Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
81. Hukuman masih berlaku


__ADS_3

Masih ingat dengan taruhan kecil dari para kakek dan nenek yang penasaran dengan baby utun?


Ketika itu kubu nenek dan para tente menebak baby utun laki-laki, dan kubu kakek menebak perempuan. Dan sekarang hukuman itu masih berlaku.


Ketika tahu cucu pertama mereka adalah perempuan, kubu nenek mulai cemas. Mereka yang mengajak taruhan, mereka juga yang membatalkannya.


Tapi yang namanya hukuman ga ada istilah dibatalkan, hanya ditangguhkan sementara. Setelah acara aqiqah tempo hari, para lelaki yang senang karena tebakan mereka benar mulai mencari hukuman apa yg pantas bagi para ibu.


Dan mereka memutuskan untuk menghukum para ibu dengan memasak ikan bakar, dan sambal bajak, dan nasi hangat. Karena mereka tidak suka taruhan, hanya saja biar seru mereka ikuti saja kemauan para wanita.


Akhir pekan semua berkumpul di halaman belakang keluarga Ardan. Para laki-laki memanggang ikan yang sudah disiapkan sebelumnya.


Para ibu memasak nasi, dan juga sambal bajak. Mereka juga menyiapkan minuman dingin, dan aneka kue dan juga potongan buah segar.


Selepas ashar mereka sudah selesai menyiapkan semuanya, dan sambil menunggu adzan maghrib mereka mulai bergantian membersihkan diri masing-masing.


Tidak banyak yang ikut, hanya keluarga Ardan, keluarga Rei lengkap dengan kak Dani, suami dan anak-anak mereka, dan orang tua Miko. Dan karena orang tua Miko akan kembali esok hari, jadi malam ini sekaligus sebagai perpisahan mereka.


Para pembantu, dan supir juga ikutan, suasana rumah tampak ramai dan heboh. Malam menjelang dan mereka pun mulai mengambil makanan masing-masing.


Aneka sambal juga disajikan, bukan hanya sambal bajak, sambal kecap plus rawit dan jeruk nipis juga ada, tak lupa sambal kacang. Buat anak kecil hanya boleh makan dengan kecap manis saja, tulang dan duri ikan pun sudah di bersihkan jadi mereka tinggal makan tanpa takut keselek tulang.


Bukan hanya nikmat, suasana makan seperti ini memang sangat ditunggu karena kesibukan masing-masing anggota keluarga yang tidak bisa diganggu gugat.


Semuanya berkumpul, dan makan bersama. Bibi dan juga supir ikut makan bersama, tidak ada yang membedakan. Mereka sama-sama duduk ditikar dan lesehan, untuk sementara tak ada majikan dan pembantu.


Karena ikan yang dipanggang banyak jenisnya, membuat mereka bebas memilih yang mereka suka. Cakalang, kurisi, dorang, dan ada juga kerang, udang dan cumi.


Aneka seafood itu diolah berbagai menu, bukan hanya ikan bakar, jika mereka kekenyangan dengan menu itu, salahkan saja para ibu yang memasak makanannya dengan rasa yang sangat enak.


Kalau sudah berkumpul seperti ini rasanya berat untuk berpisah, tapi setiap orang butuh waktunya sendiri alias me time. Para orang tua memilih menyudahi acara mereka untuk beristirahat lebih dulu, orang tua Miko sudah masuk ke kamar tamu, sedangkan orang tua Rei memilih untuk pamit undur diri, begitu juga dengan kak Dani dan keluarganya.

__ADS_1


Rei dan Ardan masih diteras bersama Dina dan Miko, bayi mereka sudah lebih dulu dibawa neneknya ke kamar karena udara malam tidak baik bagi kesehatan bayi.


Mereka berempat masih berbincang sambil merapikan barang-barang yang dipakai tadi. Bagian beberes tetap bibi pawangnya, karena yang paling tahu letak penyimpanan barang-barang adalah bibi.


Meskipun masih bisa dilakukan besok pagi, mereka memilih merapikan sekarang juga, karena tak ingin semakin banyak pekerjaan menumpuk.


Dina, si ibu muda mulai mengantuk. Karena jadwal begadangnya sekarang bertambah, bayi nya lebih sering bangun karena lapar, otomatis dia harus siap siaga menyusui sang bayi.


Badannya makin mekar saja, nafsu makannya juga bertambah. Tentu saja karena dia makan bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk bayinya.


Berat badan sang ibu naik, berbanding lurus dengan berat badan bayinya yang makin berisi. Bayi mungil itu semakin montok saja, apalagi sedang menangis pipinya yang gembul sangat lucu.


