
Bulan madu yang direncanakan oleh Ardan untuk Rei lagi-lagi harus tertunda, kali ini bukan karena Rei yang menolak. Tapi karena faktor cuaca yang tidak memungkinkan mereka untuk bepergian.
Hujan deras disertai angin kencang beberapa kali membuat perjalanannya dibatalkan, sampai jangka waktu yang tidak dapat tentukan.
Begitu pula dengan rencana kepulangan dua orang yang memang sengaja diundur dengan alasan cuaca. Padahal sejatinya mereka memang sedang ingin bermain-main.
Meski berat hati mama dan papa Ardan harus merelakan rumah tangganya terusik karena ulah saudaranya sendiri. Jika hanya menumpang tinggal saja tak masalah, asalkan tidak mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya.
Mama Ardan tidak bisa menolak ketika, Neno dan anaknya Enno memilih menetap dirumahnya sementara waktu. Dia tentu akan dicap sebagai saudara yang kejam, jika membiarkan kakak dan ponakannya tinggal di hotel daripada dirumahnya.
Sebenarnya mama Ardan bisa saja beralasan akan bepergian atau apa saja, tapi tidak etis jika sampai di dengar saudaranya yang lain. Karena kakaknya itu akan membuat drama seolah-olah dialah yang bersalah.
Jadi dari pada mendapatkan penilaian buruk mending mengalah seperti saran papanya Ardan. Bagaimana dengan tanggapan anak-anak mereka, jangan ditanya karena mereka berdua tidak suka akan keberadaan dua orang ibu dan anak itu.
Kata-kata pedas yang selalu diucapkan, sikap arogan dan seenaknya sendiri, membuat penilaian buruk yang sudah ada semakin jelas. Selalu saja ada yang jadi bahan olokan, bersikap seolah-olah merekalah pemilik rumah, memerintah sekehendak hatinya pada asisten rumah tangga, benar-benar tidak patut dilakukan oleh seorang tamu, meskipun itu dirumah saudaranya sendiri.
###
Sudah hampir sebulan Neno dan putrinya Enno tinggal dirumah orang tua Ardan, membuat Ardan dan Dina malas berlama-lama disana.
Dengan alasan mencari tempat kos yang terdekat dengan tempat kerjanya, Enno mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia mulai merencanakan hal-hal yang tak masuk akal dan mengusik rumah tangga Ardan dan Rei.
Enno yang sejak awal sudah menyukai Ardan bahkan meminta Ibunya untuk menjodohkan dia dengan Ardan semakin kesal saat tahu Ardan menikahi Rei yang notabene seorang janda.
Menurutnya Rei tidak pantas mendampingi Ardan yang selain tampan, tajir dan seorang pekerja keras. Yang pantas mendampingi Ardan hanya Enno. Dan tentu saja agar harta yang dimiliki oleh keluarganya tidak jatuh ke tangan orang lain.
Dulu saat masih bersama Maya, Enno berhasil mengintimidasi dan membuat hubungan mereka terpecah. Tentu saja, karena Maya memang masih mengutamakan egonya. Maya masih mengejar cita-citanya sebagai wanita karir.
Sehingga Enno dan ibunya berhasil membuat hubungan mereka renggang dan putus ditengah jalan, justru setelah mereka mendaftarkan diri untuk menikah di KUA setempat.
__ADS_1
Tak ada yang tahu, karena itulah Enno merasa sekarang dia juga bisa dengan seenaknya melancarkan rencananya lagi. Tapi dia lupa lawannya kali ini bukan hanya Rei, tapi juga sepupunya sendiri Dina yang sudah muak dengan kelakuannya.
###
Hari ini hari sabtu semua keluarga Ardan berkumpul, melepas penat dengan segala aktivitas selama sepekan. Dina dan Miko juga hadir disana, ibu hamil ini seolah tak peduli dengan bobot tubuhnya yang naik dua kali lipat.
Usia kandungannya pun sudah masuk trimester ketiga, dan menunggu HPL. Segala persiapan untuk menyambut si baby utun juga sudah hampir lengkap.
