Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
75. Karena kamu istriku bukan pembantuku


__ADS_3

Ardan dan Rei kembali ke kamarnya setelah makan malam. Pembicaraan tadi sore tentang bude Neno dan putrinya Enno memang tidak akan pernah selesai jika mengingat semua kelakuan mereka.


Begitu juga saat ini, setelah melaksanakan ibadah sholat isya pasangan baru itu kembali terlibat pembicaraan serius tentangnya.


Ardan menyesal dan menyalahkan dirinya karena membiarkan Rei menerima perlakuan buruk dari mereka.


Bagi Ardan kesalahan mereka sudah sangat fatal, dia juga masih belum terima mereka pergi begitu saja. Kesal dan marah, terlihat jelas di wajahnya.


Tapi berbeda dengan Rei, dia menganggap itu hanya ujian kesabaran yang harus dia lewati sebagai proses dalam membina rumah tangga. Rei tidak marah apalagi dendam, karena bagaimanapun mereka adalah bagian dari keluarga suaminya.


Meski sempat kesal dengan sikap mereka berdua yang terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan, tapi Rei tidak pernah memasukkan ke dalam hati.


Terbiasa diperlakukan buruk oleh orang lain yang memandang sebelah mata akan status yang disandangnya, membuat Rei sadar diri. Bahwa apapun yang kita lakukan, akan selalu ada orang tidak suka.


Bahkan ada yang sengaja mencari titik kelemahan dan kesalahan terbesarnya agar bisa menjatuhkannya. Tapi Rei sudah terbiasa cuek. Tidak terlalu mengambil pusing omongan orang.


Baginya selama kita bisa berusaha sendiri, makan juga hasil kerja sendiri, penilaian buruk orang lain padanya hanya numpang lewat saja.


Masuk kuping kiri keluar kuping kanan, tak akan ada pengaruh apapun baginya. Itulah kenapa Ardan yakin dia adalah jodoh yang tepat yang diberikan untuk melengkapi hidupnya.


Satu kepala dengan kepala yang lain pasti memiliki perbedaan persepsi, seperti yang saat ini terjadi. Tapi akan ada jalan keluarnya jika kita bisa bijak menyikapinya.


###


"Yang, kamu kenapa sih diam aja, mau aja disuruh begitu sama mereka, padahal tahu mereka benar-benar menunjukkan sikap tidak sukanya padamu." Ardan.


Menyampirkan baju dan sarungnya di gantungan setelah melaksanakan sholat berjamaah tadi. Lalu berjalan menuju sisi kanan ranjang mereka.

__ADS_1


Ardan hanya mengenakan boxer dan bertelanjang dada, dia tidak suka tidur menggunakan baju, membuatnya gerah meski ac dikamarnya nyala.


Rei yang baru selesai melipat mukena dan sajadahnya, lalu meletakkan di gantungan baju disebelah pakaian suaminya tadi. Masih mengenakan pakaian kebesaran emak-emak se nusantara, apalagi jika bukan daster.


Dan dia pun ikut merebahkan dirinya disamping kiri suaminya. Ardan yang duduk bersandar dikepala ranjang hanya melihat istrinya tersenyum, tak berniat menjawab pertanyaannya. Membuat Ardan makin kesal saja, bukannya menjawab malah senyum. Batinnya.


Rei mendongak kearah suaminya, lalu merapatkan dirinya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya. Dia hanya tertawa mendengar decak suaminya.


"Aku tanya bukannya dijawab malah tertawa. Ngeselin tahu" gumam Ardan.


cup


Rei mencium pipi suaminya mencoba meredakan amarahnya, dia tidak sedikitpun merasa terganggu dengan gumamannya. Tapi lebih baik dia jawab saja dari pada suaminya makin kesal.


"Terus aku harus gimana, mas. Ikutan marah juga trus membalas mereka gitu, bukannya mereka berhenti malah semakin mencari kesalahanku. Bisa saja mereka membolak balikkan fakta dan mengatakan yang sebaliknya pada mama."


"Biar saja mereka mau ngapain aja, terserah. Aku tak perduli, aku hanya menjaga perasaan mama. Bayangkan jika aku ada diposisi mama, bagaimana perasaan dia."


"Buatku asalkan mereka tidak menyakiti perasaan mama, itu sudah cukup. Tapi jika mereka berbuat sesuatu yang menyakiti mama aku tidak akan diam. Itu prinsipku dan tidak bisa diganggu gugat."


