Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
18. Terima saja


__ADS_3

Sesuai janjinya Ardan menunggu Rei menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, baru dia akan mengajaknya pergi. Untung saja semua pekerjaan Rei selesai tepat waktu, jadi tak perlu menunggu lama.


Menunggu memang membosankan, tapi demi pujaan hatinya dia rela menunggu. Wait.. pujaan hati? Ardan bahkan sudah tak lagi canggung untuk mengakuinya. Padahal sebelum nya, dia amat sulit mengakui kalau lawan jenisnya itu adalah pujaan hatinya.


Bahkan dengan mantannya terdahulu dia tak pernah mengakuinya, karena mereka dekat karena sering bertemu dikampus dan akhirnya Veronica mengatakan kalau dia mencintainya. Ardan tak mengiyakan juga tak menolaknya, tapi mencintainya sepertinya belum.


Karena bagi Ardan hanya ada satu nama, yaitu cinta pertamanya. Dan kedekatannya dengan Vero membantunya melupakan cinta pertamanya yang pergi meninggalkannya. Tapi sejak melihat Rei pertama kalinya, dia merasakan getaran yang berbeda. Seakan merasakan lagi kehadiran cintanya yang hilang.


Ah... itu hanyalah masa lalu, mereka berdua hanya masa lalunya, sekarang dia ingin membangun masa depan nya dengan Rei, wanita yang telah membangkitkan rasa yang lama terpendam.


Awalnya Ardan mengira kalau kehadiran Rei hanya sesaat dan akan hilang begitu saja. Ternyata pertemuan pertamanya dengan Rei, memberikan kesan mendalam. Mungkin boleh dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama, beberapa kali melihat Rei secara tak sengaja membuatnya semakin penasaran dengan sosok Rei.


Jika Rei mengira kalau pertemuan mereka adalah saat membeli martabak, tapi tidak dengan Ardan. Pertama kali Rei bertemu dengan Rei justru saat dia akan mendaftarkan pernikahannya yang batal dengan Vero, ya Ardan melihatnya justru saat di Kantor Urusan Agama.


Waktu itu dia tak sengaja melihat Rei memasuki KUA dengan seorang lelaki yang belakangan diketahui adalah mantan suaminya. Ya, waktu itu Rei dan mantan suaminya itu baru saja mendaftarkan pernikahan mereka.


Karena sudah menjadi milik orang dan dia juga akan segera melangsungkan pernikahan, Ardan menepis rasa ingin tahunya tentang Rei. Tapi siapa saja, pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa bulan saja, dan tepat saat Ardan melaporkan pembatalan pernikahannya karena pengkhianatan Vero, Rei juga baru saja mendaftarkan perceraiannya.


Entah kebetulan atau memang sudah seperti itu alur nya, lagi-lagi Ardan tertarik akan pribadi Rei. Pertemuan berikutnya saat dirinya sedang mengurus kartu ATM nya yang tertelan, tak sengaja melihatnya sedang melayani nasabah. Rei tampak begitu mempesona.


Akhirnya rasa penasaran menuntunnya mencari informasi tentang Rei, tanpa sengaja Ardan menceritakan wanita yang dia kagumi itu pada sahabatnya, Gama yang ternyata adalah sepupu dari Anton, suami pertamanya.


#flashback on


"Hai bro, bengong aja." Gama mengagetkan Ardan, membuyarkan lamunannya.


"Kamu kenapa, ada masalah? jangan bilang kamu masih belum bisa move on dari itu perempuan." Gama melepaskan jasnya, membuka kancing atas kemejanya.


Memanggil pelayan restoran yang melewati tempat mereka duduk. Setelah acara peresmian restoran barunya Ardan memang masih setia menyapa tamu yang diundang hari itu. Pelayan datang meletakkan minuman yang dipesannya, tapi tetap saja Sedan tidak tampak ingin membuka mulutnya.


"Woii... ditanya malah bengong" Gama kesal karena sahabatnya itu tak menanggapinya sama sekali. Dengan sedikit malas, Ardan memulai percakapan.


"Aku sepertinya menyukai seseorang, tapi aku belum tahu siapa dia. Beberapa kali bertemu dengannya aku jadi penasaran ingin mengenalnya."

__ADS_1


"Terus masalahnya dimana? kenapa kamu suntuk gitu, bukannya kamu punya asisten, suruh dia mencari tahu gampang kan."


"Bukan masalah itu yang aku pikirkan, tapi aku masih ragu apa aku benar-benar menyukainya atau hanya sekedar kagum. Kamu tahu kan sejak kejadian itu, aku tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita lagi. Tapi entah sejak aku melihatnya pertama kali aku sudah menyukainya."


