
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.30 itu artinya sebentar lagi waktu dzuhur, sesuai rencana Rei akan pamit pulang setelah sholat dzuhur.
Setelah berkemas dan membereskan tempat tidur nya, Renita berjalan menuju nakas disamping sofa, meraih pigura dengan foto Anton disana. Senyum itu, masih sama saat pertama kali Rei melihatnya, mengenalnya dan menjadi kekasih hatinya.
Anton tak pernah mati, karena bagi Rei dia akan selalu ada didalam hatinya.
"Mas, Rei sudah dua hari disini, tidur dikamar ini, diranjang ini dan masih merasakan aroma parfummu yang tak akan pernah Rei lupakan." batin Rei, airmata nya menetes.
"Maafin Rei, jika selama ini Rei punya salah sama mas saat masih hidup, yang beberapa tahun terakhir mengabaikanmu, jarang mengunjungi pusara mu, bahkan tidak pernah lagi menghubungi orang tuamu. Tapi Rei janji, mulai hari ini Rei akan sering berkunjung kemari, menemui mas jika Rei kangen." masih terisak sambil mengusap foto itu.
"Dan satu lagi, Rei janji akan memenuhi permintaan terakhir mas bahwa Rei akan mencari pendamping hidup dan mencari kebahagiaan Rei sendiri. Demi Mama, Papa dan mas Anton, Rei akan berusaha."
"Bantu Rei mencari pasangan hidup yang menyanyangi Rei, menyayangi keluarga Rei dan menyayangi keluarga mas Anton. Rei janji akan mengenalkan nya pada mas, papa dan mama."
Airmata disudut matanya masih tersisa, sesak karena pergulatan batin akhirnya tak mampu mempertahankan ego nya.
Renita tahu, hidupnya tidak boleh tergantung pada keluarga Anton, tapi Rei juga tak ingin membuat mereka merasa bersalah karena beban tanggung jawab mereka pada amanat Anton.
Mencium foto itu dan mengusapnya, Renita lalu meletakkan nya ditempat semula. Selamat tinggal, aku akan kembali lagi.
€€€
Membawa tasnya dan meletakkannya di meja makan, Renita mencari keberadaan kedua orangtua barunya. Karena bagi Rei, mereka bukan lagi mertua tapi orangtua kedua nya setelah Papa dan mama kandungnya.
Melihat mama dan papa, sedang berjalan menuju kearahnya, Rei mempercepat langkahnya.
"Ma, pa Rei mau pamit sudah siang biar gantian kena macet dijalan karena besok sudah hari aktif lagi."
"kok cepat ga pulang besok pagi aja" tanya papa Hadi.
"Rei takut kecapekan pa, kalo balik besok langsung kerja. Rei janji liburan akan main lagi kemari."
"Pa, ga boleh gitu. Kasihan Rei, biarlah nanti liburan kesini lagi atau kalau kangen kita aja yang main kesana" ajak mama Suci
"Nah, benar pa. Sesekali papa main kerumah, papa dan mama pasti senang."
" Baiklah nanti kita atur jadwalnya" papa Hadi tersenyum.
"Ayo makan dulu biar ga masuk angin" ajaknya kemudian.
€€€
"Pa, ma Rei pamit. Papa dan mama jaga kesehatan. Rei janji akan sering menghubungi mama dan papa." Rei meraih tangan papa dan mama bergantian. Tak lupa mereka mencium kening dan pipinya selayaknya putri mereka sendiri.
"Rei juga hati-hati dijalan, kalau capek atau ngantuk berhenti di rest area. Jangan maksa nyetir, oke" pesan papa.
"Siap bos" memberi hormat, mereka pun tertawa.
"Rei ingat pesan papa, buka hatimu, raih bahagiamu nak" Rei menganggukkan kepalanya.
"Rei janji, nanti akan Rei kenalkan pada papa dan mama jika sudah dapat yang cocok. Doain ya ma, pa"
"Ya sudah hati-hati, oiya mah Bungkusan yang tadi papa bawa mana? Kasih Rei mumpung ingat" tanya papa
Mama Suci mengambil bungkusan diatas meja makan, dan membawakan ke mobil Rei.
