Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
101. Kamu kenapa sayang?


__ADS_3

Acara tujuh bulanan Rei akan diisi dengan pengajian dan juga santunan untuk anak yatim seperti permintaan Rei.


Ardan pun menyetujuinya, karena baginya apapun yang istrinya inginkan selama itu baik bagi dirinya dan tidak mengganggu orang lain, Ardan pasti mendukungnya.


Rei dan Ardan juga sudah mengatakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtua nya, mereka juga mendukungnya.


Setelah acara pengajian empat puluh hari meninggalnya papa, Rei sudah mengatakan keinginannya tersebut pada sang mama dan juga kakaknya, Dani.


Mereka juga mendukung Rei, meski tak semeriah acara Dina buat Rei itu tidak masalah. Karena memang Rei sendiri yang menginginkan nya, Rei masih memikirkan kondisi mamanya, jika terlalu banyak rangkaian acara dipastikan mama akan capek.


Sejak papa meninggal mama memang tidak banyak beraktivitas seperti saat papa masih ada. Sekarang mama lebih mudah mengeluh capek.


Rei dan Dani memakluminya, puncaknya setelah acara pengajian empat puluh hari meninggalnya papa, mama terlihat pucat.


Rei akhirnya minta tolong pada sahabat Ardan suaminya, sekaligus sepupu Anton yang berprofesi sebagai dokter untuk memeriksakan keadaannya.


Ternyata mama memang tidak baik baik saja, tekanan darahnya turun dan dia terlihat kelelahan.


Karena itu Rei minta kepada mertuanya untuk tidak terlalu banyak tamu undangan juga. Acara tujuh bulanan yang Rei mau hanya pengajian dan santunan anak yatim serta siraman.


Rei tidak mau ada ceramah agama seperti di acara Dina dulu. Dan meskipun mama Ardan sedikit kecewa, tapi beliau menghormati keinginan menantunya tersebut.


Ardan juga sudah menjelaskan mengapa Rei menolak permintaan mamanya untuk mendatangkan penceramah.


Termasuk masalah kesehatan mama Rei dan akhirnya kedua orang tuanya pun mengerti. Tanggal pelaksanaan acara tujuh bulanan sudah pasti, beserta pendukung acaranya.


###


Hari ini acara tingkepan Rei pun berlangsung khidmat, meski tidak semeriah milik Dina tapi Rei bersyukur semua berjalan dengan baik.


Semua orang juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Rei beristirahat dikamarnya, badannya terasa lelah sekali padahal seharian ini dia lebih banyak diam.


Rei terlihat lemah dan pucat, tapi karena tersamarkan dengan makeup banyak yang tidak menyadarinya.


Ardan tidak mengganggu istrinya karena memang dia butuh istirahat, Ardan masih membereskan sisa acara tadi siang.


Setelah mengunci semua pintu, Ardan lalu menyusul istrinya ke kamar. Dia juga harus mengistirahatkan dirinya sebelum kembali beraktifitas esok hari.

__ADS_1


Begitu masuk kamar Ardan dibuat kaget saat melihat istrinya menggigil kedinginan, padahal tidak menyalakan pendingin ruangan.


Ardan langsung mendekati istrinya dan menyentuh keningnya, suhu tubuh Rei tinggi sekali. Ardan panik, tidak biasanya istrinya begini.


Dalam keadaan panik Ardan mencoba tenang, agar tidak salah mengambil tindakan. Hal pertama yang dia lakukan adalah menelepon orang tuanya.


Mama jelas lebih tahu tentang hal seputar kehamilan, dan disaat seperti ini hanya mama yang bisa diajak diskusi.


Panggilan telepon pertama tidak diangkat, mungkin mamanya sudah beristirahat. Ardan melirik jam dindingnya, masih pukul sepuluh malam.


Ardan mencoba sekali lagi menghubungi nomor telepon mama, belum juga diangkat. Baru setelah panggilan yang ketiga kalinya mama menjawab teleponnya.


"Halo... " jawab suara diseberang


"Assalamualaikum ma, mama bisa tolong Ardan." Ardan terus memperhatikan istrinya, memegang tangannya.


"Kenapa Dan? malam malam begini telepon" mama tidak sabar, tidak biasanya Ardan menelponnya malam malam malam.


Rei masih menggigil kedinginan. Ardan pun menjelaskan kondisi Rei, setelah berbicara panjang lebar, Ardan akhirnya membangunkan bibi yang baru saja berniat memejamkan mata.


