
Pesta resepsi pernikahan Rangga dan Mawar terbilang sukses, digelar cukup meriah. Ardan dan Rei, bersama teman-temannya yang lain bergantian menyalami mempelai.
Saat pernikahannya Ardan lah yang menjadi bahan obrolan dan bulan-bulanan teman-temannya, sekarang giliran Rangga.
Pesta pernikahan ini sekaligus ajang reuni, karena baik Rangga maupun Mawar sama-sama alumni disekolah yang sama bahkan mereka pernah satu kelas.
Rei tampak cantik dengan gaun yang dibelikan suaminya kemarin, dengan riasan yang simpel tapi tetap bisa membuat suaminya terpesona.
Karena secantik apapun riasan kita, jika hati kita kotor dan penuh iri dengki wajah kita akan terlihat suram. Tapi jika hati kita bersih, dan selalu berpikir positif, maka aura kecantikan akan terpancar dari dalam.
Meski Rei bukan bintang di acara ini, tapi tetap jadi pusat perhatian. Sedikit tidak nyaman karena banyak mata memandang ke arah nya, tapi Rei masih tetap tersenyum.
Membalas sapaan teman-teman Ardan yang baru dikenalnya, dan ikut obrolan mereka yang makin seru. Meski Rei tidak sepenuhnya bisa mengikuti, karena usia mereka terpaut cukup jauh.
Lima tahun selisih usia Ardan dan Rei, jelas berbeda generasi. Rei masih tetap bisa mengimbangi, bahkan sesekali Rei lah yang menjadi sasaran obrolan teman-teman suaminya.
Pernikahan mereka akan segera memasuki bulan ke enam, tentu saja akan semakin banyak angin yang akan mengguncang kehidupan rumah tangga mereka.
Tentu saja jika mereka bisa bertahan sejauh ini maka akan ada angin kencang bahkan badai yang menanti. Sebisa mungkin tidak terpengaruh dan tetap bertahan.
Salah satu teman wanita Ardan yang hadir sempat membuat Rei terdiam, pasalnya pertanyaannya mulai menjurus ke masa lalu Rei.
Mungkin saja dia belum tahu bagaimana perjuangan Rei selama ini membuat orang disekitarnya tidak terlalu meributkan statusnya yang dulu.
Bagaimana Rei melewati cemoohan dan pandangan miring mereka padanya. Hanya karena statusnya yang pernah menjadi janda.
Mungkin juga dia tidak pernah mendengar bagaimana akhirnya Ardan menaklukkan hatinya. Atau mungkin saja dia tidak hadir di acara pernikahan mereka.
Rei mencoba tersenyum menanggapinya, saat melihat Rei yang tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan temannya yang baru bergabung salah satu dari mereka berinisiatif mengajak Rei untuk mengambil makanan.
"Maafkan teman kita ya, dia emang suka gitu orangnya." ucap Fani sesaat setelah mereka menjauh.
"Hmm...iya gapapa, sudah biasa kok" Rei tersenyum.
Fani tahu Rei tidak nyaman, makanya dia mengajak Rei pergi. Fani merasa tak enak hati, karena ucapan Tina tadi membuatnya jengah.
Sudah rahasia umum jika Ardan menikahi Rei yang berstatus janda, bahkan dulu Maya pun sempat membahasnya di grup tapi setelah itu menguap begitu saja.
__ADS_1
Maya memang mantan pacar Ardan, mereka bahkan nyaris menikah sebelum Enno dan mamanya merusak semua.
Dan akhirnya ada orang baru yang sempat hadir dalam kehidupan percintaan Ardan sebelum Rei datang. Tapi lagi-lagi Enno dan mamanya lah yang menggagalkan hubungan mereka.
Bahkan sebelum Ardan sempat memperkenalkannya pada keluarganya. Tapi jodoh memang tak akan lari dikejar, justru Rei lah yang mendampingi Ardan sebagai pasangan hidupnya.
Tentang siapa wanita yang sempat dekat dengan Ardan, tak ada yang tahu. Enno dan mamanya pun hanya tahu lewat chatting, belum pernah bertemu.
Hanya Ardan yang tahu, begitu pula dengan akhir kisah mereka yang bahkan belum dimulai.
###
Rei, Fani, Desi dan Gea sedang duduk berempat di meja mereka. Tak ada para suami disana. Mereka masih sibuk dengan urusan laki-laki. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya seru.
Mereka berempat saling bertukar nomor hape, diantara mereka berempat hanya hanya Rei yang masih pengantin baru. Tapi sebentar lagi gelar itu akan berpindah ke pasangan Mawar dan Rangga.
