Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
10. My Future Husband


__ADS_3

Setelah berganti pakaian dan membersihkan wajah serta menggunakan rangkaian skincare nya, Rei lalu membuka novel terbaru yang dia dapat dari pengagum rahasia nya.


Nada dering dari hape nya terdengar, awalnya dia cuek karena dia malas menerima telepon di tengah malam tapi setelah beberapa kali berdering, akhirnya Rei mengangkatnya.


Membaca ID penelponnya, my future husband. Ngapain dia telpon malam-malam, ga ada kerjaan aja pikirnya.


"Halo... " ucap Rei


"Assalamualaikum, salam dulu dong" suara diseberang.


"Iya... waalaikumsalam. Ngapain sih malam-malam nelpon gangguin aja."


"Emang sengaja, kangen tahu ga?"


"Idih... baru juga ketemu, belum ada sejam. Lagian ngapain kangen, tar ada yang marah loh. Aku ga mau ya kena semprot"


"Siapa yang marah? Ga ada yang berani marahin aku selain mama dan papa ku."


"Iya deh percaya. Mas ngapain nelpon malam-malam emang ga ngantuk ya?" tanya Rei


"Ngantuk, tapi belum bisa tidur kalau ga dengar suara kamu."


"Mulai deh gombalnya, udah ah aku mau lanjut baca novel. Mas tutup telpon nya ya."


"Ga boleh, ayo tidur cuci tangan, cuci kaki, baca doa terus sebut namaku tiga kali biar nyenyak tidur nya."


"Maksa benar si bapak, belum juga jadian udah ngatur-ngatur"


"Kan calon imam" seringai Ardan


"Udah ah, makin ngaco aja."


"Tidur ya, biar besok ga telat bangun pagi dan sholat subuh."


"iyaaaaa.... dah capek, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Tut tut tut


Renita akhirnya menutup novelnya, gangguan telepon membuat moodnya hilang. Tapi Rei tersenyum, Ardan berhasil mencuri perhatiannya.


Meski sedikit memaksa tapi dia tak segan mengingatkan Renita agar menjaga waktu istirahat nya.


Seperti yang diperintah oleh si penelpon, Rei mengikuti dan langsung merebahkan dirinya. Membaca doa dan mulai terlelap. Sedangkan di tempat lain, Ardan juga melakukan hal yang sama. Sambil tersenyum membayangkan besok akan menemui Renita. Mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk hari yang lebih baik.


€€€€


Hari ini suasana rumah sedikit rame karena ada aqiqahan ponakan baru, semua sodara dari mama dan papa, serta mertua kak Daniar datang.


Bang Heru dan Kak Dani selaku tuan rumah juga tak mau diam, si kecil pun tak mau kalah. Semua masakan dan acara pengajian sudah ditangani EO. Karena bang Heru mau semua keluarga besar nya berkumpul, kapan lagi bisa ketemu kalau tidak karena ada hajatan seperti ini, atau saat lebaran tiba.


Acara pengajian dimulai sore hari, semakin banyak saudara yang datang. Sejak pernikahan terakhir kemarin Renita memang jarang sekali bertemu dengan keluarga besar nya. Bahkan mereka juga ada yang tidak bisa hadir karena kesibukan nya.


Tiba-tiba Rei teringat pesan Ardan semalam, kalau dia akan mengajak Rei keluar. Rei tidak enak jika harus meninggalkan saudaranya, karena bertemu pun setahun sekali, tapi dia juga tidak enak jika harus membatalkan ajakannya.


Belum sempat Rei menekan nomor telepon, ternyata yang dirasani sudah nongol di depan. Rei mengenali suaranya, melangkah menuju teras depan. Ternyata Ardan sudah duduk bersama Ayah Dimas kakak tertua Mama, Papa dan juga Kak Doni. Mereka tampak akrab, entah sejak kapan mereka disana.

__ADS_1


"Nah ini dia yang ditunggu sudah keluar" sapa Ayah Dimas.Semua menoleh pada Rei, Ardan tersenyum.


"Kok belum ganti baju, katanya mau pergi sama nak Ardan." tanya Papa.


Rei menoleh pada Ardan, tanpa rasa bersalah Ardan hanya mengendikkan bahu dan tersenyum. Rei melotot, bisa-bisa nya Ardan menceritakan pada mereka.