"Maksudmu kamu ragu sama hatimu? Sepertinya kamu memang butuh liburan bro, biar ga suntuk mulu bawaannya" Gama meninju lengan sahabatnya itu, dan tentu saja mendapatkan balasan pelototan dari yang bersangkutan.


"Easy bro, calm down. Becanda, piss" mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V sambil cengir.


"Kalau emang kamu tertarik sama dia cari tahu siapa dia, dan jika hatimu merasakan nyaman saat melihatnya dekati dia, terima saja ikuti hatimu."


"Atau jangan-jangan kamu masih ragu mendekati dia, butuh bantuan bro, aku siap kok"


menepuk pundak sahabatnya. Ardan hanya diam, mungkin tak ada salahnya meminta bantuan sahabatnya yang sedikit gila dengan ide konyolnya.


"Kamu ada fotonya, mungkin kita bisa mulai cari informasi tentang dia." Ardan ingat dia sempat mengambil foto Rei saat melayani nasabahnya dan tersenyum manis.


Mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa foto, ya dia berhasil mengambil beberapa foto Rei. Menyerahkan ponselnya dan kembali menyandarkan punggungnya, wajah lelahnya sangat terlihat jelas.


"Inikan Renita" ucap Gama keras.


"Kamu kenal dia?" tanya nya kemudian


"Tentu saja, dia istri dari sepupuku yang meninggal saat kontak senjata di Papua. Kamu ingat Anton?"


Ardan mengangguk, dia pernah beberapa kali bertemu dengan Anton. Terakhir kali saat acara pertunangan Gama.


"Kamu ketemu dia dimana?"


Ardan lalu menceritakan pertemuan nya dengan Rei. Gama mengangguk, dia tahu sekarang cara mendekatkan sahabatnya ini dengan wanita yang mulai mengisi pikirannya.


"Kamu sebenarnya dekat dengan dia tapi jauh" ucap Gama pelan lalu menghabiskan minumannya.


"Maksudnya apa, yang jelas kalo ngomong ga usah muter-muter gitu"

__ADS_1


"Kenapa kamu ga cari tahu aja tentang Rei sama calon adik iparmu, dia kan teman sekantornya Rei. Apalagi mereka sudah dekat sejak Pertama Rei bekerja disana, Rei sudah dianggapnya adek"


"Maksudmu Miko?"


"Ya iyalah, emang calon adek iparmu ada berapa sih?" pertanyaan itu membuat Gama menerima pukulan yang lumayan keras.


€€€


Benar saja berapa hari kemudian Ardan melihat Rei, Miko dan beberapa temannya. Mereka tampak bercanda saat makan siang bersama. Ardan yang kebetulan berada di restoran itu bisa melihat mereka.


Sejak itulah Ardan mulai mengakrabkan dirinya dengan calon iparnya, Miko. Merasa mendapat angin segar, Ardan mulai mencari tahu semua kesukaan Rei, mulai dari hobinya sampai hal yang membuatnya tak ingin melepaskan wanita itu lagi.


#flashback off


Mungkin ini jawaban atas doanya, ingin mendapatkan jodoh yang akan menemaninya sampai tutup usia nanti.


Ardan tersenyum mengingat beberapa kekonyolan yang dia lakukan hanya untuk menarik perhatian Rei.


toktoktok


Ada yang mengetuk kaca mobilnya, melongok keluar, rupanya Rei sudah disana.


"Mas, aku bawa mobil. Gimana kalau mas pulang duluan kerumah, biar nanti Rei nyusul."


"oh ga enggak sayang, biar kita bawa mobil sendiri-sendiri. Ga mungkin kan kalau kamu tinggalin mobilmu disini, bisa digandol maling. Cukup hatimu aja yang abang curi" goda Ardan, sambil mengedipkan matanya.


"Atau kamu mau langsung ikut mas ke rumah, nanti biar mobilmu dibawa asisten mas. Biar mas telpon dia sekarang."


"Ga usah mas, jangan selalu merepotkan orang lain. Selama kita masih bisa kerjakan sendiri jangan selalu menyuruh orang lain. Lagipula Rei belum mandi, belum pamit sama mama papa" ucap Rei.


Ardan hanya tersenyum menanggapinya, dia tahu Rei paling tidak suka merepotkan orang lain.


Mereka lalu melajukan mobilnya kerumah Rei.

__ADS_1


€€€


Kita tunggu kelanjutan hubungan mereka, jangan lupa like dan votenya. Terimakasih.


__ADS_2