"Ini apa pa?" tanya Rei
__ADS_1
"Tadi dikebun para pekerja memetik buah naga, berikan pada mama papa buat oleh-oleh. Eri juga harus banyak makan buah ya biar makin cantik, biar papa bisa segera punya menantu lagi." goda papa Hadi.
Mama Suci dan Rei hanya tersenyum, Rei meletakkan bungkusan tersebut di jok samping dan menyalakan mobilnya.
"Ma, pa makasih ya sudah menerima Rei sebagai anak kalian. Rei sayang mama dan papa seperti orang tua kandung Rei."
"Hei sayang... kita adalah keluarga, selamanya akan jadi keluarga. Kamu sudah kami anggap putri kami sendiri sejak bertemu dengan Anton. Meskipun Anton sudah tidak bersama kita, kamu tetap jadi putri kami."
Saling berpelukan, merasakan kasih sayang yang tulus dari kedua orangtua nya, Rei bahagia.
"Rei berangkat, assalamualaikum" melajukan mobilnya pelan meninggalkan rumah itu.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya. Besar harapan mereka Rei akan membuka hati dan mendapat pendamping hidup nya.
€€€
Selama perjalanan Rei memutar lagu dari Radio, sesekali ikut menyanyikan lagu yang dia dengar. Mobilpun melaju dalam kecepatan sedang jadi Rei tidak terlalu terburu-buru meski diperjalanan sudah mulai rame lalu lintasnya.
Mendekati rest area, Rei memilih menepi dan memasuki kawasan rest area, mau mengisi bahan bakar sekaligus istirahat sejenak.
Setelah memarkirkan mobilnya dan memastikan sudah terkunci, Rei berjalan memasuki salah satu restoran cepat saji. Memesan segelas cappuccino dan makanan ringan, sambil menunggu pesanannya datang Rei membuka aplikasi jejaring sosialnya.
Memotret kunci mobil dan mempostingnya di laman instagram nya.
"Sendiri itu ternyata ga asyik" caption yang ditulis nya. Rei tersenyum, pasti setelah ini akan rame komentar.
Dan yap... seperti dugaannya satu persatu sahabatnya mulai berkomentar disana, lucu memang hanya dengan sedikit caption maka tanggapan berbeda akan dia dapat.
Menyeruput cappuccino nya dan sesekali makan camilan yang dipesannya, Renita mulai membalas komentar teman-teman di laman IG nya. Tampak seru sekali
Tak jauh dari sana, ada seorang pria yang juga masuk ke restoran itu, matanya memutari seluruh ruangan mencari tempat kosong. Dan menempati bangku kosong sebelah kanan Renita.
Memesan dua cangkir kopi arabica, dia pun menjelajah dunia maya. Setelah pesanannya datang dan orang yang ditunggu juga duduk disampingnya, si pria ini akhirnya menuju toilet.
Tak lama kemudian didepan pintu toilet tampak ada keributan kecil.
"Maaf, saya duluan sudah kebelet." kata seorang ibu muda yang tampak terburu-buru.
"Ga bisa gitu mbak, antre dong. Mbak ini dari tadi sudah antre, giliran mau masuk malah diserobot." ketus seseorang
"Gapapa mbak, biar saya tunggu toilet berikutnya." jawab Renita
"Tuh kan mbak, dia aja gapapa kenapa mbak yang sewot sih?" jawab si ibu muda tadi tak kalah ketusnya.
"Mbak, jangan mentang-mentang berduit bisa seenaknya ya. Main serobot aja, dasar songong" jawab si mbak yang tadi.
"Eh ngapain sih kamu ikut-ikutan, diam napa?" masih berlanjut si ibu muda ha mau kalah.
"Udah mbak, masuk aja. Biarin dia antre seenaknya aja" kata si mbak pada Renita, sambil mendorong nya masuk ke toilet.
Masih terdengar saling sahut, tapi Renita cuek. Karena memang dia sudah kebelet pipis, setelah selesai buang hajat dan mencuci tangan nya, Renita keluar dan diganti oleh si mbak yang tadi, sedangkan si ibu muda itu tak nampak, mungkin sudah masuk ke toilet lainnya.
Merasa tak enak dengan kejadian tadi, Renita menunggu si mbak bermaksud mengucapkan terimakasih. Akhir nya yang ditunggu keluar dari toilet.
"Mbak, makasih ya tadi sudah dibelain. Padahal saya sudah ga tahan pengen pipis, malah mau diserobot." canda Renita.
