
Anak-anak kembar ini sangat antusias ketika papanya mengatakan akan memberi mereka adik bayi.
Mereka senang sekali, tapi tidak dengan mamanya. Dia terlihat diam, karena ada yang dia pikirkan.
Ratna bukan tidak ingin memiliki anak lagi, tapi yang dia pikirkan apakah anak-anaknya sudah siap memiliki adik.
Bukan hanya itu, Ratna masih ingat bagaimana perjualan mereka dulu mendapatkan buah hati. Ratna tidak menampik jika bukan hanya masalah uang, tapi juga mental.
Jika memang diberikan kepercayaan lagi untuk memiliki anak, sungguh suatu hal yang sangat dia inginkan.
Tapi lagi-lagi Ratna mengingat bagaimana dirinya berjuang untuk bisa mendapatkan putra-putri mereka melalui program bayi tabung.
Dia ingat jelas berapa lama dia dan suami harus bersabar dan menjalani beberapa proses sampai akhirnya dia dinyatakan siap untuk mengandung sang buah hati.
###
Rio datang setelah mendapat telpon dari istrinya jika ada Rei dan suaminya dirumah, juga sahabatnya Rei yang ikut berkunjung.
Mereka lalu makan siang bersama, suasana keakraban terjalin. Rei mengingat saat mereka masih bekerja di bank.
Meski beda divisi tapi saat makan siang adalah saat yang mereka tunggu. Mereka bisa bebas bercerita sambil makan siang bersama.
Dengan menu makan siang yang berbeda, mereka bisa saling tukar menu. Jadi bisa saling mencicipi satu sama lain.
Kedua anak kembar Bayu dan Ratna juga ikut makan. Mereka meminta menu yang sama dengan tante Rei.
Apa yang Rei ambil mereka juga mau, bahkan ketika Rei mengambil sambal bajak yang terlihat menggiurkan tapi dari baunya saja sudah ketahuan berapa rawit yang dipakai.
Rei melarang mereka makan sambal, karena usia mereka masih terlalu kecil. Rei tidak mau mereka sakit perut nantinya.
Kedua anak kembar itu menurut, tapi rupanya rasa penasaran akan rasa sambal sangat besar. Mereka mencoba mengambil tempe goreng lalu dicocolin ke sambal seperti yang Rei lakukan.
Rei sudah terbiasa makan pedas jadi tak nampak wajah kepedasan sama sekali, berbeda dengan Ardan suaminya.
Dia kurang suka pedas, tapi melihat istrinya makan dengan sambal sepertinya nikmat, dia pun mengikuti.
Tapi baru sesuap Ardan makan sambal, keringat dan raut wajah memerah karena pedas sudah terlihat.
Beberapa kali Ardan meneguk air putih dalam gelasnya, rasa pedasnya masih ada. Tidak mau kalah dengan om Ardan, si kembar juga lomba minum air putih karena mereka juga kepedasan.
__ADS_1
Setelah makan mereka kembali melanjutkan obrolan mereka sampai sore menjelang. Rei dan Ratna berpamitan dengan Arini dan bayi mereka.
Si kembar juga tak mau ketinggalan, mereka bahkan meminta mamanya untuk menunda kepulangannya.
Setelah berpamitan dengan semuanya, Rei dan rombongan kembali ke rumah Bayu. Diperjalanan terasa sepi karena kedua anak kembar Bayu dan Ratna sudah tidur.
Mereka kelelahan bermain dengan adik bayi, sampai mengigau. Ratna menggelengkan kepalanya.
Anak-anaknya belum begitu paham dengan yang mereka katakan, hanya karena melihat apa yang orang punya mereka juga kepingin.
Usia enam tahun, memang sudah waktunya mereka memiliki teman bermain. Tapi Ratna ingin mereka benar-benar siap jika memiliki anak lagi.
Kedua putra-putri kembarnya memang sudah bisa memiliki adik, tapi yang Ratna pikirkan adalah bagaimana jika mereka merasa diabaikan jika memiliki adik bayi.
Ratna membelai kepala putranya, dia tersenyum. Sesekali mencium pucak kepalanya, Ratna menepuk lengan bocah lelakinya.
Disisi lain, Reyna terlelap dalam dekapan Rei. Sedari berangkat Reyna seolah tak ingin pisah dari tante Rei.
Di bagian depan, Bayu dan Ardan juga tampak mengobrol. Ardan berada dibalik kemudi, dia ingin menyetir sekalian belajar mengenal jalanan dikota ini.
Bayu duduk dibangku disamping kemudi, dia hanya mengarahkan jalan bagi Ardan. Keduanya juga masih mengawasi penumpang di bangku belakang.
