Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
105. Mulai dari awal lagi


__ADS_3

Seminggu sudah Rei kembali menata hidupnya, setelah kepergian malaikat kecilnya.


Meski tak banyak yang berubah dari Rei tapi sedikit mempengaruhi hubungan mereka. Rei yang merasa bersalah karena telah menghilangkan nyawa bayi mungil yang bahkan belum sempat melihat dunia, dan Ardan yang merasa kehilangan pribadi Rei yang dulu, membuat hubungan keduanya sedikit renggang.


Trauma mungkin itu lebih tepatnya, sehingga Rei selalu merasa bersalah. Ini kedua kalinya Rei harus kehilangan bayinya.


Meski dengan sebab yang berbeda tapi tetap saja itu membuatnya sedikit tertekan. Rei yang sekarang lebih banyak mengurung diri dan seolah asyik dengan dunianya sendiri.


Ardan pun seolah larut dalam kesedihan, dan membiarkan istrinya sendiri, meski sebetulnya diapun sudah tersiksa karenanya.


Suasana dalam rumah seakan hampa, tak ada gelak tawa, obrolan dan lainnya. Bahkan bi Mar yang sudah menemani mereka juga tak bisa berbuat banyak.


Dia sangat menyayangkan sikap kedua majikannya yang larut dalam duka tanpa peduli satu sama lain.


Terus terang dia tidak betah suasana seperti ini, seolah tinggal dalam kompleks pemakaman, dan muram.


Dia juga tak mau kedua majikannya harus mengalami perpisahan karena keegoisan mereka masing masing.


"Amit amit jabang bayi" batin bi Mar tiap kali melihat keadaan kedua majikannya yang tak saling tegur sapa semenjak keduanya kembali kerumah ini.


Bi Mar rindu suasana rumah saat nyonya nya bersenandung ria saat memasak, saat menyiram bunga atau saat menikmati waktu senggang dirumah.


Bi Mar tak tahu bagaimana membuat kedua majikannya kembali seperti sedia kala. Tapi dia akan berusaha membuat rumah ini kembali ceria, dan penuh canda tawa.


###


Sarapan pagi yang biasanya rame dengan celotehan, kini hanya terdengar bunyi sendok garpu beradu dengan piring. Baik Ardan maupun Rei tidak ada yang saling membuka percakapan.


Bibi yang sedari tadi berada di dapur yang bersebelahan dengan meja makan pun menjadi tak nyaman.


Terasa ada yang kurang, jika boleh dia ingin menjatuhkan salah satu piring yang dicucinya agar pecah dan ramai.


Tapi itu tidak dilakukannya, selain menambah suasana hati majikannya bertambah suram, bisa bisa gajinya bulan ini dipangkas. Oh tidak... jangan sampai itu terjadi, ga bisa ngirim ke kampung dia kalo gajinya dipotong.

__ADS_1


Ardan menyudahi sarapannya lebih dulu, dia harus segera ke restoran untuk mengecek persiapan acara ulang tahun salah satu kolega papanya yang akan diadakan nanti malam di restoran miliknya.


Ardan mengelap mulutnya dengan tisu, menghapus sisa makanan yang menempel dibibirnya. Setelah itu menghabiskan air minum digelasnya, kemudian beranjak pergi.


"Aku pergi dulu, kalau butuh sesuatu telepon saja."


Ucapnya pada sang istri yang masih dengan sangat malas menghabiskan sisa makanan dipiringnya.


Rei hanya membalas dengan anggukan. Ardan tahu itu, dia hanya mendesah pelan. Entah sampai kapan istrinya akan seperti itu.


Ardan lalu mengulurkan tangan kanannya pada Rei, istrinya menyambut dan mencium tangan sang suami.


Ardan juga mencium pucuk kepala istrinya sebelum meninggalkan meja makan. Rasa canggung itu masih ada, bahkan belum terkikis sama sekali.


Bi Mar yang sedari tadi melihat hanya bisa mengeluarkan napas panjang, dia tidak mau jika hubungan kedua majikannya memburuk, jangan pernah.


Setelah tuannya pergi, bi Mar berniat mengambil piring kotor di meja makan, tapi ternyata nyonya nya sudah lebih dulu mengangkat dan meletakkan ditempat cuci piring.


