
Ardan tahu ini tak bisa dibiarkan, Anggita pasti akan semakin menaruh harapan padanya jika dia tidak segera menyelesaikan masalah ini.
Bukan hanya masalah hati yang harus dia jaga, tapi juga kewarasan. Ardan tak mau jika Anggi salah menilai sikapnya. Ardan tak ingin berbuat kasar pada perempuan, karena bagaimanapun mereka adalah makhluk lemah.
Tapi jika semakin dibiarkan Anggi pasti akan mengharapkannya, bahkan mungkin akan semakin nekat nantinya. Jadi dia putuskan untuk segera menyelesaikan masalah yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Ardan memang membiarkan Anggi memeluknya, tapi dia tidak membalas pelukan itu. Bagaimana jika Rei melihatnya, tentu dia akan sakit hati.
Setelah membiarkan Anggi memeluknya tanpa berniat membalas, Ardan melepaskan tangan Anggi yang membelit di pinggangnya.
"Anggi, tolong jangan begini. Kamu tak seharusnya seperti ini." Ardan membuka suara.
Ardan membalikkan badannya dan melangkah mundur dari tempatnya semula berdiri.
"Ardan...kenapa? Kenapa kamu menolakku, apa kurangnya aku dibandingkan istrimu?" Anggi sudah tidak lagi menyembunyikan perasaannya.
"Stop it, jangan pernah membandingkan siapa pun, apalagi Rei. Dia tidak tahu apa apa, jangan pernah menyangkut pautkan dia dengan masalah yang kamu buat sendiri."
__ADS_1
Ardan menarik napas dan menghembuskan kasar, entahlah emosinya seakan terpancing mendengar istrinya disebut.
"Kamu tahu sejak awal, masalah ini tidak akan terjadi jika kamu bisa menahan diri. Tidak mementingkan ego mu. Kamu yang memilih untuk pergi, dan selama kau pergi aku tak pernah mencoba untuk menutup hati pada siapapun, karena memang diantara kita tidak pernah terjadi apapun."
"Lalu kenapa kamu membandingkan diri dengan Rei, dia tidak pernah meminta untuk hadir jadi orang ketiga diantara kita. Dia hadir karena kami sudah ditakdirkan untuk bersama."
"Jadi hentikan semua ini, kita tidak bisa bersama. Aku mencintai istriku, dan akulah yang memilih dia. Jangan lagi buat dirimu semakin jatuh."
Ardan seakan tak ingin memberi kesempatan bagi Anggi untuk membela diri. Ardan tahu ucapannya pasti akan membuat wanita di depannya ini sakit hati.
Hening sejenak, hanya terdengar isak tangis dari wanita cantik itu, dan Ardan masih tetap menjaga jarak dengannya.
"Dan, tolong beri aku kesempatan. Aku akan buktikan kalau aku layak bersanding denganmu. Biarkan aku menjadi istrimu meski yang kedua, aku tak apa."
Anggi seolah menanggalkan rasa malunya demi mendapatkan kesempatan bersama lelaki pujaannya, meski tahu itu tak akan mudah.
"Tidak, jangan katakan kamu memintaku untuk membagi hatiku, aku tak akan pernah bisa dan tak akan pernah mau." Ardan
__ADS_1
"Dan, plis..." Anggi mendekat, mencoba memeluk lelaki yang membuatnya jatuh cinta itu.
"Hentikan kebodohanmu dengan terus merengek seperti ini. Aku semakin hilang respek padamu dengan sikapmu yang seperti ini." Ardan.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, bahkan sempat mendengar perdebatan mereka.
Hatinya sakit mendengar pembicaraan mereka, tapi meski begitu ada sedikit lega disana. Tetes air mata yang sejak tadi ditahan, turun begitu saja tanpa disuruh.
Sebisa mungkin ditahannya suara agar tidak terdengar oleh mereka, dengan langkah pelan meninggalkan mereka.
Dengan sedikit tergesa, Rei meninggalkan tempat itu. Entah bagaimana ceritanya Rei berada disana, sedari tadi hatinya merasa tidak tenang dan seakan ada dorongan untuk mengajaknya menemui suaminya.
Dan ternyata bukan Rei yang memberikan kejutan, tapi justru Rei yang dibuat terkejut dengan permintaan konyol dari seorang wanita yang ternyata adalah masa lalu suaminya.
Haruskah Rei membiarkan wanita itu kembali masuk dalam kehidupan rumah tangga mereka, atau kah Rei akan membuat wanita itu semakin menjauh.
Rei tidak bisa berpikir jernih saat ini, yang dia inginkan hanya menangis dan melepaskan semua beban yang secara tiba tiba menghantamnya.
__ADS_1
###