Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
32. Tante Cantik


__ADS_3

Hari ini semua peserta workshop chekout dari hotel, beberapa dari mereka terlihat membereskan barang bawaannya. Terutama yang berasal dari luar kota, terlihat bertambah banyak dengan oleh-oleh khas yang dibeli.


Tapi ada juga yang masih menikmati hari terakhirnya dengan wisata kuliner dan pergi ke tempat wisata. Mumpung disini ya kan, jadi nikmati waktu karena sampai di rumah mereka akan kembali ke rutinitas semula.


Rei yang sedari awal hanya ingin membeli makanan khas malah tak terlihat membawa apapun, setelah berpamitan pada teman sekamar dan teman satu rombongannya, dia akhirnya mengikuti Ardan yang pulang lebih dulu.


Meninggalkan hotel mereka menaiki mobil menuju sebuah rumah di salah satu kawasan elit disana. Tampak rumah minimalis yang sudah direnovasi karena sedikit berbeda dengan deretan rumah lain di kompleks perumahan itu.


Ya, mereka hari ini memenuhi undangan Fahri dan istrinya untuk singgah sebelum pulang ke kotanya. Melihat ada mobil yang berhenti di depan rumahnya, Tari sang nyonya rumah tampak melihat dari kejauhan. Dia sedang bersama ibu-ibu kompleks yang lain berbelanja di tukang sayur keliling.


Setelah membayar belanjaan nya Tari lalu menuju rumahnya, tampak Fahri sang suami dan juga putri kecil nya sudah menyambut tamu mereka. Setelah mempersilahkan tamunya masuk, Tari kemudian meletakkan belanjanya ke dapur lalu ikut menemani sang suami diruang tamu.


Tak berapa lama seorang wanita paruh baya muncul membawakan makanan dan minuman, mereka berempat tampak menikmati obrolan sampai akhirnya si kecil Gea merajuk. Mungkin karena mengantuk jadinya sedikit rewel. Setelah beberapa kali dibujuk oleh mama dan papa nya, anak kecil itu tetap tidak mau berhenti rewel.


"Aku mau bobok sama tante cantik ma" ucapnya kemudian. Kedua orangtua nya saling berpandangan, permintaan yang sangat jarang sekali Gea inginkan. Karena meskipun keluarga besar Tari memiliki anak kecil, Gea jarang sekali mau lepas dari kedua orangtua nya terutama mamanya. Bahkan kakek nenek nya pun jarang bisa menggendong nya, karena Gea terlalu pemilih dan sedikit pemalu.


Makanya saat mendengar permintaan putrinya, Fahri dan Tari cukup terkejut, berbeda dengan Rei yang sejak awal sudah menyukai anak kecil ini. Dia langsung tersenyum dan mendekatinya, mencoba menggendong nya. Lumayan berat pikir Rei, sama seperti si gembul keponakan nya.


Tak butuh waktu lama, Gea sudah terlihat terlelap digendongan Rei. Fahri yang melihatnya, mendekati istrinya yang tampak membawa botol susu dari arah dapur. Tari lalu mengajak Rei ke kamar tamu di rumah itu, menidurkan Gea di tempat tidur.


"Terimakasih ya, sudah mau menggendong nya. Tapi jadi pegal semua lengannya" ucap Tari terkekeh.


"Iya, gapapa. Gea persis seperti keponakan ku, gembul tapi dia rame berbanding terbalik dengan Gea." Rei mencium pipi montoknya.


Mereka lalu meninggalkan Gea dan kembali berkumpul bersama para lelaki disana.


Sebelum nya saat para wanita sedang berada di kamar tamu, para lelaki juga terlibat perbincangan seru.

__ADS_1


"Calon istrimu sudah siap punya anak bro. Lihat sendiri tadi gimana sikapnya menghadapi anakku yang sama sodaranya sendiri aja ga mau." ucap Fahri sambil menikmati minumannya.


Ardan tergelak, memang dia akui Rei itu tak pernah menolak jika ada anak kecil berada di dekatnya, bahkan dia akan langsung akrab dengannya.


"Padahal mereka hanya bertemu tadi malam, itupun Gea lebih banyak diem.


"Rei memang suka sekali sama anak kecil, kedua keponakan nya malah sangat dekat dengan nya melebihi mamanya.


