Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
79. Mencari nama


__ADS_3

Sudah tiga hari baby utun lahir dan menikmati dunia baru, setelah sembilan bulan berada dalam kehangatan perut mamanya.


Dina dan Miko mengumpulkan banyak nama bagi putri kecilnya, tapi tetap masih belum menemukan yang cocok. Dari sekian banyak nama dipilih sepuluh yang terbaik, dan kini sisa tiga nama yang masih jadi perdebatan keduanya.


Tak jarang mama dan papa baru ini ribut karena mencari nama bagi putri kecil mereka. Sekarang setelah tersisa tiga nama teratas, mereka bingung menentukan yang mana.


"Udah ah yang, capek. Di istikhoroh in aja napa biar ga bingung pilih yang mana." ucap Dina saat mereka sedang mendiskusikan nama sang putri yang belum ketemu ujungnya.


"Iss...kok pake istikhoroh segala sih. Kayak mau pilih jodoh aja." jawab Miko suaminya.


"Iya, kayak kamu waktu milih aku kan." Dina melirik suaminya yang sedang sibuk menciumi putri kecil mereka.


"hmm..."


Hanya deheman, sepertinya suaminya sedang malas berdebat. Dina pun menyudahi pembicaraan tentang nama bayinya dan memilih beristirahat.


Meski jam masih menunjukkan angka delapan tapi Dina memutuskan untuk tidur lebih awal. Sejak bayinya lahir ibu muda itu memang merubah sebagian jadwal kegiatan hariannya, termasuk jam tidur malam.


Biasanya mereka akan tidur diatas jam 9 malam setelah Miko pulang bekerja dan makan malam, tak jarang Dina akan menemani suaminya menonton teve sampai dirinya terlelap lebih dulu.


Sekarang sejak ada bayinya, Dina memilih tidur lebih awal karena pada tengah malam biasanya baby utun akan bangun untuk menyusu atau menangis karena popoknya basah.


Dan Dina akan menemami bayinya sampai tertidur kembali. Meski awalnya sulit bahkan Dina harus ditemani oleh mama tapi sekarang dia sudah bisa menerimanya.


Bahkan jika pada saat bayinya menyusu tapi masih tidur, dia akan mengambil bayinya dan menggendongnya baru setelah itu memberikan asinya.


Bayi perempuan ini semakin hari semakin kuat saja menyusunya, apalagi satu-satunya sumber makanan yang dia dapat hanya asi, Dina tidak ingin memberikan bayinya susu formula selama dia masih bisa menyusui.


Selain memberikan asi secara langsung, Dina juga memompanya dan meletakkan dalam botol steril dan disimpan dalam sebuah lemari pendingin kecil yang sengaja diletakkan di dalam kamarnya.

__ADS_1


Jika bayinya sudah selesai menyusu, dan tidur lelap saat itu lah Dina memompa asinya, dan membersihkan sisanya yang menempel dikulitnya.


Bayi mungil itu tidak suka kotor terbukti, jika popok yang dipakainya basah dia akan menangis, dan baru berhenti setelah diganti baru.


Awalnya tangisan itu membuat heboh seisi rumah pasalnya tanpa sebab dia menangis keras, Dina yang takut bayinya kenapa-napa mengambilnya dan melihat apa ada semut atau binatang lain yang menggigit.


Tapi setelah dilihat tidak ada bekas merah dari gigitan serangga di kulit putihnya, dia letakkan lagi bayinya dalam box.


Dan lagi bayi itu menangis, saat itulah Dina berinisiatif untuk membuka popoknya dan memeriksa, ternyata bayi itu baru saja pipis dan dia tidak suka basah apalagi kotor.


Drama seputar ibu baru dan juga bayinya masih terus berlanjut, dan Dina menikmati perannya sebagai ibu.


Meski tinggal dirumah orang tuanya, dan ada bibi juga disana Dina tidak mau meminta mamanya atau bibi mengurus bayinya. Hanya sesekali dia akan meminta bantuan mereka untuk menjaga bayinya jika dia akan ke kamar mandi.


