
Kantor masih sedikit ramai, karena masih belum semua pulang. Mobil Rei ada disitu, meski sering digoda dan diejek mobil sejuta umat, Rei masih bertahan menggunakan mobil itu.
Menurut Rei mobil itu mempunyai nilai sejarah dan dimulai dari perjuangan yang tak main-main. Sejak diterima bekerja di dalah satu bank BUMN Rei memang menyisihkan sebagian gajinya untuk menabung karena ingin membeli mobil dari hasil keringat nya sendiri.
Papa nya sering menawari Rei untuk mengganti mobilnya dengan yang baru, tapi Rei tak bergeming. Baginya selama masih nyaman dipakai meskipun sudah tua dan mesin masih bagus dia tidak masalah.
Bahkan mobilnya yang diberikan oleh almarhum suaminya yang jauh lebih bagus bahkan termasuk mobil mewah jarang Rei pakai. Karena Rei tidak suka pamer, dia hanya akan membawa mobil itu keluar jalan-jalan jika Rei rindu pada sosok suaminya.
Rei hanya akan melakukan perawatan rutin berkala, atau membawanya jika pulang kerumah mertuanya. Untuk menghormati mereka yang sudah menganggap Rei seperti putri mereka sendiri.
Memarkirkan mobilnya tepat disebelah mobil Rei, Reza lalu keluar dan berdiri di samping mobilnya. Dia melihat Rei berjalan dengan beberapa temannya sambil berbincang. Ada rasa kangen melihat senyumnya, senyum yang beberapa hari ini hilang dari wajah ayu nya.
"Rei, kami duluan ya. Kamu sepertinya sudah dijemput. Tuh lihat" ucap salah satu temannya.
Rei melihat ke arah yang ditunjuk temannya. Reza tersenyum padanya, tapi Rei acuh. Masih berjalan tanpa menghiraukan lambaian tangan dari suaminya.
Rei berjalan mendekati mobilnya, dan teman-temannya mulai menjauh ke tempat kendaraan mereka parkir. Ketika akan membuka pintu mobil, Reza tiba-tiba mengambil kuncinya. Memasukkan nya dalam saku celananya.
Rei mulai kesal dan berusaha meminta baik-baik kunci mobilnya. Tapi Reza tak mengindahkan, bahkan dia sengaja membukakan pintu mobilnya agar Rei masuk.
Rei ingin menghindar, tapi jika dia menolak maka orang lain akan tahu bahwa rumah tangganya sedang tidak baik saat ini. Rei memilih mengalah dan mengikuti kemauan suaminya.
Masuk ke bangku sebelah kemudi, dan menunggu Reza menyalakan mobilnya. Reza tersenyum menang karena tidak ada penolakan dari istrinya. Saat akan keluar parkiran, Rei berkata.
"Berhenti di pos satpam, aku mau menitipkan mobil dulu." Meski cuek dan terkesan masa bodoh, Rei tetap menghormati suaminya. Reza mengangguk pelan, dan memberhentikan mobilnya ditempat yang Rei minta.
Rei membuka pintu dan keluar, menemui dua orang pos satpam yang sudah mengenalnya bahkan sering Rei titipkan sepeda motor atau mobilnya. Setelah itu Rei kembali, dan Reza melajukan mobilnya.
Hari ini Reza ingin sedikit memanjakan Rei, berharap istrinya akan melupakan permintaan konyolnya untuk bercerai. Reza memasuki pelataran mall dikota itu, Rei hanya pasrah mengikuti kemauan suaminya.
Karena Rei tahu, ada maksud didalamnya, apalagi jika tidak tentang perceraian mereka. Rei pikir pasti suaminya sudah menerima surat panggilan dari pengadilan. Ya mungkin ingin meminta Rei untuk membatalkannya. Syukur-syukur jika Rei mencabut tuntutannya.
Rei mengikuti kemana kaki suaminya mengajaknya, tangannya terus digengam Reza. Mereka masuk ke beberapa toko asesoris dan perhiasan. Membelikan Rei satu set perhiasan berlian. Setelah itu dia kembali mengajak Rei ke butik tempat langganannya, Rei lagi-lagi tak bisa menolak, bahkan Reza memilihkannya dua gaun cantik yang bahkan Rei sendiri tidak berniat membelinya, bukan karena tidak sanggup membeli tapi dia lebih memilih untuk menyimpan duitnya untuk masa depannya kelak.
Biar aja dibilang pelit yang penting saat butuh dia punya duit, ga minta apalagi pinjam sana-sini itu menurut Rei. Apalagi dia tidak akan selamanya bekerja karena tiap tahun pasti akan ada perubahan karyawan. Dan yang muda akan menggantikan yang tua.
__ADS_1
Puas mengajak Rei belanja dan menenteng beberapa paperbag, Reza kemudian mengajak Rei makan malam, rasa senang karena bisa mengajak Rei jalan menikmati malam ini, ternyata tidak membuat nya lupa dengan rasa lapar.
Beberapa kali Rei memergoki bunyi perutnya, yang membuat Rei tersenyum. Dan Reza menyukainya, senyum yang dinantikannya. Akhirnya tak sia-sia membuat Rei tersenyum lagi meski itu membuatnya malu.
Setelah makan malam yang terasa canggung karena baik Rei maupun Reza tidak ada yang saling buka suara. Mereka makan dalam diam, seakan tak peduli sekitarnya Rei lebih banyak menikmati makanannya.
