Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
38. Bagaimana rasanya


__ADS_3

Sore ini akhir pekan para nyonya dan calon nyonya baru lagi ngumpul di salah satu gerai eskrim di mall dikota ini. Ketiganya tampak seru dengan obrolan nya. Ditambah dengan pilihan menu gelato yang menggoda, tak membuat mereka berhenti mengobrol. Entah apa yang mereka bertiga obrolkan, yang pasti hanya mereka yang tahu.


Bagaimana dengan para suami dan calon suami, jangan ditanya mereka dimana. Meskipun libur, mereka tetap bekerja mengumpulkan pundi-pundi buat persiapan masa depan keluarga mereka. Ah sudahlah, jatah libur mereka sepertinya hanya bisa dinikmati saat hari minggu, ketika kantor libur. Kecuali Miko yang liburnya menyesuaikan dengan pengiriman stok barang di Supermarket nya.


Maklumlah, tidak setiap hari stok kiriman datang. Tapi terkadang datangnya bersamaan, dan itu membuatnya sedikit bingung mengaturnya. Sebenarnya belum terbiasa jadi suka ruwet ngaturnya. Padahal tiap bagian sudah ada yang menangani, dia hanya mengecek laporan akhirnya setiap minggu. Tapi bukan Miko namanya kalau tidak terjun langsung, dia pasti makin ribet.


Alasan ketika ditanya kenapa harus repot ngecek sendiri, biar kerjanya ga setengah-setengah. Jika mertua, kakak ipar serta istrinya bisa akrab dengan para pemasok kebutuhan pokok di Supermarket nya, dia juga harus bisa. Bukankah pekerjaan lamanya menuntut dia selalu berhubungan dengan para nasabahnya. Tidak masalah, cuma belum terbiasa saja.


Kembali pada para wanita, memang benar kata orang jika perempuan itu berkumpul selalu ada hal baru yang diomongin. Tak akan pernah ada habisnya. Seperti kali ini, dua wanita muda yang baru saja memilih peran sebagai ibu rumah tangga sedang menceritakan malam pertama mereka masing-masing. Renita yang duluan merasakan malam pertama hanya bisa menggelengkan kepala mendengar celotehan keduanya. Seakan tak perduli mereka ada dimana, beberapa pengunjung outlet eskrim nampak menggelengkan kepala melihat mereka bercerita dengan serunya. Namun tiba-tiba..


"Wah, lihat siapa ini? Sang tuan putri yang sudah bangun dari tidur panjangnya." ucap seseorang didekat tempat mereka duduk. Ketiganya sontak menoleh, dan betapa kagetnya Rei bertemu dengan si biang kerok.


Entah apa yang menyebabkan dia begitu membenci Rei, tak ada satupun dari Rei yang luput dari gunjingannya. Sejak SMA sampai Kuliah mereka selalu membully nya. Bukan ini yang Rei inginkan sekarang, tapi ternyata kenyataannya mereka bertemu lagi.


Bianca dan Nadia, dua nona muda yang selalu iri dengan orang lain, terlahir dari keluarga berada tapi tak menjamin akhlak seseorang itu baik. Terbukti dengan kekuasaan yang dimiliki orangtua nya mereka malah bertindak semena-mena pada orang lain. Mereka seperti punya kepuasaan tersendiri setelah mengintimidasi orang lain.


"Bagaimana rasanya jadi janda, tuan putri?" Nadia, seringai licik diwajahnya.

__ADS_1


"Jangan lupa, janda dua kali. Betul kan sayang?" Bianca mendekati Renita, dan menjambak rambutnya.


Tak terima calon kakak iparnya diperlakukan seperti itu Dina mendekat dan menarik tangan Bianca. Rasanya ingin merobek mulutnya. Arini pun gerah melihat tingkah mereka yang semena-mena. Kejadian itu menjadi perhatian orang-orang disekitarnya.


"Apa mau kalian, kenapa sih mulut kotor kalian dipakai buat makan aja. Memalukan!" ujar Arini tegas. Kedua wanita pencari keributan itu hanya tertawa.


"Ow...ada yang mau jadi pahlawan kesiangan rupanya" Nadia menatap tajam Arini.


