
Anita dan Andi sesekali main kerumah Renita, bertemu dengan orangtua dan kakak serta iparnya. Bahkan Cika anak mereka sering menginap disana bersama keponakan Rei.
Tentu saja kedua orangtua Rei tidak mempermasalahkan, malah mereka senang karena rumah itu kembali ramai dengan suara anak kecil. Karena sejak kepulangan kak Dani dan keluarganya kerumah mereka, jarang sekali mereka menginap, kecuali saat bang Heru ada pekerjaan di luar kota.
Seperti hari ini, setelah sholat jum'at Heru mengantarkan istri dan anak-anaknya kerumah mertuanya karena harus mengikuti pimpinannya serta beberapa staf kunjungan ke beberapa daerah. Pekerjaannya sebagai staf dinas tata kota memang sering menuntutnya keluar kota.
"Kamu ga makan dulu Her?" tanya Papa saat melihat Heru diruang makan sedang mengambil minum.
"Tadi sudah dirumah pa." jawabnya singkat lalu menenggak air mineral dingin.
"Oh, ya sudah. Nanti berangkat jam berapa?" tanya papa lagi.
"Katanya mau dijemput jam lima pa, biar Heru bisa istirahat dulu. Kan nanti nyetir nya gantian." ucap Heru.
"Tumben ga bawa sopir"
"Ada kok pa, cuma dari sini berangkatnya gantian nyetirnya, bapak cuma bawa satu sopir. Kata bapak mumpung ibu-ibu ga ada yang ikut jadi biar bisa cepat pulang."
"Iya juga, karena yang lama itu nungguin ibu-ibu belanja." ucap papa terkekeh.
Heru tertawa, percakapan dua pria dewasa itu terhenti saat para wanita datang bergabung.
"Ngobrolin apa sih seru amat." Mama duduk disamping papa, diikuti Dani pun mendudukkan dirinya disebelah suaminya.
"Ga ada kok ma, papa cuma tanya kok tumben ga bawa sopir katanya ga ada ibu-ibu jadi ga perlu bawa sopir cadangan karena ga bakalan lama nungguin orang belanja." canda papa
"Ih papa, nyindir nih" jawab mama ketus.
"Tapi emang bener kan ma, dulu sebelum papa pensiun mama juga sering ikut papa kan kalo ada acara, yang bantuin ngabisin uang papa" ucap Dani.
"Hus.. kamu tuh ya, bukannya ngebelain malah ikutan nyindir mama"
"Tapi Dani kan beda ma, ikut kalo diajak dan lagi ga malas. Soalnya ibu-ibu itu ribet yang dibeli apa, yang dipilih apa hasilnya mana cukup sehari buat belanja."
Mereka kembali tertawa, sampai akhirnya memutuskan untuk istirahat.
€€€
Menjelang jam makan siang apalagi hari jumat suasana di teller terlihat lebih ramai, beberapa nomor antrian terlihat dilewati karena memang bersamaan dengan waktu sholat jum'at. Hanya tersisa beberapa teller wanita yang masih melayani.
Bergantian dengan yang lebih dulu istirahat, mereka tetap melayani nasabah dengan ramah.
"Selamat siang bapak, saya Renita."
"Siang mbak"
__ADS_1
"Penarikan tunai ya pak, silahkan tanda tangan dua kali disini dan disini" Rei menunjukkan pada nasabahnya setelah memeriksa KTP yang bersangkutan.
Selesai menandatangani dan mengecek jumlah uang yang ditarik serta saldo terakhir ditabungan, Rei kembali memencet nomor antrian berikutnya setelah nasabah tersebut berlalu.
Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum waktu dhuhur berlalu, Rei menghentikan aktivitasnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Istirahat sejenak menenangkan diri sebelum makan siang selesai, Rei masih belum beranjak dari musholla. Sambil melipat mukena yang dia kenakan dan memasukkan kedalam tasnya, Rei lalu menata penampilannya.
Mengecek ponsel nya dan kembali memasukkan dalam tasnya, Rei lalu beranjak meninggalkan musholla menuju kantin. Disana sudah ada sahabatnya, Arini terlihat memesan makanan.
Sementara itu seseorang yang sedang dilanda rindu, tampak bingung mencari alasan untuk bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Untung saja dia ingat kalau Rei biasanya akan mengambil shift istirahat terakhir. Lalu dia mengambil kunci mobil dan pendeknya, meninggalkan ruangannya.
drrt... drrrt...