Ketika tidak mendapati suara dari bangku belakang, Ardan melihat melalui kaca depan. Rei istrinya sedang melihat kearahnya dan tersenyum.
Bayu menoleh ke belakang melihat putrinya yang tidur dalam gendongan Rei. Sedangkan putranya berada dipangkuan mamanya.
"Lihatlah istrimu, dia sudah pantas menggendong bayi." ucap Bayu setelah kembali menghadap ke jalanan.
Ardan melihat ke belakang ke arah istrinya melalui kaca depan. Istrinya memejamkan mata, mumgkin dia lelah.
"Ya, dia sangat pantas. Dan aku tak sabar ingin segera melihatnya mengandung anakku."
Ardan menoleh ke kaca spion, setelah Bayu mengatakan untuk belok kanan setelah perempatan didepan nya.
Ardan mengikuti petunjuk Bayu, tapi kenapa arahnya berbeda dengan jalur saat mereka berangkat tadi.
Bayu mengarahkan Ardan untuk menghentikan mobilnya didepan lesehan ayam kampung yang terkenal dikota ini.
Bayu turun dari mobil sendiri, Ardan menunggunya di mobil. Tak lama Bayu keluar dari lesehan membawa beberapa bungkusan. Bayu membeli beberapa lalapan, berupa ayam kampung, lele dan bebek goreng.
__ADS_1
Dibantu oleh salah satu pelayan restoran tersebut, Bayu meletakkan bungkusan yang dipegangnya di bagasi mobil.
Rupanya Bayu sudah lebih dulu memesannya, jadi dia tinggal mengambil pesanannya saja. Setelah masuk, Ardan kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Bayu.
Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti didepan rumah dan langsung Ardan masukkan ke garasi, Rei dan Ratna kesulitan menggendong kedua buah hatinya.
Mereka memilih menunggu para lelaki untuk menggendong anak-anak yang sudah tidur sejak tadi.
Setelah para suami masuk, giliran para istri yang masuk membawa nasi kotak yang mereka beli tadi.
Mereka membersihkan diri dan beristirahat sambil menunggu adzan maghrib berkumandang.
Setelah melaksanakan kewajibannya, mereka semua duduk di meja makan untuk makan malam.
Ratna dan Rei sudah lebih dulu menyiapkan lalapan yang mereka beli tadi, dan meletakkan dipiring saji.
Nasi putih, sambal terasi dan sambal pencit alias mangga muda juga sudah siap, tak lupa lalapan nya berupa potongan ketimun, kol, kemangi, dan kacang panjang sebagai pelengkap.
Mereka menikmati makan malam, dua bocah kembar juga ikut makan bersama, mereka sebenarnya masih mengantuk.
Rei tampak lahap makan menggunakan sambal pencit, yang menurut Ardan terlalu kecut. Tapi Rei menyukainya, bahkan dia terlihat menambah porsi makannya.
Setelah makan malam, para orang dewasa duduk diruang tengah sambil mengobrol. Rei dan Ardan akan pulang esok hari tapi sebelumnya mereka ingin ke pusat oleh-oleh lebih dulu.
Ingin membelikan mama mereka camilan khas kota ini. Ardan sudah memesan tiket perjalanan pulangnya dengan kereta api.
Rei ingin naik kereta api lagi, seperti saat berangkat kemarin. Mama Ardan dan Dina bergantian menelpon menanyakan kabar mereka.
Begitu juga dengan orang tua Rei, dan dua keponakan nya yang sudah kangen dengan tante Rei mereka.
Malam semakin larut, Rei dan Ardan masih berada diruang tengah menonton televisi. Berbeda dengan pasangan Bayu dan Ratna yang lebih dulu masuk ke kamar mereka.
Rupanya Bayu sudah memberikan kode pada istrinya untuk minta jatah malam ini. Dan tanpa ada penolakan dari sang istri, Bayu pun melancarkan aksinya.
Di ruang tengah, Ardan mulai menciumi istrinya sepertinya dia juga tidak mau kalah dengan pasangan tuan rumah.
"Yang, yuk...kita bikin adek" ucap Ardan setelah puas membuat istrinya terangsang. Rei menyadari itu. Rei mengangguk, mereka mematikan teve dan masuk ke kamar tamu.
Dan terjadilah yang seharusnya terjadi, mereka menikmati malam panjang dengan keringat yang membasahi tubuh.
__ADS_1
Rei tidak menolak karena sejujurnya dia juga sama menginginkannya. Sepertinya permintaan si kembar bakalan mereka penuhi. Ardan menciumi istrinya, mengulangi pergulatan mereka malam ini, hingga akhirnya terlelap setelah kelelahan.
next