"Kenapa? aku kan hanya meminta ijin pada Papa dan ayah, ingin membawa putri mereka pergi. Emang salah?" Tanpa rasa bersalah Ardan menjawab tatapan tajam Renita seolah tahu maksudnya.


"Kamu" Rei kembali melotot.


"Sudah sana ganti baju, kasihan Ardan menunggu lama." ujar Kak Doni.


Sedikit malas tapi karena ayah dan papa nya sudah memerintah, mau tidak mau Rei mengikuti.


€€€€


Berpamitan pada mama dan yang lainnya, Rei lalu mengikuti Ardan memasuki mobilnya. Bisa banget ya dia ambil hati orang tua nya. Dulu almarhum Anton juga seperti Ardan, mengambil hati keluarganya. Dia cepat banget akrab dengan mereka, Sekarang Rei kembali dibuat takjub dengan kelakuan Ardan.


Menatap Ardan lama, apa benar dialah "my future husband" batin Rei. Tak mau berharap banyak, hanya doa yang bisa dipanjatkan agar tidak lagi mengalami kegagalan berumah tangga.


"Hei.. sudah puas menatap ketampananku? kalo belum, aku kasih kesempatan biar kamu ga ngiler."


"what? ah enggak. Mana ada begitu itu, mas itu ternyata orangnya lebay juga ya." tawa Rei.


"Cuma sama kamu aja loh aku rela begini, ya itung-itung bisa sekalian mengisi kekosongan hatimu." Ardan menatap Rei, tangannya menggenggam tangan Rei.


"Mas, aku ga bisa menjanjikan apapun, apalagi kita baru kenal. Aku ga mau mas nyesal berhubungan dengan aku. Mas pasti tahu kan tentang statusku." Rei menunduk.


"Hei dengar, aku sudah tahu semuanya, bahkan sebelum aku memutuskan untuk dekat dengan mu." Ardan mengangkat wajah Rei, menatapnya intens.


Mencari kebenaran dalam matanya, Rei tahu hatinya belum sepenuhnya bisa menerima Ardan. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya, pada orang tua Anton untuk mengisi kekosongan hatinya.


"Kita jalani saja dulu, ga perlu ada ikatan sebelum kita benar-benar yakin akan perasaan kita masing-masing."


Rei mengangguk, Ardan masih menggenggam tangannya lalu mencium tangannya. Rei berdoa semoga Tuhan menjunjukkan jalan bagi keduanya untuk melangkah lagi.


€€€€


Seharian ini mereka berdua menikmati hari libur, nonton, makan dan belanja. Renita membeli kosmetik dan skincare nya yang mulai habis. Sekalian membelikan hadiah untuk keponakan nya yang hari ini aqiqahan.


Ardan memaksa untuk membayarnya, tapi Rei bersikeras selama mereka belum ada ikatan apapun Rei akan membayar sendiri seluruh belanjaannya. Ardan tahu Rei bukan tipe cewek matre yang baru dekat aja sudah berhasil menguras isi dompet nya. Tidak seperti mantan nya dulu.


Tapi Ardan memaksa untuk membayar baju bayi dan perlengkapan lainnya, dengan dalih hadiah untuk calon ponakan. Akhirnya setelah beberapa kali berdebat, Rei pun mengalah.


Setelah itu mereka langsung menuju kediaman Rei, saat sampai disana acara pengajian baru akan dimulai karena ustadz yang diundang untuk ceramah masih ada acara diluar kota. Untung saja, kalau tidak bisa berseriosa si empunya acara.


"Assalamualaikum" sapa Rei dan Ardan saat memasuki rumahnya.


Dijawab oleh semua orang yang ada disana, termasuk si tuan rumah acara. Hampir saja Rei jadi bulan-bulanan kakaknya, bisa malu Rei.


"Bagus ya, dicariin dari tadi ternyata malah pacaran. Untung acaranya belum dimulai, kalau ga tak suruh pak kyai nikahkan kalian sekalian." seru Kak Dani


"Kakak apa-apaan sih, cuma keluar bentaran doang udah heboh." jawab Rei santai


"Bentar? halo ini sudah sore sayang. Wah udah mulai pikun nih, ma pa udah nikahin aja mereka." Kak Dani makin jadi. Sambil mengedipkan mata pada suaminya.


"Kakaaaaak... ga usah ngadi-ngadi deh. Ini hadiah buat baby ginuk-ginuk dari mas Ardan" Jawab Rei malu, sambil menyerahkan jadinya. "Makasih sayangku" kak Dani menerimanya. Mama Papa yang melihat kelakuan keduanya hanya menggeleng kepala. Sudah lagu lama jika mereka berdua berkumpul.

