Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
39. Tak ingin lagi


__ADS_3

Di lain tempat Arini juga menceritakan kejadian tadi pada suaminya, rasanya ingin sekali membalas kelakuan dua orang tak tahu malu itu. Kalau dia aja semarah itu, lalu bagaimana dengan Rei. Ahh....Arini geram ketika mengingatnya.


Rio yang menyadari kekesalan istrinya hanya menggelengkan kepala, dia sangat tahu bagaimana istrinya itu saat kesal. Tapi dia tak mau menyalahkan sikap istrinya, apalagi sekarang mereka terang-terangan berlaku kasar seperti itu pada Rei. Tapi karena gemas dengan kelakuan istrinya yang tak berhenti mengoceh, akhirnya Rio membungkam mulutnya dengan ******* bibirnya, membuat Arini langsung terdiam dan mau tidak mau membalas ciuman panas itu, dan akhirnya pasti tahu kemana ujungnya.


Setelah ciuman panas yang tiba-tiba itu, Rio tak lagi melepas istrinya. Meskipun menolak Arini tetap tak bisa menolak sentuhan hangat dari suaminya.


"Ah...yang, apaan sih, orang belum selesai cerita juga." Arini, merasakan geli ketika lehernya sudah dipenuhi tanda merah dari suaminya.


Dan lagi-lagi Rio membungkamnya, tak mau kalah tangannya pun juga sudah berada di posisi strategisnya. ******* dan kecapan kembali terdengar, sentuhan lembut terus dilancarkan sampai akhirnya keduanya sudah polos dan mereka pun melakukan yang seharusnya mereka lakukan.


Tanpa penolakan dan tanpa banyak adegan drama seperti awal mereka melakukannya. Mereka kini sudah tak lagi malu-malu menunjukkan perasaannya masing-masing. Hampir satu jam lamanya mereka melakukan penyatuan, keringat membasahi keduanya. Rio mencium kening istrinya yang tampak kelelahan, mereka lalu tidur saling berpelukan.


€€€


Entah sudah berapa lama Rei memperhatikan deretan chat yang masuk di grup sekolahnya, dan semua isinya sama menanyakan kebenaran gosip kedekatannya dengan seorang pengusaha muda, apalagi dengan statusnya sekarang.


Rasanya Rei sudah lelah, mau menghindar tak mungkin lagi. Rei tidak malu dengan statusnya yang masih muda tapi sudah menjanda bahkan dua kali. Tapi yang Rei pikirkan bagaimana dengan Ardan. Laki-laki yang selama ini sudah menempati ruang kosong di hatinya, Rei tak ingin Ardan menanggung malu karena hubungan mereka.

__ADS_1


Meski sejujurnya Rei merasa tak pantas tapi tak mau munafik dirinya merasa nyaman dengan adanya Ardan disisinya. Menangis mungkin bisa meluapkan emosinya saat ini, apalagi mengingat kejadian memalukan itu. Hatinya sakit sekali, bagaimana pun dia hanya manusia biasa yang juga punya perasaan. Tanpa sadar Rei tertidur, melupakan sejenak masalahnya.


Malam berganti pagi dan matahari mulai menampakkan sinarnya. Terlihat Rei sudah siap dengan pakaian kerjanya, seragam kebanggaan dari Lembaga Perbankan yang sudah Rei jalani lima tahun terakhir ini. Rasanya tak rela jika harus melepasnya, tapi masih ada perasaan yang mengganjal disana. Entah apa itu, biarlah Rei akan mencari tahu sendiri nanti.


Menuju meja makan yang sudah ditempati oleh seluruh anggota keluarga, kali ini formasi lengkap dengan kakak, ipar dan dua ponakan gembulnya yang sudah lama Rei abaikan karena pekerjaan.


"Selamat pagiiii...." Rei menyapa, mencium dua ponakan nya yang sudah duduk dikursi masing-masing.


"Pagi.." mereka menjawab serempak. Wajah ceria tampak di balik senyuman, meski sebenarnya mereka tak yakin dengan kamuflase ini.


Rei memang pandai menutupi masalahnya, serumit apapun masalah itu sebisa mungkin tak akan dia bebani pada orang lain. Mungkin ini yang menyebabkan papa lebih membatasi Rei dalam pergaulan, karena pribadinya yang tertutup dia juga sulit berinteraksi dengan lawan bicaranya.


