Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
112. Selesaikan urusanmu dengannya


__ADS_3

Sejak kepulangan Rei dari tempat berlangsungnya sekaligus tempat perdebatan antara sang suami dengan wanita dari masa lalunya, Rei lebih banyak diam.


Bukan karena dia merasa kalah cantik dari wanita yang belum Rei tahu siapa dia, hingga membuatnya insecure.


Tapi Rei lebih takut jika ternyata yang Rei dengar secara tidak sengaja tadi menjadi kenyataan. Rei tahu bagaimana Ardan, dan suaminya itu paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis apapun alasannya.


******* keluar dari mulutnya yang tiba tiba terasa pahit, segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa saja yang terjadi nanti adalah sesuatu yang diluar kuasanya.


Rei tak mampu lagi berpikir jernih, otaknya terlalu berat untuk memikirkan kemungkinan buruk. Tangisnya kembali pecah, ada rasa marah dan kecewa disana, serta trauma.


Bukan pertama kalinya Rei alami, bahkan dengan mantannya dahulu jauh lebih buruk dari yang dia dapatkan sekarang.


"Kenapa aku harus mengalami hal ini lagi?" batin Rei.


Semua masih semu, masih abu abu, masih belum ada kejelasan karena Ardan sang suami belum pulang, belum menceritakan secara detail. Entah apakah Ardan akan menceritakan secara detail atau menyembunyikannya.


Tak ada yang bisa Rei tebak, seolah alam mendukung suasana hatinya. Yang awalnya sumuk, tiba tiba saja hawanya dingin menusuk tulang.


Jendela kamar yang memang belum sempat dia tutup, sengaja dibiarkan. Bahkan lampu kamarnya pun tidak dinyalakan. Rei menikmati kesendiriannya dengan tangis yang tak lagi tertampung. Hingga matanya mulai redup dan suaranya berganti isakan.


###


Ardan kembali ke tempat acara, percuma juga meladeni Anggi karena wanita itu sepertinya telah terobsesi padanya. Dan itu bukan maunya.


Beberapa menit sebelumnya


"Hentikan kegilaan ini Anggita, hubungan kita tak akan pernah ada. Kau dan aku tak akan pernah bersama."


"Kamu tidak mencintaiku, karena orang yang benar benar mencintai, akan menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi. Tapi kamu, kamu sudah dibutakan oleh obsesimu untuk memilikiku. Kamu tidak mencintaiku."


Ardan tidak lagi berbicara secara halus, emosinya benar benar terluapkan secara sempurna dihadapan wanita yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu ketenangannya.


"Ya, aku memang terobsesi padamu. Dan aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu Ardan."


Anggita melangkah pergi, tapi sebelum dia berhasil keluar dari ruangan itu Ardan kembali membuatnya tersentak.


"Dan jika kamu berani mengganggu keluargaku, terutama istriku maka jangan salahkan aku jika akan membuat perhitungan denganmu. Camkan itu!"

__ADS_1


Ardan kembali menekankan kalimat terakhir sebelum Anggita berlalu. Pintu memang sengaja dibiarkan terbuka, terserah jika ada orang yang mendengar pertengkaran mereka, yang pasti Ardan tak ingin ada fitnah yang mengatakan dia dengan sengaja mengundang perempuan lain masuk kedalam ruang pribadinya.


Tak lama selepas Anggi berlalu, salah satu karyawannya mengetuk pintu yang terbuka itu.


"Permisi mas, saya bawakan minuman pesanan mbak Rei, apa mas Ardan juga mau?" ucap pelayan tersebut.


Ardan kaget, ekspresi wajahnya saat ini menunjukkan kepanikan.


"Sial, apa Rei sempat mendengar pertengkaran kami tadi. Jika iya, mati lah kau Ardan."


Ardan membatin, tangannya menyugar rambutnya kasar. Hah...


"Istriku kemari? Kemana dia sekarang?" tanya Ardan, pura pura tidak tahu, tapi memang tidak tahu jika Rei datang.


"Iya mas, setelah memesan jus langsung kemari. Tapi ternyata tidak ada." jawab pelayan itu.


"Ya sudah, biar nanti aku tanyakan pada yang lain. Kamu bawa kembali aja minumannya karena istriku ga ada disini." Ardan


"Iya mas, saya permisi dulu."