Lain halnya dengan Dina yang sudah ga tahan ingin melabrak mereka sudah siap, tapi tangan Renita mencegahnya. Menggelengkan kepala mencegah Dina berbuat kasar.


"Tapi Kak, mereka sudah keterlaluan" Dina tak terima, tapi Rei tetap pada pendiriannya. Dan Renita tersenyum, Dina sudah biasa memanggilnya kakak. Meski belum resmi menjadi kakak iparnya, tapi Dina sudah biasa memanggil calon kakak iparnya ini dengan sebutan kakak.


"Sudah, lebih baik kita tinggalkan mereka. Percuma, bikin malu aja" Renita mengajak Dina dan Arini pergi, meninggalkan kedua biang kerok itu.


Wajah senang kedua pembuat onar itu benar - benar tak tahu malu, meskipun menjadi sorotan orang di sekitarnya tapi mereka masa bodoh. Mereka tersenyum puas, melihat lawannya diam bahkan melangkah pergi.


Lepas dari biang kerok tadi, Rei, Dina dan Arini memilih mengakhiri acara mereka dan pulang kerumah masing-masing. Masih ada rasa dongkol dihati mereka tapi meladeni kegilaan mereka sama saja bunuh diri. Mempermalukan diri mereka sendiri, karenanya lebih baik menjauh dan lepas dari Wanita pembuat onar itu.

__ADS_1


€€€


Setelah makan malam, Dina menceritakan kejadian siang tadi pada suaminya. Miko tampak terkejut, pasalnya Dua wanita yang dikatakan sebagai pembuat onar itu diketahui berada di ibukota, Bianca yang sejak lama menggeluti dunia model sedang mengembangkan karier nya disana. Dan temannya Nadia, yang juga terjun di dunia hiburan juga berada disana.


Dulu mereka berdua adalah idola di sekolah dan juga di kampus, tapi kelakuan mereka membuat orang berpikir dua kali. Tampang boleh cantik, tapi kelakuan munafik sama juga bohong.


Entah berawal dari mana tapi sejak melihat Rei yang sering berjalan dengan banyak teman prianya membuat mereka iri. Padahal memang dari kecil Rei lebih senang bermain bersama anak cowok, apalagi sejak kenal dengan Miko. Kemana - mana selalu ikut, dia ga malu bermain bola, layangan bahkan bermain kelereng dengan teman-teman cowoknya. Berbeda dengan kakaknya yang dari kecil memang feminin.


Mungkin itu yang membuat Rei disukai, meskipun memiliki paras cantik dan feminin tapi ternyata kesenangannya berbanding terbalik. Rei bahkan tak jarang ikut memanjat pohon mangga milik tetangga ketika teman-temannya memanjat pohon. Bahkan mama dan papa Rei sudah angkat tangan dengan hobi anak bungsunya tersebut.


Tapi siapa sangka, semakin dewasa perubahan sikap Rei semakin jelas. Gadis tomboi itu mulai senang berdandan meski hanya memakai bedak tipis dan lipbalm. Semua itu tak lepas dari peran sang kakak yang senang berdandan.


Makanya ketika menginjak usia remaja dan belajar di sekolah favorit, Rei banyak dikagumi lawan jenisnya. Dan sejak itu Bianca dan Nadia yang sudah mengenal dunia model merasa tersaingi. Tapi yang lebih menggelikan mereka tak sadar dengan kelakuannya yang membuat orang lain ilfill.


Setelah menceritakan kejadian yang menimpa Rei tadi, Dina sedikit heran dengan sikap suaminya yang hanya diam. Tak biasanya Miko diam menanggapi ceritanya. Entah apa yang ada dipikiran suaminya, yang pasti Dina masih jengkel. Bahkan jika ketemu lagi ingin rasanya dia mennyeret mereka berdua biar tahu rasa.


Miko menghembuskan napas pelan, pikirannya tertuju pada Rei. Bisanya dia hanya diam tanpa melawan, dulu mungkin dia takut dikeluarkan dari sekolah karena meladeni kelakuan mereka justru akan merusak nama baiknya. Tapi sekarang, Rei bahkan bebas jika ingin melaporkan mereka ke polisi atas tuduhan tindakan pencemaran nama baik dan penganiayaan.

__ADS_1


__ADS_2