Reza terus memperhatikan Rei, meski masih belum habis dia menghentikan acara makannya dan sibuk melihat tingkah Rei yang cuek.
Makan, minum, main hape, tak pernah sekalipun menoleh ke arahnya, bahkan saat Reza mengambil tangan kanan Rei dan menggenggamnya Rei diam saja.
Reza tidak suka ini, rasa canggung membuatnya semakin bersalah atas perbuatannya. Rei tak bergeming, saat Reza mencium tangannya dan mengatakan ingin memperbaiki semuanya.
Makan malam sudah, belanja sudah, tapi Reza tak ingin lekas pulang, masih ingin berlama-lama dengan istrinya ini. Bahkan sebelum keluar dari pusat perbelanjaan itu Reza kembali mengajaknya ke sebuah outlet pakaian dalam.
"Oh tidak..." Rei membatin, dia ingat saat Reza bersama wanita itu masuk ke toko ini, dia bahkan mengikutinya.
Rei mulai tidak nyaman, apalagi saat Reza mengatakan Rei bebas memilih apa saja disana, bahkan meminta pelayan untuk membantunya.
Rei tak ingin terhanyut, meski rasa hatinya sangat perih, tapi dia tidak boleh kalah. Biarkan saja, dia hanya ingin menyelesaikan semuanya ini dan hidup tenang.
Rei jadi muak, ingat saat wanita itu bergelayut manja pada suaminya setelah memperagakan satu persatu lingerie pilihannya. Rei membuang jauh pandangannya, dan sedikit membelakangi suaminya agar tidak ketahuan saat ini ada bulir air mata di salah satu sudut matanya.
Reza membayar semuanya dengan kartu kreditnya, bahkan dia kemudian memberikan sebuah kartu kredit untuknya. Rei bingung saat suaminya meletakkan kartu itu.
Dia tak merasa butuh karena gajinya masih sangat cukup bahkan lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya, bahkan bonus yang dia dapatkan tak pernah disentuhnya.
Belum lagi uang tabungan dan deposito dari almarhum suami pertamanya, dan juga terkadang Rei mendapatkan kiriman uang dari mertuanya yang mengatakan hasil penjualan buah dan sayur dari kebun milik Anton yang masih dikelola orang tuanya.
Semua harta peninggalan Anton sudah diganti atas nama Rei, sesuai amanah almarhum. Pak Hadi menginginkan Rei menikmati masa tuanya nanti sebagai petani seperti dirinya, seperti itu juga yang diinginkan Anton.
Itu lebih banyak dari uang yang diberikan Reza selama menjadi suami Rei. Reza tidak pernah tahu itu. Dan Rei tak mau Reza tahu, bukan ingin menutupi tapi menjaga kemungkinan yang tidak baik seperti kata papa Hadi.
###
Mereka berdua sampai dirumah, Reza sudah tak tahan lagi untuk bertanya pada Rei mengenai gugatan cerai itu.
__ADS_1
Memasuki kamar yang sudah lama tak lagi ada kehidupan, bahkan suasana yang mereka rasakan terasa lain. Tak ada lagi keceriaan, seolah mewakili perasaan nyonya rumah itu.
Rei masih berlagak biasa saja seolah tak terjadi apapun, berbeda dengan Reza. Suaminya itu bahkan terlihat gelisah. Mondar mandir, sebentar duduk sebentar berdiri, menghela napas kasar.
Rei sudah selesai membersihkan diri, memakai skincare lengkapnya dan melepas jubah tidurnya, dia lalu naik ke tempat tidurnya. Tak menoleh pada suaminya sedikitpun, membuat Reza mendekat dan meraih kedua tangan Rei.
Rei tidak mencoba melepaskan genggaman tangan itu, dia biarkan saja. Hingga Reza memulainya.
"Rei...aku tanya tolong jawab yang jujur, apa kamu mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan?" Reza menatap dua bola mata teduh itu, mencoba menelaah kedalamnya.
"Tidak, bukan aku tapi pengacaraku." Rei menjawab sekenanya.
"Tapi kamu yang memintanya kan? kamu menyuruhnya." Reza
"Tentu saja, apa ada masalah?" Rei
"Kenapa Rei, kenapa kamu ingin bercerai?" Reza
"Jika salah satu atau kedua orang yang terikat dalam suatu ikatan perkawinan, sudah tidak merasakan lagi kenyamanan, apa bisa tetap dipertahankan?"
"Apa bisa dua kepala dengan dua pemikiran berbeda akan terus berada dalam satu ruang yang sama tanpa ada perdebatan?"
"Apa setiap yang kita ingin harus kita dapatkan?"
"Apa semua akan bisa dibilang baik-baik saja sedangkan kenyataannya kita tidak baik-baik saja."
Rei berbicara panjang lebar, dia mengeluarkan isi hatinya. Persis seperti dugaannya, kalau suaminya itu akan menyakan perihal perceraian.
"Tapi semuanya kan bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa harus bercerai, kita bisa bicarakan." Reza
"Plis Rei, jangan egois."
###
Gantung lagi 😂, double up dan bab ini terpanjang dibanding yang lain. Sudah menguras emosi belum?😁
__ADS_1
yuk, jempolnya ya like, komen dan vote.