
"Aga, tunggu dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik," Zain berusaha menahan langkah sahabatnya.
"Tidak perlu!" Tegas Agastya. Langkahnya tergesa meninggalkan rasa kecewa yang teramat besar melihat istri yang dicintai ternyata berduaan dengan pria yang sangat dihormatinya itu. Saat ini Aga merasa gagal menjadi suami dan imam, sebab istrinya telah lancang menodai pernikahan mereka.
"Aga, ketergesa-gesaan pun termasuk usaha setan untuk menyesatkan kita," ujar Zain saat berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Agastya.
"Iya, kalau pun aku yang tergesa-gesa begini akibat hasutan setan lantas apa istilah yang pantas untuk abahmu, Zain?Aku tidak peduli abahmu menyukai atau mengawini perempuan yang dia suka, tapi jangan dengan istriku juga kali, Zain. Padahal abahmu tahu persis bagaimana aku menanti istriku, bahkan ikut membantuku mendapatkan kembali istriku, tapi apa yang abahmu lakukan?"
"Tenang dulu, Aga. Ayo kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Aku yakin Aya dan abahku sama-sama korban fitnah. Siapa tahu semua ini sudah dirancang oleh seseorang."
Agastya tersenyum sinis, "Pak Ruslan adalah abahmu, dia pantas mendapat pembelaan darimu."
"Tidak begitu, Aga. Astaga, kenapa jadi susah memberimu pengertian? Istighfar, Aga. Istighfar."
"Haha, aku tidak perlu. Abahmu itu yang harusnya istighfar atau bahkan mungkin dirukiah," jawab Agastya seenaknya seraya melangkah masuk ke rumahnya.
Tidak butuh waktu untuk memikirkan atau menelaah kejadian barusan, Agastya mengambil sebuah tas besar dan memasukkan semua pakaian Aya di situ.
"Mas?" Aya tergopoh-gopoh menghampiri Agastya, di susul Zain dan pak Ruslan.
"Hm?"
"Kenapa semua pakaianku kau masukan ke tas itu?" Tanya Aya yang dapat menebak keinginan suaminya.
"Pergi, aku tidak mau melihatmu lagi."
"Mas, tolong mengertilah. Aku dan pak Ruslan ... tidak melakukan apa pun. Sungguh, mas."
"Kamu pikir aku bisa percaya begitu saja, Aya? Bahkan dengan mata kepalaku sendiri aku melihatmu dan lelaki itu berada di satu tempat tidur," umbar Agastya dengan nada kecewa.
"Tapi kami sungguh tidak berzinah."
__ADS_1
"Siapa yang tahu apa yang terjadi sebelum kami mendapati kalian di kamar itu? Hah, bahkan berulang kali kami mengetuk pintu, kalian tidak segera membukakan."
"Kami terkejut mendengar ketukan dan lebih terkejut lagi melihat keadaan kami masing-masing, mas."
"Hah, terkejut karena tidak menyangka kalau kami mendapati kalian ngamar, begitu? Kamu tahu Aya, semalaman aku hampir tidak bisa tidur, memikirkanmu. Meminta belas kasihan Allah agar mempertemukan kita lagi tapi apa yang kudapatkan? Tadinya aku dan Zain ingin minta tolong dengan pak Ruslan untuk mengerahkan anak buahnya mencarimu, haha ... ternyata malah kamu ada di situ."
"Mas, seseorang telah membiusku dan membawaku ke sana tadi malam," Aya dengan wajah pucatnya berusaha memberi pengertian pada suaminya.
"Ya, ya ... aku mengerti tapi sekarang, jujur saja ... aku muak melihatmu."
"Mas!"
"Pergi. Hubungan kita cukup sampai di sini."
"Mas, tolong beri aku kesempatan," mohon Aya.
"Kesempatan untuk dikecewakan lagi? Sudah cukup Aya. Aku percaya harimau tidak bisa mengubah belangnya sendiri dan kamu ... benar kata orang, sekali pelacur tetaplah pelacur!"
"Aku tahu apa yang aku katakan. Kalian dengar, hari ini aku talak kamu, Arrabella. Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku," putus Agastya yang seketika membuat tubuh Aya merosot bersamaan dengan air matanya.
"Kamu akan menyesal telah memutuskan hal sepenting ini dalam keadaan marah. Bangun Aya, lelaki dihadapanmu ini sudah bukan lagi suamimu, dia tidak pantas kamu tangisi," ujar Zain seraya membantu Aya berdiri.