Mama memaklumi bahkan beliau senang Dina putrinya yang dulu manja sekarang belajar menjadi ibu yang baik dan bertanggung jawab.


Tidak mau tergantung pada orang lain, dan tidak malu bertanya jika ada yang belum dia pahami tentang merawat bayi.


Tentu saja itu disukai oleh sang nenek, dia akan membawa cucunya berkeliling rumah dan bermain dengan sang kakek juga.


Bahkan jika cucunya lebih dulu tidur sang nenek akan menidurkannya di kamarnya sendiri sambil membawa botol susu berisi asi yang siap diminum.


Kegiatan rutin yang paling disukai oleh sang nenek adalah saat menjemur bayi itu, dia akan ikutan berjemur. Meski hanya lima menit setiap harinya, dia menikmati momen dimana cucunya menggeliat dalam gendongannya.


Sang kakek juga tak mau kalah jika cucunya tidur dia akan menciuminya sampai puas, dan ketika menggeliat dengan sigap akan menggendongnya.


Meski agak kaku karena sudah terlalu lama tidak menggendong bayi. Tapi papa menyukainya, dia teringat saat pertama kali menggendong Ardan setelah lahir dan mengadzaninya.


###

__ADS_1


Nama yang tersisa untuk baby utun akhirnya dipilih, Dina dan Miko sepakat mengambil nama yang gampang diucapkan dan mudah diingat tapi tetap memiliki makna.


Mereka tidak mau ikutan tren nama bayi yang lagi viral seperti artis-artis memberikan nama pada buah hatinya. Meski nama itu terdengar bagus, dan punya makna tapi jika ribet diucapkan bisa jadi salah kaprah.


Tak perlu juga pakai nama dari bahasa asing hanya karena dibilang keren, Miko tidak suka itu. Baginya cukup yang sederhana saja, dan mereka pun sepakat memilih satu nama.


Sengaja juga tidak memakaikan nama belakang keluarga, karena ingin agar kelak anaknya bisa berhasil berkat usahanya sendiri bukan karena melihat nama belakang keluarganya.


Namira Anjani


Nama inilah yang mereka pilih, dan mereka memanggilnya Namira. Seluruh anggota keluarga juga sudah sepakat dengan nama itu.


Papa dan mama serta kedua orang tua Miko memberikan kesempatan bagi pasangan muda itu untuk memberikan nama pada putri mereka.


Dan mereka percaya bahwa setiap nama yang mereka pilih, terdapat doa dari kedua orang tuanya.


Sebelum kedua orang tua Miko kembali ke kampung mereka sepakat untuk mengadakan syukuran sekaligus aqiqah putri kecil mereka.


Sudah hampir sebulan orang tua Miko istirahat, tidak berjualan karena menyambut kelahiran cucu pertama mereka. Dan para pelanggannya sudah menelpon menanyakan kapan mereka kembali berjualan.


Untung saja sebelum mereka pergi stok bahan pokok yang mudah rusak sudah habis terjual, dan sengaja tidak mendatangkan stok baru dari supliyer.


Sebelum kembali, sudah menghubungi para supliyer sehingga saat mereka sudah dirumah dan sudah melepas lelah bisa langsung berjualan lagi.


Maklum lah meski hanya pedagang kelontong dan dengan modal seadanya mereka berhasil membeli lapak sendiri, tanpa perlu menyewa lagi.


Meski Miko bahkan besannya papa Ardan menawari mereka tambahan modal, orang tua Miko menolak dengan halus. Alasan mereka agar jika sewaktu-waktu ingin berhenti jualan tidak akan terbebani dengan masalah pengembalian pinjaman.


Miko dan papa Ardan memaklumi, mereka berdua sudah sepuh, bukan lagi waktunya mereka bekerja. Mereka ingin menikmati hari tuanya dengan anak cucunya nanti.

__ADS_1


Tapi sebelum itu, mereka ingin tetap bisa bekerja dan beramal dengan hasil usaha mereka.


__ADS_2