
Penghulu sudah siap ditempat, calon mempelai pria juga sudah tiba, keluarga mempelai berdua juga sudah duduk ditempat yang disiapkan.
Diantara tamu undangan yang sebagian besar adalah keluarga besar kedua mempelai, ada seseorang yang tampak tidak tenang disana.
Acara ijab kabul berlangsung khitmad, dengan sekali tarikan napas Ardan berhasil mengucapkan ijab kabul. Semua orang tersenyum bahagia, mereka lega akhirnya Ardan menyelesaikan rasa gugupnya.
Berbeda dengan tamu yang lain, orang yang sedari tadi diam dan mengepalkan tangan berdoa semoga ijab kabul ini gagal, tak bisa berkutik.
Pupus sudah harapannya untuk memiliki Rei kembali, apalagi saat melihat Rei yang begitu cantik dengan kebaya putihnya, tersenyum bahagia dengan orang yang kini sudah resmi mempersuntingnya.
Ardan lah pemenangnya, pemilik hati Rei dan Elang harus mengakui itu. Elang awalnya tidak ingin menghadiri akad nikah orang yang dia cintai, tapi demi meyakinkan hatinya siapakah lelaki yang dengan berani melamar Rei menjadi istrinya.
"Aku kalah Rei, aku akui itu. Maafkan aku, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, dan Ardan orang yang tepat. " batin Elang.
Sudut matanya tampak basah, dia turut bahagia menyaksikan mereka. Rei dan Ardan sudah menandatangani buku nikah, Rei mencium tangan Ardan takdzim, dan Ardan mencium pucuk kepala Rei, dan semuanya terekam kamera.
###
Ucapan selamat mengalir dari seluruh keluarga. Ardan tampak gagah mengenakan atasan putih senada dengan Rei.
Senyum bahagia terukir dari wajahnya, tak bosen melihat wajah cantik disampingnya. Ardan beberapa kali terlihat menggodanya, semburat merah mudah langsung terpampang pada pipi Rei.
Beberapa kali Rei dibuat salah tingkah. Untung saja acara hari ini hanya akad nikah dan seserahan jadi tidak begitu lama.
Menjelang sore semua kerabat dari papa dan mama Rei berpamitan, tapi masih ada beberapa yang tinggal.
Mama dan Papa menemani kerabat jauh yang jarang ketemu, mumpung ada acara seperti ini jadi tak ada salahnya jika menemani mereka.
Keluarga Ardan dan juga keluarga Pak Hadi sudah tak nampak disana, mereka sudah berpamitan tadi. Meski Rei masih kangen dengan kedua orangtua Anton, tapi dia tak boleh egois. Mereka juga harus beristirahat, dan memilih untuk menginap dirumah Rei.
Mbak Minah yang tadi juga ikut datang ke acara bersama suami dan anaknya ikut senang karena akhirnya Rei dan Ardan bisa menikah.
Sesekali mbak Minah menggoda Rei bahkan tadi sempat berbisik pada Rei.
"Mbak Rei, selamat ya. Saya senang akhirnya mbak Rei menikah juga." Mbak Minah memeluk Rei, air matanya menetes.
Dia terharu, meski baru saja bekerja pada Rei tapi lewat cerita ibu mertuanya mbak Minah tahu semua, bagaimana terpuruknya Rei dulu.
__ADS_1
Memang sebelumnya dia bekerja pada keluarga Pak Hadi, tapi karena almarhum membeli rumah dan berniat menempatinya jika sudah mendapat ijin mutasi akhirnya mbak Minah diminta pindah kesana.
Memang awalnya berat karena jauh dari kampung halamannya, apalagi suaminya waktu itu masih baru bekerja di sebuah toko elektronik.
Pak Hadi dan istri berhasil meyakinkan nya dan suami bahwa mereka akan diberikan pekerjaan di kota ini. Karena koneksinya pak Hadi gampang mendapatkan pekerjaan untuk suami mbak Minah.
Laki-laki yang hanya lulusan SMA itu akhirnya bekerja di toko elektronik terbesar dikota ini. Mereka juga menempati rumah kecil peninggalan orang tua pak Hadi yang sudah lama kosong.
Rei menerima bungkusan kecil dari mbak Minah, Rei penasaran dengan isinya tapi mbak Minah bilang jangan dibuka dulu, tunggu nanti malam sebelum tidur.
