
Mama sudah pulang sejak sore tadi dijemput oleh papa yang juga ingin melihat calon cucu baru nya.
Mama sangat antusias menceritakan bagaimana hasil pemeriksaan USG dan menunjukkan fotonya.
Papa tersenyum, dan berdoa semoga ibu dan calon bayinya sehat selalu. Setelah mereka makan bersama mama dan papa pamit pulang.
Mereka meninggalkan salah satu pelayan dirumah mama untuk tinggal disana, meski Rei menolak tapi mama tetap pada prinsipnya, dan beliau tidak suka dibantah.
Rei pun pasrah, daripada dia kena omel mama mertuanya. Tapi ada untungnya juga, jadi dia bisa fokus pada kehamilan nya.
###
Rei memang tidak diperbolehkan banyak melakukan kegiatan yang bisa membuatnya capek, tapi bukan berarti dia harus seharian bermalas-malasan.
Rei hanya tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah yang berat seperti mengepel dan menyetrika seperti biasa, kalau mencuci Rei sudah menggunakan mesin cuci seperti kebanyakan orang.
Tapi sejak ada bibi dirumah semua pekerjaan itu diambil alih bibi, hanya untuk daerah privasinya seperti kamar tidur dan ruang kerja suaminya masih Rei yang mengerjakan.
Karena Rei tidak suka ada yang memasuki area pribadinya meskipun itu orang dekatnya. Dan bibi memaklumi itu.
Untuk memasak Rei masih sering memasak sendiri hanya sesekali bibi yang meneruskan jika nyonya nya sudah kelihatan letih.
Sudah dua hari Rei hanya tiduran dikasurnya, dia seolah enggan beranjak dari sana. Bahkan Rei juga tidak mau keluar rumah saat siang hari, dan hanya mau mandi dengan air hangat.
Padahal dia dulu sangat menjaga kebersihan, Ardan sampai heran. Tapi mama mengatakan jika itu mungkin bawaan bayi. Ardan harus bersabar menghadapinya selama kehamilan.
Terkadang Rei hanya ingin makan dikamar dan Ardan atau bibi membawakan makanan nya ke kamar.
Rei dan Ardan masih menempati kamar tamu dilantai bawah, karena lebih dekat dengan dapur dan juga kamar tidur bibi, jadi jika butuh sesuatu akan cepat membantunya.
Rei sedikit aneh dengan kebiasaannya akhir-akhir ini, mama Rei dan kakaknya Dani sering mengunjunginya dirumah jika tidak ikut suaminya keluar kota.
Mereka ikut bahagia dengan kabar kehamilan Rei. Meski mereka pun merasa aneh dengan kebiasaan Rei sekarang. Tapi mereka memaklumi karena kehamilan tiap orang berbeda.
__ADS_1
Mama Ardan dan juga Dina beserta putrinya juga sering menemaninya dirumah sejak Rei malas keluar rumah.
Jika dulu Rei sering menemani Dina kemanapun dia pergi, sekarang gantian Dina lah yang menemani kakak iparnya dirumah.
Rei masih sering mengalami morning sick tapi tidak separah sebelumnya. Makanan yang masuk ke perutnya juga perlahan bisa dicerna meski tetap akan dia keluarkan lewat muntah.
Ardan sebenarnya tidak tega, tapi dia juga tidak tahu harus bagaimana. Yang bisa dia lakukan hanya menemani istrinya dan memantau istrinya saat minum obat.
Jika Ardan sibuk di kafe atau restoran, dia akan menelepon bibi untuk mengawasi istrinya makan dan minum obat.
Setelah makan malam Ardan dan Rei duduk diruang tengah sambil menonton teve, mama Rei tadi menitipkan beberapa kue untuk Rei. Mereka menikmati kue itu bersama.
Rei juga membaginya dengan bibi, karena bibi belum pernah mencicipi kue buatan mamanya, apalagi kue itu juga terlalu banyak jika hanya mereka nikmati berdua.
Tadi siang saat masih ada di kantornya, mama
menelepon Ardan untuk mampir kerumah sebelum pulang, mama mendapat pesanan kue basah dari tetangga dekat rumah untuk acara lamaran putranya.