"Nya, biar saya saja yang mencuci. Nyonya istirahat saja dikamar."


"Ga papa bi, biar saja. Ini juga cuma sedikit, lagian saya bosan dikamar terus." ucap Rei.


Setelah mencuci piring kotor Rei lalu mencuci tangannya dan mengelap tangannya dan berniat pergi dari sana.


Tapi bi Mar menghentikan nya dan mengajak nya duduk kembali di meja makan. Dia ingin segera menyelesaikan masalah mereka agar tidak semakin berlarut larut.


"Nya, maafkan jika saya lancang. Tapi saya ingin terus terang. Saya lebih suka nyonya yang dulu saat awal saya kerja disini, nyonya yang cerewet, yang suka bernyanyi saat memasak atau nyonya yang suka teriak jika tuan Ardan menggoda nyonya, dari pada nyonya yang sekarang lebih pendiam.


"Mungkin saya sudah terbiasa dengan keceriaan nyonya, makanya saya merasa sepi. Dan saya rasa tuan juga merasakan hal yang sama. Semenjak pulang dari rumah sakit nyonya lebih banyak menyendiri, mengurung diri dikamar.


Saya memang belum pernah mengalami apa yang nyonya alami, tapi saya tahu sakitnya. Tapi tolong jangan berlarut larut, waktu terus berputar. Jangan terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.


Itu semua takdir dari Yang Kuasa. Mungkin belum saatnya nyonya dan tuan memiliki buah hati, tapi yakinlah dia akan datang disaat yang tepat.

__ADS_1


Nyonya tahu, saya sedih melihat tuan dan nyonya saling diam. Saya tidak ingin nanti hubungan nyonya dan tuan merenggang, dan akhirnya berpisah. Tidak jangan sampe, amit amit jabang bayi.


Tolong pikirkan lagi, nyonya dan tuan masih muda. Masih jauh perjalanan, jika terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan ada pelakor yang datang. Tahu sendiri kan nya, pelakor sekarang itu lebih parah dari kucing garong, apa aja diembat.


Dan saya ga mau itu terjadi, nyonya dan tuan sudah seperti keluarga saya sendiri jadi saya tidak akan membiarkan itu terjadi."


Tanpa sadar air mata Rei jatuh begitu saja, ucapan bibi Mar betul adanya. Selama ini dia selalu menyalahkan diri sendiri atas kematian buah hati mereka.


Rei bahkan melupakan kodratnya sebagai istri yang seharusnya melayani suaminya, Rei lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menangis.


Dan Ardan tahu itu, tapi dia tidak mau mengganggu Rei. Bagaimana jika yang bi Mar katakan itu benar. Bagaimana jika sampai ada pelakor yang berhasil merebut suaminya.


Ardan suaminya memang tak pernah berubah sikap masih perhatian padanya, tapi tidak menutup kemungkinan diluar banyak yang menggodanya.


Ardan tampan, mapan dan memiliki body yang didambakan setiap wanita, tak akan sulit baginya menemukan pengganti Rei.


Rei yang menelantarkan nya dan Ardan akan dengan mudah mencari kehangatan diluar jika istrinya masih terus begitu.


Bi Mar merasa bersalah melihat majikannya menangis sesenggukan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Hanya ini cara satu satunya agar Rei kembali membuka mata.


Peka terhadap sekitarnya, dan tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan yang akhirnya akan dia sesali seumur hidup.


Bi Mar memegang tangan majikannya, memberikan dukungan. Rei membalasnya bahkan langsung memeluk bi Mar.


Lama mereka berpelukan, air mata Rei masih menetes. Bi Mar dengan sabar memberi pelukan dan dukungan.


"Nyonya masih muda, cantik tidak sulit untuk memulai dari awal lagi. Saya yakin tuan juga akan senang melihat nyonya kembali seperti dulu.


Nyonya mau kan menata hidup lagi, memulai dari awal lagi dan menjadi pasangan suami istri sebagaimana mestinya."


Bi Mar melihat Rei mengangguk dan tersenyum karena memang itu tujuannya. Sekarang tinggal bagaimana sang nyonya memberikan support untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih" ucap Rei lirih pada asisten rumah tangga nya, Rei bersyukur masih ada yang mengingatkan dan mendukungnya disaat terpuruk seperti ini.

__ADS_1


###


__ADS_2