Meski rasa ingin tahunya besar tapi Rei bisa menundanya. Dia memasukkan bingkisan itu kedalam saku baju suaminya.
Malampun datang, setelah membersihkan diri masing-masing mereka lalu berkumpul untuk makan malam.
Hanya tersisa keluarga inti Rei disana, rumah yang awalnya rame dan penuh sesak jadi lengang kembali.
Makan malam dengan menu yang sama dengan tadi siang, bedanya kali ini Ardan meminta beberapa menu ikan bakar sebagai tambahan lauknya.
Sesekali bercanda, Rei habis-habisan dikerjai oleh kakak-kakaknya. Ardan pun tak luput, bahkan mama yang awalnya hanya tersenyum akhirnya tak tahan untuk menggoda pengantin baru tersebut.
Hanya papanya yang tidak ikutan, pak Fauzi memilih beristirahat dikamarnya. Kesehatannya sedikit menurun akhir-akhir ini, tapi keluarganya tak ada yang tahu.
Selesai makan malam Rei dibantu oleh keponakan-keponakannya membuka beberapa kado dari teman-temannya.
Anak kecil paling suka jika diajak buka kado, mereka pikir sedang ulang tahun, senang sekali mencari kado yang besar untuk dibuka lebih dulu.
###
Selesai buka kado, Rei menemani keponakannya tidur dikamar tamu, karena mereka sudah sangat kelelahan setelah seharian menjadi dayang cilik.
Berpamitan pada kakak dan mamanya Rei lalu menyusul suaminya di kamar. Aroma bunga semerbak, kelopak mawar bertebaran disekitar ranjangnya.
Ardan sudah rebahan disana, kepalanya bertumpu pada kepala ranjang. Memegang hape nya dan sesekali tersenyum membaca komen dari teman kontaknya.
"selamat ya, abis ini belah duren"
"Wah yang sudah sah, ga sabar unboxing ya bro"
__ADS_1
"Ingat bro, jangan dihabisin sekarang semua, besok masih panjang."
"Buka puasa nih ye, hajar bro"
"Ga usah main sabun lagi Dan, langsung hajar"
"Pepet terus, jangan kasih kendor"
"Ingat umur, segera bikinkan kami ponakan yang lucu dan banyak."
"Kalo ga kuat bilang bro, kita kasih resepnya"
"Ingat masuk 1 kalem aja, kalo sudah masuk gigi 3 baru gas poooollll"
dan masih banyak lagi, benar-benar mereka membuat Ardan panas dingin. Awas aja kalo ada yang komen lagi.
Rei selesai membersihkan mukanya dan memakai skincare. Tapi saat melihat Ardan yang tak bisa menahan tawa, akhirnya mendekat.
"Apaan sih, kayaknya seru amat" Rei mendekati suaminya.
Ardan akhirnya menangkap tangan Rei dan mendekap istrinya, memeluk dan menghujaninya dengan ciuman.
Dia kemudian memperlihatkan isi chat grup yang membuatnya tertawa. Rei ikut tertawa, pipinya tampak semburat merah muda. Malu...tapi dia sudah sah jadi milik Ardan sekarang.
"Bolehkah?" Ardan menoleh, melihat istrinya yang malu-malu.
Anggukan Rei adalah jawabannya, Yes..teriak Ardan dalam hati.
"Aku sudah sah jadi milik mas, dan semua yang ada padaku adalah milikmu" blus Rei kembali malu-malu setelah mengucapkannya.
Ardan yang mendapat lampu ijo langsung mendekati Rei, memberikan rangsangan dengan mencium pucuk kepalanya, lalu turun ke kelopak mata, pipi, hidung dan mendaratkan bibirnya di bibir mungil dan merah itu.
Keduanya saling membalas, mengabsen isi rongga mulutnya, mengecap dan melu***. ******* terdengar disana. Suasana kamar jadi panas seketika, tampaknya ac kamar itu mendadak rusak.
Masih saling membalas dan kemudian sama-sama polos, tak lagi ada sehelai benangpun ditubuh mereka.
Seolah melepas dahaga, mereka berdua menikmati malam pertamanya dengan syahdu.
__ADS_1
Ardan benar-benar memanjakan Rei, mereka tak mau melewatkan sedetikpun saling mengabsen anggota tubuh masing-masing.
###