Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
57. Sabar ya


__ADS_3

Hasil lab sudah diterima, tak ada yang mengkuatirkan. Semua berucap syukur, karena keadaan papa sudah lebih baik.


Pak Hadi dan istri datang bersama orangtua Ardan. Mereka memang sengaja datang bersama-sama. Pak Hadi membawa hasil kebunnya berupa buah-buahan dan juga makanan khas kesukaan Rei.


Bu Suci juga membuatkan kue bolu untuk besannya, karena tahu pasti tidak akan sempat memikirkan makanan karena sibuk menjaga suaminya.


Pak Pras dan istrinya juga membawakan makanan untuk makan siang mereka, tak lupa baju ganti untuk Ardan dan Rei. Karena tiap seminggu sekali mereka menginap dirumah orangtua Ardan.


Jarak dari rumah baru Ardan ke rumah mertuanya lebih dekat dibandingkan kerumah orangtuanya. Jadi jika Ardan bekerja Rei akan ikut kerumah orangtuanya, dan saat pulang nanti Ardan akan menjemputnya. Meskipun tidak tiap hari, tapi mereka sering bertemu.


Ardan masuk ke kamar mandi dan berganti bajunya, Rei masih nyaman tidur meski kamar papanya mulai rame. Tampaknya dia kelelahan, dan tak ada yang membangunkannya.


Entah karena lapar atau karena tidurnya terusik, Rei membuka mata dan melihat mertuanya datang dan berbincang dengan papa mamanya. Rei bangun dan mendekati mereka, wajahnya merajuk karena merasa tidak ada yang peduli padanya.


Bahkan papanya sadar pun Rei tidak diberitahu, dengan berbagai rayuan akhirnya Rei berhenti ngambek saat melihat makanan kesukaannya yang dibawakan oleh mertuanya.


Dia pun lahap menikmati makanan yang ada di depannya, entahlah sekarang Rei suka sekali makan. Berbeda saat dulu sebelum menikah, apalagi ketika masih bekerja.


Ardan senang istrinya doyan makan, meski Rei suka ngamuk jika melihat dirinya dikaca yang sedikit membengkak menurut pendapatnya.


Suka ngambek jika dibilang gendut, tapi hobi makan mulu. Hadeh...istrinya ini memang ajaib. Baru ketahuan kan aslinya kalau Rei itu memang wanita yang langka.


Masih di ruang perawatan, setelah mertua Rei, kali ini tamunya adalah sahabat-sahabatnya dulu saat masih sama-sama bekerja.


Miko datang bersama istrinya, Arini dan suaminya, serta beberapa teman Ardan. Kedatangan mereka membuat Rei senang bukan main.


Pasalnya sejak acara akad nikah, Rei belum bertemu lagi dengan mereka. Saling berpelukan dan tentu saja, acara gosip pun digelar. Mulai kan...gini ini kalo perempuan ngumpul pasti ramenya ngalahin pasar.


Para orangtua dengan obrolan mereka, anak muda lain lagi. Para pria membahas soal pekerjaan, para istri malah membahas urusan dapur.


###


Tiga hari sudah papa dirawat di rumah sakit, semakin hari kondisinya semakin baik. Hari ini papa diperbolehkan pulang. Setelah visit dokter terakhir, papa bersiap pulang.


Rei hari ini tidak ikut menjemput papa, karena tiba-tiba pusing. Harus diakui menjaga orang sakit di rumah sakit itu tak semudah yang perkiraan. Jika kondisi badan kurang fit, bukannya jagain yang sakit malah dijagain sama yang sakit.


Ardan meminta asisten rumah tangganya untuk mengawasi Rei, karena meskipun sakit dia akan tetap mengerjakan pekerjaan rumah. Semakin dilarang semakin jadi, mirip anak kecil.


Tapi kali ini Rei harus benar-benar istirahat, jangankan untuk bangun untuk mengangkat kepalanya aja tidak mampu.

__ADS_1


Ardan sebenarnya tak tega meninggalkan Rei dirumah, tapi karena ada rapat penting mau tidak mau Rei dititipkan pada ART nya. Setiap ada kesempatan dia mencoba menghubungi istrinya.


Rei yang merasa sakit kepalanya makin berat hanya bisa tiduran, bahkan membuka hape pun malas. Makin pusing jadinya.


###


Lewat jam makan siang Ardan menelpon ART nya menanyakan kabar Rei. Si bibi menceritakan keadaan Rei. Tadi sempat bangun sebentar tapi kemudian tiduran lagi karena tidak kuat.


Ardan cemas, dia segera menyelesaikan urusannya kemudian meminta asistennya menghandle pekerjaannya. Dia ingin segera menemui istrinya tercinta.


Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi tetap bisa jaga jarak aman, Ardan gusar. Tak biasanya Rei begini. Sempat macet sebentar tapi tidak terlalu parah.