"Hei, mau kamu bawa ke mana wanita itu?" Ujar Agastya masih dengan emosional.
"Aku bawa pulang ke rumahku."
"Jangan menolongnya. Agar dia tahu siapa dirinya, agar dia mengerti hanya aku yang benar-benar tulus mencintai juga melindungi perempuan rendahan, sampah masyarakat ini!"
"Cukup Agastya. Jangan merendahkan wanita yang pernah kamu cintai dan damba sekian lama. Walaupun Aya tidak lebih dari seonggok sampah di matamu, kamu tidak boleh merendahkannya begini. Ingat bagaimana kamu telah memperjuangkannya agar jadi milkmu," balas Zain, sebelah tangannya memapah Aya dan tangannya yang lain membawa tas besar yang dihempaskan Agastya di hadapan Aya.
"Aku bilang jangan menolongnya!"
__ADS_1
"Hei, apa hakmu melarangku menolong Aya? Aku menghargainya karena dia adalah istri sahabatku, maaf maksudku mantan istri sahabatku. Kamu sudah menalaknya dan mengusirnya, dia perempuan yang bebas sekarang. Walaupun bisa saja abahku menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab-"
"Tidak. Aku tahu persis, tidak ada hal yang tidak pantas terjadi antara kami. Jadi kalau Aga pikir, melepaskan Aya agar kemudian bisa aku nikahi, salah besar. Aku menyayangkan keputusanmu, Ga. Padahal bisa saja kita menyelidiki bersama, dimulai siapa yang masuk ke rumahmu dan membawa Aya ke kamarku lalu kenapa aku bisa tidur sangat nyenyak sampai-sampai tidak tahu ada orang yang masuk rumah bahkan masuk kamar tanpa ada bekas paksaan," pak Ruslan menyela kalimat anaknya.
"Jadi abah tidak ingin menikahi Aya, kan?"
"Tentu saja tidak, nak."
"Nah Aga, kamu dengar itu? Abahku tidak akan menjadikan Aya istri ke-empatnya. Jadi biarkan dia pergi bersamaku saja, bahkan kalau perlu aku akan menjadikannya istri keduaku demi menghindari fitnah."
Agastya mengetatkan rahangnya mendengar perkataan Zain.
"Tidak bisa begitu, Zain. Bagaimana mungkin kamu menikahi mantan istri sahabatmu sendiri?" Protes pak Ruslan.
"Apa yang tidak mungkin, bah? Abah lihat sendiri keadaan Aya, dia perlu bimbingan dan perlindungan ... bukan hinaan dan pengusiran oleh pria yang katanya sangat mencintai istrinya ini."
"Ba-bagaimana dengan mama Alif? Nak, abah sudah merasakan hidup berbagi dengan beberapa istri, abah sarankan sebaiknya jangan, nak."
"Tapi aku setuju!" Ujar mama Alif yang ternyata sudah berada di beranda rumah Agastya. Sepersekian detik Zain dan istrinya bertatapan.
"Sayang, maaf ... ma-maksudku adalah-"
"Tenang bang, aku mengerti. Tindakanmu sudah benar, siapa lagi yang bisa mengasihi Aya dengan tulus kalau bukan kita? Biar lelaki bodoh ini tahu arti kehilangan sosok yang berharga. Hei Agastya, kamu akan menyesal jika kebenaran telah terungkap," ujar mama Alif, seraya menggandeng Aya.
"Ayo ding, kita pulang," ajaknya.
Aya pun mengangguk, "Mas, bagaimana pun aku bersyukur Allah izinkan kita bertemu. Aku berterima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang pernah mas berikan untukku dan mohon ampuni khilafku, maafkan aku yang hanya bisa mengecewakanmu. Dan kini, Allah sudah mengabulkan doamu, mas. Allah telah mempertemukan dan atas izin Allah pula kita berpisah," ujar Aya lirih sebelum berjalan pelan meninggalkan rumah mereka dengan didampingi mama dan abah Alif di kiri - kanannya.
Aya sangat menyesali tindakan Agastya yang terlalu cepat mengambil keputusan, tapi mau bagaimana lagi? Pada akhirnya lelaki yang sangat dicintainya itu menampakkan sisi egois dan keras kepalanya, sehingga tidak bisa menerima masukan dari orang lain.
Ah, hanya oleh kesalahpahaman, Agastya gagal memenuhi janjinya untuk selalu ada bagi Aya dan menjaga dengan seluruh hidupnya, sebab kini Agastya malah menyuruh Aya pergi dari sisinya.
__ADS_1