Kak Dani dan kedua putri nya ikut membantu mama, dan juga memberikan beberapa untuk Rei karena tahu itu kue kesukaannya.
Ketika sampai dirumah mertuanya Ardan masih diajak bermain oleh kedua keponakannya. Papa Rei tidak tampak disana, kata mama papa sedang kurang sehat sejak beberapa hari ini.
Ardan lalu pamit untuk menemui papa mertuanya, Ardan tahu hubungan mereka berdua memang tidak terlalu akrab. Ardan memaklumi, mungkin masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Rei.
tok tok tok
Ardan mengetuk pintu kamar mertuanya, dia takut mengganggu istirahat papa mertuanya. Setelah ada jawaban dari dalam kamar Ardan lalu membuka pintu dan masuk ke kamar.
Papa menoleh, dia tahu yang mengetuk pintu pasti menantunya karena istri dan anaknya tidak pernah mengetuk pintu, mereka biasanya akan langsung masuk setelah memanggil papa nya.
Papa menyuruh Ardan mendekat, dan duduk disisi ranjangnya. Ardan menurut, saat melihat kondisi papa mertuanya yang lebih kurus dari terakhir mereka bertemu sepulang mereka dari luar kota.
Mereka lalu berbincang cukup lama, banyak yang papa sampaikan pada Ardan. Papa juga meminta Ardan untuk menjaga Rei, dan juga mencintainya sepenuh hati, karena Rei sudah dua kali mengalami kegagalan rumah tangga.
__ADS_1
Apalagi pernikahan terakhirnya masih menyisakan perih dihati papa Rei karena beliau yang meminta Rei untuk menikah dengan pilihannya.
Papa merasa bersalah karenanya, Ardan tahu itu semua sudah takdir yang harus Rei jalani. Dan Ardan tidak masalah dengan status Rei, bahkan Ardan bersyukur bisa mengobati sakit hati dan trauma Rei karena pernikahannya terdahulu.
Mama tahu banyak yang ingin papa bicarakan dengan Ardan menantunya. Jadi baik mama maupun Dani tidak ada yang berani mengganggunya.
Setelah cukup lama kedua lelaki berbeda generasi itu berbicara empat mata didalam kamar, keduanya lalu keluar menuju ruang makan.
Papa mengajak istri dan anak-anaknya makan bersama, meski tanpa Rei karena papa tidak ingin Rei tahu kondisinya hingga akan menyebabkan Rei sedih dan akan mempengaruhi kehamilannya.
Setelah makan bersama sore itu Ardan lalu pamit karena Rei pasti akan mencarinya, dan Rei akan curiga jika tahu Ardan ada dirumah Rei sekarang.
###
Menginjak pukul sepuluh malam, pasangan suami istri itu akhirnya masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.
Ardan memeluk istrinya dan mengusap perut datar istrinya yang sekarang sudah ada calon bayi mereka.
Ardan juga menciumi perut Rei, Rei tersenyum sekaligus merasa geli. Padahal Ardan sering melakukannya ketika mereka bersama.
Rei mengusap rambut suaminya saat Ardan menundukkan kepalanya dan menciumi perut istrinya berkali-kali.
"Sayang, kamu tahu aku sangat bahagia. I'm gonna be a father. Aku akan jadi daddy."
Ardan sekali lagi menciumi perut Rei dan mengusapnya lembut. Rei juga tak dapat menutupi rasa bahagianya, melihat suaminya bahagia seperti ini membuat Rei teringat dengan kedua mantan suaminya.
Masing-masing memiliki kisahnya sendiri, dan Rei tak bermaksud membandingkan mereka bertiga.
Bagi Rei hidupnya saat ini sudah sangat sempurna, memiliki suami yang mencintainya dan menerimanya apa adanya. Memiliki keluarga besar dan teman-teman yang menyayanginya, dan sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak.
Rei meneteskan air mata bahagia, semoga kebahagian ini akan selalu bersamanya.
###
__ADS_1
Next