
"Bu, jangan terlalu memaksakan kehendak. Kamu sendiri pernah bilang Rei itu orangnya sensitif, kalau dia sakit hati karena pertanyaan kamu tadi gimana?" Andi membuka percakapan saat sampai dikamar.
"Biarkan dia menata hatinya, kamu tahu sendiri dia sangat terpukul karena kematian suaminya tak lama dia menikah dan ternyata mengkhianati nya. Coba bayangkan jika kamu ada diposisi nya."
Ucapan dari suaminya membuat Anita sadar, dirinya terlalu menekan Rei. Mungkin jika ada diposisi Rei, belum tentu dia bisa sekuat Rei. Menyembunyikan rasa marah, sakit hati dan kecewanya dibalik senyuman pada banyak orang.
"Apa aku harus minta maaf sama Rei ya yah?"
"Tidak perlu, tapi jangan diulangi lagi. kasihan Rei." Anita mengangguk, dia senang suaminya mau menasehati.
"Sudah ayo kita tidur, besok ayah ada rapat koordinasi sebelum peninjauan ke daerah." Mereka lalu menyusul putri mereka yang lebih dulu terlelap.
€€€€
Sementara itu ditempat lain, setelah pertemuan tak sengaja nya dengan Rei di restoran tadi Ardan tampak tersenyum sendiri. Mengingat senyuman manis Rei yang membuat nya rindu.
Ya Ardan merindukannya, meskipun dia bisa saja menelpon Rei tapi dia ga mau mengingkari janjinya. Bukankah lelaki yang bertanggung jawab itu yang dipegang kata-kata nya. Rei memintanya untuk tidak terlalu sering bertemu atau berkomunikasi.
Meskipun berat tapi demi mendapatkan perhatian sekaligus hati Rei, dia rela melakukannya. Benar kata Dylan, rindu itu berat biar dia saja yang menanggungnya wkwkwk. Sekarang setelah merasakan kerinduan nya, dia seperti orang bodoh saja.
Dulu saat masih bersama mantan kekasih nya Ardan jarang sekali merasakan beratnya rasa rindu. Karena hampir setiap hari, setiap saat mereka bertemu atau bertukar kabar. Bahkan mantan pacar nya itu selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
Bahkan Ardan merasakan jenuh karena selalu diikuti, tapi sekarang berbeda. Entah kenapa dia setuju untuk mengikuti persyaratan Rei yang dia anggap hanya akal-akalan Rei saja untuk tidak bertemu. Sekarang dia mengerti maksudnya, biar mereka bisa memantapkan hati dan yakin untuk menuju jenjang berikutnya.
#flashback on
"Mas, aku ada permintaan sepele sebenarnya tapi ini berlangsung selama kita masih belum yakin dengan hati kita. Aku harap mas mau menyetujui nya."
Rei memberanikan diri bertanya, lebih tepatnya memberikan pernyataan. Ardan menoleh, mencari makna dari pernyataan tersebut. Tapi raut wajah dan tatapan mata Rei menunjukkan kalau dia serius.
__ADS_1
"Apa itu? kalo hanya menguntungkan dirimu saja aku akan tegas menolaknya, tapi jika kita berdua tidak saling dirugikan tak ada masalah."
"Ais... gini nih kalau urusan sama pelaku bisnis ujungnya pasti harus menguntungkan." Rei cemberut, bibirnya manyun membuat Ardan gemas.
"Bibirnya bisa dikondisikan ga, jangan sampai aku tergoda untuk melahap benda kenyal itu" jawaban Ardan membuat Rei melotot, merapatkan giginya karena kesal.
"Mas, aku serius loh." Rei merajuk, semakin gemas Ardan melihatnya.
"Aku juga serius sayang, terus maunya apa?" Ardan menggenggam tangan Rei, menatap matanya.
"Aku ingin kita jangan sering ketemu ya. Paling ga seminggu sekali aja pas weekend. Mau ya?" jawab Rei.
Ardan tak habis pikir dengan permintaan Rei yang dianggap tak masuk akal itu. Tapi Ardan tak mau salah paham, dia ingin tahu alasan Rei memintanya begitu.