"Gapapa mbak, emang gitu kalo orang ga pake etika mau enaknya sendiri."
__ADS_1
"Oiya, saya Renita, panggil aja Rei" sambil mengulurkan tangan mengajak salaman.
"Saya Dina, mbak pelancong juga?" jawab si mbak membalas jabat tangan.
"Oh, ga kok saya dari luar kota kebetulan lagi istirahat, sebelum lanjut perjalanan."
"Nyetir sendiri?" tanya nya, dibalas anggukan kepala oleh Rei.
"Iya, saya sudah biasa setir sendiri. Kalau begitu saya duluan ya, mau langsung pulang." jawab Rei.
"Iya, saya juga sudah ditunggu kakak disana." menunjukkan tempat duduknya. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju tempat duduk yang ternyata bersebelahan.
"Loh, kakak mana?" Dian kembali ke mejanya tapi hanya ada dua cangkir kopi disana, sang kakak mungkin sedang ke toilet juga.
"Aku duluan ya, biar bisa istirahat karena besok sudah masuk kerja. Sampai jumpa lagi ya. Assalamualaikum" ucap Rei sambil berlalu menuju parkiran.
Berapa menit kemudian, tampak yang ditunggu sudah kembali dari toilet.
"Kakak kemana aja sih lama banget ke toiletnya"
"Ya ke toilet lah, emangnya kamu mulai masuk sudah ke toilet tapi pake ribut lagi." sergahnya
"Loh kok kakak tahu? ngintip ya?"
"Enak aja, kakak tuh mau pipis tapi pas mau masuk toilet cowok dengar ribut-ribut di toilet cewek, kakak dengarin kayak suara kamu. Ternyata benar kan?"
"Ngapain sih pake ribut, emang toilet cuma satu doang kenapa ga masuk ke toilet lainnya sih." cecar sang kakak.
"Sebenarnya tadi aku sudah antre, pas giliran mau masuk ternyata di sebelah ada yang maksa masuk, padahal sudah ada yang duluan antri ya aku cegah dong, kasihan yang antri duluan kalo diserobot. Mana tuh ibu-ibu nyerocos mulu mulutnya, sebel banget." jelas Dian
Sang kakak tampak mengerti kenapa adiknya ngajakin ribut, karena setahu dia kalau ada yang suka seenaknya pasti adiknya itu akan langsung ngebut gas. Lebih mirip preman daripada putri seorang pengusaha kaya.
Menanggapi adiknya yang seperti itu memang butuh ekstra sabar, kalau disalahkan malah kitanya yang kena.
"Tapi kamu gapapa kan?" tanya nya
"Aku gapapa lah, masak preman dilawan hehehe.. "
"Dasar kamu" mengacak rambut adiknya.
"Kakak... apaan sih" membetulkan tatanan rambutnya dengan jarinya.
"Sudah yuk habisin kopinya, kita langsung pulang" ajak sang kakak.
€€€
"Kak, tahu ga tadi aku kenalan sama cewek cantik loh. kayaknya cocok jadi kakak iparku." celoteh Dina
"Kamu tuh sukanya nyomblangin orang aja. Dirinya sendiri juga belum laku" ejek sang kakak.
"Siapa bilang, tinggal nunggu pangeranku datang melamar aja. Daripada kakak belum bisa move on dari si mantan ulet keket itu" Dina menyembikkan bibirnya.
Ardan hanya menggeleng melihat adiknya, memang selama ini dia dibutakan oleh cinta pada mantan kekasih nya yang lebih memilih meninggalkan nya dengan alasan karir. Padahal Ardan tahu, dia hanya melarikan diri dari rasa malu karena sudah ketahuan selingkuh dengan rekan kerja sekaligus sahabatnya.
"Sudahlah jangan bahas dia lagi, malas tahu" Ardan tahu jika terus mengingatnya hanya akan membuka luka lama.
"Cie yang sudah move on eh atau otewe move on ya?" goda Dina adik nya. Ardan hanya tersenyum dan kembali melajukan mobilnya menuju kerumah.
__ADS_1
€€€
Kira-kira si Dina bakal ketemu lagi ga ya sama Renita? Atau apakah Ardan sudah benar-benar move on dari mantannya itu.