__ADS_1


"Udah..udah lebih baik sekarang kalian mandi, nanti kalo pak ustadz datang kalian langsung mama suruh nikahin" Mama tidak mau kalah menjahili Rei.


"Maaaaaaaa" semua orang diruangan itu tertawa, apalagi melihat wajah Rei yang memerah.


"Nak, Ardan mau kan saya nikahkan dengan anak saya?" goda Ayah Dimas, yang ditanya tampak kaget dengan pertanyaan itu, tapi saat melihat Ayah menganggukkan kepala, Ardan tahu kalau dia hanya ingin menggoda Rei.


"Saya mau aja yah, sekarang pun saya siap menikahi putri ayah." Ardan tegas menjawab, meskipun setelah itu Rei langsung mendaratkan cubitan di perutnya.


"Aduh" Ardan mengaduh sambil memegang perutnya yang dicubit Rei. Belum lagi Rei yang melototkan matanya.


"Ya udah kalau gitu kamu mandi dulu, biar Ayah yang bilang sama pak ustadz"


"enggak enggak... ayah, apaan sih malah ikut godain aku." Rei cemberut, memajukan bibirnya.


"Mau ya itu bibir digigit, enak kali." goda Ardan pada Rei.


"Tahu ah, aku mau mandi aja. Pusing lama-lama meladeni kalian." Rei berlalu meninggalkan mereka semua.


"Saya permisi pulang dulu Ma, Pa, Ayah. Lain kali saya main kesini lagi." Ardan berpamitan, tapi ditolak sama Ayah Dimas.


"Loh kok pulang, udah disini aja. Mandi dulu, nanti pinjam bajunya bang Heru" Kata Papa


"Tapi Pa, saya... "


"Ga ada penolakan. Heru, kasih pinjam bajunya dulu." jawab Ayah Dimas, bang Heru mengangguk.


"Mari ikut saya, mandinya dikamar boleh atau dikamar Rei?" berjalan menuju kamarnya, disebelah kamar Rei.


"Biar saya mandi di kamar Rei saja, ga enak kalau masuk kamar abang." jawab Ardan.


"Oke, tunggu aja disini aku ambilkan bajunya dulu." Heru meninggalkan Ardan, tak lama kemudian kembali membawa baju yang tampak masih baru.


"Ini bajunya masih baru, belum sempat dipake karena kekecilan." ujar bang Heru.


"Iya bang, makasih."


"Pakai aja, oke aku tinggal kebawah dulu." berlalu meninggalkan Ardan. Sedan mengetuk pintu kamar Rei, tidak sopan kalau masuk tanpa permisi, apalagi dia masih belum ada ikatan dengan Rei.


Pemilik kamar itu keluar dengan mengenakan jubah mandi dan handuk untuk mengeringkan rambutnya. Rei terkejut ternyata para orang tua itu tidak bercanda mengajak Ardan untuk mandi disini.


Pura-pura kaget padahal dalam hatinya bersorak gembira. Sok jaim boleh dong.


"Loh mas masih disini? udah mandi?" tanya Rei


Menggeleng dan masuk ke kamar Rei, memeriksa sekitarnya. Setelah itu merebahkan dirinya diatas kasur empuk berukuran sedang. Ciri khas kamar perempuan, tapi tidak ada warna pink seperti yang sering dia temui dikamar adiknya.


"Hei ayo mandi, kok malah tiduran sih. Sengaja ya biar cepat dinikahin."


"Kenapa tidak, aku ga akan nolak kok" goda Ardan, Rei pun tersipu.


"Udah tambah ngaco aja, sekarang mas mandi dulu aku mau ganti baju." Rei menarik tangan Ardan dan mendorong tubuh nya masuk ke kamar mandi.


€€€


Keduanya sudah turun dari kamar menuju tempat pengajian. Mengikuti dengan khidmat sampai acara selesai. Dan satu persatu tamu dan keluarga berpamitan. Ada juga yang menginap, dan baru pulang keesokan harinya ke kota masing-masing.


Sebagian keluarga besar Heru juga ada yang menginap dirumah orang tua nya, ada juga yang langsung pulang dengan rombongan. Ardan juga sudah berpamitan pada kedua orangtua Rei, kak Dani dan bang Heru.

__ADS_1


€€€€


__ADS_2