Sejak masuk usia kandungan tujuh bulan setelah acara tingkepan, mama dan juga Dina dibantu Rei mempersiapkan segala kebutuhan untuk ibu dan bayi nya, mulai dari kamar bayi, perlengkapan untuk bayi baru lahir, selimut, baju bayi, sepatu dan juga popok bayi.
Mama melarang Dina membeli baju bayi terlalu banyak, apalagi mereka belum tahu jenis kelaminnya. Dina dan Miko memilih tidak melakukan USG agar nanti jadi kejutan.
Baju bayi yang dipilih juga yang bisa dipakai oleh bayi laki-laki dan perempuan, jadi tidak repot memilih warnanya.
Sabtu sore saat semua berkumpul di ruang keluarga, tiba-tiba ibu hamil itu menginginkan makan siomay, karena dadakan Dina mengajak semuanya pergi ke tempat siomay langganannya.
Mama yang awalnya malas pergi akhirnya ikut bersama mereka karena paksaan Dina dan juga Rei, karena memang mereka jarang sekali bisa pergi bersama seperti ini.
"Kalian mau kemana, kenapa kita tidak diajak" ucap Neno, Dina yang sudah semangat untuk pergi jadi memutar matanya malas.
"Ya mau pergi lah...refreshing mumpung pada ngumpul." jawab Dina asal.
"Kan bisa kasih tahu biar kita bisa bersiap" kali ini Enno yang menjawab
"Males...keburu tutup tukang siomay nya." Dina
"Lagian siapa juga yang mau ajak kamu, ga lihat mobilnya sudah penuh" Dina masih menjawab dengan ketus.
"Iya juga sih, lagian mana mau aku duduk berdesakan bisa gerah nanti" Enno berbicara sambil melirik ke arah Rei.
__ADS_1
"Kan kamu bawa mobil, pakai aja mobilmu sendiri. Sekalian cari tempat kost biar ga kelamaan numpang dirumah orang." Dina melihat kearah Enno sambil menyilangkan tangannya di depan perutnya.
"Ga ah, malas. Besok kan masih hari minggu dan masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum masuk kerja." Enno menyandarkan punggungnya di kursi sebelah ibunya.
"Terserah, yang penting kamu cepat cari kos yang dekat dengan tempat kerjamu dan segera pindah kesana." Dina melangkah menyusul yang lain dan meninggalkan ibu dan anak itu.
"Hei, jangan lupakan aku dan mama, siomay nya dibungkusin aja ya." teriak Enno masih bisa di dengar oleh Dina dan yang lain di dalam mobil.
"Dasar, sudah numpang tapi lagaknya seperti yang punya rumah saja." geram Dina.
"Sudah, ga usah diambil hati. Mending kamu tenangkan diri, ga baik buat bayi kamu kalau emosi" mama menenangkannya.
Papa dan yang lain hanya menghela napas, meski mereka merasa keberatan tapi belum ada alasan yang kuat membuat tamunya pergi.
"Lagian siapa suruh pindah kerja, jadi merepotkan orang lain saja." Dina masih menggerutu.
"Sudah, biar saja nanti juga bakalan pindah kalo sudah ga betah." kali ini Ardan yang menyahut.
"Iya, tapi kapan. Seandainya mereka bersikap baik ga bakalan kita usir, tapi sikapnya makin lama makin ngelunjak. Mana mamanya malah ngedukung banget sikap manjanya, dasar." Dina makin kesal saja.
"Sudah...biar nanti mama yang bilang sama bude Neno. Dan kamu Dan, bantu dia carikan tempat kos yang dekat dengan tempat kerjanya sekarang, biar adikmu ga makin emosi, ga baik buat emosi janinnya." ucap mama.
"Siap ma" Ardan menjawab sambil terus mengawasi jalanan dibalik kemudi.
Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat siomay langganan Dina.
###
Up lagi, semangat!
__ADS_1
Salam sehat bagi semua, jangan lupa minum vitamin ya, biar ga ikutan tumbang. Vitamin buat otor jangan lupa dukungannya.