"Ya, silahkan" Ardan pun keluar dan kembali bergabung ke acara, tidak enak jika terlalu lama ditinggal. Sekalian dia ingin menanyakan keberadaan istrinya pada pegawainya yang lain.


###


Apalagi setelah salah satu pelayan mengatakan jika dia melihat Rei keluar dari kantornya dalam keadaan buru buru dan sepertinya sedang menahan tangis.


Rasa bersalah kian membebaninya, Ardan mencemaskan keadaan istrinya. Ardan kemudian keluar dari restorannya dan pergi dengan mobil kesayangannya.


Satu satunya tempat yang dia tuju hanyalah rumahnya, pasti istrinya sekarang sedang menangis sedih.


Ardan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya kalut. Beruntung jalanan terlihat lengang, jadi tak ada hambatan.


Tak lama Ardan sampai didepan rumahnya. Ardan menoleh keatas, jendela kamarnya terbuka, tapi lampu kamarnya gelap.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ardan langsung menuju ke kamarnya. Benar saja, kamarnya gelap gulita. Ardan mencari letak saklar dan menyalakan lampu kamarnya.


Ardan melihat istrinya tidur meringkuk, bahkan gaun malam yang digunakannya belum sempat dia ganti.

__ADS_1


Ardan mendekat melihat bantal istrinya tampak basah karena air mata, bahkan bekasnya saja masih terlihat diujung matanya.


Ardan yakin istrinya mendengar pertengkarannya tadi, dan Rei salah paham. Ardan mengecup kening istrinya, tidak ada pergerakan. Ardan mengusap pipi Rei pelan.


Setelahnya Ardan menutup jendela kamar, angin malam tidak baik bagi kesehatan. Ardan lalu membuka bajunya dan memasukkan ke keranjang baju kotor.


Setelah membersihkan diri Ardan menyusul istrinya ke tempat tidur dan memeluknya. Ardan mencium rambut istrinya yang tampak terganggu karena perbuatannya.


###


Pagi hari setelah sempat mendiamkan suaminya, Rei akhirnya buka suara.


"Jika masih ada kisah di masa lalu yang belum selesai, maka sebaiknya selesaikan dulu urusanmu dengannya."


Setelah mengucapkan itu Rei kembali dalam mode diam dan acuh. Seperti sebuah pukulan telak, Ardan kalah.


Yakinlah Ardan jika Rei istrinya pasti mendengarkan pembicaraannya dengan Anggita. Tapi sejauh mana Ardan tidak tahu. Dia harus segera meluruskan salah paham ini agar tidak berlanjut.


Bukan lagi suatu perkara mudah jika sampai masalah ini didengar oleh keluarganya. Meski mungkin mereka pasti akan tahu cepat atau lambat.


Tapi sebelum itu terjadi Ardan harus bisa meredam emosi dan salah paham dari istrinya. Sebelum semuanya terlambat.


Ardan memilih meninggalkan Rei yang masih belum ingin bertegur sapa dengannya. Ardan harus segera ke restauran dan cafe untuk mengecek keuangan bulan ini, apalagi sebentar lagi waktunya membayar gaji karyawan.


Ardan mencium pucak kepala Rei dan mengucapkan salam, meski dalam keadaan marah tapi istrinya itu masih menjawab salamnya meski dengan suara lirih.


Ardan tersenyum, dia senang Rei mengajaknya berbicara meski ketus dan mengajak berantem.


Jujur Ardan lebih suka membicarakan masalah ini dengan kepala dingin, tanpa emosi apalagi jika akhirnya berlanjut kearah hal yang intim di atas ranjang.


Tapi sepertinya itu jauh dari bayangannya, jika sang istri sudah dalam mode begini jangankan diajak indehoy, dicium pipinya aja buru buru dihapus, seolah jijik.


Hadeh...istriku memang menggemaskan, bahkan dalam keadaan marah begini istrinya masih membuat dia tergoda.


Peermu banyak Dan, jangan keburu ngajak yayang yayangan sebelum kelarin masalah, karena jika tidak jatahmu akan semakin berkurang, hahaha....


###

__ADS_1


Dua bab cukup ya untuk hari ini, meski banyakkan bolong dan absennya lama jangan bosen untuk tetap kasih otor like dan komen ya gess...Mumpung hapenya ga ngajakin berantem.


__ADS_2