
Seperti yang sudah Rei janjikan pada dirinya sendiri, bahwa dia akan berhenti bekerja setelah menikah nanti.
Terlepas siapa suaminya kelak, dan saat ini adalah yang dinanti. Surat pengunduran dirinya telah ditanda tangani. Sebelum akad nikah dia harus sudah menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Dia paling tidak suka menunda pekerjaan, apalagi setelah ini akan meninggalkan kantor ini selamanya.
Dan disinilah dia berada sekarang, diruangan pimpinan. Rei tak mungkin menitipkan surat itu pada orang lain, karena bagaimanapun dia sudah menganggap kantor ini sebagai rumah keduanya dan orang-orang didalamnya adalah saudaranya.
Mengatasi rasa gugupnya, dia memberanikan diri menghadap atasannya.
tok tok tok
Setelah mendapat ijin, Rei memasuki ruangan itu. Berjalan pelan dan mendekat, Rei memberanikan diri.
"Permisi pak, maaf mengganggu waktunya." Rei
"Ada yang bisa saya bantu Renita?" Elang
"Saya hanya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya." Rei lalu meletakkan amplop yang dipegangnya.
"Resign? Kenapa kamu ingin resign, Rei?" Elang
"Saya akan menikah dan saya memilih resign karena ingin fokus mengurus keluarga." jawab Rei pasti.
Seperti ditikam ribuan belati, Elang langsung lemas. Kenapa??
"Tapi kamu kan tidak harus resign, kamu bisa bekerja sekaligus mengurus keluargamu." Elang
"Apa kamu tidak sayang, dengan masa kerja yang cukup lama, bahkan kamu termasuk senior disini." Elang
"Tolong pikirkan lagi, dan bawa kembali surat pengunduran dirimu." Elang masih bersikukuh.
Tapi Rei adalah Rei, apa yang sudah menjadi keputusannya tak akan dia ubah lagi. Dan meskipun berat tapi keputusannya sudah tak bisa ditawar lagi.
"Maaf, tapi keputusan saya sudah bulat pak."
Rei sama sekali tidak terpengaruh, sekali A tidak akan berubah B. Tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhi keputusannya. Apalagi jika ini menyangkut masalah hati, tidak ada toleransi.
"Dan disitu ada undangan pernikahan saya, semoga bapak berkenan hadir" Rei.
__ADS_1
Elang dibuat bungkam oleh keputusan Rei. Ternyata dia bukan lagi Rei yang dikenalnya, dia berbeda.
Pupus sudah harapan yang susah payah dia bangun demi menjadikan Rei miliknya.
"Saya undur diri, terimakasih" ucap Rei, lalu melangkah pergi.
Dia kembali ke ruangannya, tanpa menunggu reaksi Elang. Lebih baik menjauh sebelum semuanya bertambah runyam.
Elang kemudian mengambil undangan yang terselib diantara surat pengunduran dirinya. Tertera nama Rei wanita yang selama ini sudah mengganggu tidurnya, yang ingin dia rebut kembali hatinya. Tapi ternyata terlalu jauh untuk dijangkaunya.
Dan nama seseorang yang dia coba ingat, kapan dan dimana. Satu nama yang ada dalam pikirannya adalah Ardan pemilik restoran yang disewa kantor untuk acara gathering tahunan.
Belum begitu yakin, tapi seingatnya hanya satu orang pemilik nama itu yang dia kenal. Membuka dan membaca, tempat dan tanggal serta waktu berlangsungnya acara akad nikah.
Makin sesak rasanya, Elang tak bisa lagi membendung air mata nya, lolos begitu saja. Ini adalah karmanya, karena telah meninggalkan Rei disaat mereka akan bertunangan dulu.
Dia dan keluarganya tak pernah datang, malah istrinya mengirimkan undangan kerumahnya. Kalau boleh meminta, dia ingin kembali lagi. Ingin mengulang lagi semuanya dari awal, mengenal Rei lebih dekat, melamar Rei dan menjadikan dia ratu dalam rumah tangganya.
Seandainya...
Tapi sayang nasi sudah menjadi bubur, dan Rei sudah jauh melangkah. Meninggalkan dirinya yang kini terluka justru oleh perbuatannya sendiri di masa lalu.
###
Setelah menyerahkan surat pengunduran diri pada pimpinannya, Rei lalu berpamitan pada semua teman-temannya disana.