Masih ada waktu sepuluh puluh menit tapi sepertinya berjalan lambat, hari ini kantor cabang tempat Rei bekerja akan diadakan acara pergantian kepala cabang. Dari kabar yang diterima Rei kepala cabang yang baru adalah pindahan dari Jakarta. Masih muda dan tentu saja cakep, kalau tidak bagaimana bisa rekan kerjanya menjadikan trending topik pagi ini.


Ah sudahlah...biarkan yang jomblo berkreasi, yang penting tetap sportif menarik perhatian si bos baru. Rei tak tertarik membahasnya, bukan tak ingin tapi sepertinya beberapa hari berpisah dengan lelakinya membuat Rei merindukannya. Lebih tepatnya merindukan keusilannya, Ardan sudah lima hari berada di Bali karena ajakan teman kuliahnya yang membuka usaha kafe disana.


Sebenarnya dia kurang tertarik tapi melihat potensinya akhir-akhir ini tak dipungkiri kafe termasuk usaha yang menjanjikan jika dikelola dengan tepat. Jadi apa salahnya berguru pada kawan lamanya yang sudah memiliki beberapa cabang itu.

__ADS_1


Bertemu hanya lewat video call membuat mereka harus menahan rindu sementara waktu. Baiklah saatnya bekerja Rei, semangat! Rei menyemangati dirinya sendiri.


Waktu terus berputar, jam makan siang pun sudah didepan mata. Beberapa rekan kerja sesama teller sudah beristirahat, secara bergantian mereka mengikuti ishoma hari ini. Setelah selesai dengan kewajibannya Rei kembali melanjutkan pekerjaannya.


Jam kerja hampir usai, dan sesuai instruksi hari ini akan ada acara dikantor. Perkenalan dengan kepala cabang yang baru. Yang pasti akan pulang sedikit terlambat, tapi Rei sudah lebih dulu pamit pada kedua orang tuanya.


Tibalah saat perkenalan sekaligus perpisahan, Rei tampak sedikit gugup. Apalagi saat dia mendapati sosok yang dulu pernah mengisi hari nya sekaligus membuatnya patah hati. Sorot mata itu masih seperti dulu, masih setajam elang. Seperti namanya Elang Perkasa Alam, tapi masihkah dia menjadi pribadi yang ambisius. Rei tak ingin lagi mengingatnya, bahkan sejak kejadian itu Rei sengaja menutup akses untuknya.


Tapi siapa sangka sekarang justru dia menjadi salah satu atasannya, Rei tidak suka ini tapi apa daya dia untuk menolaknya. Acara ramah tamah berlangsung baik, meski masih terkejut dengan sosok lelaki yang saat ini dipuja oleh rekan-rekannya, Rei tak ingin berlama-lama disana.


Meski hanya acara sederhana tapi Rei tak bisa menutupi kegugupannya bertemu dengan seseorang dimasa lalunya. Haruskah dia muncul kembali, setelah Rei berhasil menutup luka lamanya.


Rasanya ingin cepat pulang, melupakan hari ini. Meski tak dipungkiri Elang tampil semakin matang diusianya, lebih dewasa dan lebih tampan dari tujuh tahun lalu ketika Rei mengenalnya pertama kali. Tidak, Rei tak mau lagi terperangkap dalam pesonanya, pesona seorang playboy dijamannya. Entah sekarang julukan itu masih melekat didirinya atau tidak.


Selesai acara Rei langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran, membuka pintu mobilnya dan duduk disana. Degup jantung nya masih terasa, tapi bukan lagi rasa kagum melainkan rasa takut. Membayangkan setiap hari harus bertemu dengannya saja Rei tak sanggup.


Tuhan seperti memainkan perasaannya, kenapa harus datang lagi. Kenapa harus disaat seperti ini, entah apa yang ada dipikiran Rei. Wajahnya tampak kusut bukan karena lelah bekerja seperti biasanya, tapi lelah hati lebih tepatnya. Tolong jangan kembali mengusikku, jangan lagi. Rei menghembuskan napasnya berat, setelah terdiam beberapa lama akhirnya Rei melajukan mobilnya.

__ADS_1


€€€


Kira-kira siapa Elang dimasa lalu Rei? kenapa bertemu dengannya kembali menyulut emosinya, dan kenapa Rei selalu menghindarinya. Yang penasaran tetap ikuti terus ya, jangan lupa jempolnya. Terimakasih


__ADS_2