
Sesaat setelah makan siang, dan mencapai kesepakatan Ardan melajukan mobilnya kearah rumah Rei.
Mama telah memberitahu bahwa papa Rei setuju dan menerima lamaran mereka melalui chat di aplikasi hijau. Senang tiada terkira, senyum terukir dibibirnya.
Selama perjalanan tak ada hambatan berarti, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena meskipun sudah lewat jam makan siang tapi sepanjang jalan menuju kesana adalah kawasan langganan macet.
Para orangtua masih asyik berbincang, sudah tidak ada kecanggungan lagi dari pak Fauzi seperti diawal pembicaraan tadi.
Mereka sesekali membahas kelanjutan acara lamaran bahkan sesekali bercanda. Para ibu juga tak mau kalah, mereka memberikan ide yang tak mungkin bisa ditolak oleh suami mereka.
###
Ardan sampai juga disana, rasa gugup seketika membayangi. Saat mengingat bagaimana respon dari calon ayah mertuanya.
Tapi jangan sebut namanya Ardan jika tidak bisa memenangkan hati ayah dan anak itu. Rei itu cerminan sang ayah yang akan bersikap dingin pada siapapun yang baru kenal.
Tapi dia akan menjadi pribadi yang menyenangkan jika sudah mengenalnya luar dalam.
Terbukti saat acara kak Dani waktu itu, ayah mertua tampak bercanda dan begitu akrab dengan saudara dan ponakannya.
Tak ada canggung, meski mereka tetap berada pada batasan. Yang muda menghormati yang lebih tua dan tidak berucap sembarangan.
Disana juga dia melihat keluarga besar Rei sangat menjaga privasi masing-masing, bahkan mereka menghargai keputusan yang diambil oleh masing-masing anggota keluarga meskipun ada yang tidak setuju dengan pilihannya.
Dan itu merupakan nilai plus, karena dikeluarga besar nya terutama dari pihak mama nya masih sering dia temui percekcokan yang berujung kebencian.
Penyebabnya terkadang hanya masalah sepele tapi mereka menanggapi nya seolah masalah besar yang sangat pelik. Berbeda jauh dengan keluarga Rei.
Ardan memasuki rumah tak lupa mengucapkan salam, dan seperti biasa dirinya akan langsung mencium tangan orangtua yang berada disitu, termasuk calon mertuanya.
Meski tidak dipungkiri rasa gugup nya masih ada, bahkan tangannya terlihat gemetar saat mengambil telapak tangan ayah dan ibu mertuanya. Calon mertua lebih tepatnya, karena dia belum resmi meminang Rei.
Mendudukkan diri di sofa diantara kedua orangtuanya Ardan lalu meminta ijin pada papa dan mama Rei, serta om Hadi dan istri untuk melamar Rei langsung saat ini.
Papa, mama, dan semua yang hadir disitu takjub karena Ardan berani meminang Rei dihadapan mereka tanpa canggung, dengan keyakinan hati bahwa pilihannya sudah bulat untuk segera membawa Rei ke pelaminan.
Kaget sudah pasti, pak Fauzi bahkan menatap istrinya yang tampak terharu. Jika tadi orangtuanya yang melamar Rei dan mengikatnya dengan acara lamaran, maka kali ini Ardan justru mengajak menikah dan mengatakan bahwa semuanya sudah diurus.
Masalah WO, penghulu, gedung dan lain-lain sudah beres, bahkan tanpa harus turun tangan langsung. Mereka tercengang, dan akhirnya tertawa karena anak muda dihadapan mereka ini sudah bergerak cepat diluar rencana semula.
Hari H yang awalnya hanya acara tukar cincin, kini berubah menjadi hari pengucapan ijab kabul. Ardan juga meminta perlengkapan untuk mengurus keperluannya di KUA.
Asistennya sudah siap dan tinggal menunggu persetujuan dari kedua orangtua. Sebagaimana prosedur yang diminta, semua berkas siap dan tinggal menunggu calon mempelai.
__ADS_1
Dua bulan waktu yang diberikan oleh orangtua, tapi Ardan justru ingin mempercepatnya. Tapi kali ini Ardan hanya meminta akad nikahnya saja, kalau resepsi pernikahan biarlah sesuai kesepakatan kedua orangtua.
Bukan masalah bagi Ardan untuk mempercepat acaranya, karena dia memiliki duit dan koneksi yang memudahkannya. Tapi dia ingin memberi waktu pada Rei untuk mempersiapkan dirinya.
Untuk akad nikah, cukup diadakan secara sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja.
Semua sudah setuju bahkan mendukung seratus persen keputusan Ardan. Mereka senang ternyata Ardan serius dengan ucapannya, bahkan sudah melangkah lebih dulu.
###
Pak Fauzi nampak memijat kepalanya, dia tak menyangka kalau Ardan sangat serius dengan ucapannya.
Terbukti setelah kepulangan tamunya tak lama kemudian pihak WO datang dan membicarakan konsep yang diinginkan saat acara lamaran maupun resepsi.
Jika pihak Ardan meminta acara lamaran langsung dengan akad nikah, demi menghemat waktu dan menghindari kejadian tak terduga yang bisa menggagalkan niat baiknya. Maka pihak Rei diminta menyusun konsep atau tema yang akan diusung pada saat resepsi.
Ibu Amel hanya bisa tersenyum, dia bahkan sesekali menggoda suaminya yang tampak gelisah karena ini diluar dugaannya. Tapi sebagai orangtua, mereka takkan memaksa keinginan mereka.
Meski Rei bukanlah anak yang suka menuntut dan terkesan nerimo alias pasrah tapi Rei juga berhak memberikan pendapat, karena ini adalah pernikahannya.