Ponsel Rei bergetar, suara panggilan masuk memang sengaja dia off kan agar tidak mengganggu kerjanya. Mengangkatnya dan tersenyum, akhirnya yang dia tunggu datang juga.
"Assalamualaikum" sapa Rei
"Waalaikumsalam, sibuk? sudah makan siang?" tanya suara diseberang.
"Diborong pak pertanyaannya, apa sekalian nambah satu lagi biar dapat potongan harga" canda Rei, terdengar tawa dari lawan bicaranya.
"Oya, boleh lah. Mau makan siang denganku? Tapi aku ga mau diskon, ganti bonus aja ya."
"Saya antar sekaligus saya ambil sendiri bonusnya biar lebih lama ketemunya."
"Boleh, kalau begitu bapak siapkan bungkusnya yang besar biar muat ambil bonusnya. ujar Rei sambil tertawa.
"Makin kacau aja ya lama-lama, aku culik loh."
"Jangan dong pak, orangtua saya ga punya uang buat menebus saya. Bapak ga kasihan?"
"Beneran minta diculik ke KUA nih, tak samperin sekarang loh ya."
"Dengan senang hati, tapi saya mau makan dulu biar kuat jawab pertanyaan penghulu ya pak"
"Ashiap... "
Keduanya tertawa, namun kemudian kembali ada rasa canggung.
"Makan dimana, aku temani ya?"
"Boleh, siapa tahu habis ini makin lahap makannya. Mas beneran mau nemenin aku makan? Menunya sederhana loh mas, ga seperti restoran tempat mas biasa menjamu koleganya."
"Tak masalah selama bersama kamu" ucapan itu membuat Rei tersipu malu.
__ADS_1
"Kalau gitu aku tunggu mas aja pesannya ya."
"Jangan.. jangan..nanti kamu telat balik ke teller. Pesan aja dulu, nanti aku nyusul. Kamu di kantin kantor kan?"
"Iya mas"
"Oke, tungguin ya."
"Oke" Rei lalu menutup panggilan teleponnya. Masih senyam-senyum, membuat Arini yang sedari tadi berada didekatnya menyembikkan bibirnya.
"Duh yang lagi jatuh cinta, senyum mulu ni ye" goda Arini. Rei terkejut melihat sahabatnya sudah ada di dekatnya.
"Kamu bikin kaget aja" memukul lengan Arini, yang dipukul hanya mengelus lengannya.
"Sakit tahu, lagian dari tadi asyik sendiri. Arjuna nya nelpon ya."
"Mau tahu aja."
"Kayaknya sudah bisa menerima cinta baru nih, ga sabar pengen segera jadi pagar ayu nya."
"Apaan sih, kamu duluan lah. Eh, gimana sudah ngajak Rio ngomong?" tanya Rei, mengambil jus jeruk milik Arini dan menyeruputnya.
"Hei, itu jus aku" Arini merebutnya, dan menikmati jus yang dipesannya tadi.
"Pelit amat sih bu, baru minum dikit juga"
"Udah sana pesan dulu, keburu kambuh maag kamu. Bisa ngamuk arjuna kalau tahu srikandi nya sakit" mendorong Rei untuk pergi.
"Payah" seloroh Rei, dia lalu memesan makanan yang sama dengan Arini, soto ayam menjadi pilihan nya.
Setelah pesanan datang dan mereka berdua menikmati makan siang mereka, dan tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya seseorang.
"Makan sendiri nih, ga nawarin minum kek"
"Mas, sudah datang. Aku pesenin ya, mau makan apa?" tanya Rei gugup. Ardan lalu duduk disampingnya. Dan tanpa permisi mengambil minuman Rei, membuat pemiliknya melotot.
"Itu punya aku... " Rei melihat minumannya hampir habis.
"Sekarang ayo suapi aku" pinta Ardan, tangannya menuntun tangan Rei untuk menyuapinya. Rei yang sedikit kesal hanya bisa merapatkan giginya. Mau tidak mau harus menyuapi laki-laki yang kini ada disambungnya. Arini hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Benar-benar bikin iri hati para jomblo, Arini senang karena Rei sudah bisa menerima Ardan. Dan berharap semoga hubungan mereka akan terus berlanjut ke jenjang pernikahan.
€€€€
Terimakasih sudah mampir dikarya pertama ku, jangan lupa like nya.
__ADS_1