Ardan memanggil bibi dan menyuruh bibi untuk membukakan pintu, karena Ardan akan membawa Rei ke rumah sakit saat itu juga sesuai saran mamanya.


Papa menyetir sendiri mobilnya, dan mama meminta bibi untuk stand by dengan hand phone nya agar jika diperlukan bisa langsung diangkat.


Papa dan mama Ardan melajukan mobilnya ke arah rumah sakit, karena jalanan terlihat lengang mereka bisa cepat sampai di rumah sakit.


Sampainya disana, Ardan ternyata belum sampai karena mobilnya tidak terlihat. Papa meminta perawat menyiapkan brankar agar jika Rei sampai bisa langsung ditangani.


Benar saja tak lama kemudian mobil Ardan terlihat memasuki pelataran parkir rumah sakit. Ardan menghentikan mobilnya persis didepan pintu masuk IGD, papa mama dan dua orang perawat sudah siap disana.


Ardan menurunkan istrinya yang masih ada dalam gendongan nya ke atas brankar, perawat lalu membawa Rei ke ruangan untuk segera ditangani.


Ardan terlihat panik, papa dan mama juga menunggu didepan ruangan. Bibi yang sejak tadi menemani Ardan membawakan tas berisi pakaian majikannya juga di duduk dikursi ruang tunggu.


Cukup lama Ardan menunggu hasil pemeriksaan istrinya. Ardan mulai kuatir dengan kondisi istrinya.


Dokter jaga malam itu keluar dari ruang periksa mengatakan kondisi Rei sudah lebih baik, dia mengalami demam tinggi.

__ADS_1


Untuk pastinya mereka menunggu hasil pemeriksaan laboratorium karena tidak ingin gegabah menangani.


Sementara Rei akan dibawa ke ruang perawatan agar lebih nyaman, Ardan, papa, mama dan bibi mengikuti dari belakang.


Setelah masuk ke kamar perawatan, Rei sudah dipasangi infus ditangan kirinya. Rei terlihat lemas dan pucat, Ardan tak tega melihat kondisi istrinya.


"Kamu kenapa sayang?" Ardan mengelus kepala istrinya, dia juga memberikan banyak kecupan untuk istrinya.


Rei tidak sadarkan diri efek demam tinggi yang dialami nya. Tentu saja dia tidak mendengar apa yang suaminya katakan.


Papa dan mama mendekat, tak tega melihat kondisi menantunya. Mereka berniat menginap disini malam ini menemani Ardan.


Bi Minah meletakkan tas berisi baju milik nyonyanya, yang tadi dibawanya. Bibi juga meletakkan tikar yang juga dibawanya untuk alas duduk.


Kamar perawatan Rei adalah kamar kelas VIP karena Ardan tidak ingin privasinya terganggu. Disana sudah ada sofa tapi bibi sengaja membawa tikar menjaga jaga takut banyak tamu menjenguk nyonya nya.


Dokter kembali lagi ke ruangan Rei, dengan membawa hasil lab dan mengatakan bahwa Rei terkena demam berdarah.


Dokter juga menunjukkan bintik merah pada kulit pasien. Semua yang ada dalam ruangan itu tercengang.


Bagaimana bisa Rei terkena demam berdarah, padahal tadi saat acara tidak menunjukkan tanda apapun.


Ardan semakin mengeratkan genggaman tangannya, dia merasa gagal menjaga istrinya karena lalai hingga kini harus di rawat inap.


Papa yang tahu Ardan sedang bersedih dengan kondisi istrinya yang tiba tiba saja jatuh sakit, menepuk pundak anaknya. Mencoba memberi semangat agar tidak terlarut dalam kesedihan.


Dia harus kuat agar bisa menemani istrinya, dan memberikan semangat agar cepat sembuh.


Setelah mendengar semua penjelasan dokter mereka lalu beristirahat karena jam sudah menunjukkan tengah malam. Tubuh mereka juga butuh istirahat.


Besok pagi Rei akan diperiksa kembali oleh dokter dan juga dokter kandungan yang menangani.


Ardan membiarkan kedua orang tuanya untuk beristirahat, sedangkan dia sendiri masih setia menunggu istrinya sadar, sambil sesekali memeriksa suhu tubuhnya.


Dokter mengatakan jika pasien mengalami mual dan muntah untuk segera memberitahu perawat.


Dan tiap satu jam akan ada perawat yang memeriksa suhu tubuh pasien, karena Rei masih mengalami fase demam tinggi. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil.

__ADS_1


###


Bersambung


__ADS_2