Sudah dua kali Rei menikah dengan semua diatur oleh orangtua, kali ini Rei harus menentukan sendiri pilihannya. Dan pihak WO setuju menunggu Rei datang untuk mendiskusikannya.
Mereka akan kembali lagi nanti saat Rei sudah ada dirumah setelah makan malam keluarga.
###
Meski lelah sehabis bekerja seharian, saat mencium pipi gembul mereka dan bercanda bersama membuat Rei melupakan lelahnya.
Makan malam kali ini benar-benar mereka manfaatkan sebaik mungkin. Quality time yang jarang terjadi karena kesibukan masing-masing membuat mereka tak bisa setiap waktu bersama.
Tapi sebisa mungkin minimal sebulan sekali mereka berkumpul seperti ini. Kebetulan Heru tidak ada tugas ke luar kota, dan Dani juga sudah tidak terlalu ribet dengan anak bungsunya yang makin menggemaskan.
Semua makan dengan tenang, tapi sesekali melontarkan pertanyaan seputar kesibukan masing-masing.
Pak Fauzi melirik istrinya meminta persetujuan untuk memulai pembicaraannya. Menarik napasnya pelan dan mengeluarkannya.
"Rei, tadi siang ada tamu menemui papa dan mama. Mereka meminta ijin pada papa untuk meminangmu." ucap Papa
Rei menatap papa dan mamanya bergantian, kemudian melirik kakaknya yang hanya mengendikkan bahu.
"Siapa pa?" tanya Rei
"Orang tua Ardan dan juga orang tua Anton." papa. Rei yang mendengarnya tiba-tiba tersedak.
__ADS_1
Dengan terbatuk-batuk dia mencerna ucapan papanya. Setelah menoleh ke mama nya yang mengangguk tanda mengiyakan. Rei kembali bertanya, kali ini tidak seperti tadi meski masih dengan rasa penasaran.
"Papa dan mama kemari?" ucapnya lagi.
"Iya sayang, mereka melamarmu. Awalnya hanya ingin mengikatmu dengan acara tukar cincin, tapi kemudian calon menantu mama datang dan mengajukan sekalian dengan akad nikah" kali ini mama yang menjawab.
"Wah, nekat juga ya itu anak. Sudah tak sabar pengen belah duren rupanya." seleroh Dani dan disambut gelak tawa keluarga yang lain. Termasuk dua krucil yang meski tidak mengerti dengan pembicaraan orang dewasa disitu, tapi karena mereka semua tertawa jadi ikut tertawa.
Rei yang menjadi sasaran hanya bisa menggelengkan kepala nya, kakaknya sudah mulai mode usilnya. Kumat dah batin Rei
"Trus papa gimana, apa papa menerima?" Dani terlihat penasaran sekali, meski sang suami meliriknya, tapi tak digubris
"Papa menerimanya, apalagi melihat dia begitu perhatian pada Rei bahkan tadi bagaimana sikapnya meyakinkan papa dan mama, serta bagaimana dia mengurus semuanya tanpa orangtua nya tahu." ucap mama
"Maksud mama, dia mengurus segala keperluan buat nikah" Dina antusias, makin penasaran.
"Iya...segala WO, penghulu, gedung dan lain-lain sudah dia urus. Sebentar lagi akan ada pihak WO yang akan menangani acaranya." mama
" Untuk lamaran, tukar cincin dan ijab kabul dilaksanakan disini, dan hanya mengundang keluarga inti saja. Baru saat resepsi kalian bisa mengundang teman-teman kalian." masih mama lagi yang menjelaskan.
Rei tak habis pikir, setelah perang dinginnya tempo hari dan kemarin datang dengan keadaan yang mengkhawatirkan, sekarang dia kembali dibikin terkejut dengan semuanya.
"Kapan rencana lamaran diadakan ma?" Rei akhirnya buka suara.
"Bulan depan tepatnya tanggal 20 Pebruari, dan itu bertepatan dengan ulang tahunmu Rei." mama
Rei tak habis pikir, dia bahkan menganggap ini terlalu cepat untuk sebuah hubungan yang bahkan masih seumur jagung.
Tapi setelah mendengar penjelasan kedua orangtua nya tentang alasan Ardan yang masuk akal, dia akhirnya menerima.
"Aku yakin dia begini karena Elang." jawab Rei yang sontak membuat semua orang menoleh padanya.
"Elang...maksudmu Elang mantanmu yang kabur saat acara pertunanganmu dulu" Dina mengingat kembali, bagaimana dulu Rei terpuruk, bagaimana rasa malu yang keluarganya tanggung dan juga rasa sakit hati karena adiknya diperlakukan seperti itu oleh orang bernama Elang.
Rei mengangguk dan kemudian bercerita, tentang bagaimana dia dan Ardan akhirnya berselisih paham.
Mereka kini tahu Ardan melakukan itu karena ingin Rei melupakan rasa sakitnya, dan alasan itu juga yang membuatnya mampu berbuat nekat.
"Dan sepertinya dari menantu papa lainnya, dia lulus menjadi menantu kesayangan kali ini." Ucap Dina.
"Iya, mama setuju. Bahkan dia bisa lulus tanpa syarat tidak seperti yang pernah papa terapkan pada calon menantunya yang lain." mama menimpali.
Dani menyenggol bahu Rei yang tampak tersipu. Bagaimana dia bisa menolak pesona seorang Ardan yang bukan hanya tampan dan kaya tapi juga idaman wanita tersebut.
__ADS_1
###
like, komen dan vote yuk 😊