Ardan, Beni, Fero dan Dirga sudah bergabung kembali dengan para istri. Mereka lalu mendekati istrinya masing-masing.
Ardan dan Rei, Beni dan Fani, Fero dan Desi, serta Dirga dan Gea. Empat pasang suami istri itu mendekati kedua mempelai. Mereka akan mengambil foto bersama.
Beberapa gaya dalam pengambilan foto, mulai dari gaya formal yang menampakkan wibawanya masing-masing, sampai gaya acakadul yang mengundang tawa.
"Sayang sekali Fino tidak hadir disini, tentu akan seru jika dia bisa datang." Ucap Beni.
Memang seharusnya Fino hadir disini bersama mereka, sayangnya dokter ganteng itu harus mengikuti seminar di luar kota.
Setelah berfoto dengan pengantin, mereka kembali ke mejanya. Menikmati hidangan yang belum mereka sentuh karena sibuk berfoto ria.
"Dan, gimana nyonya mu sudah isi belum?" tanya Beni.
Ardan menggeleng, kemudian menoleh kearah istrinya. Merangkul Rei dan memberinya kecupan di kening istrinya. Rei tersipu malu, Baru kali ini Ardan bersikap mesra padanya diluar.
Biasanya hanya sebatas anggota keluarganya saja Ardan berani bermesraan dengan istrinya. Ternyata Ardan tidak mau ketinggalan dengan ketiga temannya yang sangat memanjakan istri mereka.
Mereka tidak malu menunjukkan kemesraan dimana pun. Karena bagi mereka itu suatu pengakuan, walaupun ada yang tidak suka melihat kemesraan mereka.
"Belum, sementara ini kita masih ingin menikmati waktu berdua dulu." Ardan masih merangkul istrinya.
__ADS_1
Pemandangan yang amat langka bagi mereka, karena Ardan tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap mesranya pada Maya ketika mereka masih bersama.
Sikap Ardan menunjukkan bagaimana pria kharismatik ini sudah menjadi budak cinta Rei istrinya.
Pasangan lain yang ada di depan Ardan dan Rei hanya bisa mengulum senyum. Mereka turut bahagia melihat Ardan dan istrinya bahagia.
"Ya betul, nikmati dulu waktu kalian berdua sebaik mungkin. Karena kalau sudah ada anak, dipastikan waktu kalian akan berkurang." Fero menanggapi.
"Tapi jangan berhenti berusaha ya, hahaha.." Desi ikut nimbrung.
"Ya biar bisa segera nyusul kita" Gea tersenyum sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit.
"Jadi sudah isi nih, wah selamat ya bro" Ardan menyalami Dirga dan Gea, disusul teman lainnya.
"Akhirnya penantian selama dua tahun membuahkan hasil ya." Ucap Fani pada Gea, ikut mengelus perut ibu hamil itu.
Rei tidak mau kalah, mengucapkan selamat dan mengelus perut Gea. Siapa tahu dirinya bisa segera menyusul mereka.
"Kalau boleh saran nih, jangan digempur terus bro. Kasih jeda lah biar istirahat, kasihan bini lu" Fero melirik ke arah Rei yang tertunduk malu.
"Lah iya, digempur mulu ga dikasih rehat juga ga mempan, lagian biar ada kangennya gitu." Dirga ikutan menggoda Ardan yang menggeleng kepala karena ucapan temannya yang ga pake filter itu.
Mereka semua tertawa, Rei dan Ardan saling berpandangan. Senang rasanya berada diantara orang-orang yang sefrekuensi, saling support dan menjaga satu sama lain.
"Dan satu lagi, ingat usaha tanpa doa itu tak akan sempurna, doa tanpa usaha juga akan sia-sia." Ucap Beni lagi.
Diantara mereka, Beni dan Fani lah yang lebih dulu menikah setelah lulus SMA. Karena Beni sudah tanam saham lebih dulu.
Anak-anak mereka sekarang beranjak remaja, putra dan putri mereka lahir berselang dua tahun.
Meski menikah muda tapi mereka berdua tidak malu bahkan berusaha menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak mereka.
Lain halnya dengan Fero dan Desy, mereka menikah tiga tahun lalu, langsung hamil dan kembar. Sekarang anak-anak mereka sudah bisa berjalan, dan sedang lucu-lucunya.
Dan sekarang Gea dan Dirga yang akan segera menyusul mereka. Rei dan Ardan berharap tak lama lagi mereka akan menyusul kawan-kawan mereka.
"Kami doakan agar kalian sehat, dan kami menunggu kabar baik dari kalian berdua." Fani mendoakan Ardan dan Rei yang lainnya ikut mengamini.
__ADS_1
Bersambung