Rei menjelaskan panjang lebar, dan itu membuat suaminya tertegun. Dia baru tahu ternyata istrinya sepeka itu menanggapi masalahnya.


Tak pernah terpikir olehnya jika istrinya ternyata begitu menyayangi mamanya, bahkan menjaga perasaannya. Padahal dulu mamanya pernah meragukan Rei karena statusnya. Untung saja Dina adiknya berhasil meyakinkan mama, bahwa itu tidak seperti yang dipikirkannya.


"Aku tidak terima kamu diperlakukan seperti itu, karena kamu istriku bukan pembantuku." Ardan


Rei tersenyum, dia tahu suaminya mulai merajuk. Rei memaklumi sikap suaminya, pertanda dia sangat menyayanginya dan menginginkan yang terbaik baginya. Rei mengelus dada bidang didepannya, dia tahu cara meredakan marahnya.

__ADS_1


Cara yang paling mudah dan tentu saja sangat disukai oleh suaminya, meski nanti dia lah yang akan merasakan kelelahan yang panjang karena ulah nakal suaminya itu.


Rei pun mulai melakukan aksinya, mencium kedua pipinya dan berpindah ke bibir tipis yang sedikit menghitam karena pernah merokok. Rei memakluminya karena mantan suaminya pun juga sering merokok.


Ardan yang terkejut dengan serangan mendadak dari istrinya, tentu saja tidak menolak bahkan dia berusaha mengimbangi permainan mereka.


Dia melu*** bibir merah Rei, menggigit bibir dan memainkan lidahnya disana, mengabsen semuanya. Permainan pun semakin panas, keduanya mulai memberi rangsangan pada pasangannya.


Saling membalas, dan mulai terdengar ******* dari bibir mungil itu, memacu gairah Ardan untuk semakin memberikan kepuasan pada istrinya. Mereka menikmati malam panjang, dengan ******* dan penuh keringat.


Jangan tanya kemana hilangnya pakaian mereka, sudah berserakan dilantai. Mereka benar-benar dimabuk asmara. Ardan membuat Rei beberapa kali mencapai puncak kenikmatan tapi tidak dengan suaminya.


Suaminya benar-benar tidak sekalipun merasa puas membuatnya melayang. Hingga untuk kesekian kalinya Rei merasakan surga dunia.


Dan terjadilah yang harusnya terjadi, mereka sama-sama mencapai puncak dan mendesah bersamaan. Rei dan Ardan tersenyum setelah melewati malam penuh keringat itu, Ardan mencium puncak kepala istrinya.


Keduanya sama-sama kelelahan, dan akhirnya tertidur sambil berpelukan. Menjelang pagi Ardan yang terbangun lebih dulu kembali menciumi istrinya. Dan mulai memainkan kesukaannya.


Dia membuat Rei yang masih tertidur pulas terpaksa membuka mata, dan membalas perbuatan suaminya. Dan lagi mereka mengulangi olah raga panas semalam, jika sebelumnya Rei yang memulai, sekarang giliran Ardan memuaskan istrinya lebih dulu.


Tak pernah cukup sekali, karena Ardan memang tak bisa menolak pesona kecantikan istrinya. Bahkan seandainya istrinya tidak mengeluh karena dibuat kelelahan dia ingin melakukannya setiap hari, dan sepanjang malam.


Benar kata teman-temannya dulu, jika sudah tahu rasanya surga dunia maka tidak akan pernah cukup sekali mengulanginya lagi. Ardan benar-benar dimabuk kepayang, meskipun Rei sudah dua kali menjadi janda tapi rasanya masih seperti gadis. Karena Rei pandai merawat dirinya, dengan aneka rempah dan jamu tradisional serta rajin berolah raga.


Dia benar-benar tahu cara memuaskan suaminya diatas ranjang, dan bodoh sekali pria yang pernah membuanganya demi seorang perempuan lain. Dengan alasan cinta pertama, tapi hanya terbuai nafsu belaka.


Ardan tidak menyesal memilih Rei sebagai istrinya, karena bukan hanya kehangatan di ranjang yang dia dapatkan, tapi hidupnya lebih berwarna sejak Rei hadir dan mengisi ruang kosong dihatinya.

__ADS_1


###


__ADS_2