Fahri mengangguk, Dia yakin jika nanti Ardan dan Rei menikah pasti Rei akan bisa mengurus anaknya dengan baik. Bahkan mungkin lebih memilih resign dari pekerjaannya seperti istrinya.


Sebelum bertemu dengan Rei, Ardan pernah bercerita tentang masa lalu Rei pada Fahri. Bahkan dia mengakui kalau sudah lama tertarik pada Rei saat masih menyandang istri dari pengacara itu.


Fahri tidak mau memberikan penilaian tanpa tahu orangnya terlebih dahulu. Tapi setelah bertemu semalam dan bahkan hari ini melihat sendiri bagaimana sikap Rei menghadapi anaknya, Fahri yakin Ardan tidak salah memilih pasangan.


Berbeda dengan mantan pacar Ardan saat kuliah dulu. Dia bahkan terang-terangan memilih putus daripada harus melepas kesempatan berkarir sekaligus menimba ilmu di negeri orang. Sehingga hubungan yang terjalin selama lima tahun itu harus kandas. Dan akhirnya Ardan memilih kembali ke kota kelahirannya dan membuka usaha disana.


Setelah Tari kembali mereka lalu bersantap siang bersama. Makan siang yang sederhana tapi nikmat, karena suasana kekeluargaan yang akrab. Ardan memutuskan untuk meneruskan perjalanan pulang ke kotanya. Karena menyetir sendiri otomatis dia memilih mengemudi dengan tenang dan santai, apalagi sekarang sudah ditemani wanitanya.


Mereka pun berpamitan, saling berpelukan antara Rei dan Tari, serta Ardan dan Fahri. Sebelum meninggalkan rumah Fahri, Rei menuju kamar tamu dimana Gea tidur. Kembali mencium wajahnya dengan gemas. Saat di depan pagar, bi Surti terlihat sedikit berlari mendekati majikannya.


"Kenapa bi?" tanya Tari saat melihatnya.


"Ini bu, oleh-oleh yang kata ibu buat temannya bapak nanti."


"Oh iya, makasih ya bi. Untung bibi ingat kalau tidak sayangkan jika dikirim lewat ekspedisi." ucap Tari spontan. Mereka tertawa mendengarnya.


"Aduh padahal anak baru satu tapi kenapa istrimu jadi pelupa begini bro" goda Ardan.

__ADS_1


"Ini masih mending, kadang aku ditinggal di pasar sendirian, eh dianya malah sudah dirumah lagi masak. Parah kan?" lirih Fahri tapi masih bisa didengar.


"Gapapa bro, masih mending daripada dia lupa kalau kamu suaminya."


"Waduh, jangan sampe itu terjadi bro. Bisa karatan si dul kalau kelamaan dilupain sama sarangnya." Tak pelak cubitan berlabuh di perut Fahri, siapa lagi kalau bukan milik istrinya tercinta.


"Aawww..." Semua tertawa melihat tingkah bapak satu anak itu.


"Ya sudah aku pulang ya, terimakasih atas jamuannya. Sampai jumpa lagi, dan kali ini gantian kamu yang datang ke kotaku."


"Beres tenang aja, kita usahain hadir. "


€€€€


Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tapi Ardan tidak mempermasalahkannya selama wanitanya setia mendampingi. Beberapa kali Ardan berhenti di rest area, baik karena ngantuk, lelah atau kebelet buang air.


"yang, nanti langsung kerumahmu atau kerumahku dulu?" tanya Ardan saat memasuki gerbang kotanya. Perjalanan yang memakan waktu hampir 15 jam lamanya itu benar-benar melelahkan, untung saja ada tol jadi lebih cepat.


Sesekali Rei gantiin Ardan menyetir, saat melihatnya tampak kelelahan. Meski Ardan menolak tapi Rei tetap memaksa karena Ardan juga butuh istirahat.


"Kerumahmu aja ya, boleh? Aku pengen ketemu mama"


"Iya, dia sudah kangen banget sama kamu." Eh tapi kamu kan sudah masuk yang, apa ga sebaiknya pulang kerumahmu aja dulu, nanti pulang kerja baru kerumah" seru Ardan


"Iya pak bos, aku manut aja deh" Ardan lalu mengacak rambut wanitanya merasa gemas sendiri.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Rei, persis saat adzan subuh berkumandang. Mereka lalu masuk membawa barangnya.

__ADS_1


__ADS_2