Bibi sudah menunggu kedatangannya, Ardan langsung menuju kamarnya. Melihat Rei tidur meringkuk dengan tangan memegangi kepalanya membuat Ardan kuatir.


"Sayang, kita ke dokter ya. Aku takut kamu makin parah." ucap Ardan, dia mengelus lengan istrinya mencoba membangunkan.


Merasakan ada yang mengusiknya Rei membuka mata, Ardan tersenyum.


"Sayang, ke dokter ya. Aku ga tega lihat kamu kesakitan begini." Ardan


"Aku ga papa mas, cuma pusing biasa aja nanti juga sembuh" Rei


"Enggak yang, kita ke dokter sekarang. Ayo aku bantu ganti baju." Ardan


Ardan pun berhasil membujuk istrinya, yang terlihat pasrah karena digendong. Rei mengganti bajunya dibantu suaminya, Ardan terlihat sabar dan sesekali menggoda istrinya.


Setelah bersiap, Ardan meminta bibi agar menyuruh supir menyiapkan mobil. Diperjalanan menuju rumah sakit Rei tampak gelisah, pusing yang sejak tadi dideritanya makin jadi.


Keringat dingin pun keluar, tangannya basah. Ardan merengkuhnya mencoba memberi kehangatan, sambil sesekali memijat kepalanya.


Tak banyak antrian jadi Rei bisa langsung diperiksa setiba disana. Berbaring di brankar, Rei masih belum bisa membuka matanya penuh, karena pusingnya belum juga hilang.


Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa Rei mengidap Vertigo, gejalanya seperti yang dirasakan, bahkan jika parah penderita akan mual dan muntah.


Rei juga merasakan mual bahkan air liurnya terasa pahit. Dokter menyarankan Rei untuk istirahat total dan minum obat teratur.


Setelah menebus resep obat, Ardan dan Rei pulang kerumah. Rei harus banyak istirahat mulai sekarang, sebelumnya Rei minta bubur ayam di perempatan sebelum masuk ke kompleks perumahannya.


Mungkin dengan makan bubur ayam, selera makan Rei kembali. Biasanya selalu ada yang dibuat untuk camilannya, tapi sejak pusing melanda jangankan makan, ngemil pun Rei tidak mau.

__ADS_1


###


Ardan mengabari kondisi Rei pada kakak iparnya, tapi dia juga meminta kak Dani untuk merahasiakannya dari papa, karena takut kepikiran dan bisa membuat beliau drop lagi.


Dani mengakhiri panggilan telponnya, mama mendekat kearahnya.


"Siapa yang nelpon kak?" mama


"Oh, itu Ardan ma. Ngabari keadaan Rei." Dani duduk di meja makan.


"Rei kena vertigo ma, jadi harus istirahat total." Dani.


"Tapi sekarang gimana, sudah baikan?" mama


"Tadi sudah makan bubur ayam dan minum obatnya, sekarang dia tidur kata suaminya." Dani.


"Syukurlah kalo adekmu sudah baikan, mama sebenarnya pengen kesana tapi kasihan papamu kalo ditinggal." mama


Dani meletakkan gelas yang sudah tandas isinya, dan menoleh ke mamanya.


"Jangan ma, Ardan bilang jangan sampe papa tahu takut ngedrop lagi jika memikirkan Rei." Dani.


"Iya betul juga. Ya sudah mama ke kamar dulu mau lihat papa. Kamu ajak suamimu makan gih, mumpung sepi takutnya nanti banyak tetangga yang datang nengok papa, malah ga sempat makan." Mama menepuk tangan Dani.


###


Malam menjelang Rei sudah merasa baikan meski terkadang pusing masih menyerangnya. Ardan dengan setia menemani Rei, mengusap keringat yang muncul di dahinya, menyeka badannya dengan air hangat.


"Mas, maaf ya jadi repot ngurusin aku." ucap Rei lirih, mencoba untuk bangun dan duduk di ranjang.


Ardan mendekat dan membantunya duduk, memberikan bantal di belakang punggungnya agar tidak sakit.


"Kamu ngomong apa sih yang, kemarin waktu aku sakit kamu juga ngerawat aku padahal waktu itu kita belum nikah. Sekarang gantian"


"Makasih ya mas" Rei. Ardan mengangguk dan mengelus tangan istrinya. Mereka bersitatap. Ardan mengecup pucuk kepalanya.


"Tapi mas jadi harus puasa dulu, sabar ya." Rei menggoda. Dia tahu suaminya itu takkan tahan jika harus puasa lama.


"Ya gimana lagi harus mainan sabun lagi nih" jawab Ardan lesu. Rei terbahak, meski sedikit pusing tapi dia terhibur.

__ADS_1


"Udah ayo sekarang minum obatnya dulu, yang. Biar cepat sembuh, dan bisa main lagi." Ardan menaik turunkankan alisnya. Dia suka sekali melihat rona malu diwajah istrinya.


###


__ADS_2