"Kamu kenapa minta begitu, apa kamu sudah bosan dekat denganku? atau kamu merasa tak nyaman berada dekat denganku." Ardan mencecar pertanyaan. Rei menggeleng kepala nya.
"Sudah pintar ya sekarang, kayaknya bakal ada yang kangen nih" Ardan mengacak rambut Rei.
"Mas.... ih" Rei mengangkat tangan Rei menjauhi kepalanya, rambutnya acak-acakan karena perbuatan Ardan.
"Aku ingin kita ketemu seminggu sekali selama kita masih belum yakin dengan hati kita masing-masing."
"Apa kamu meragukan aku, aku serius sama kamu. Aku ga mau main-main Rei." Ardan terlihat sedikit emosi.
"Mas, dengerin dulu aku ngomong." menarik kembali tangan Ardan dan menggenggam nya.
"Aku pernah gagal berumah tangga, mas juga pernah kecewa dengan mantan mas. Aku hanya ingin kita benar-benar yakin dengan perasaan kita, kita berdua sama-sama dewasa, bukan lagi sekadar mencari pasangan kencan tapi mencari pasangan hidup. Aku ingin menikah untuk selamanya sampai maut memisahkan kita."
Rei menjelaskan alasannya, tak terasa air matanya jatuh. Rei tak ingin dia ataupun Ardan kecewa, apalagi keluarga besar nya. Ardan mengerti maksud Rei, dia senang Rei mau mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
Meski baru seumur jagung hubungannya, Ardan tak ingin main-main apalagi kecewa untuk kedua kalinya. Menggenggam erat tangan Rei, degup jantungnya terdengar jelas. Mata mereka beradu pandang, Rei tak ingin lama menatap mata elang itu.
"Baiklah aku setuju, tapi ijinkan aku membawamu kerumah tiap weekend, kamu tahu kan orangtuaku terutama mama sudah menyukai mu, apalagi adikku dia pasti akan protes jika kamu tak mau lagi kerumah."
Rei mengangguk, tak ada gunanya menolak toh Ardan selalu punya cara untuk mengajaknya pergi.
Sejak pertemuan terakhir minggu lalu mereka sepakat untuk memberi waktu dan meyakinkan hati. Tapi tentu saja ada berapa pengecualian yang Ardan minta dan Rei pun menyetujuinya.
Ah benar-benar ribet, urusan percintaan emang ga pernah ada benarnya. Tapi benar kan?
#flashback off
Ingin sekali Ardan menelponnya tapi tidak, dia ga mau pandangan Rei padanya akan berubah. Apalagi ini masih baru dimulai.
"Baiklah, aku ikuti maumu Rei. Dan akan aku buktikan bahwa aku serius sama kamu." batin Ardan, menatap foto sang pujaan hati di layar hape nya. Foto yang diambil secara diam-diam, karena Rei selalu menolak diajak berswafoto.
Setelah pengunjung pulang sebelum restoran tutup, Ardan dan para pegawainya membersihkan tempat itu. Mengecek kembali semua nya, dan pulang.
Ardan ingin saat restoran buka semua sudah siap dan dalam keadaan bersih, dia juga tak segan memberikan bonus pada pegawainya yang rajin, bahkan diantara mereka juga mendapatkan liburan gratis jika kerjanya bagus.
€€€
Malam makin larut, berganti hari. Kokok ayam jantan menyambut pagi. Sejak pulang dari restoran tempo hari, Rei memang tak bertemu lagi dengan Ardan.
Biasanya Ardan menelpon nya di sela jam istirahat atau setelah pulang kerja. Tapi sudah beberapa hari ini Rei tak mendengar suaranya. "Kangen..." batin Rei, tapi buru-buru ditepisnya.
Benarkah Renita kangen sama Ardan? atau hanya membiasakan dirinya untuk tidak terlalu tergantung dengan kehadiran Ardan.
Kita tunggu saja, apakah Rei bisa segera membuka hatinya untuk menerima cinta Ardan.
__ADS_1