Karena Dina sudah mengantuk dan bolak-balik menguap, akhirnya Miko suaminya mengajak kembali ke kamar. Dan terlihat baju Dina yang mulai basah oleh air susunya. Sudah saatnya dia menyusui bayinya.


Sisa Ardan dan Rei disana, mereka berdua masih setia duduk menikmati malam dengan cahaya bulan dan taburan bintang di angkasa menambah syahdu.


Ardan memeluk istrinya yang terdiam menatap langit, Rei menoleh kearah suaminya yang tersenyum. Merapatkan tubuhnya saling menghangatkan.


"Kenapa bengong, sedang memikirkan apa?" tanya Ardan menatap istrinya.


"Tidak ada, aku hanya sedang menikmati keindahan bulan yang tetap datang saat malam menjelang meski hadirnya tak pernah dianggap." lanjutnya.


"Kenapa jadi puitis begini, aku baru tahu kalau istriku pandai merangkai kata." Ardan mencium pipi kiri Rei.


"Bukan pandai tapi belajar, hanya kata-kata sederhana tapi mengandung makna." Rei tersenyum.


"Ya, dan maknanya sangat dalam. Mengisyaratkan sesuatu yang ada dalam sini dan sini." Ardan menunjuk kepala dan dada istrinya.


"Tak perlu puisi untuk mengungkapkan yang ada disitu, cukup diam dan tidur." Rei menjulurkan lidahnya dan meninggalkan sang suami yang masih bengong.


"Sayang, kenapa aku ditinggal" Ardan mencoba mengejar istrinya, berjalan sejajar dan memegang tangannya lalu mereka berlalu menuju kamar mereka.

__ADS_1


Ceklek


Pintu terbuka dan mereka membersihkan diri masing-masing lalu berjamaah melaksanakan sholat isya. Setelah berdoa memohon kesehatan, keselamatan, bahagia dunia dan akhirat mereka lalu menuju ranjang.


Ardan masih duduk bersandar dikepala ranjang, membuka hape nya dan melihat beberapa pesan di grup chatnya. Menunggu Rei yang masih di meja rias memakai toner, lalu mengoleskan serum wajah dan krim malamnya.


Yang namanya perempuan kalau sudah dandan pasti lama, padahal Rei hanya mengoleskan beberapa produk skincare nya. Sejak berhenti bekerja Rei memang jarang sekali berdandan.


Hanya jika pergi ke acara formal menghadiri undangan rekanan suaminya, atau teman kerjanya. Dirumah Rei lebih suka menggunakan skincare dan pelembab bibir.


Baginya berdandan itu hanya wajib dia tujukan jika hanya berdua dengan suaminya, biasanya sebelum berhubungan intim, dia ingin menyenangkan suaminya lebih dulu.


Apalagi setelah Rei tahu bahwa berdandan untuk pasangan kita itu wajib hukumnya dan pahalanya besar.


Seperti malam ini, Ardan terus berbisik tentang hukuman yang masih berlanjut, dan Rei harus mau menuruti permintaan suamimya kali ini.


Tadi siang sebelum pulang Ardan sengaja mampir ke butik dan dia meminta pelayan di butik, membantunya mencari gaun untuk istrinya tercinta.


Gaun dengan potongan sederhana, warnanya pun tidak terlalu terang karena memang Rei tidak terlalu suka memakai pakaian yang mencolok warnanya.


Beberapa gaun sudah dipilih tapi akhirnya pilihannya jatuh pada gaun berwarna biru langit yang tertutup lengannya dan panjangnya dibawah lutut, tanpa belahan.


Jordan memberikan gaun itu pada pelayan yang membantunya memilih, tapi saat akan menuju kasir matanya tiba-tiba menangkap sebuah lingerie berwarna merah terang yang dipajang di manekin.


Ardan berhenti dan menanyakan ukurannya pada pelayan tadi. Setelah dirasa cocok, Ardan lalu mencari model lingerie lainnya.


Senyum smirk terukir di bibirnya, dia akan benar-benar menghukum istrinya sampai puas. Tiga potong lingerie beda warna dan beda model, serta satu gaun pesta sudah dibungkus rapi dan dimasukkan dalam paper bag berlogo nama butik itu.


Ardan mengeluarkan kartu debitnya dan melakukan pembayaran. Kemudian dia melangkahkan kakinya ke arah parkiran. Mendekat menuju kearah mobilnya, lalu masuk dan menyalakan mesinnya.


###

__ADS_1


Hujan di malam minggu...😁. Yang mau pacaran, mau kencan pending dulu. Mending buka aplikasi Noveltoon dan mari kita berselancar didunia khayalan otor.


Terima kasih atas semua dukungan like, komen dan vote nya. Jangan bosan untuk memberikan jempolnya pada karya otor yang masih banyak sekali typonya.


__ADS_2