Suasana mendadak berubah menjadi sendu, tak ayal beberapa orang teman yang sempat dekat dengan Rei merasa kehilangan.
Rei punya banyak nilai plus dimata teman-temannya, makanya mereka merasa berat melepas kepergiannya.
Meski berulang kali Rei katakan bahwa mereka masih bisa bertemu, walau bukan dalam suasana kerja.
Banyak yang menyayangkan keputusan Rei untuk resign, tapi bagi mereka yang cukup tahu masalah yang pernah terjadi antara Rei dan pak Elang atasan mereka, malah mendukungnya.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan buanglah mantan pada tempatnya, mungkin itu cocok bagi Rei.
Bagaimana terpuruknya dia, bagaimana sakit hatinya, meskipun akhirnya dia bisa move on dan melupakan semuanya.
###
__ADS_1
Hari berganti hari, semua persiapan sudah hampir sempurna. Dua hari menjelang ijab kabul diadakan acara pengajian dan siraman sesuai adat istiadat keluarga.
Dari pihak Rei selain pengajian dan siraman juga diadaakan santunan anak yatim. Semua keluarga besar Rei bersuka cita menyambutnya, walaupun ini bukan kali pertama Rei menikah tapi mengingat bagaimana perjalanan biduk rumah tangganya tak ayal membuat mereka menangis.
Tangis bahagia dan suka cita menyambut hari bahagia, papa dan mama Rei tidak bisa membendung tangisnya.
Rei yang melihatnya juga tak bisa menolak, emosi nya campur aduk. Dalam hati Rei berdoa semoga kehidupan rumah tangganya ke depan lebih baik dari yang sudah lewat.
Orang tua Anton dan salah satu kakaknya juga nampak disana, mereka datang sebelum acara siraman.
Mereka juga turut bahagia, Rei meminta restu pada kedua orang tua Anton dan kakak-kakaknya.
Bagi mereka Rei akan selalu menjadi putri mereka sampai kapanpun. Tangis bahagia seiring doa yang mereka panjatkan buat putri mereka.
Di tempat lain di keesokan harinya, acara pengajian dan siraman juga dilangsungkan. Ardan mengikuti semua acara dengan baik, senyum terukir diwajahnya.
Waktu berjalan dan rangkaian acara telah selesai dilaksanakan. Papa dan mama Ardan senang akhirnya anak sulung mereka akan melepas masa lajangnya.
Para sepupu dan juga kawan dekat Ardan yang hadir tak berhenti menggodanya, semburat merah terlihat dipipi Ardan.
Pria ini memang paling bisa jika ngerjai orang, sekarang giliran dia dikerjain. Ardan menemani tamunya, mereka ngobrol dan bercanda. Yang sudah menikah tak berhenti menggoda Ardan.
Dengan dalih shock Theraphy, mereka menggojlok Ardan sampai puas. Bahkan diantaranya sampai sakit perut karena tertawa terpingkal-pingkal.
Rumah Ardan terlihat ramai, sampai malam menjelang masih seru saja obrolannya. Dan satu persatu kawan-kawan Ardan membubarkan diri.
Pulang kerumah untuk beristirahat karena besok acara yang dinantikan. Ardan juga telah merebahkan dirinya, membayangkan acara sakralnya besok.
Sambil latihan mengucapkan ijab kabul seperti yang diajari teman-temannya tadi. Benar-benar ya mereka itu. Dan Ardan mau aja dikerjain, bahkan sampai keluar airmata karena tertawa.
"Bismillah, semoga diberikan kelancaran acara esok hari."Batin Ardan.
Mencoba memejamkan mata, tak dipungkiri rasa capek dan gugup bercampur, hatinya sedikit berdebar membayangkan esok.
Sambil membaca doa Ardan lalu mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya. Esok hari bahagianya, dia tak ingin mengecewakan banyak orang.
Oleh karena itu, dia mencoba menenangkan diri. Sambil terus menanamkan energi positif dalam dirinya, bahwa besok semua akan berjalan lancar sesuai rencana.
###
__ADS_1
Gegara dibawain mie bakso sama pak suami, bukannya tidur nyenyak malah masih segar aja ini mata. Ya sudah kita coba up aja biar bisa segera menyusul yang lain tidur 😁
Like, komen and vote ya