itu saja. Percakapanku dengan tuan Takeshi terjadi sebelum kejadian itu. Aku hanya memikirkan ... kita secepatnya menikah, lalu tinggal menetap dan kamu, aku berencana untuk mencarikan guru private untukmu. Karena bagaimana pun pendidikan, penting untuk masa depanmu."


"Terima kasih, mas. Padahal, jika aku sudah menjadi istri mas, rasanya aku tidak perlu repot-repot belajar lagi, hihi."

__ADS_1


"Kata siapa? Aku perlu wanita yang pintar untuk mendidik anak-anakku kelak," tegas Agastya lagi.


__ADS_2